Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.

Ruang tamu rumah Juragan Basri kini dipenuhi banyak orang. Untung saja ukuran ruangan tamunya berukuran besar. Sehingga bisa menampung sepuluh hingga lima belas orang. Bahkan ada para tetangga juragan Basri yang berkumpul di teras rumahnya setelah mendengar ada salah satu dari komplotan pencuri yang berhasil ketangkap.

Pada awalnya, memang banyak warga yang merasa geram. Apalagi dari kalangan para pemuda. Beberapa menit saat Anan baru masuk ke rumah Juragan Basri, hampir saja Anan jadi amukan massa. Beruntung Pak RT dan Kang Inon melerai dan meredam amarah warga. Bahkan Pak RT akan menjamin keselamatan Anan, jika Anan berterus terang dan berjanji untuk tidak akan mengulangi perbuatan yang merugikan masyarakat.

Setelah suasana kondusif akhirnya Pak RT mulai menelisik tentang diri Anan, dengan disaksikan sebahagian warga Kampung Lemburasri yang berkumpul di rumah Juragan Basri.

"Nama kamu siapa, anak muda.?" Tanya Pak RT, walaupun Dia tahu pada saat Anan baru dilepaskan dari dalam karung. Tujuannya agar warga masyarakat juga langsung tahu dari mulut Anan.

"Nna..nama Ss..saya.. Anan, Pak RT. Anan Prambudi Aditya." Jawab Anan masih sedikit gugup. Pak RT pun manggut-manggut. "Hmmm nama yang bagus." Gumam Pak RT.

"Tempat asalmu dari mana, Anan. Anan kan panggilan kamu?" Pak RT melanjutkan tanya nya lagi.

"i..iya Pak. Panggilan saya Anan. Saya berasal dari Desa Lebakjero, Pak RT, lumayan jauh dari kampung sini mah."

"Kamu punya KTP? Usiamu berapa tahun, ada 20 tahun? "

"Ssa..saya belum punya KTP Pak RT. Kata Ibu Asih, Ssa..saya berumur tujuh belasan tahun. Kalau kartu keterangan lain mah mungkin masih ada di panti." Jawab Anan sejujurnya.

"Terus, Kamu menjadi pencuri, maaf, Maksud Saya, Kamu berteman dengan teman mu yang kabur tadi sudah berapa lama.?" Tanya Pak RT, meralat pertanyaannya, takut perasaan Anan tersinggung.

"Ada sekitar dua tiga bulanan, Pak RT."

" Ooowh.. " Pak RT manggut-manggut lagi. "Berarti sudah sering yah Kamu melakukan perbuatan yang seperti tadi.?"

"Ada 4 kalinya, Pak RT. Dan ini yang ke lima kalinya, Saya melakukan pencurian. Semuanya Saya melakukannya karena terpaksa dan dipaksa. Kalau di Kampung ini baru pertama kalinya Saya lakukan." Anan terus terang.

"Kami ingin tahu kenapa Kamu bisa melakukannya hingga sampai lima kali. Apakah Kamu tidak berfikir, bahwa pekerjaan Kamu itu melanggar hukum. Dan tentunya sangat merugikan orang lain." Kang Inon yang dari tadi hanya berdiam, kini ikut bicara.

"Kan tadi sudah Saya bilang, Pak. Pak RT. Saya melakukan nya karena terpaksa." Jawab Anan datar. Kemudian menundukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, Anan menarik nafasnya dengan panjang.

Kemudian, Anan mulai menceritakan awal mulanya bisa kenal dengan si Codet. Dan berkomplot dengan Gendut Ireng.

"Saya adalah anak panti, yang kata Ibu panti, ada temannya yang menitipkan Saya ke Ibu panti. Nama Ibu Panti namanya Bu Asih, dan nama pantinya Yayasan Panti Asuhan Tali Asih. Barangkali Pak RT dan Juragan juga Bapak-bapak yang lainnya mau mengecek langsung ke sana. " Anan berhenti sebentar. Setelah meminta izin minum, Anan melanjutkan ceritanya kembali.

