Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.

Pak RT merasa tidak habis pikir melihat tingkah laku ketiga warganya yang kebagian jadwal ronda di malam itu. Apalagi setelah melihat tingkah mang Kinon, yang sedemikian menggemaskan juga menjengkelkan.

Beruntung Pak RT yang bernama Sarjo yang sudah menginjak usia 55 tahunan itu mempunyai jiwa yang sabar serta bijak dalam menghadapi segala permasalahan warga nya. Tidak aneh, kalau pak RT Sarjo sangat dihormati dan disegani oleh warganya. Tidak seperti di kampung sebelah, desa Lemburasri yang pejabat desa sampai RT nya pilih kasih dalam pembagian raskin dan BLT. Kalau tidak kerabatnya dan teman karibnya, siap-siap tidak akan terima raskin dan BLT walau tergolong masyarakat kurang mampu.. ( Duh... Kaciaaaaan...heheheh, Sabar yah Nak. Doakan saja, mudah2an pejabat desa / RT yang seperti itu diterima amal ibadahnya dan diluaskan di alam kuburnya ..hahaha)

Akhirnya. Entah dengan cara apa, ketiga ronda yang tadi masih terlelap, kini sudah kembali sadar mereka sedang berkumpul di pos ronda. Nampaknya sedang dikasih beberapa pengarahan, petatah dan petitih serta nasihat dari pak RT yang bijak itu.

Kini kedua telinga mereka masing - masing sudah dipasang kembali.

( "Wah emang tadinya telinga mereka dilepas ya. Thor... ??" Tanya reader pada author yang sedang cengengesan., "Udah dieem, rese amat si luh. si Amat juga nggak rese". "Yeeeey Authornya ngambeeek... Nggak dikasih jempol baru tau rasa luh.." heheheh ada ada aja..).

Memang, jarak rumah Juragan Basri dengan Pos Ronda lumayan agak jauh juga, sehingga suara Juragan Basri yang berteriak minta tolong, tidak terlalu jelas.

Lagi pula, posisi pos ronda berada di dataran agak tinggi yang terletak di ujung Barat kampung Lemburasri, sedangkan posisi rumah

Juragan Basri berada di dataran rendah.

Lokasinya berarti sebelah Timur dari pos ronda tersebut. Belum jarak antar rumah penduduk yang masih jarang - jarang, bahkan masih terhalang dengan kebun warga di sekitaran Kampung. Tidak seperti di perkotaan padat penduduk yang bikin pengap sekedar hanya untuk bernafas saja.

Selama musim kemarau, arah angin di Lemburasri berhembus dari barat ke timur baik di siang atau di malam hari.

(Sehingga para reader juga pasti bisa menyimpulkan ketika sumber suara dari sebelah timur, maka orang yang ada di sebelah barat sulit untuk mendengar jelas. Iya nggak guys?).

Pantas saja, ketika Juragan Basri berteriak minta tolong, suara nya sulit didengar oleh warga yang sedang ronda. Apalagi keempat petugas ronda tersebut ngerondanya malah ngorok mau terdengar gimana. Gara-gara minum air kopi yang sudah dicampuri obat melek oleh si Codet.

Beberpa saat kemudian...

"Pak RT... Pak RT... lontong eh tolong Pak RT...pak RT to..tolong...!!."

Dengan serempak, mereka yang di pos ronda menoleh pada sumber suara. Tampak seorang laki-laki yang terengah-engah ngos-ngosan dengan obor yang menyala. Tidak lama, datang lagi laki-laki di belakangnya.

"Juragaaaan...!! Mang Dartaaa..!!?" Teriak Pak RT dan keempat ronda hampir serempak. Mereka melihat Juragan Basri seperti habis mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan.

"Tolongin saya, Pak RT, Bapak-bapak ronda. Rumah Saya habis kemalingan..!"

Ucap Juragan Basri pada pak RT. Nafasnya ngos-ngosan.

"Haaaah.... Maling...!!? Terus sekarang malingnya...?" Tanya Pak RT, matanya tajam tak lepas dari Juragan Basri yang masih mengatur pernafasannya.

"Barusan malingnya kabur. Tapi Saya yakin, mereka belum jauh. Sa..saya melihat mereka lari ke arah Selatan, Pak RT. Ke arah pesawahan. " Tegas Juragan Basri.

"Baiklah, Dun, Juhro, Mang Kinon, kita kerahkan warga, kejar maling itu sampai dapat...!" Perintah Pak RT. Langsung diiyakan oleh Adun yang langsung menabuh kentongan, suaranya nyaring.

