Bab 12. Siaga Satu

Desir angin malam pada saat menjelang dini hari dinginnya terasa semakin menusuk sampai tulang belulang, bagi siapa saja yang masih terjaga. Apalagi ketika kemarau panjang yang tak kunjung sirna dengan susana alam pedesaan yang berdampingan dengan pegunungan dan cuaca di bawah sekian derajat celcius, menambah malam yang terasa semakin membeku.

Namun, bagi warga Lemburasri yang di malam itu masih melakukan pengejaran (atau pencarian lah kata-katanya, kalau pengejaran, yang dikejarnya masih terlihat, sedangkan pencarian, sesuatu yang dicarinya belum didapat atau ditemukan); kawanan maling yang berhasil lolos dari rumah Juragan Basri, mereka tak mempedulikan dingin angin saat dini hari.

Waktu sudah menunjukkan sekitar jam setengah 3 pagi. Sebagian warga yang merasa putus asa karena tidak menemukan para maling akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Walaupun kalau teringat iming-iming hadiah yang akan diberikan Juragan Basri bagi siapa saja yang bisa meringkusnya sangatlah menarik. Tapi apa boleh buat. Jika semua tempat sudah didatangi dan hasilnya nihil.

Adapun rombongan yang masih tersisa hanya tinggal dua rombongan saja. Yaitu rombongan pak RT dan rombongan Kang Inon.

Pak RT dibarengi dengan Juragan Basri dan Mang Darta. Sedangkan kang Inon dibarengi Juhro, Adun dan Subad, yang terkenal dengan sebutan empat sekawan tengil dan sedikit kocak.

Kedua rombongan itu rupanya tak kenal dan tak kenal dingin. Mereka terus merangsek mencari kawanan para pencuri ke setiap tempat yang dianggap jadi persembunyian kawanan pencuri.

Ada dua tempat lagi yang menurut mereka belum 'teraprak' (belum kesampaian ke arah sana), yaitu area pemakaman keramat yang terletak di dataran tinggi sebelah barat kampung yang apabila terus ke arah barat, ke sana nya terdapat hamparan hutan pinus, hutan lindung dan hutan belantara.

Dan tempat yang kedua adalah area lubuk sungai yang letaknya berada di sebelah utara kampung, namun masih berdekatan dengan area hutan karena Desa Lemburasri memang salah satu desa terpencil yang dilingkung perbukitan hutan.

Sementara, untuk menuju ke area yang dimaksud tersebut, harus melewati ladang kebun jagung yang bersebelahan dengan lahan ladang kebun pisang dan juga jejeran pohon kelapa. Areanya berada di pinggiran sungai yang ke hilirnya ada lubuk atau leuwi (sungai yang dalam).

Bagi warga Lemburasri, kedua tempat tersebut dianggap tempat keramat dan sedikit menyeramkan. Apalagi bagi warga kampung yang sangat penakut, jangankan waktu malam, ketika siang hari pun tidak berani mendekati tempat tersebut.

Konon, menurut cerita sebagian warga Lemburasri di dataran tinggi pemakaman keramat itu ada penunggunya, kadang penunggunya itu menjelma sebagai seorang kakek tua renta sekali. Atau kadang menjelma dengan seekor kera putih. Pantas saja, banyak rombongan yang merasa enggan untuk ke sana takutnya akan ketemu dengan hal-hal yang menyeramkan.

Sedangkan tempat yang dianggap menyeramkan lagi, yaitu lubuk sungai, ada dua lubuk sungai yang berada di sebelah Utara kampung Lemburasri. Warga kampung menyebutnya dengan sebutan Leuwi Munding dan Leuwi Sanca, yang menurut cerita turun temurun itu, sering ada penampakan Kerbau besar dan Ular sebesar pohon pinang tua, yang sedang berjemur di tepian lubuk. Juga sering ada Gulung Samak ( menyerupai tikar di permukaan air lubuk ), yang akan menggulung siapa saja orang yang mendekatinya pada waktu-waktu tertentu dan membawanya ke dasar lubuk.( iiih serem juga, atuhor juga merinding. Nggak kebayang kalau sampai tergulung dan kebawa ke dasar sungai. Mit amit jabang bayi ).

Bagi kedua rombongan tersebut, diberanikan nya mendatangi dan mengecek ke arah sana. Walau dalam perasaannya masing-masing merasakan takut juga mendatangi tempat yang dianggap keramat itu.

Rombongan Pak RT ke arah pemakaman, dan rombongan kang Inon ke arah lubuk. Kedua rombongan itu berpisah di pertigaan jalan namun masih kelihatan jelas, nyala api obor yang mereka bawa. Juga, jarak yang memang tidak terlalu jauh.

