Saat baru keluar dari lobi apartemennya pagi ini, seorang lelaki berlari menghampiri Mila dan memanggil-manggil namanya.
“Mil, kita bisa bicarakan semuanya baik-baik. Kamu keterlaluan sudah menceraikanku tiba-tiba begini.” Rega seakan tak terima akan perceraian ini.
Ternyata, Selia lah yang sudah memberitahukan Rega keberadaan Mila saat ini.
“Keterlaluan? Aku? Lalu, apa yang sudah kamu lakukan itu tidak keterlaluan? Di saat aku memberimu maaf dan pertengkaran kita mereda, kamu bukannya berubah malah semakin gila. Kamu seorang pengajar, bagaimana jika ada mahasiswamu yang melihat perilakumu seperti ini!” Mila menunjukkan video rekaman saat Rega berciuman dengan Selia di dalam mobil.
“Aku khilaf! Aku tahu aku salah, tapi apa iya kamu tidak bisa memaafkanku? Kenakalanku tidak melunturkan perasaanku padamu sama sekali,” kekeh Rega tak tahu diri.
Rega juga menuduh, bahwa apa yang Mila lakukan hanya lah karena mantan istrinya itu ingin mengambil kesempatan dari adanya masalah ini, untuk bisa dekat dengan Arya yang kaya raya. “Seandainya Arya hanya lelaki biasa, kamu tidak mungkin akan begini ‘kan, Mil? Aku tidak menyangka kamu bisa setega ini.”
Semakin geram dengan tuduhan Rega, Mila membentaknya. Ia dengan tegas mengatakan bahwa Rega tak seharusnya memutarbalikkan fakta. Dalam permasalahan ini, Rega lah yang merupakan pihak murah*n itu, karena dengan sadar berselingkuh dengan sepupu istrinya. Rega juga lah yang telah memanfaatkan kesempatan Selia sebagai sepupu Mila, untuk diam-diam menjalani hubungan terlarang.
“Kalau Mila menjalin hubungan denganku, memang apa urusannya denganmu, Pak Dosen? Lagi pula, Mila berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik darimu,” sahut Arya dari belakang Rega, membuat Mila juga Rega diam mematung.
Arya juga menimpali, bahwa hubungan mereka bukan lah hubungan terlarang, seperti yang dilakukan oleh Rega dan Selia. Hubungan mereka juga tidak dibangun atas pemanfaatan kesempatan apalagi pengkhianatan. Mereka memulai semua ini setelah masing-masing selesai dengan hubungan yang sebelumnya. Bahkan, sah-sah saja jika mereka akan menikah saat ini juga.
Rega pun berbalik arah kembali memandangi Mila, seolah ia tak bisa percaya bahwa kini Mila dan Arya memiliki hubungan, seperti apa yang Selia katakan.
Arya pun meminta Rega untuk tak menemui Mila lagi, jika Pak Dosen itu masih punya malu.
Hingga saat siang harinya, Rega dan Selia kembali bertemu di sebuah kafe. Rega yang awalnya tak percaya dengan tuduhan Selia, kini mulai memihak selingkuhannya itu. Sakit sekali hatinya saat ini, mendapati Mila memiliki hubungan dengan lelaki lain.
“Aku sudah pernah bilang, tapi Mas Rega tidak mau percaya dan malah terus membela perempuan tak tahu diri itu. Sekarang kamu baru percaya ‘kan?” Selia seolah puas kini tuduhannya terbukti.
“Tidak, tidak. Aku rasa mereka pasti hanya ingin menggertak kita saja. Aku yakin mereka tak benar-benar memiliki hubungan, tidak mungkin secepat itu. Mereka hanya ingin balas dendam.” Seperti orang depresi, Rega tampak meratapi nasibnya dengan pikiran yang berubah-ubah.
Menghela nafas panjangnya, Selia seakan ingin angkat tangan meyakinkan mantan suami Mila itu.
***
Cika yang baru pulang kerja paruh waktu di kafe malam ini, tampak buru-buru ingin sampai rumah, karena ada sesuatu yang tak ingin dilihat oleh ibunya.
Saat ia sedang di jalan pulang tadi, Selia mengirimkan foto Mila dan Arya saat tengah bersama, termasuk saat mereka berjalan berduaan menuju mobil dan saat mereka memasuki apartemen bersama, di grup keluarga besar mereka. Tak hanya itu, Selia juga membubuhkan narasi yang menuduh dan memojokkan Mila juga Arya. Entah apa maksud Selia yang seolah sedang melakukan klarifikasi itu atas perceraiannya dengan Arya. Ia tampak ingin menunjukkan pada keluarga besarnya bahwa perceraian itu terjadi karena perselingkuhan Arya dan Mila.
Betapa terkejutnya ia saat memasuki ruang tengah, didapatinya sang ibu terlihat masih mencari-cari kacamata, dengan ponsel di genggaman tangan kanannya.
“Ibu,” panggil Cika sembari berlari menghampiri sang ibu.
“Ibu, Cika lapar, belum sempat makan tadi. Cika sedang ingin makan telur ceplok kecap buatan Ibu,” rengeknya memanja.
“Kamu ini, sudah besar tetap sukanya makan telur, sayur saja tidak mau. Bisulan baru tahu rasa,” goda sang ibu yang tak banyak membantah, lalu meletakkan ponselnya di meja dan bergegas menuju dapur.
Cika lalu buru-buru membuka pesan singkat di ponsel sang ibu, seketika hatinya melega karena pesan di grup itu belum terbuka. Dihapusnya semua pesan singkat itu, dan dengan sengaja dibisukannya setiap notifikasi yang masuk dalam grup keluarga. Lalu, dibawanya ponsel ibunya.
“Ibu, Cika ganti baju dulu ya. Ponsel Ibu Cika charge di ruang belakang,” teriaknya agar sang ibu dapat mendengar suaranya dari dapur.
Cika memang sengaja berbohong agar bisa menyimpan ponsel ibunya untuk sementara waktu.
“Mbak,” sapanya dalam panggilan telepon, setelah Cika masuk ke dalam kamarnya.
Terdengar suara panik Mila, yang takut jika ibunya tahu perihal kisruh rumah tangganya yang belum sempat diceritakannya.
Cika dengan tenang mengatakan bahwa ibu mereka belum sempat melihatnya. “Kalau Cika tidak buru-buru pulang, habis kita, Mbak. Ibu pasti juga akan memarahiku karena sengaja tidak cerita apa-apa soal Mbak Mila. Karena ibu tahu aku pasti sengaja menutupinya."
Meminta maaf atas dirinya yang membuat malu keluarga, dengan terisak Mila berucap. Begitu malu dan hancur hatinya ketika keramaian di grup keluarga ini terjadi. Bahkan, mama Selia juga mengatai ibunya yang dianggap tak bisa mendidik anak perempuannya. Tak terima rasanya sang ibu diperlakukan demikian.
Namun, tiba-tiba Cika memberitahukan sesuatu.
“Mbak, Mas Arya kirim gambar dan video apa ini di grup, banyak sekali.”
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sholikhah Mawardi
mbak, gak perna ngaca yah, kok bilang mila gak tahu diri lah kamu apa?.
2024-08-29
2