"tok...tok..tok..tok..tok... Banguuuun... Ada maliiiing... Maliiing... Tok..tok..tok..."

Kang Adun terus berteriak sambil memukul-mukul kentongan.

Tidak berselang lama, dalam waktu singkat, suasana di Desa Lemburasri mendadak ramai.

Sebagian Bapak-bapak berlarian menghampiri pos Ronda sambil membawa senjata sepunya nya. Bahkan ada yang menggiring kambing, sepertinya salah dengar dikira ada kebakaran.

Ibu-ibu, tua muda, kakek-kakek, nenek-nenek semuanya berhamburan keluar dari rumahnya masing-masing.

Ada juga yang membawa kasur diapit di ketiaknya. Anak kecil pada menangis. Dalam sekejap Lemburasri menjadi rame. Ada juga sebagian warga yang membawa ember sambil berteriak.

"Kebakaraaaan.... Kebakaraaan...!!"

"Di mana yang kebakaran... !"

"Selamatkan hewan piaraaaaan...!!"

"Banguuun... banguuuun...!"

" Ibuuuuu.... Huhuhuhuhu... Ibuuuu...!!( suara anak kecil )

Wah pokoknya, suasana malam yang tadinya sangat sepi. Kini menjadi riuh dengan teriakan warga nya.

#Flashback On.

Setelah tahu ketiga kawanan perampok itu berhasil kabur. Dengan cepat, Juragan Basri masuk ke rumahnya. Nyi Sumarti pun sudah terlepas dari tali yang mengikatnya.

Beruntung ada tetangga Juragan Basri yang mendengar teriakannya, kemudian tetangga juragan Basri menghampiri rumahnya.

"Ada apa, Juragan?" Tanya Mang Darta yang diikuti oleh Isterinya.

Rumah mang Darta tidak terlalu jauh dari rumah Juragan Basri, hanya terhalang oleh sepetak kebun singkong milik warga saja, sehingga ketika ada teriakan minta tolong, Mang Darta dan isterinya langsung terbangun. Dan setelah memastikan suara teriakan minta tolong dari arah rumah Juragan Basri, Mang Darta dan isterinya langsung bergegas ke rumah Juragan Basri.

"Rumah Saya habis kemalingan, Mang...!" Jawab Juragan Basri, badannya masih bergetar masih shock dengan apa yang barusaja dialaminya.

"Kita harus lapor Pak RT, Juragan. Atau kita ke Pos ronda saja." Usul mang Darta.

"Ya sudah, kita ke Pos ronda saja. Kalau ke rumah Pak RT mah, takutnya lama ngebangunin nya., Ibu sama Bi Darti saja ya, Bu... Bapa mau ke Pos ronda dengan mang Darta." kata Juragan Basri ke Isterinya yang kelihatan sudah agak tenang dari shok nya.

Setelah diiyakan oleh isteri Nyi Sumarti, Juragan Basri dan Mang Darta langsung bergegas bahkan setengah berlari menuju ke pos ronda dengan membawa obor sebagai penerangan.

#Flashback off

***

Keadaan di pos ronda, kini seperti di pasar malam. Sekitarnya menjadi terang dengan sinar api serta kepulan asap hitam dari puluhan obor warga.

Tidak berselang lama, setelah mengkondisikan warga. Akhirnya pak RT memerintahkan beberapa warga yang masih muda dan kuat, untuk sama-sama mengejar kawanan maling. Sementara para perempuan, anak-anak, dan lansia disuruh pulang kembali ke rumahnya masing-masing.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Fathiya Fitri

Fathiya Fitri

seru Thor

2024-09-17

0

Nanjeur Berkah Niaga

Nanjeur Berkah Niaga

pade kemane nih orang orang.
aku rindu komen sampeyan.