"Sampai sekarang, Saya menetap di sana. Tapi, sudah 3 bulan, Saya nggak berani ke Panti, karena tidak berani. Saya tidak mau, kalau Ibu Panti mengetahui pekerjaan Saya sekarang." Anan minum kembali. Entah kenapa tenggorokannya mendadak kering. Kedua bola matanya tampak berkaca-kaca.

"Karena Saya ingin mencari pekerjaan, akhirnya Saya meminta izin pada Ibu Asih. Kemudian, Saya dikenalkan oleh tetangga Panti, pada orang yang bernama Si Codet, Saya tidak tahu apa nama asli nya Codet apa hanya nama panggilan saja. Si Codet mengaku menjadi penyalur tenaga kerja ke luar negeri. Dan Saya pun langsung percaya. Bahkan,

Saya dijanjikan akan dikasih pekerjaan ke luar negeri." Anan terdiam kembali. Karena ada cairan yang menetes dari kedua matanya meleleh di kedua pipinya. Spontan, Anan mengusapnya dengan punggung tangan kanannya.

"Mma...maaf.." Ucap Anan, tersenyum getir. Membuat yang hadir merasa kasihan juga.

" Tapi nyatanya seperti ini. Saya dibohongi oleh si Codet dan Si Gendut Ireng. Katanya, untuk biaya ke luar negeri akan ditanggung oleh temannya si Codet yang bernama Gendut Ireng, Saya juga nggak tahu, Dia itu nama asli apa hanya panggilan saja. Kalau menurut Saya mah hanya nama panggilan, karena melihat dari postur tubuhnya perawakan gendut dan kulitnya hitam sesuai kelakuannya yang jahat." Tutur Anan, yang sudah tidak merasa takut lagi. Dan ketika mengucapkan kata si Codet dan Gendut Ireng, terdengar suara Anan seperti memendam rasa kebencian. Kedua matanya pun yang tadinya berkaca-kaca tampak memerah. Kemudian, Anan melanjutkan perkataannya lagi.

"Sebenarnya, Saya sudah ingin keluar dari kungkungan si Gendut dan Si Codet. Namun karena saya diancam akan dibunuh. Dan hutang Saya belum terlunasi, akhinya Saya terpaksa mengikuti apa yang diperintahnya, walaupun Saya tidak diberikan hasil dari setiap curian yang berhasil dicuri, alasannya, nama saya sudah terdaftar menjadi calon TKI memakai uang daftar dari si Gendut Ireng, yang lumayan besar menurut Saya mah. Termasuk yang dilakukan di rumah Juragan Basri tadi malam. Dan Saya berniat sengaja ingin menggagalkan rencana si Gendut Ireng dengan tidak mengikat kuat tangan Juragan Basri. Silahkan Pak RT bertanya langsung pada Juragan."

"Apa benar, Juragan. Saat tadi kawanan pencuri datang dan Anan yang mengikat tangan dan Kaki Juragan dengan tidak kuat, hingga mudah lepas?" Pak RT bertanya pada Juragan Basri.

Mendengar tanya Pak RT, kemudian Juragan Basri mengingat kejadian tadi yang dilakukan Anan saat mengikat tangannya.

"Memang Pak RT. Saya juga merasa heran. Kenapa maling ini tidak mengikat tangan Saya dengan kuat. Walapun mulut saya dibekap dengan lakban. Bahkan Saya masih ingat, Dia berbisik, dan menyuruh pada Saya, nanti kalau sudah terlepas silahkan untuk berteriak minta tolong pada tetangga dan juga warga." Juragan Basri menuturkan.

"Tapi kenapa Saya dibekap dan tangan dan kaki saya diikat kuat.?" Nyi Sumarti ikut bicara bernada protes.

"Itu bukan Saya yang melakukannya Ibu Juragan. Itu si Codet." Jawab Anan jujur, dengan menyebut pada Nyi Sumarti dengan sebutan Ibu Juragan. Membuat suasana yang tadinya masih menegang dan terharu karena cerita Anan, kini sedikit mencair. Warga merasa sedikit lucu ketika Anan menyebut Ibu Juragan. Nyi Sumarti pun sedikit tersenyum ketika Anan memanggilnya Ibu Juragan.

