Bab 16. Anan Ketangkap

Ki Gendut Ireng sadar, kini lawan nya bertambah tiga orang. Dia berfikir kalau lama-lama melawan warga pasti akan mengundang warga yang lainnya. Oleh karena itu, ketika Kang Inon lengah, Ki Gendut Ireng tidak menyiakan waktu, Ia melesat menjauh dan langsung menggunakan langkah seribunya menyelamatkan diri.

Begitu pun dengan Si Codet, setelah berhasil melayangkan pukulan nya ke Adun, ketika si Adun meringis kesakitan, Si Codet langsung menyusul Ki Gendut Ireng yang terlebih dulu meninggalkannya. Sontak saja, Pak RT dan yang lainnya merasa tambah geram. Susah - susah mencari kawanan maling, kini ketika ada di hadapan mereka, kawanan malingnya kabur.

"Haaaii...Bangsaaat. jangan lari, luh.. kejar woi..!!!" Teriak Kang Inon sambil melompat mengejar Ki Gendut Ireng dan Si Codet.

Juhro, Subad dan juga Mang Darta, ikut mengejar. Sementara, Adun tidak ikut mengejar, dikarenakan kaki nya masih terasa ngilu saat diadu dengan kaki si Codet, belum pelipisnya yang terasa nyut nyutan membuat sedikit pening di kepalanya.

"Apa kita mau mengejar juga, Pak RT? " Tanya Juragan Basri yang tadinya mau mengejar, namun mengurungkan langkah kakinya.

"Jangan semua mengejar kesana, kan tadi kita dapat laporan dari si Juhro, kawanan maling itu membawa karung yang di dalamnya seperti ada orangnya. Kita cek saja karungnya, nah tuh karungnya masih ada di bawah." Kata Pak RT sambil menunjuk pada sebuah karung yang tergeletak tidak jauh dari mereka.

"Ayo kita selidiki. Apa benar di dalam karung itu ada orang yang disekap. Saya khawatir warga kita yang jadi korban." Jelas Pak RT.

"Iya Pak RT. Ayo kita kesana. Kita buka karungnya." Juragan Basri mengiyakan. Kemudian melangkah mendekati karung yang tergeletak di tanah sawah kering di bawah mereka berdiri.

"Hati-hati, Juragan. Kita tetap waspada, dan jangan gegabah." Pak RT mengingatkan, yang langsung dianggukkan oleh Juragan Basri yang mulai membuka tali karungnya.

"Tapi kenapa dia diikat dan dimasukkan ke dalam karung.?" Lirih Juragan Basri. Semuanya terdiam tidak ada yang menjawab.

"Saya juga kurang tahu. Juragan, karena begitu tadi kami ke sini, kami mendengar ada seseorang yang teriak minta tolong, seperti sedang disiksa kemudian Kami mendengar ada suara perintah untuk langsung dimasukkan ke dalam karung." Adun menjawab sejelasnya apa yang tadi mereka dengar dan ketahui.

"Ayo kita buka saja karungnya. Saya sudah tidak sabar dan biar tidak penasaran, mudah-mudahan bisa tertolong." Perintah Pak RT kemudian.

"Biar Saya yang membuka karungnya Juragan." Adun mendekati Juragan Basri yang tadinya mau membuka tali karung. Nampak karung tersebut gerak-gerak.

Beberapa saat kemudian, tali karung sudah dibuka, dan ternyata tampak ada seorang laki-laki yang kaki dan tangannya terikat dengan mulut tersumpal kain.

Pak RT, Adun dan Juragan Basri sangat kaget, mata mereka membulat ke arah laki-laki yang di dalam karung itu yang tiada lain adalah Anan.

Tanpa menunggu perintah, Adun langsung membuka kain yang menyumpal mulut Anan.

"Hufh haaaaah.... Alhamdulillaaaah, terima kasih Tuhaaaan...!" Anan langsung menghela nafas dan langsung mengucap syukur.

