Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi

Beberapa saat kemudian, setelah semuanya dirasa siap, dengan sedikit mengendap, ketiga laki-laki itu mulai mendekati sebuah bangunan rumah warga yang sudah diincar sebelumnya dari tadi. Tekad dan niyatnya sudah bulat.

Tidak lupa, mereka sudah memakai penutup wajahnya masing-masing, hanya kedua mata mereka yang tampak tajam bak mata elang yang siap menerkam mangsa.

Dengan penuh waspada penuh, ketiga perampok itu mulai merangsek mendekati rumah incarannya.

Rumah yang menjadi incaran oleh Ki Gendut Ireng dan kedua teman nya adalah rumah juragan Basri, salah satu warga kampung Lemburasri, Saudagar ( Pedagang ) yang jual beli hasil bumi ( hasil pertanian ) yang cukup kaya dan sukses dengan usahanya sehingga sangat terpandang dengan kekayaannya. Pantas saja kalau ketiga perampok tersebut, sangat ingin menyatroni rumah Juragan Basri.

Di sela gelapnya malam dengan sinar rembulan yang redup terang, ketiganya berkelebat dari arah belakang rumah Juragan Basri. Anan ditugasi paling depan, dan diikuti oleh Ki Gendut Ireng dan Si Codet.

"Apa yang harus aku lakukan nanti dengan Juragan Basri. Sejujurnya, aku sudah sangat muak dengan pekerjaan hina ini.!!" Batin Anan, saat mengendap mendekati pagar tinggi yang menutup seluruh banguan rumah Juragan Basri.

"Apalagi rumah yang akan disatroni adalah rumahnya Juragan Basri. Walaupun jadi saudagar kaya raya, tapi dia tidak sombong, dan selalu memberikan bantuan pada orang - orang yang membutuhkan, walaupun isterinya terkenal pelit dan sifatnya sedikit berbeda dengan suaminya itu. Hhhhahh...!!"

Gumamnya lagi dalam hati. Membuat Anan sedikit ragu dan tertekan saat beberapa langkah lagi sampai dekat pagar tinggi itu.

"Ada apa, Anan..!!? Kenapa kayaknya kamu ragu, hah...!! Ayo jalan...!!" Tiba-tiba terdengar suara Si Codet di belakang Anan, walau berbisik, tapi terdengar jelas oleh Anan. Yang terasa penuh penekanan itu.

"Ti...tidak a..apa-apa, B..bang..!" Jawab Anan kaget.

"Jangan keras-keras, Br*ngs*k...!! Kamu mau, acara kita gagal hah...!!?" Teriak Si Codet lagi, membisikkan ke telinga Anan, tangan kanan Si Codet meremas baju Anan. Hingga membuat Anan merinding juga. Detik kemudian, ia tetap berjalan mengendap pandangannya dilebarkan ke berbagai arah.

"Siaaal...!!. Aku harus mencari cara agar terbebas dari kedua Bandit ini. Mudah-mudahan ini akan berakhir bagiku. Dan aku akan lepas dari perbuatan keji ini." Gerutu Anan dalam hatinya lagi. Kedua tangannya sudah siap untuk melempar tali tambang yang sudah ada pengait besinya, yang sebentar lagi ia lemparkan, dan menaiki pagar tinggi di hadapanya itu.

Bagi Anan, sebenarnya sudah ingin mengakhiri perbuatannya itu bersama Ki Gendut Ireng dan Si Codet. Namun, karena keahlian bela diri / ilmu silat Anan yang masih jauh dibandingkan Ki Gendut Ireng dan Si Codet, serta berbagai ancaman dan penekanan dari Ki Gendut Ireng pada Anan, hingga membuat pemuda itu nyalinya kembali ciut. Anan harus berfikir keras lagi bagaimana caranya bisa bebas dari kedua bandit jahat dan bengis itu.

****

#Keadaan di Pos ronda saat itu.

Angin malam terus berhembus sedikit kencang dan membuat hawa semakin dingin. Apalagi dimusim kemarau panjang, dinginnya mulai terasa saat matahari ketika terbenam.

Di pos ronda, tampak empat orang laki-laki yang sedang berkumpul berjaga di dalam Pos. Badan mereka masing-masing ditelungkupi kain sarung karena merasa kedinginan yang mulai meresap pada badan mereka.

Rasa dingin yang terasa menusuk nusuk tulang mereka, juga rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang ke empat orang ronda yang padahal tidak lama sudah pada minum air kopi, hingga membuat keempatnya sangat malas untuk beranjak meninggalkan pos ronda. Masing-masing badan mereka sudah ditelungkupi kain sarung untuk mengamankan diri dari rasa dingin yang tidak bisa diajak kompromi. Hingga dari bibir mereka terdengar hampir berbarengan suara "brrrr..sssshhhh... Brrr". Seperti paduan suara saja.

