"Deg.."
Si Codet kaget saat mendengar Nyi Sumarti berkata 'maling'.
"Hah... Apa gue ketahuan yah. Kok perempuan itu ngatain 'maling'!!?" Gumam Si Codet.
"Hust...hust... sana pergi...!" Bentak Nyi Sumarti lagi. Membuat ketiga kawanan perampok itu semakin gemetar. Apalagi Ki Gendut Ireng, ia sudah menduga pasti Si Codet ketahuan.
"Wah bisa celaka kalau begini mah. Dasar ceroboh...!!" Gerutu Ki Gendut Ireng, matanya memerah menandakan kemarahan pada Si Codet, anak buahnya itu.
"Ngeeeong...!!" tiba-tiba ada suara kucing dengan nyaringnya. Membuat ketiga kawanan perampok itu sedikit lega, ternyata yang memecahkan gelas itu hanya seekor kucing yang sedang mengejar tikus.
"Huhhft... Kirain..Si Codet... untung Gue bisa nahan emosi." Gumam Ki Gendut Ireng ketika melihat Nyi Sumarti menjinjing pundak kepala Kucing dan berjalan ke ruangan depan lalu membuka kunci pintu depan.rumah.
Pintu depan terbuka. Nyi Sumarti lalu melemparkan Kucing keluar.
"Sana pergi...!! Dasar kucing menjijikan. Lama-lama perabotan dapurku bisa habis. Mending kalau hasil dapat mangsa.!" Gerutu Nyi Sumarti yang sangat terdengar jelas oleh Anan yang masih berdiam diri di balik kursi sofa.
"Blugh..cklek.. cklek..."
Suara pintu depan ditutup kembali dan terdengar dikunci lagi.
"Ada apa Mah...malam-malam begini menggerutu sendiri..!!?"
Terdengar oleh Anan dengan sangat jelas suara laki-laki paruh baya dari dalam kamar. Begitu pula Ki Gendut Ireng dan Si Codet, keduanya mendengar suara laki-laki dari dalam kamar.
"Waduh... Rupanya Juragan Basri terbangun. Bagaimana ini..?" Batin Anan.
"Astagaaa... Si Juragan terbangun. Apa yang Gue lakukan sekarang, apa langsung membekapnya apa dibiarkan saja untuk sementara.!!"?
Ki Gendut Ireng berfikir keras.
"Ini, Pah. Kucing tetangga memecahkan gelas lagi.. Bikin kaget saja. Papah terbangun..!?" Nyi Sumarti menjawab tanya suaminya.
"He ehm. !" Hanya itu yang terdengar dari mulut Juragan Basri, menit kemudian suasana kembali hening.
Rupanya, Juragan Basri tertidur kembali. Nyi Sumarti melangkahkan masuk ke kamarnya. Tapi baru saja membuka handle pintu, Nyi Sumarti berbalik lagi. Dan memandang ke arah pintu belakang.
"tap...tap..tap." suara sandal japit Nyi Sumarti terdengar. Ki Gendut Ireng mengira Nyi Sumarti balik lagi ke pintu belakang. Dan perkiraan Gendut ireng benar. Nyi Sumarti baru ingat. Pintu belakangnya belum terkunci.
"Terpaksa harus melakukan cara yang kedua. Walau Si Codet dan si Anan belum tahu. Biar Gue bergerak sendiri dari pada rencana bisa gagal." Gumam Ki Gendut Ireng. Dadanya mulai bergemuruh disiapkannya segala peralatan. Pisau belati yang terselip di pinggangnya kini sudah berada digenggaman tangan kanan nya.
Nyi Sumarti semakin mendekat ke arah pintu belakang dan kini tangannya memegang handle.
"Wah kok kuncinya bisa nggak berfungsi yah.. padahal kemarin juga masih bagus. sepertinya ada bekas menc.... Huft...ep..pepppphft!!"
Nyi Sumarti bicara sendiri dan detik kemudian mulutnya ada yang membekap dari belakang.
"Berteriak, berarti mati, Nyonyaaa...!!" Bentak Ki Gendut Ireng yang sudah mebekap Nyi Sumarti dari belakang. Ujung pisau belatiny ditempelkan pada leher perempuan paruh baya itu. Bahkan sudah melukainya sedikit, hingga Nyi Sumarti meringis kesakitan.
Nyi Sumarti tidak bisa bicara apa-apa. Hanya deru nafasnya yang tak beraturan. Apalagi dengan tiba-tiba ada tangan kekar yang membekapnya dan pisau belati yang berkilau tersinar lampu dari ruang makan.
Secepat kilat, Ki Gendut Ireng mengeluarkan lakban dan langsung membekap mulut Nyi Sumarti dengan lakban. Kedua tangannya ditarik kebelakang. Lengkap lah sudah rasa sakit juga rasa takut yang hampir jantungan.
Melihat kejadian seperti itu, tanpa nunggu perintah, Si Codet langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Ki Gendut Ireng dan Nyi Sumarti.
Segera Ki Gendut Ireng ngasih aba-aba. Agar mengikat kedua tangan Nyi Sumarti.
Si Codet faham, langsung mengeluarkan tali tambang dan langsung mengikat kedua tangan Nyi Sumarti.
Nyi Sumarti hanya bisa meronta. Namun tak bersuara. Mulutnya yang ditutupi lakban hitam, dan juga kedua tangan yang diikat dengan kencangnya membuat ia rasa percuma saja. Apalagi ia mendengar dengkuran suaminya yang kembali terlelap. Nyi Sumarti hanya bisa pasrah. Hatinya menjerit. Batinnya terasa teriris. Air mata nya sudah membasahi kedua pipi putihnya.
Ki Gendut Ireng merasa puas dengan kerjaanya. Ia lalu menyeret tubuh Nyi Sumarti yang sudah melemah lemas akibat syok ke arah pojok ruangan makan.
Menit kemudian, Ki Gendut Ireng bergegas kedepan. Ke ruangan tamu, yang mana Anan bersembunyi. Ki Gendut Ireng menoleh ke arah pojok, ekor matanya melihat Anan yang masih terpaku.
"Nan... Anan..!!" Bisik Ki Gendut Ireng perlahan namun terdengar jelas.
Anan keluar dari persembunyiannya. Ia melihat Ki Gendut Ireng sedang berdiri di depan pintu kamar Juragan Basri. Anan mendekati Ki Gendut Ireng.
"Ayooo.. Mulai jalankan aksi...!" Bisik Ki Gendut Ireng di telinga Anan. Anan terkesiap. Ketika ekor matanya melihat seorang wanita paruhbaya terikat dengan mulut ditutup di pojok ruang makan.
"Pasti itu Nyi Sumarti, isterinya Juragan Basri. Kasihan sekali. Mudah-mudahan si Gendut keparat itu tidak melukainya." Anan membatin. Ia merasa iba dengan yang dialami Nyi Sumarti.
Menit kemudian.
Pintu kamar Juragan Basri terbuka. Tanpa Anan sadari, ternyata Ki Gendut Ireng sudah membukanya dengan perlahan dan tanpa ada suara.
Kedua tangan Ki Gendut Ireng setengah mendorong tubuh Anan, agar masuk ke kamar Juragan Basri yang tampak masih terlelap.
.
..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Fathiya Fitri
cerita nya makin seru
2024-09-17
0
Aji Wandi
lanjut thooor ceritanya ngalur banget. salut deh
2024-08-24
0