Bab 11

“Jangan ke-geer-an, kita hanya pura-pura,” tutur Arya mengingatkan, membuat Mila kesal dibuatnya.

Tak terima diingatkan akan hal itu, Mila dengan tegas dan nada ketusnya mengatakan bahwa ia lah yang seharusnya mengingatkan Arya, agar tak mencari kesempatan di tengah akting mereka. “Tanpa diingatkan pun, aku sudah tahu dan tak akan lupa!"

Tersenyum mengejek, Arya merasa Mila yang kurang mendapatkan kasih sayang dari suaminya, terlihat begitu menikmati setiap perhatian pura-pura yang ia berikan.

Mila yang duduk di depan meja Arya, seketika berdiri karena tak terima dengan ucapan suami Selia itu. Tapi, ia mengurungkan niatnya untuk memarahi bosnya, karena apa yang Arya katakan tidak sepenuhnya salah. Ia memang begitu menikmati setiap akting yang mereka jalankan. Tapi, bukan karena kurang kasih sayang alasannya, hanya saja, Mila juga punya rencana sendiri untuk merebut Arya dari Selia.

Demi membalaskan dendamnya pada sepupunya itu, sehingga ia ingin tampak natural.

Tak hanya itu, Mila bahkan berencana menggoda dan membuat Arya jatuh cinta padanya, meski hal ini terasa sulit baginya.

“Jangan mudah emosi dong, Mil. Pantas saja Rega mencari selingan lain, mungkin di rumah hanya amarah yang ia dapat darimu. Maksudku begini, hanya di saat-saat yang diperlukan saja, kita harus terlihat mesra dan seolah memiliki hubungan gelap, seperti yang mereka lakukan,” ujar Arya berjalan mendekati Mila yang masih berdiri di hadapannya.

Arya lalu membelai lembut rambut yang menjuntai di kening Mila, hingga membuat hati istri pak dosen itu bergetar dan pasrah.

Perasaan bimbang pun Mila rasakan, karena apa yang Arya lakukan sangat lah berseberangan dengan apa yang baru saja dikatakannya.

“Maksudnya apa tanganmu begini? Kamu bilang...” Belum selesai Mila bicara, pintu ruangan Arya terbuka.

Arya dengan pelan menyingkirkan tangannya yang masih membelai kening Mila.

“Kamu ngapain di ruangan suamiku, Mbak? Bukannya kerja malah merayu suami orang!” Selia yang tiba-tiba masuk langsung melabrak Mila.

“Dasar pelakor!” bubuh Selia memandang tajam ke arah Mila.

Seketika Mila paham apa yang Arya maksud.

“Aku hanya ingin minta tanda tangannya, tapi suamimu malah sok perhatian ingin memukul nyamuk yang ada di keningku," jawab Mila tenang, lalu pergi meninggalkan ruangan bosnya.

Keluar ruangan, Mila tersenyum lepas nan puas setelah melihat ekspresi Selia yang sedang cemburu.

"Tahu ada Selia, mestinya tadi aku juga menyentuh dada bidang Arya, biar dia makin kepanasan," gumamnya.

***

Setiap hari, Arya mengantar pulang Mila. Mereka juga tampak pulang lebih malam dari biasanya. Hal ini membuat Rega yang sudah ada di rumah, merasa perlu menegur istrinya.

“Aku sudah mengusahakan tak lagi pulang malam, tapi kamu sendiri yang malah selalu pulang terlambat. Diantar pulang lelaki lain pula. Sangat tidak pantas, Mil! Kamu bisa memintaku untuk menjemputmu, atau kalau perlu, aku yang akan mengantar jemputmu mulai besok dan seterusnya,” tegas Rega.

Dengan santai, Mila mengatakan bahwa ia tak meminta Rega pulang lebih awal. “Kenapa kamu jadi bisa pulang lebih awal? Bukankah kamu sibuk menjadi dosen pembimbing? Lagi pula, aku memang sering lembur akhir-akhir ini. Karena tak tega melihat karyawan wanitanya pulang sendirian malam-malam begini, jadi lah Mas Arya mengantarkanku pulang. Apa salahnya? Hanya mengantar pulang, tidak mengajakku menginap di hotel kok.”

Kesal dengan jawaban istrinya, Rega tak henti mengajak debat setiap Mila pulang kantor. “Kamu ingin balas dendam? Iya? Kamu panggil dia Mas, sedangkan kamu memanggilku dengan nama!”

“Aku tidak sepertimu. Tapi kalau kamu berpikiran seperti itu ya tidak apa-apa. Lagian, aku rasa Arya memang lebih baik darimu,” jawab Mila membuat Rega geram dan menarik tangannya.

