Ki Gendut Ireng sadar, kini lawan nya bertambah tiga orang. Dia berfikir kalau lama-lama melawan warga pasti akan mengundang warga yang lainnya. Oleh karena itu, ketika Kang Inon lengah, Ki Gendut Ireng tidak menyiakan waktu, Ia melesat menjauh dan langsung menggunakan langkah seribunya menyelamatkan diri.
Begitu pun dengan Si Codet, setelah berhasil melayangkan pukulan nya ke Adun, ketika si Adun meringis kesakitan, Si Codet langsung menyusul Ki Gendut Ireng yang terlebih dulu meninggalkannya. Sontak saja, Pak RT dan yang lainnya merasa tambah geram. Susah - susah mencari kawanan maling, kini ketika ada di hadapan mereka, kawanan malingnya kabur.
"Haaaii...Bangsaaat. jangan lari, luh.. kejar woi..!!!" Teriak Kang Inon sambil melompat mengejar Ki Gendut Ireng dan Si Codet.
Juhro, Subad dan juga Mang Darta, ikut mengejar. Sementara, Adun tidak ikut mengejar, dikarenakan kaki nya masih terasa ngilu saat diadu dengan kaki si Codet, belum pelipisnya yang terasa nyut nyutan membuat sedikit pening di kepalanya.
"Apa kita mau mengejar juga, Pak RT? " Tanya Juragan Basri yang tadinya mau mengejar, namun mengurungkan langkah kakinya.
"Jangan semua mengejar kesana, kan tadi kita dapat laporan dari si Juhro, kawanan maling itu membawa karung yang di dalamnya seperti ada orangnya. Kita cek saja karungnya, nah tuh karungnya masih ada di bawah." Kata Pak RT sambil menunjuk pada sebuah karung yang tergeletak tidak jauh dari mereka.
"Ayo kita selidiki. Apa benar di dalam karung itu ada orang yang disekap. Saya khawatir warga kita yang jadi korban." Jelas Pak RT.
"Iya Pak RT. Ayo kita kesana. Kita buka karungnya." Juragan Basri mengiyakan. Kemudian melangkah mendekati karung yang tergeletak di tanah sawah kering di bawah mereka berdiri.
"Hati-hati, Juragan. Kita tetap waspada, dan jangan gegabah." Pak RT mengingatkan, yang langsung dianggukkan oleh Juragan Basri yang mulai membuka tali karungnya.
"Tapi kenapa dia diikat dan dimasukkan ke dalam karung.?" Lirih Juragan Basri. Semuanya terdiam tidak ada yang menjawab.
"Saya juga kurang tahu. Juragan, karena begitu tadi kami ke sini, kami mendengar ada seseorang yang teriak minta tolong, seperti sedang disiksa kemudian Kami mendengar ada suara perintah untuk langsung dimasukkan ke dalam karung." Adun menjawab sejelasnya apa yang tadi mereka dengar dan ketahui.
"Ayo kita buka saja karungnya. Saya sudah tidak sabar dan biar tidak penasaran, mudah-mudahan bisa tertolong." Perintah Pak RT kemudian.
"Biar Saya yang membuka karungnya Juragan." Adun mendekati Juragan Basri yang tadinya mau membuka tali karung. Nampak karung tersebut gerak-gerak.
Beberapa saat kemudian, tali karung sudah dibuka, dan ternyata tampak ada seorang laki-laki yang kaki dan tangannya terikat dengan mulut tersumpal kain.
Pak RT, Adun dan Juragan Basri sangat kaget, mata mereka membulat ke arah laki-laki yang di dalam karung itu yang tiada lain adalah Anan.
Tanpa menunggu perintah, Adun langsung membuka kain yang menyumpal mulut Anan.
"Hufh haaaaah.... Alhamdulillaaaah, terima kasih Tuhaaaan...!" Anan langsung menghela nafas dan langsung mengucap syukur.
Sepasang mata nya diedarkan pada ketiga laki-laki yang ada di dekatnya. Kemudian Adun dibantu oleh Juragan Basri mendudukan badan Anan, dan melepas karungnya, tali yang mengikat tangan dan kakinya juga kini telah berhasil dilepas. Akhirnya lega lah hati Anan.
"Terima kasih Bapak-bapak, telah menyelamatkan Saya." Ucap Anan. Nafasnya juga sudah kembali teratur lagi, setelah beberapa lama berada di dalam karung.
"Siapa Kamu, Nak. Kayak nya bukan orang deket sini yah.?" Pak RT langsung bertanya.
"Ssa..Saya.. Saya Anan. Pak." Jawab Anan, mendadak gugup.
Sementara itu, Adun dan Juragan Basri memperhatikan Anan yang masih terduduk lemah.