Sepasang mata nya diedarkan pada ketiga laki-laki yang ada di dekatnya. Kemudian Adun dibantu oleh Juragan Basri mendudukan badan Anan, dan melepas karungnya, tali yang mengikat tangan dan kakinya juga kini telah berhasil dilepas. Akhirnya lega lah hati Anan.

"Terima kasih Bapak-bapak, telah menyelamatkan Saya." Ucap Anan. Nafasnya juga sudah kembali teratur lagi, setelah beberapa lama berada di dalam karung.

"Siapa Kamu, Nak. Kayak nya bukan orang deket sini yah.?" Pak RT langsung bertanya.

"Ssa..Saya.. Saya Anan. Pak." Jawab Anan, mendadak gugup.

Sementara itu, Adun dan Juragan Basri memperhatikan Anan yang masih terduduk lemah.

Tiba-tiba Juragan Basri mendekati Anan dan langsung bertanya dengan pertanyaan yang sedikit menelisik dan menyeringai.

"Hai.. kalau Aku lihat dari pakainmu dan dari suaramu, kayaknya bagiku nggak asing. Kamu pencuri yang membobol rumahku kan, hah.. Ayo jawab.!?" Juragan Basri bertanya, dengan nada semakin keras dan meninggi. Karena Ia yakin pemuda di hadapanya ini adalah yang masuk ke rumahnya dan ikut mengambil uang serta perhiasan miliknya.

Pak RT dan Adun hanya diam, tapi tetap menyimak perkataan Juragan Basri yang baru saja jelas terdengar.

Anan terdiam ia, hanya bisa menundukkan kepalanya.

"Kenapa Kamu diam, hah..! Tatap mataku. Jawab dengan jujur..!" Juragan Basri semakin emosi melihat Anan hanya diam dan menunduk. Diangkatnya kerah baju Anan dengan kedua tangan kekarnya Juragan Basri yang mulai emosinya tidak terkontrol.

"Jawab dengan jujur anak muda..!! Atau Kau ingin segera berakhir riwayat hidupmu di tanganku, hah..! Kamu bisa bicara kan, brengsek..!"

"Plak...plak.."

"Aduuuh...ampuun Ju..juragaan." Pekik Anan memilukan.

"To..tolong jangan siksa Saya, Juragan. Ssa..Saya memang bbersalah."

Dua tamparan mendarat di kiri kanan pipi Anan, yang tadinya sudah memar akibat tamparan dan pukulan Si Codet. Hingga Anan meringis karena bertambah sakit.

"Tahan dulu, Juragan...!" Terdengar teriak Pak RT yang berhasil meraih tangan kanan Juragan Basri yang siap memberikan tamparan berikutnya. Nafas Juragan Basri tersengal dengan wajah merah penuh dengan emosi yang meluap.

"Tahan dulu, Gan. Jangan main hakim sendiri. Bahaya.!"

"Tapi Dia salah satu maling yang membobol rumah Saya, Pak RT.!" Bela Juragan Basri.

"Iyaaa. Saya juga faham dan sudah bisa menebak. Tapi apakah Kita tidak memperhatikan keadaan pemuda ini, yang baru saja diikat tangan dan kakinya, dengan mulut disumpal. Bahkan dimasukkan ke dalam karung. Dan yang perlu kita selidiki, kenapa yang melakukannya adalah teman nya sendiri. Begitu, Juragan." Pak RT menjelaskan panjang lebar. Akhirnya Juragan Basri terdiam. Pak RT melanjutkan pembicaraanya lagi.

"Biarlah Saya yang akan menelisik siapa pemuda ini. Yang penting Saya minta tolong ke Kamu, Dun dan juga pada Juragan untuk bantu awasi pemuda ini. Agar tidak bisa kabur seperti kedua temannya."