"Kang, kalau boleh jujur, saya nggak berani untuk mencari maling ke area lubuk... iiih...sereem... ". Terdengar si Adun berkata pada kang Inon yang sedang berjalan di belakangnya.

"Wah.. Kamu itu penakut banget, Dun.. Kita ini kan berempat. Tidak akan ada apa-apa."Jawab kang Inon. Kedua bola matanya tetap waspada mengawasi ke segala arah.

"Iya Kang Adun, jujur saja, Saya juga aslinya takut. Malam-malam, malah udah dini hari begini kita akan ke Leuwi Sanca, iiih kebayang kalau nanti ketemu Ular raksasa jejadian itu." Juhro menimpali. Tangan kirinya sekali-sekali mengusap tengkuk nya yang terasa ada yang nempel.

"Hust...jangan bicara sembarangan, pamali (tabu), apalagi kalau sudah deket ke lewi tersebut. Bisa bahaya. Juhro..!" Kang Inon menyentak Juhro dan langkahnya sedikit tertahan.

"Iya nih, bikin takut aku saja.." Subed baru terdengar yang beberapa lama tak bersuara.

Juhro dan Adun hanya terkekeh. Langkah nya kemudian dipercepat menuju ke lokasi yang dimaksud.

"Kalau saja nggak ingat pada hadiah yang dijanjikan oleh Juragan Basri, seandainya kawanan pencurinya dapat kita ringkus, mending aku pulang saja." Juhro berkata lagi.

"Iya, Aku juga sama, Ro.. Mudah-mudahan kita dapat meringkus para pencuri sialan itu. Dan menyerahkannya pada yang berwajib. Nanti kita akan mendapatkan hadiah dari Juragan Basri hehehe." Subad menimpali nya dengan sedikit antusias.

"Sudah kewajiban kita, untuk mengamankan Kampung halaman. Apalagi malam ini jadwal ronda kita berempat. Seandainya Juragan Basri tidak ngasih hadiah pun. Maka kita tetap harus bisa mendapatkan malingnya dan meringkusnya." Kang Inon menimpali.

"Bila perlu kalau nanti dapat diringkus, jangan diserahkan ke pihak yang berwajib, kita bakar saja biar ada efek jera pada yang lainnya." kata Adun geram.

"Waaah kalau gitu mah maen hakim sendiri dong, bisa kena pasal, kita." kata Kang Inon. Langkahnya sedikit diperlambat.

Keempat ronda itu terus berjalan beriringan pada jalan setapak yang menghubungkan ke area Lubuk.

Baru saja beberapa langkah, tiba-tiba Kang Inon menghentikan langkahnya. Membuat ketiga teman yang ada di belakangnya ikut-ikutan berhenti.

"Ada apa kang Inon?" tanya Adun heran.

"Ssssttt...!! " Kang Inon membalikkan badannya. Dan menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya.

"Matikan api obornya, ayo cepaaaat...Huuuss hhhuuhh." Sambung kang Inon lagi, sambil meniup nyala api obor. Dengan rasa penuh heran, ke tiganya langsung patuh pada perintah kang Inon, dan langsung mematikan nyala obornya masing-masing. Suasana menjadi gelap dan langsung hening seketika. Hanya remang-remang malam dengan sinar rembulan separuh yang kadang tertutup awan hitam di angkasa.

Beberapa saat, mereka terdiam. Kemudian Adun mendekati kang Inon dan bertanya setengah berbisik namun masih kedengaran oleh Juhro dan Subad.

"Ada apa, Kang Inon.?"

"Pasang telinga kalian baik-baik. Dengar nggak ada suara minta tolong dan minta ampun? dan suara orang yang sedang bicara.?" kata Kang Inon pada ketiga temannya. Keempatnya berkumpul. Dipasang nya telinga mereka tajam-tajam.

"Iya kang.. Aku juga mendengarnya. Kayaknya di sebelah atas sana. Ayo kita dekati." Adun menimpali.

Dengan cara mengendap, mereka terus mendekati ke arah suara yang didengarnya. Kini keempat ronda itu dalam posisi siaga satu. Walau hati mereka berdegup makin kencang, mereka memaksakan dirinya masing-masing demi dapatnya incaran yang sedang diburunya.