Kalau saja tidak ingat dengan kewajiban dan kesepakatan bersama. Tentunya keempat ronda itu sudah meninggalkan pos ronda, dan pulang ke rumah masing-masing.

Terdengar dari salahsatu ronda yang bernama Juhro berkata.

"Bagaimana kang Adun, apa perlu kita keliling kampung lagi,?" Tanya salah satu ronda yang bernama Juhro. Kedua tangannya masih memegang erat ujung sarung, hingga yang terlihat wajah nya saja.

Laki-laki yang dipanggil Kang Adun menoleh ke arah Juhro di sampingnya.

"Tadi kan kita sudah keliling, dan keadaan kampung kita aman-aman saja. Kalau menurut Aku mah cukup sekali saja. Paling nanti kelilingnya lagi sekitar jam 3 an. Lagian jam seginih dinginya terasa banget. Hoaaaam....mataku kok mendadak terasa berat dan lengket banget... Hoaaaam..."

Kata Adun pada Juhro. Memberikan jawaban sebagai alibi saja.

"ia nih... Aku juga merasa kedinginan banget. Mana lupa tidak membawa jaket lagi duh... brrr... dingiiiin... hoaaaam!!" Kata Roji, ronda di sebelah Adun yang bernada sama dan menggigilkan badannya.

"Ya sudah kita berjaga di sini saja. Yang penting sudah menjalankan tugas. Nanti sekitar jam 3 kita keliling kampung lagi." Laki-laki yang bernama Jubed menimpali.

Matanya disipitkan ke arah jam dinding yang menempel di dinding pos. Lalu melangkahkan kakinya mendekati kentongan yang mengantung di pinggir tiang sebelah barat pos.

" tok...tok... tok.. tok..!!! ( 12 kali ) " Suara kentongan yang dipukul Jubed, bunyinya sangat nyaring suaranya jelas sekali menyebar kemana-mana di wilayah sekitar pos. Apalagi suasana hening di tengah malam tersebut.

Suara kentongan yang dipukul 12 kali. Menandakan sudah jam 12 malam. pas tengah malam.

Selesai memukul kentongan, Jubed kembali ke arah ketiga temannya yang masih berkumpul dan bergumul saling merapatkan badan untuk menghilangkan rasa dingin yang semakin terasa.

Terdengar suara mengorok yang bersahutan dari Adun dan Roji. Beberapa menit kemudian, tidak kalah juga Juhro menyahut, persis seperti perlombaan mengorok di Pos ronda tersebut.

Jubed hanya bisa menggelengkan kepala dan mengusap kasar wajahnya. Tidak berselang lama juga, Jubed memposisikan badannya di samping Juhro yang sudah terlelap di alam mimpinya.

"Hoaaaammmm..." Terdengar dari mulut Jubed, dan langsung mengerjap ngerjapkan matanya yang mulai terasa berat dan lengket.

Beberapa menit kemudian. Suasana pos ronda itu sedikit gaduh dengan suara dengkuran yang saling bersahutan. Keempat ronda akhirnya terlelap. Tidak curiga suatu apapun, sebenarnya bahwa bahaya sebentar lagi datang.

****

Sementara itu, diwaktu yang sama, Ki Gendut Ireng, Si Codet dan juga Anan telah berhasil menaiki pagar tinggi 3 meteran di belakang rumah Juragan Basri.

Sebelum menjalankan aksinya, Ki Gendut Ireng memberikan isyarat lagi pada kedua temannya, agar aksinya itu berjalan mulus dengan sempurna.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

.

Terpopuler

Comments

dede rohimah

dede rohimah

wuih.. alur ceritanya.. lanjut thor

2024-09-14

0

Rina Mes

Rina Mes

Anan itu nama sepupu aku thoor hehehehe.
mudah mudahan jadi protagonis...