"Siap Pak RT" Adun dan Juragan Basri hampir serempak menjawab.

"O iya. Sambil menunggu yang lain. Mudah-mudahan pencuri yang dua orang tadi bisa berhasil ketangkap dan kita serahkan pada yang berwajib. Sementara ini, Kita bawa ke saung saja, kebetulan tidak terlalu jauh. Kamu bisa berjalan, anak muda?" Pak RT kembali bertanya ke Anan.

"Bbisa, Pak. " Jawab Anan.

"Ayo berdiri, jalan..!!" Sentak Juragan Basri masih memendam amarahnya pada Anan yang masih tertunduk. Entah takut entah malu. Kemudian mereka berjalan menuju ke arah Saung kecil yang tidak jauh dari tempat mereka.

"Maaf, Pak RT. Apa kita bawa saja orang ini ke Pos ronda. Lagi pula keadaan di sini gelap walaupun remang-remang. Ini juga api obornya kayaknya sebentar lagi mau padam. Minyak nya habis." Terdengar Adun bersuara memberikan saran pada Pak RT.

" Kita bawa saja ke rumah Saya, Pak RT." Ucap Juragan Basri.

"Baiklah, kita bawa saja ke rumah Juragan. Tapi pesan Saya, tolong nanti jangan main hakim sendiri, nanti setelah jelas tentang si pemuda ini, Kita bawa ke kantor Polisi. Kita serahkan. Biar hukum yang akan menentukan." Jawab Pak RT.

Akhirnya, keempat Pria dewasa itu berjalan menuju ke Kampung. Dan langsung menuju rumah Juragan Basri.

Sementara itu, Anan sedikit bersyukur, telah berhasil keluar dari tekanan dan pengaruh Ki Gendut Ireng. Walaupun Ia kini tertangkap dan kemungkinan dipenjara akibat ulah nya selama ini.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Rina Mes

Rina Mes

kasihan bnget si Anan..