Pak RT dan yang lainnya pun manggut-manggut tanda mengerti penjelasan dari Anan dan sepertinya percaya apa yang telah Anan sampaikan. Beberapa detik hanya hening. Namun, terdengar Juragan Basri bertanya pada Pak RT.

"Bagaimana ini Pak RT?"

"Bagaimana apanya. Juragan?" Pak RT balik nanya.

"Maksud Saya, tindak lanjut si Anan ini, Pak RT." Jawab Juragan Basri datar.

"Kalau menurut saya, Anan tetap kita bawa ke pihak yang berwajib. Adapun yang menentukan hukuman salah dan tidaknya, Kita serahkan saja semuanya pada yang berwajib. Apa kamu siap, Nan kalau besok kami serahkan pada yang berwajib?" tanya Pak RT.

"Insya Alloh saya siap, Pak RT. Apapun hukuman yang nanti dijatuhkan pada saya, saya siap menerimanya. Dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Saya ingin menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, Dan perlu Juragan serta Bapak-bapak ketahui, sumpah demi apapun, Saya tidak mengambil barang-barang milik Juragan. Bahkan, Saya hampir mati, dibuang ke sungai, karena Si Gendut Ireng mencurigai Saya menggagalkan niatnya dan Saya dituduh berkhianat padanya. Walaupun benar pada kenyataannya." Tutur Anan tegas. Membuat seluruh yang hadir merasa salut dan terharu.

Warga yang tadinya amarah pun akhirnya saling meminta maaf. Apalagi Anan. Ia sambil menangis minta maaf pada Juragan Basri dan pada Pak RT yang telah membuat onar pada warga kampung Lemburasri. Juragan Basri dan Nyi Sumarti pun akhirnya memaafkan Anan. Apalagi setelah tahu. Anan tidak mengambil uang dan perhiasan bahkan tidak dibagi hasil curiannya oleh Si Gendut Ireng.

Beberapa saat kemudian. Terdengar kokokan Ayam dari segala penjuru kampung. Ternyata waktu sudah menunjukan jam setengah empat pagi. Warga kampung banyak yang pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara. Anan dan Pak RT serta kang Inon menunggu sampai pagi di rumahnya Juragan Basri.

Besoknya, setelah sarapan pagi yang dijamh oleh tuanrumah, Anan dibawa ke Kapolsek untuk diproses secara hukum.