seru euy kayak nya...
lanjut baca aaaah... gaaaaas poool

2024-09-14

0

Reyy Petualang

Reyy Petualang

lanjutt thorr

2024-09-03

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Komplotan Perampok Dimalam Hari
2 Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi
3 Bab 3. Hampir Kepergok Tuanrumah
4 Bab 4. Rencana hampir gagal.
5 Bab 5. Berhasil Disekap
6 Bab 6. Lepas dari Sekapan Bandit
7 Bab 7. Di Pos Ronda
8 Bab 8. Kabur
9 Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.
10 Bab 10. Pengejaran
11 Bab 11. Anan, Jadi Sasaran Amarah
12 Bab 12. Siaga Satu
13 Bab.13. Pertarungan lawan Warga.
14 Bab. 14. Malah Bertemu Siluman
15 Bab 15. Ki Gendut Ireng dan Si Codet berusaha kabur lagi.
16 Bab 16. Anan Ketangkap
17 Bab 17. Anan diboyong ke Rumah Juragan Basri
18 Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.
19 Bab.19. Pindah Markas
20 Bab. 20. Informasi di Kedai Kopi
21 Bab 20. Sobarna, Penjual Nasi Goreng
22 Bab 22. Bertemu Dengan Kawan Lama di Club.
23 Bab. 23. Bergabung
24 Bab. 24. Isi Celengan Sobarna
25 Bab. 25. Nggak Jadi Kirim Uang
26 Bab 26. Penjahat Dijahati
27 Bab 27. Ki Gendut Ireng dan si Codet Terlelap
28 Bab 28. "Mana Dompetku, Mir?"
29 Bab 29. Di Toko Perhiasan ( POV: Gardi ).
30 Bab. 30. Masih POV Gardi
31 Bab 31. Diajak Kerjasama
32 Bab. 32 Sebelas Duabelas.
33 Bab. 33. "Harus bisa Petak Umpet dengan Pihak Yang Berwajib.
34 Bab 34. Sistem Kerjasama dengan Kang Dudung
35 Bab 35. Aksi di Angkot
36 Bab 36. Serasa Makan Buah Simalakama
37 Bab 37. "Masa Preman ngebahas Sholat,!?".
38 Bab. 38. Lanjut Beraksi
39 Bab. 39. Firasat Seorang Isteri.
40 Bab. 40. Mimpi Buruk.
41 Bab. 41. AWAL PETAKA SOBARNA. ( Part. 1 )
42 Bab 42. AWAL PETAKA SOBARNA ( Part 2 ).
43 Bab 43. Malam yang Malang
44 Bab. 44. Bagi-bagi Hasil
45 Bab. 45. Ditolong Teman.
46 Bab. 46. Lapor Polisi, diantar Anan.
47 Bab. 47.
48 Bab. 48. Berniat Pulang Kampung.
49 Bab. 49. Pulang dengan Bimbang.
50 Bab. 50. Larsih, Sosok Isteri Penyabar.
51 Bab. 51. Desa Lemburasri, Desa Terpencil.
52 Bab. 52. Pengamanan Diperketat di Kampung Lemburasri.
53 Bab. 53. Gelagat Orang yang Mencurigakan
54 Bab. 54. Sobarna Dicurigai
55 Bab. 55 Hampir Jadi Korban Salah Tangkap.
56 Bab. 56 Pulang ke Rumah tengah Malam.
57 Bab 57. Bertemu Isteri
58 Bab. 58.
59 Bab. 59. Cari Solusi
60 Bab. 60. Kecopetan.
61 Bab. 61. Rencana Pinjam Uang ke Juragan Basri.
62 Bab. 62. Bertamu ke Rumah Juragan Basri
63 Bab. 63. Pinjaman Bersyarat.
64 Bab. 64. Syarat Di Luar Nalar.
65 Bab. 65. Sebuah Janji Suci Sobarna dan Larsih.
66 Bab. 66. Keraguan pada Sobarna.
67 Bab 67. Kekhawatiran Larsih
68 Bab. 68. Tamu Tak Diundang, Minta Jaminan
69 Bab. 69. Naluri Lintah Darat
70 Bab. 70. Codet Beraksi Lagi disambut dengan Perlawanan Sobarna
71 Bab. 71. Kekuatan Do'a Sang Isteri
72 Bab. 72. Mencoba Kabur, Cari Selamat.
73 Bab. 73. Si Codet Tertangkap.
74 Bab. 74. Bertemu Lagi dengan Anan.
75 Bab. 75. Akhirnya, Sertifikat Rumah Sebagai Jaminan.
76 Bab 76. Lapak Jualan Yang Terancam Gusuran
77 Bab. 77. Larsih Melahirkan
78 Bab. 78. Jatuh Tempo
79 Bab. 79. Sebuah Pertanda dalam Mimpi
80 Bab. 80. Nyi Sumarti Mulai Menagih.