“Aku tidak bisa terima kamu begini ya, Mil. Aku sudah meminta maaf atas kekhilafanku. Aku juga sudah bilang kalau aku hanya jenuh saja! Mau kamu hanya ingin balas dendam atau tidak, aku tidak suka kamu dekat dengannya,” tukas Rega serius.

“Aku juga sedang jenuh denganmu, Rega! Yang aku lakukan hanya lah mencontohmu. Melakukan hal yang sama denganmu saat sedang jenuh dengan pernikahan ini, mencari selingan.” Mila melepaskan tangannya dari cengkeraman suaminya dan berlalu ke kamar.

Rega lalu tampak menghubungi seseorang, masih dengan wajah penuh amarah.

Sementara itu di rumahnya, Selia juga terus meminta penjelasan suaminya terkait kedekatan Arya dan Mila akhir-akhir ini.

"Aku baru pulang, aku lelah sekali dan ingin istirahat. Bisa kita bicara besok saja?” tawar Arya melepas kancing kemejanya.

“Lelah bekerja atau lelah selingkuh? Tidak bisa! Kita harus bicara sekarang. Kamu jangan macam-macam ya, Mas!” titah Selia.

"Memang kamu lihat aku melakukan apa, sampai kamu tuduh aku selingkuh? Apa kamu lihat aku berada di kamar hotel dengan dia?” Tanpa otot, Arya berbicara begitu tenang.

Selia pun mengutarakan ketidaksukaannya pada sikap sang suami akhir-akhir ini. Baginya, kecurangan yang ia lakukan seharusnya menjadi bahan introspeksi Arya agar lebih memperhatikan dirinya. Tapi yang Arya lakukan malah seolah ingin membalas perbuatannya.

Tak setuju, Arya merasa Selia lah yang seharusnya introspeksi. “Kamu yang selingkuh kok aku yang disuruh introspeksi.”

Selia bahkan tak segan meminta cerai bila Arya tak bisa menjaga sikapnya untuk tak berdekatan dengan Mila.

“Silakan saja, aku tunggu gugatan ceraimu,” tutur Arya santai.

Merasa tak seharusnya mengancam suaminya, Selia kebingungan sendiri karena ia tak pernah ingin bercerai.

“Oh, jadi begini permainanmu. Baik kalau itu maumu," batin Selia sembari mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.

***

“Sepertinya itu yang harus kita lakukan,” saran Selia pada Rega saat mereka tengah berjanjian bertemu pagi ini, sebelum mereka sampai kampus.

Terdiam sejenak, Rega merasa berada dalam kebimbangan. Di satu sisi, ia ingin memperbaiki rumah tangganya yang sudah retak. Tapi di sisi lain, ia juga tak terima dengan apa yang istrinya lakukan untuk membalasnya.

“Siapa tahu, mereka memang hanya ingin pura-pura membalas dendam. Mereka tak pernah terlihat dekat sebelumnya, mana mungkin sekarang menjadi tiba-tiba begitu dekat. Jadi, aku rasa mereka hanya sedang merencanakan sesuatu. Mereka hanya ingin memanas-manasi kita, Mas,” ungkap Selia.

Rega yang setuju akan hal itu, juga merasa istrinya bukan tipe wanita seperti itu. Mila hanya ingin membalasnya. Tak benar-benar sedang dekat dengan Arya.

Selia lalu mengutarakan jika mereka cuek pada perilaku Arya dan Mila, balas dendam itu akan segera berakhir. Dengan kata lain, setelah itu mereka akan menawarkan opsi untuk mengakhiri semua permainan ini. Selia dan Rega akan berhenti selingkuh, jika Arya dan Mila juga berhenti berakting demi balas dendam. Ia yakin, Arya dan Mila akan lelah sendiri jika harus terus berpura-pura dekat.

“Ya sudah, sembari menunggu pertunjukkan akting mereka, kita lanjutkan saja perselingkuhan ini,” lanjut Selia dengan tatapan menggoda.

...****************...

Terpopuler

Comments

Wiwien

Wiwien

gk ada kapok2 ya dua manusia macam selia rega

2024-10-24

0

Iges Satria

Iges Satria

dasar pelakor dan pebinor yg perlu di ubek², dah tau salah malah dilanjutkan gi

2024-10-18

1

merry jen

merry jen

buknn sdrr drii dan perbaikan drr mlhnn mrkk marahh gk trmn dgnn perlakukan psgnn mrkk ,,anehh

2024-09-21

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!