Menghubungi sang adik sembari menahan air matanya, Mila ingin memastikan keuangan keluarganya masih baik-baik saja.
"Cik, bagaimana kuliahmu? Bagaimana kabar pekerjaan paruh waktumu di kafe? Bagaimana dengan kebutuhanmu dan ibu?” tanya Mila lirih.
“Semuanya aman kok, Mbak. Uang bulanan dari Mbak Mila masih cukup untuk kebutuhan kami sehari-hari. Biaya rawat inap ibu kemarin ‘kan juga sudah pakai asuransi pemerintah. Bulan depan aku sidang skripsi, doakan lancar ya, Mbak. Biar aku bisa cari kerja yang lebih oke dan bisa ikut bantu-bantu Mbak. Ada apa kok tumben tanya begini malam-malam?” Cika berbalik tanya.
Mengaku tak ada apa-apa, Mila hanya ingin memastikan adik dan ibunya tak kekurangan. Semenjak ayahnya meninggal, ia lah yang menggantikan peran sang ayah menjadi tulang punggung keluarganya. Syukurnya, Cika ikut membantunya dengan bekerja paruh waktu dan mencari beasiswa untuk biaya kuliahnya sendiri. Setidaknya, Mila tak terlalu berat menafkahi ibu dan adiknya.
Merasa ada sesuatu yang tak beres, Cika meminta kakaknya jujur ada apa sebenarnya, karena suara Mila terdengar berat.
“Cik, Mbak kena PHK. Tapi jangan bilang ibu ya. Mbak akan cari pekerjaan lain, doakan Mbak segera dapat kantor yang lebih baik dari sebelumnya,” ujar Mila yang terpaksa jujur karena dengan Cika ia tak bisa berbohong.
Tanpa pikir panjang, Cika menyarankan sang kakak untuk melamar kerja di kantor Arya. “Siapa tahu malah tanpa tes, Mbak.”
“Aku tidak suka nepotisme, Cik. Lagi pula, dia ketus sekali orangnya. Aku malas berhadapan dengannya. Kamu tenang saja, sampai bulan depan Mbak masih ada tabungan kok untuk bulanan kamu sama ibu. Doakan saja Mbak segera dapat pekerjaan yang baru ya, dan jangan katakan pada siapa pun tentang hal ini,” pinta Mila.
Ia lalu buru-buru mengusap air matanya dan menutup teleponnya, karena suara mobil suaminya sudah terdengar.
Hingga sampai saat ini, Mila tak lagi menawarkan makan malam untuk Rega. Ia juga tak peduli apakah suaminya itu sudah makan atau belum. Apalagi, soal pekerjaannya kini menjadi fokus utamanya yang harus ia pikirkan.
Setelah menyambut Rega, ia kembali masuk kamar dan mulai mencari-cari lowongan pekerjaan yang cocok untuknya.
Hingga tak lama, Arya mengiriminya sebuah pesan.
Datanglah besok pagi ke kantorku. Bawa CV-mu dan langsung saja temui aku di ruanganku.
Seketika jantungnya berdegup kencang. Ada rasa kesal karena Cika tak melakukan permintaannya. Namun, ada rasa senang jika benar ia bisa bekerja di tempat Arya dan tak perlu melamar banyak pekerjaan. Meski sejujurnya, ia juga overthingking jika nanti harus menjadi bawahan Arya. Sungguh ia tak suka berlama-lama berinteraksi dengan suami dari Selia itu.
***
Berpamitan berangkat kerja seperti biasanya pagi ini, Mila tak mengatakan pada suaminya bahwa ia tak lagi bekerja di kantor sebelumnya. Dengan ojek online, ia menuju ke kantor Arya yang tak begitu jauh dari rumahnya. Hingga hanya 20 menit menerjang kemacetan pagi hari, tiba lah ia di depan kantor sang pengusaha itu.
Bermodal tanya pada satpam, Mila meminta diantarkan ke ruangan Arya.
“Apa sudah melakukan appoinment, Mbak?” Satpam memastikan tak sembarang orang bisa menemui bosnya.
Mengangguk, Mila mengaku ia diminta menemui Arya di ruangannya.
Satpam lalu mengantarkan Mila ke ruangan bosnya di lantai 4.
Selesai mengetuk pintu dan dipersilakan membuka pintu ruangan oleh Arya, satpam melapor jika ada tamu yang ingin bertemu.
“Suruh dia masuk,” tukas Arya.
Mila pun dipersilakan masuk ke dalam.
“Apa Cika yang sudah lancang memberitahumu? Padahal aku sudah bilang untuk tak mengatakannya pada siapa pun. Apa yang dia katakan? Apa Cika merajuk agar kamu mau menerimaku di sini?” cecar Mila setelah dipersilakan duduk.
Mengamati Mila dengan tatapan serius, Arya mengatakan bahwa pantas saja kantor Mila memutuskan hubungan kerja mereka dengan wanita di hadapannya itu. Arya menilai Mila tak punya sopan santun ketika bertamu di ruangan bos. Arya juga mengungkapkan, Mila seharusnya menyapanya terlebih dahulu.
“Maaf kalau begitu, Pak Arya. Selamat pagi,” ujar Mila menganggukkan kepalanya sekali.
“Mana CV-mu?” pinta Arya.
Menyodorkan lembaran CV miliknya, Mila meminta Arya tak menerimanya hanya karena mereka keluarga.
“Kamu bisa mewawancaraiku dulu. Kalau tidak cocok, tak apa-apa. Aku bisa mencari pekerjaan di tempat lain. Asal, aku tidak diterima hanya karena belas kasihan. Aku hanya di PHK, dan ini adalah persoalan yang biasa. Banyak yang pada akhirnya malah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari kantor sebelumnya. Jadi,...” Belum sempat Mila menyelesaikan ucapannya, Arya memberikan kode tangannya agar Mila berhenti mengoceh.
“Apa kamu akan memberitahu suamimu kalau kamu pindah kerja ke sini?” tanya Arya setelah berhasil membuat Mila berhenti bicara.
Tanpa menjawabnya, Mila menggeleng.
“Sebaiknya mereka tak perlu tahu kalau kamu kerja di sini,” ujar Arya lalu menekan beberapa tombol dalam telepon di atas mejanya.
Tak lama, seorang perempuan datang ke ruangan. “Iya, Pak?”
“Ajeng, antar dia ke meja kerjanya, dan berikan dia training terkait tugas dan tanggung jawabnya,” pinta Arya pada asistennya, membuat Mila melongo dibuatnya.
Arya bahkan tak bicara apa pun padanya terkait posisi yang akan diisinya, wawancara pun tidak, tapi sudah langsung diminta kerja.
“Maksudnya, aku diterima kerja di sini? Tanpa tes? Kamu yakin?” tanya Mila kebingungan.
“Tergantung. Kalau kinerjamu bagus, akan aku pertahankan. Tapi kalau buruk, tidak sampai 1 minggu akan aku pecat,” jawab Arya dengan gaya soknya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Osie
mila nih goblok apa bodoh sih jd perempuan..punya prinsip kok ngalahin prinsip mandra geat..es mosi aku jd nya
2024-09-10
2
vj'z tri
Mila jangan bengong gitu semangat 🥳🥳🥳
2024-09-10
2