2024-09-16

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Komplotan Perampok Dimalam Hari
2 Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi
3 Bab 3. Hampir Kepergok Tuanrumah
4 Bab 4. Rencana hampir gagal.
5 Bab 5. Berhasil Disekap
6 Bab 6. Lepas dari Sekapan Bandit
7 Bab 7. Di Pos Ronda
8 Bab 8. Kabur
9 Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.
10 Bab 10. Pengejaran
11 Bab 11. Anan, Jadi Sasaran Amarah
12 Bab 12. Siaga Satu
13 Bab.13. Pertarungan lawan Warga.
14 Bab. 14. Malah Bertemu Siluman
15 Bab 15. Ki Gendut Ireng dan Si Codet berusaha kabur lagi.
16 Bab 16. Anan Ketangkap
17 Bab 17. Anan diboyong ke Rumah Juragan Basri
18 Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.
19 Bab.19. Pindah Markas
20 Bab. 20. Informasi di Kedai Kopi
21 Bab 20. Sobarna, Penjual Nasi Goreng
22 Bab 22. Bertemu Dengan Kawan Lama di Club.
23 Bab. 23. Bergabung
24 Bab. 24. Isi Celengan Sobarna
25 Bab. 25. Nggak Jadi Kirim Uang
26 Bab 26. Penjahat Dijahati
27 Bab 27. Ki Gendut Ireng dan si Codet Terlelap
28 Bab 28. "Mana Dompetku, Mir?"
29 Bab 29. Di Toko Perhiasan ( POV: Gardi ).
30 Bab. 30. Masih POV Gardi
31 Bab 31. Diajak Kerjasama
32 Bab. 32 Sebelas Duabelas.
33 Bab. 33. "Harus bisa Petak Umpet dengan Pihak Yang Berwajib.
34 Bab 34. Sistem Kerjasama dengan Kang Dudung
35 Bab 35. Aksi di Angkot
36 Bab 36. Serasa Makan Buah Simalakama
37 Bab 37. "Masa Preman ngebahas Sholat,!?".
38 Bab. 38. Lanjut Beraksi
39 Bab. 39. Firasat Seorang Isteri.
40 Bab. 40. Mimpi Buruk.
41 Bab. 41. AWAL PETAKA SOBARNA. ( Part. 1 )
42 Bab 42. AWAL PETAKA SOBARNA ( Part 2 ).
43 Bab 43. Malam yang Malang
44 Bab. 44. Bagi-bagi Hasil
45 Bab. 45. Ditolong Teman.
46 Bab. 46. Lapor Polisi, diantar Anan.
47 Bab. 47.
48 Bab. 48. Berniat Pulang Kampung.
49 Bab. 49. Pulang dengan Bimbang.
50 Bab. 50. Larsih, Sosok Isteri Penyabar.
51 Bab. 51. Desa Lemburasri, Desa Terpencil.
52 Bab. 52. Pengamanan Diperketat di Kampung Lemburasri.
53 Bab. 53. Gelagat Orang yang Mencurigakan
54 Bab. 54. Sobarna Dicurigai
55 Bab. 55 Hampir Jadi Korban Salah Tangkap.
56 Bab. 56 Pulang ke Rumah tengah Malam.
57 Bab 57. Bertemu Isteri
58 Bab. 58.
59 Bab. 59. Cari Solusi
60 Bab. 60. Kecopetan.
61 Bab. 61. Rencana Pinjam Uang ke Juragan Basri.
62 Bab. 62. Bertamu ke Rumah Juragan Basri
63 Bab. 63. Pinjaman Bersyarat.
64 Bab. 64. Syarat Di Luar Nalar.
65 Bab. 65. Sebuah Janji Suci Sobarna dan Larsih.
66 Bab. 66. Keraguan pada Sobarna.
67 Bab 67. Kekhawatiran Larsih
68 Bab. 68. Tamu Tak Diundang, Minta Jaminan
69 Bab. 69. Naluri Lintah Darat
70 Bab. 70. Codet Beraksi Lagi disambut dengan Perlawanan Sobarna
71 Bab. 71. Kekuatan Do'a Sang Isteri
72 Bab. 72. Mencoba Kabur, Cari Selamat.
73 Bab. 73. Si Codet Tertangkap.
74 Bab. 74. Bertemu Lagi dengan Anan.
75 Bab. 75. Akhirnya, Sertifikat Rumah Sebagai Jaminan.
76 Bab 76. Lapak Jualan Yang Terancam Gusuran
77 Bab. 77. Larsih Melahirkan
78 Bab. 78. Jatuh Tempo
79 Bab. 79. Sebuah Pertanda dalam Mimpi
80 Bab. 80. Nyi Sumarti Mulai Menagih.
81 Bab. 81. Mencari Solusi Lain.