Terpopuler

Comments

Aji Wandi

Aji Wandi

lebih deg degan aku thooor

2024-09-04

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Komplotan Perampok Dimalam Hari
2 Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi
3 Bab 3. Hampir Kepergok Tuanrumah
4 Bab 4. Rencana hampir gagal.
5 Bab 5. Berhasil Disekap
6 Bab 6. Lepas dari Sekapan Bandit
7 Bab 7. Di Pos Ronda
8 Bab 8. Kabur
9 Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.
10 Bab 10. Pengejaran
11 Bab 11. Anan, Jadi Sasaran Amarah
12 Bab 12. Siaga Satu
13 Bab.13. Pertarungan lawan Warga.
14 Bab. 14. Malah Bertemu Siluman
15 Bab 15. Ki Gendut Ireng dan Si Codet berusaha kabur lagi.
16 Bab 16. Anan Ketangkap
17 Bab 17. Anan diboyong ke Rumah Juragan Basri
18 Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.
19 Bab.19. Pindah Markas
20 Bab. 20. Informasi di Kedai Kopi
21 Bab 20. Sobarna, Penjual Nasi Goreng
22 Bab 22. Bertemu Dengan Kawan Lama di Club.
23 Bab. 23. Bergabung
24 Bab. 24. Isi Celengan Sobarna
25 Bab. 25. Nggak Jadi Kirim Uang
26 Bab 26. Penjahat Dijahati
27 Bab 27. Ki Gendut Ireng dan si Codet Terlelap
28 Bab 28. "Mana Dompetku, Mir?"
29 Bab 29. Di Toko Perhiasan ( POV: Gardi ).
30 Bab. 30. Masih POV Gardi
31 Bab 31. Diajak Kerjasama
32 Bab. 32 Sebelas Duabelas.
33 Bab. 33. "Harus bisa Petak Umpet dengan Pihak Yang Berwajib.
34 Bab 34. Sistem Kerjasama dengan Kang Dudung
35 Bab 35. Aksi di Angkot
36 Bab 36. Serasa Makan Buah Simalakama
37 Bab 37. "Masa Preman ngebahas Sholat,!?".
38 Bab. 38. Lanjut Beraksi
39 Bab. 39. Firasat Seorang Isteri.
40 Bab. 40. Mimpi Buruk.
41 Bab. 41. AWAL PETAKA SOBARNA. ( Part. 1 )
42 Bab 42. AWAL PETAKA SOBARNA ( Part 2 ).
43 Bab 43. Malam yang Malang
44 Bab. 44. Bagi-bagi Hasil
45 Bab. 45. Ditolong Teman.
46 Bab. 46. Lapor Polisi, diantar Anan.
47 Bab. 47.
48 Bab. 48. Berniat Pulang Kampung.
49 Bab. 49. Pulang dengan Bimbang.
50 Bab. 50. Larsih, Sosok Isteri Penyabar.
51 Bab. 51. Desa Lemburasri, Desa Terpencil.
52 Bab. 52. Pengamanan Diperketat di Kampung Lemburasri.
53 Bab. 53. Gelagat Orang yang Mencurigakan
54 Bab. 54. Sobarna Dicurigai
55 Bab. 55 Hampir Jadi Korban Salah Tangkap.
56 Bab. 56 Pulang ke Rumah tengah Malam.
57 Bab 57. Bertemu Isteri
58 Bab. 58.
59 Bab. 59. Cari Solusi
60 Bab. 60. Kecopetan.
61 Bab. 61. Rencana Pinjam Uang ke Juragan Basri.
62 Bab. 62. Bertamu ke Rumah Juragan Basri
63 Bab. 63. Pinjaman Bersyarat.
64 Bab. 64. Syarat Di Luar Nalar.
65 Bab. 65. Sebuah Janji Suci Sobarna dan Larsih.
66 Bab. 66. Keraguan pada Sobarna.
67 Bab 67. Kekhawatiran Larsih
68 Bab. 68. Tamu Tak Diundang, Minta Jaminan
69 Bab. 69. Naluri Lintah Darat
70 Bab. 70. Codet Beraksi Lagi disambut dengan Perlawanan Sobarna
71 Bab. 71. Kekuatan Do'a Sang Isteri
72 Bab. 72. Mencoba Kabur, Cari Selamat.
73 Bab. 73. Si Codet Tertangkap.
74 Bab. 74. Bertemu Lagi dengan Anan.
75 Bab. 75. Akhirnya, Sertifikat Rumah Sebagai Jaminan.
76 Bab 76. Lapak Jualan Yang Terancam Gusuran
77 Bab. 77. Larsih Melahirkan
78 Bab. 78. Jatuh Tempo
79 Bab. 79. Sebuah Pertanda dalam Mimpi
80 Bab. 80. Nyi Sumarti Mulai Menagih.
81 Bab. 81. Mencari Solusi Lain.