81 Bab. 81. Mencari Solusi Lain.
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1 Komplotan Perampok Dimalam Hari
2
Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi
3
Bab 3. Hampir Kepergok Tuanrumah
4
Bab 4. Rencana hampir gagal.
5
Bab 5. Berhasil Disekap
6
Bab 6. Lepas dari Sekapan Bandit
7
Bab 7. Di Pos Ronda
8
Bab 8. Kabur
9
Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.
10
Bab 10. Pengejaran
11
Bab 11. Anan, Jadi Sasaran Amarah
12
Bab 12. Siaga Satu
13
Bab.13. Pertarungan lawan Warga.
14
Bab. 14. Malah Bertemu Siluman
15
Bab 15. Ki Gendut Ireng dan Si Codet berusaha kabur lagi.
16
Bab 16. Anan Ketangkap
17
Bab 17. Anan diboyong ke Rumah Juragan Basri
18
Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.
19
Bab.19. Pindah Markas
20
Bab. 20. Informasi di Kedai Kopi
21
Bab 20. Sobarna, Penjual Nasi Goreng
22
Bab 22. Bertemu Dengan Kawan Lama di Club.
23
Bab. 23. Bergabung
24
Bab. 24. Isi Celengan Sobarna
25
Bab. 25. Nggak Jadi Kirim Uang
26
Bab 26. Penjahat Dijahati
27
Bab 27. Ki Gendut Ireng dan si Codet Terlelap
28
Bab 28. "Mana Dompetku, Mir?"
29
Bab 29. Di Toko Perhiasan ( POV: Gardi ).
30
Bab. 30. Masih POV Gardi
31
Bab 31. Diajak Kerjasama
32
Bab. 32 Sebelas Duabelas.
33
Bab. 33. "Harus bisa Petak Umpet dengan Pihak Yang Berwajib.
34
Bab 34. Sistem Kerjasama dengan Kang Dudung
35
Bab 35. Aksi di Angkot
36
Bab 36. Serasa Makan Buah Simalakama
37
Bab 37. "Masa Preman ngebahas Sholat,!?".
38
Bab. 38. Lanjut Beraksi
39
Bab. 39. Firasat Seorang Isteri.
40
Bab. 40. Mimpi Buruk.
41
Bab. 41. AWAL PETAKA SOBARNA. ( Part. 1 )
42
Bab 42. AWAL PETAKA SOBARNA ( Part 2 ).
43
Bab 43. Malam yang Malang
44
Bab. 44. Bagi-bagi Hasil
45
Bab. 45. Ditolong Teman.
46
Bab. 46. Lapor Polisi, diantar Anan.
47
Bab. 47.
48
Bab. 48. Berniat Pulang Kampung.
49
Bab. 49. Pulang dengan Bimbang.
50
Bab. 50. Larsih, Sosok Isteri Penyabar.
51
Bab. 51. Desa Lemburasri, Desa Terpencil.
52
Bab. 52. Pengamanan Diperketat di Kampung Lemburasri.
53
Bab. 53. Gelagat Orang yang Mencurigakan
54
Bab. 54. Sobarna Dicurigai
55
Bab. 55 Hampir Jadi Korban Salah Tangkap.
56
Bab. 56 Pulang ke Rumah tengah Malam.
57
Bab 57. Bertemu Isteri
58
Bab. 58.
59
Bab. 59. Cari Solusi
60
Bab. 60. Kecopetan.
61
Bab. 61. Rencana Pinjam Uang ke Juragan Basri.
62
Bab. 62. Bertamu ke Rumah Juragan Basri
63
Bab. 63. Pinjaman Bersyarat.
64
Bab. 64. Syarat Di Luar Nalar.
65
Bab. 65. Sebuah Janji Suci Sobarna dan Larsih.
66
Bab. 66. Keraguan pada Sobarna.
67
Bab 67. Kekhawatiran Larsih
68
Bab. 68. Tamu Tak Diundang, Minta Jaminan
69
Bab. 69. Naluri Lintah Darat
70
Bab. 70. Codet Beraksi Lagi disambut dengan Perlawanan Sobarna
71
Bab. 71. Kekuatan Do'a Sang Isteri
72
Bab. 72. Mencoba Kabur, Cari Selamat.
73
Bab. 73. Si Codet Tertangkap.
74
Bab. 74. Bertemu Lagi dengan Anan.
75
Bab. 75. Akhirnya, Sertifikat Rumah Sebagai Jaminan.
76
Bab 76. Lapak Jualan Yang Terancam Gusuran
77
Bab. 77. Larsih Melahirkan
78
Bab. 78. Jatuh Tempo
79
Bab. 79. Sebuah Pertanda dalam Mimpi
80
Bab. 80. Nyi Sumarti Mulai Menagih.
81
Bab. 81. Mencari Solusi Lain.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!