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1 Komplotan Perampok Dimalam Hari
2
Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi
3
Bab 3. Hampir Kepergok Tuanrumah
4
Bab 4. Rencana hampir gagal.
5
Bab 5. Berhasil Disekap
6
Bab 6. Lepas dari Sekapan Bandit
7
Bab 7. Di Pos Ronda
8
Bab 8. Kabur
9
Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.
10
Bab 10. Pengejaran
11
Bab 11. Anan, Jadi Sasaran Amarah
12
Bab 12. Siaga Satu
13
Bab.13. Pertarungan lawan Warga.
14
Bab. 14. Malah Bertemu Siluman
15
Bab 15. Ki Gendut Ireng dan Si Codet berusaha kabur lagi.
16
Bab 16. Anan Ketangkap
17
Bab 17. Anan diboyong ke Rumah Juragan Basri
18
Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.
19
Bab.19. Pindah Markas
20
Bab. 20. Informasi di Kedai Kopi
21
Bab 20. Sobarna, Penjual Nasi Goreng
22
Bab 22. Bertemu Dengan Kawan Lama di Club.
23
Bab. 23. Bergabung
24
Bab. 24. Isi Celengan Sobarna
25
Bab. 25. Nggak Jadi Kirim Uang
26
Bab 26. Penjahat Dijahati
27
Bab 27. Ki Gendut Ireng dan si Codet Terlelap
28
Bab 28. "Mana Dompetku, Mir?"
29
Bab 29. Di Toko Perhiasan ( POV: Gardi ).
30
Bab. 30. Masih POV Gardi
31
Bab 31. Diajak Kerjasama
32
Bab. 32 Sebelas Duabelas.
33
Bab. 33. "Harus bisa Petak Umpet dengan Pihak Yang Berwajib.
34
Bab 34. Sistem Kerjasama dengan Kang Dudung
35
Bab 35. Aksi di Angkot
36
Bab 36. Serasa Makan Buah Simalakama
37
Bab 37. "Masa Preman ngebahas Sholat,!?".
38
Bab. 38. Lanjut Beraksi
39
Bab. 39. Firasat Seorang Isteri.
40
Bab. 40. Mimpi Buruk.
41
Bab. 41. AWAL PETAKA SOBARNA. ( Part. 1 )
42
Bab 42. AWAL PETAKA SOBARNA ( Part 2 ).
43
Bab 43. Malam yang Malang
44
Bab. 44. Bagi-bagi Hasil
45
Bab. 45. Ditolong Teman.
46
Bab. 46. Lapor Polisi, diantar Anan.
47
Bab. 47.
48
Bab. 48. Berniat Pulang Kampung.
49
Bab. 49. Pulang dengan Bimbang.
50
Bab. 50. Larsih, Sosok Isteri Penyabar.
51
Bab. 51. Desa Lemburasri, Desa Terpencil.
52
Bab. 52. Pengamanan Diperketat di Kampung Lemburasri.
53
Bab. 53. Gelagat Orang yang Mencurigakan
54
Bab. 54. Sobarna Dicurigai
55
Bab. 55 Hampir Jadi Korban Salah Tangkap.
56
Bab. 56 Pulang ke Rumah tengah Malam.
57
Bab 57. Bertemu Isteri
58
Bab. 58.
59
Bab. 59. Cari Solusi
60
Bab. 60. Kecopetan.
61
Bab. 61. Rencana Pinjam Uang ke Juragan Basri.
62
Bab. 62. Bertamu ke Rumah Juragan Basri
63
Bab. 63. Pinjaman Bersyarat.
64
Bab. 64. Syarat Di Luar Nalar.
65
Bab. 65. Sebuah Janji Suci Sobarna dan Larsih.
66
Bab. 66. Keraguan pada Sobarna.
67
Bab 67. Kekhawatiran Larsih
68
Bab. 68. Tamu Tak Diundang, Minta Jaminan
69
Bab. 69. Naluri Lintah Darat
70
Bab. 70. Codet Beraksi Lagi disambut dengan Perlawanan Sobarna
71
Bab. 71. Kekuatan Do'a Sang Isteri
72
Bab. 72. Mencoba Kabur, Cari Selamat.
73
Bab. 73. Si Codet Tertangkap.
74
Bab. 74. Bertemu Lagi dengan Anan.
75
Bab. 75. Akhirnya, Sertifikat Rumah Sebagai Jaminan.
76
Bab 76. Lapak Jualan Yang Terancam Gusuran
77
Bab. 77. Larsih Melahirkan
78
Bab. 78. Jatuh Tempo
79
Bab. 79. Sebuah Pertanda dalam Mimpi
80
Bab. 80. Nyi Sumarti Mulai Menagih.
81
Bab. 81. Mencari Solusi Lain.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!