Tiba-tiba Juragan Basri mendekati Anan dan langsung bertanya dengan pertanyaan yang sedikit menelisik dan menyeringai.
"Hai.. kalau Aku lihat dari pakainmu dan dari suaramu, kayaknya bagiku nggak asing. Kamu pencuri yang membobol rumahku kan, hah.. Ayo jawab.!?" Juragan Basri bertanya, dengan nada semakin keras dan meninggi. Karena Ia yakin pemuda di hadapanya ini adalah yang masuk ke rumahnya dan ikut mengambil uang serta perhiasan miliknya.
Pak RT dan Adun hanya diam, tapi tetap menyimak perkataan Juragan Basri yang baru saja jelas terdengar.
Anan terdiam ia, hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Kenapa Kamu diam, hah..! Tatap mataku. Jawab dengan jujur..!" Juragan Basri semakin emosi melihat Anan hanya diam dan menunduk. Diangkatnya kerah baju Anan dengan kedua tangan kekarnya Juragan Basri yang mulai emosinya tidak terkontrol.
"Jawab dengan jujur anak muda..!! Atau Kau ingin segera berakhir riwayat hidupmu di tanganku, hah..! Kamu bisa bicara kan, brengsek..!"
"Plak...plak.."
"Aduuuh...ampuun Ju..juragaan." Pekik Anan memilukan.
"To..tolong jangan siksa Saya, Juragan. Ssa..Saya memang bbersalah."
Dua tamparan mendarat di kiri kanan pipi Anan, yang tadinya sudah memar akibat tamparan dan pukulan Si Codet. Hingga Anan meringis karena bertambah sakit.
"Tahan dulu, Juragan...!" Terdengar teriak Pak RT yang berhasil meraih tangan kanan Juragan Basri yang siap memberikan tamparan berikutnya. Nafas Juragan Basri tersengal dengan wajah merah penuh dengan emosi yang meluap.
"Tahan dulu, Gan. Jangan main hakim sendiri. Bahaya.!"
"Tapi Dia salah satu maling yang membobol rumah Saya, Pak RT.!" Bela Juragan Basri.
"Iyaaa. Saya juga faham dan sudah bisa menebak. Tapi apakah Kita tidak memperhatikan keadaan pemuda ini, yang baru saja diikat tangan dan kakinya, dengan mulut disumpal. Bahkan dimasukkan ke dalam karung. Dan yang perlu kita selidiki, kenapa yang melakukannya adalah teman nya sendiri. Begitu, Juragan." Pak RT menjelaskan panjang lebar. Akhirnya Juragan Basri terdiam. Pak RT melanjutkan pembicaraanya lagi.
"Biarlah Saya yang akan menelisik siapa pemuda ini. Yang penting Saya minta tolong ke Kamu, Dun dan juga pada Juragan untuk bantu awasi pemuda ini. Agar tidak bisa kabur seperti kedua temannya."
"Siap Pak RT" Adun dan Juragan Basri hampir serempak menjawab.
"O iya. Sambil menunggu yang lain. Mudah-mudahan pencuri yang dua orang tadi bisa berhasil ketangkap dan kita serahkan pada yang berwajib. Sementara ini, Kita bawa ke saung saja, kebetulan tidak terlalu jauh. Kamu bisa berjalan, anak muda?" Pak RT kembali bertanya ke Anan.
"Bbisa, Pak. " Jawab Anan.
"Ayo berdiri, jalan..!!" Sentak Juragan Basri masih memendam amarahnya pada Anan yang masih tertunduk. Entah takut entah malu. Kemudian mereka berjalan menuju ke arah Saung kecil yang tidak jauh dari tempat mereka.
"Maaf, Pak RT. Apa kita bawa saja orang ini ke Pos ronda. Lagi pula keadaan di sini gelap walaupun remang-remang. Ini juga api obornya kayaknya sebentar lagi mau padam. Minyak nya habis." Terdengar Adun bersuara memberikan saran pada Pak RT.
" Kita bawa saja ke rumah Saya, Pak RT." Ucap Juragan Basri.
"Baiklah, kita bawa saja ke rumah Juragan. Tapi pesan Saya, tolong nanti jangan main hakim sendiri, nanti setelah jelas tentang si pemuda ini, Kita bawa ke kantor Polisi. Kita serahkan. Biar hukum yang akan menentukan." Jawab Pak RT.
Akhirnya, keempat Pria dewasa itu berjalan menuju ke Kampung. Dan langsung menuju rumah Juragan Basri.
Sementara itu, Anan sedikit bersyukur, telah berhasil keluar dari tekanan dan pengaruh Ki Gendut Ireng. Walaupun Ia kini tertangkap dan kemungkinan dipenjara akibat ulah nya selama ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Rina Mes
kasihan bnget si Anan..
2024-09-14
0