2024-09-14

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Komplotan Perampok Dimalam Hari
2 Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi
3 Bab 3. Hampir Kepergok Tuanrumah
4 Bab 4. Rencana hampir gagal.
5 Bab 5. Berhasil Disekap
6 Bab 6. Lepas dari Sekapan Bandit
7 Bab 7. Di Pos Ronda
8 Bab 8. Kabur
9 Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.
10 Bab 10. Pengejaran
11 Bab 11. Anan, Jadi Sasaran Amarah
12 Bab 12. Siaga Satu
13 Bab.13. Pertarungan lawan Warga.
14 Bab. 14. Malah Bertemu Siluman
15 Bab 15. Ki Gendut Ireng dan Si Codet berusaha kabur lagi.
16 Bab 16. Anan Ketangkap
17 Bab 17. Anan diboyong ke Rumah Juragan Basri
18 Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.
19 Bab.19. Pindah Markas
20 Bab. 20. Informasi di Kedai Kopi
21 Bab 20. Sobarna, Penjual Nasi Goreng
22 Bab 22. Bertemu Dengan Kawan Lama di Club.
23 Bab. 23. Bergabung
24 Bab. 24. Isi Celengan Sobarna
25 Bab. 25. Nggak Jadi Kirim Uang
26 Bab 26. Penjahat Dijahati
27 Bab 27. Ki Gendut Ireng dan si Codet Terlelap
28 Bab 28. "Mana Dompetku, Mir?"
29 Bab 29. Di Toko Perhiasan ( POV: Gardi ).
30 Bab. 30. Masih POV Gardi
31 Bab 31. Diajak Kerjasama
32 Bab. 32 Sebelas Duabelas.
33 Bab. 33. "Harus bisa Petak Umpet dengan Pihak Yang Berwajib.
34 Bab 34. Sistem Kerjasama dengan Kang Dudung
35 Bab 35. Aksi di Angkot
36 Bab 36. Serasa Makan Buah Simalakama
37 Bab 37. "Masa Preman ngebahas Sholat,!?".
38 Bab. 38. Lanjut Beraksi
39 Bab. 39. Firasat Seorang Isteri.
40 Bab. 40. Mimpi Buruk.
41 Bab. 41. AWAL PETAKA SOBARNA. ( Part. 1 )
42 Bab 42. AWAL PETAKA SOBARNA ( Part 2 ).
43 Bab 43. Malam yang Malang
44 Bab. 44. Bagi-bagi Hasil
45 Bab. 45. Ditolong Teman.
46 Bab. 46. Lapor Polisi, diantar Anan.
47 Bab. 47.
48 Bab. 48. Berniat Pulang Kampung.
49 Bab. 49. Pulang dengan Bimbang.
50 Bab. 50. Larsih, Sosok Isteri Penyabar.
51 Bab. 51. Desa Lemburasri, Desa Terpencil.
52 Bab. 52. Pengamanan Diperketat di Kampung Lemburasri.
53 Bab. 53. Gelagat Orang yang Mencurigakan
54 Bab. 54. Sobarna Dicurigai
55 Bab. 55 Hampir Jadi Korban Salah Tangkap.
56 Bab. 56 Pulang ke Rumah tengah Malam.
57 Bab 57. Bertemu Isteri
58 Bab. 58.
59 Bab. 59. Cari Solusi
60 Bab. 60. Kecopetan.
61 Bab. 61. Rencana Pinjam Uang ke Juragan Basri.
62 Bab. 62. Bertamu ke Rumah Juragan Basri
63 Bab. 63. Pinjaman Bersyarat.
64 Bab. 64. Syarat Di Luar Nalar.
65 Bab. 65. Sebuah Janji Suci Sobarna dan Larsih.
66 Bab. 66. Keraguan pada Sobarna.
67 Bab 67. Kekhawatiran Larsih
68 Bab. 68. Tamu Tak Diundang, Minta Jaminan
69 Bab. 69. Naluri Lintah Darat
70 Bab. 70. Codet Beraksi Lagi disambut dengan Perlawanan Sobarna
71 Bab. 71. Kekuatan Do'a Sang Isteri
72 Bab. 72. Mencoba Kabur, Cari Selamat.
73 Bab. 73. Si Codet Tertangkap.
74 Bab. 74. Bertemu Lagi dengan Anan.
75 Bab. 75. Akhirnya, Sertifikat Rumah Sebagai Jaminan.
76 Bab 76. Lapak Jualan Yang Terancam Gusuran
77 Bab. 77. Larsih Melahirkan
78 Bab. 78. Jatuh Tempo
79 Bab. 79. Sebuah Pertanda dalam Mimpi
80 Bab. 80. Nyi Sumarti Mulai Menagih.
81 Bab. 81. Mencari Solusi Lain.