*****

Terpopuler

Comments

dede rohimah

dede rohimah

semoga Anan eh aman

2024-09-18

0

Rina Mes

Rina Mes

untung gak diamuk masaa.
author baik... aku suka. hehehe

2024-09-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Komplotan Perampok Dimalam Hari
2 Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi
3 Bab 3. Hampir Kepergok Tuanrumah
4 Bab 4. Rencana hampir gagal.
5 Bab 5. Berhasil Disekap
6 Bab 6. Lepas dari Sekapan Bandit
7 Bab 7. Di Pos Ronda
8 Bab 8. Kabur
9 Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.
10 Bab 10. Pengejaran
11 Bab 11. Anan, Jadi Sasaran Amarah
12 Bab 12. Siaga Satu
13 Bab.13. Pertarungan lawan Warga.
14 Bab. 14. Malah Bertemu Siluman
15 Bab 15. Ki Gendut Ireng dan Si Codet berusaha kabur lagi.
16 Bab 16. Anan Ketangkap
17 Bab 17. Anan diboyong ke Rumah Juragan Basri
18 Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.
19 Bab.19. Pindah Markas
20 Bab. 20. Informasi di Kedai Kopi
21 Bab 20. Sobarna, Penjual Nasi Goreng
22 Bab 22. Bertemu Dengan Kawan Lama di Club.
23 Bab. 23. Bergabung
24 Bab. 24. Isi Celengan Sobarna
25 Bab. 25. Nggak Jadi Kirim Uang
26 Bab 26. Penjahat Dijahati
27 Bab 27. Ki Gendut Ireng dan si Codet Terlelap
28 Bab 28. "Mana Dompetku, Mir?"
29 Bab 29. Di Toko Perhiasan ( POV: Gardi ).
30 Bab. 30. Masih POV Gardi
31 Bab 31. Diajak Kerjasama
32 Bab. 32 Sebelas Duabelas.
33 Bab. 33. "Harus bisa Petak Umpet dengan Pihak Yang Berwajib.
34 Bab 34. Sistem Kerjasama dengan Kang Dudung
35 Bab 35. Aksi di Angkot
36 Bab 36. Serasa Makan Buah Simalakama
37 Bab 37. "Masa Preman ngebahas Sholat,!?".
38 Bab. 38. Lanjut Beraksi
39 Bab. 39. Firasat Seorang Isteri.
40 Bab. 40. Mimpi Buruk.
41 Bab. 41. AWAL PETAKA SOBARNA. ( Part. 1 )
42 Bab 42. AWAL PETAKA SOBARNA ( Part 2 ).
43 Bab 43. Malam yang Malang
44 Bab. 44. Bagi-bagi Hasil
45 Bab. 45. Ditolong Teman.
46 Bab. 46. Lapor Polisi, diantar Anan.
47 Bab. 47.
48 Bab. 48. Berniat Pulang Kampung.
49 Bab. 49. Pulang dengan Bimbang.
50 Bab. 50. Larsih, Sosok Isteri Penyabar.
51 Bab. 51. Desa Lemburasri, Desa Terpencil.
52 Bab. 52. Pengamanan Diperketat di Kampung Lemburasri.
53 Bab. 53. Gelagat Orang yang Mencurigakan
54 Bab. 54. Sobarna Dicurigai
55 Bab. 55 Hampir Jadi Korban Salah Tangkap.
56 Bab. 56 Pulang ke Rumah tengah Malam.
57 Bab 57. Bertemu Isteri
58 Bab. 58.
59 Bab. 59. Cari Solusi
60 Bab. 60. Kecopetan.
61 Bab. 61. Rencana Pinjam Uang ke Juragan Basri.
62 Bab. 62. Bertamu ke Rumah Juragan Basri
63 Bab. 63. Pinjaman Bersyarat.
64 Bab. 64. Syarat Di Luar Nalar.
65 Bab. 65. Sebuah Janji Suci Sobarna dan Larsih.
66 Bab. 66. Keraguan pada Sobarna.
67 Bab 67. Kekhawatiran Larsih
68 Bab. 68. Tamu Tak Diundang, Minta Jaminan
69 Bab. 69. Naluri Lintah Darat
70 Bab. 70. Codet Beraksi Lagi disambut dengan Perlawanan Sobarna
71 Bab. 71. Kekuatan Do'a Sang Isteri
72 Bab. 72. Mencoba Kabur, Cari Selamat.
73 Bab. 73. Si Codet Tertangkap.
74 Bab. 74. Bertemu Lagi dengan Anan.
75 Bab. 75. Akhirnya, Sertifikat Rumah Sebagai Jaminan.
76 Bab 76. Lapak Jualan Yang Terancam Gusuran
77 Bab. 77. Larsih Melahirkan
78 Bab. 78. Jatuh Tempo
79 Bab. 79. Sebuah Pertanda dalam Mimpi