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1 Komplotan Perampok Dimalam Hari
2
Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi
3
Bab 3. Hampir Kepergok Tuanrumah
4
Bab 4. Rencana hampir gagal.
5
Bab 5. Berhasil Disekap
6
Bab 6. Lepas dari Sekapan Bandit
7
Bab 7. Di Pos Ronda
8
Bab 8. Kabur
9
Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.
10
Bab 10. Pengejaran
11
Bab 11. Anan, Jadi Sasaran Amarah
12
Bab 12. Siaga Satu
13
Bab.13. Pertarungan lawan Warga.
14
Bab. 14. Malah Bertemu Siluman
15
Bab 15. Ki Gendut Ireng dan Si Codet berusaha kabur lagi.
16
Bab 16. Anan Ketangkap
17
Bab 17. Anan diboyong ke Rumah Juragan Basri
18
Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.
19
Bab.19. Pindah Markas
20
Bab. 20. Informasi di Kedai Kopi
21
Bab 20. Sobarna, Penjual Nasi Goreng
22
Bab 22. Bertemu Dengan Kawan Lama di Club.
23
Bab. 23. Bergabung
24
Bab. 24. Isi Celengan Sobarna
25
Bab. 25. Nggak Jadi Kirim Uang
26
Bab 26. Penjahat Dijahati
27
Bab 27. Ki Gendut Ireng dan si Codet Terlelap
28
Bab 28. "Mana Dompetku, Mir?"
29
Bab 29. Di Toko Perhiasan ( POV: Gardi ).
30
Bab. 30. Masih POV Gardi
31
Bab 31. Diajak Kerjasama
32
Bab. 32 Sebelas Duabelas.
33
Bab. 33. "Harus bisa Petak Umpet dengan Pihak Yang Berwajib.
34
Bab 34. Sistem Kerjasama dengan Kang Dudung
35
Bab 35. Aksi di Angkot
36
Bab 36. Serasa Makan Buah Simalakama
37
Bab 37. "Masa Preman ngebahas Sholat,!?".
38
Bab. 38. Lanjut Beraksi
39
Bab. 39. Firasat Seorang Isteri.
40
Bab. 40. Mimpi Buruk.
41
Bab. 41. AWAL PETAKA SOBARNA. ( Part. 1 )
42
Bab 42. AWAL PETAKA SOBARNA ( Part 2 ).
43
Bab 43. Malam yang Malang
44
Bab. 44. Bagi-bagi Hasil
45
Bab. 45. Ditolong Teman.
46
Bab. 46. Lapor Polisi, diantar Anan.
47
Bab. 47.
48
Bab. 48. Berniat Pulang Kampung.
49
Bab. 49. Pulang dengan Bimbang.
50
Bab. 50. Larsih, Sosok Isteri Penyabar.
51
Bab. 51. Desa Lemburasri, Desa Terpencil.
52
Bab. 52. Pengamanan Diperketat di Kampung Lemburasri.
53
Bab. 53. Gelagat Orang yang Mencurigakan
54
Bab. 54. Sobarna Dicurigai
55
Bab. 55 Hampir Jadi Korban Salah Tangkap.
56
Bab. 56 Pulang ke Rumah tengah Malam.
57
Bab 57. Bertemu Isteri
58
Bab. 58.
59
Bab. 59. Cari Solusi
60
Bab. 60. Kecopetan.
61
Bab. 61. Rencana Pinjam Uang ke Juragan Basri.
62
Bab. 62. Bertamu ke Rumah Juragan Basri
63
Bab. 63. Pinjaman Bersyarat.
64
Bab. 64. Syarat Di Luar Nalar.
65
Bab. 65. Sebuah Janji Suci Sobarna dan Larsih.
66
Bab. 66. Keraguan pada Sobarna.
67
Bab 67. Kekhawatiran Larsih
68
Bab. 68. Tamu Tak Diundang, Minta Jaminan
69
Bab. 69. Naluri Lintah Darat
70
Bab. 70. Codet Beraksi Lagi disambut dengan Perlawanan Sobarna
71
Bab. 71. Kekuatan Do'a Sang Isteri
72
Bab. 72. Mencoba Kabur, Cari Selamat.
73
Bab. 73. Si Codet Tertangkap.
74
Bab. 74. Bertemu Lagi dengan Anan.
75
Bab. 75. Akhirnya, Sertifikat Rumah Sebagai Jaminan.
76
Bab 76. Lapak Jualan Yang Terancam Gusuran
77
Bab. 77. Larsih Melahirkan
78
Bab. 78. Jatuh Tempo
79
Bab. 79. Sebuah Pertanda dalam Mimpi
80
Bab. 80. Nyi Sumarti Mulai Menagih.
81
Bab. 81. Mencari Solusi Lain.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!