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1 Komplotan Perampok Dimalam Hari
2
Bab 2. Mulai Menjalankan Aksi
3
Bab 3. Hampir Kepergok Tuanrumah
4
Bab 4. Rencana hampir gagal.
5
Bab 5. Berhasil Disekap
6
Bab 6. Lepas dari Sekapan Bandit
7
Bab 7. Di Pos Ronda
8
Bab 8. Kabur
9
Bab. 9. Suasana Lemburasri Rame dan Gaduh.
10
Bab 10. Pengejaran
11
Bab 11. Anan, Jadi Sasaran Amarah
12
Bab 12. Siaga Satu
13
Bab.13. Pertarungan lawan Warga.
14
Bab. 14. Malah Bertemu Siluman
15
Bab 15. Ki Gendut Ireng dan Si Codet berusaha kabur lagi.
16
Bab 16. Anan Ketangkap
17
Bab 17. Anan diboyong ke Rumah Juragan Basri
18
Bab. 18. Anan Dibawa Kepada Pihak Berwajib.
19
Bab.19. Pindah Markas
20
Bab. 20. Informasi di Kedai Kopi
21
Bab 20. Sobarna, Penjual Nasi Goreng
22
Bab 22. Bertemu Dengan Kawan Lama di Club.
23
Bab. 23. Bergabung
24
Bab. 24. Isi Celengan Sobarna
25
Bab. 25. Nggak Jadi Kirim Uang
26
Bab 26. Penjahat Dijahati
27
Bab 27. Ki Gendut Ireng dan si Codet Terlelap
28
Bab 28. "Mana Dompetku, Mir?"
29
Bab 29. Di Toko Perhiasan ( POV: Gardi ).
30
Bab. 30. Masih POV Gardi
31
Bab 31. Diajak Kerjasama
32
Bab. 32 Sebelas Duabelas.
33
Bab. 33. "Harus bisa Petak Umpet dengan Pihak Yang Berwajib.
34
Bab 34. Sistem Kerjasama dengan Kang Dudung
35
Bab 35. Aksi di Angkot
36
Bab 36. Serasa Makan Buah Simalakama
37
Bab 37. "Masa Preman ngebahas Sholat,!?".
38
Bab. 38. Lanjut Beraksi
39
Bab. 39. Firasat Seorang Isteri.
40
Bab. 40. Mimpi Buruk.
41
Bab. 41. AWAL PETAKA SOBARNA. ( Part. 1 )
42
Bab 42. AWAL PETAKA SOBARNA ( Part 2 ).
43
Bab 43. Malam yang Malang
44
Bab. 44. Bagi-bagi Hasil
45
Bab. 45. Ditolong Teman.
46
Bab. 46. Lapor Polisi, diantar Anan.
47
Bab. 47.
48
Bab. 48. Berniat Pulang Kampung.
49
Bab. 49. Pulang dengan Bimbang.
50
Bab. 50. Larsih, Sosok Isteri Penyabar.
51
Bab. 51. Desa Lemburasri, Desa Terpencil.
52
Bab. 52. Pengamanan Diperketat di Kampung Lemburasri.
53
Bab. 53. Gelagat Orang yang Mencurigakan
54
Bab. 54. Sobarna Dicurigai
55
Bab. 55 Hampir Jadi Korban Salah Tangkap.
56
Bab. 56 Pulang ke Rumah tengah Malam.
57
Bab 57. Bertemu Isteri
58
Bab. 58.
59
Bab. 59. Cari Solusi
60
Bab. 60. Kecopetan.
61
Bab. 61. Rencana Pinjam Uang ke Juragan Basri.
62
Bab. 62. Bertamu ke Rumah Juragan Basri
63
Bab. 63. Pinjaman Bersyarat.
64
Bab. 64. Syarat Di Luar Nalar.
65
Bab. 65. Sebuah Janji Suci Sobarna dan Larsih.
66
Bab. 66. Keraguan pada Sobarna.
67
Bab 67. Kekhawatiran Larsih
68
Bab. 68. Tamu Tak Diundang, Minta Jaminan
69
Bab. 69. Naluri Lintah Darat
70
Bab. 70. Codet Beraksi Lagi disambut dengan Perlawanan Sobarna
71
Bab. 71. Kekuatan Do'a Sang Isteri
72
Bab. 72. Mencoba Kabur, Cari Selamat.
73
Bab. 73. Si Codet Tertangkap.
74
Bab. 74. Bertemu Lagi dengan Anan.
75
Bab. 75. Akhirnya, Sertifikat Rumah Sebagai Jaminan.
76
Bab 76. Lapak Jualan Yang Terancam Gusuran
77
Bab. 77. Larsih Melahirkan
78
Bab. 78. Jatuh Tempo
79
Bab. 79. Sebuah Pertanda dalam Mimpi
80
Bab. 80. Nyi Sumarti Mulai Menagih.
81
Bab. 81. Mencari Solusi Lain.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!