80 Bab. 80. Nyi Sumarti Mulai Menagih.
81 Bab. 81. Mencari Solusi Lain.
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1 Komplotan Perampok Dimalam Hari
2
Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi
3
Bab 3. Hampir Kepergok Tuanrumah
4
Bab 4. Rencana hampir gagal.
5
Bab 5. Berhasil Disekap
6
Bab 6. Lepas dari Sekapan Bandit
7
Bab 7. Di Pos Ronda
8
Bab 8. Kabur
9
Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.
10
Bab 10. Pengejaran
11
Bab 11. Anan, Jadi Sasaran Amarah
12
Bab 12. Siaga Satu
13
Bab.13. Pertarungan lawan Warga.
14
Bab. 14. Malah Bertemu Siluman
15
Bab 15. Ki Gendut Ireng dan Si Codet berusaha kabur lagi.
16
Bab 16. Anan Ketangkap
17
Bab 17. Anan diboyong ke Rumah Juragan Basri
18
Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.
19
Bab.19. Pindah Markas
20
Bab. 20. Informasi di Kedai Kopi
21
Bab 20. Sobarna, Penjual Nasi Goreng
22
Bab 22. Bertemu Dengan Kawan Lama di Club.
23
Bab. 23. Bergabung
24
Bab. 24. Isi Celengan Sobarna
25
Bab. 25. Nggak Jadi Kirim Uang
26
Bab 26. Penjahat Dijahati
27
Bab 27. Ki Gendut Ireng dan si Codet Terlelap
28
Bab 28. "Mana Dompetku, Mir?"
29
Bab 29. Di Toko Perhiasan ( POV: Gardi ).
30
Bab. 30. Masih POV Gardi
31
Bab 31. Diajak Kerjasama
32
Bab. 32 Sebelas Duabelas.
33
Bab. 33. "Harus bisa Petak Umpet dengan Pihak Yang Berwajib.
34
Bab 34. Sistem Kerjasama dengan Kang Dudung
35
Bab 35. Aksi di Angkot
36
Bab 36. Serasa Makan Buah Simalakama
37
Bab 37. "Masa Preman ngebahas Sholat,!?".
38
Bab. 38. Lanjut Beraksi
39
Bab. 39. Firasat Seorang Isteri.
40
Bab. 40. Mimpi Buruk.
41
Bab. 41. AWAL PETAKA SOBARNA. ( Part. 1 )
42
Bab 42. AWAL PETAKA SOBARNA ( Part 2 ).
43
Bab 43. Malam yang Malang
44
Bab. 44. Bagi-bagi Hasil
45
Bab. 45. Ditolong Teman.
46
Bab. 46. Lapor Polisi, diantar Anan.
47
Bab. 47.
48
Bab. 48. Berniat Pulang Kampung.
49
Bab. 49. Pulang dengan Bimbang.
50
Bab. 50. Larsih, Sosok Isteri Penyabar.
51
Bab. 51. Desa Lemburasri, Desa Terpencil.
52
Bab. 52. Pengamanan Diperketat di Kampung Lemburasri.
53
Bab. 53. Gelagat Orang yang Mencurigakan
54
Bab. 54. Sobarna Dicurigai
55
Bab. 55 Hampir Jadi Korban Salah Tangkap.
56
Bab. 56 Pulang ke Rumah tengah Malam.
57
Bab 57. Bertemu Isteri
58
Bab. 58.
59
Bab. 59. Cari Solusi
60
Bab. 60. Kecopetan.
61
Bab. 61. Rencana Pinjam Uang ke Juragan Basri.
62
Bab. 62. Bertamu ke Rumah Juragan Basri
63
Bab. 63. Pinjaman Bersyarat.
64
Bab. 64. Syarat Di Luar Nalar.
65
Bab. 65. Sebuah Janji Suci Sobarna dan Larsih.
66
Bab. 66. Keraguan pada Sobarna.
67
Bab 67. Kekhawatiran Larsih
68
Bab. 68. Tamu Tak Diundang, Minta Jaminan
69
Bab. 69. Naluri Lintah Darat
70
Bab. 70. Codet Beraksi Lagi disambut dengan Perlawanan Sobarna
71
Bab. 71. Kekuatan Do'a Sang Isteri
72
Bab. 72. Mencoba Kabur, Cari Selamat.
73
Bab. 73. Si Codet Tertangkap.
74
Bab. 74. Bertemu Lagi dengan Anan.
75
Bab. 75. Akhirnya, Sertifikat Rumah Sebagai Jaminan.
76
Bab 76. Lapak Jualan Yang Terancam Gusuran
77
Bab. 77. Larsih Melahirkan
78
Bab. 78. Jatuh Tempo
79
Bab. 79. Sebuah Pertanda dalam Mimpi
80
Bab. 80. Nyi Sumarti Mulai Menagih.
81
Bab. 81. Mencari Solusi Lain.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!