Bab 4

Saat sore keesokan harinya, Cika dibuat terkejut karena ia kedatangan kakak iparnya bersama Selia secara bersamaan saat di rumah sakit.

“Tadi ketemu Mas Rega di kampus dan katanya mau ke rumah sakit, jadi kita berangkat bareng, tapi pakai mobil sendiri-sendiri. Kebetulan aku juga mau jenguk bude. Ini ada titipan dari mama,” ujar Selia menyodorkan bingkisan pada Cika.

Mengangguk lalu mengucapkan terima kasih, Cika mempersilakan jika mereka berdua ingin masuk ke dalam. Sementara Mila yang sedari pulang kantor tadi sudah berada di sana, keluar kamar menyambut suaminya. Cika dengan kode tangannya, mengajak kakak perempuannya itu untuk bicara sebentar.

“Mbak, aku merasa ada yang tidak beres sama mereka berdua,” bisik Cika lirih.

Tak paham apa maksud sang adik, Mila meminta penjelasan lebih lengkap.

“Teman SMA-ku, Arum, sekampus sama Selia. Karena dia tahu aku saudaraan sama Selia, awalnya dia tanya, siapa sepupu Selia yang dibilang istrinya dosen itu. Dia baru tahu kalau ternyata Mas Rega itu suaminya Mbak Mila, kakakku. Terus, Arum bilang, kalau pernah lihat Mas Rega dan Selia di bioskop, hanya berdua. Apa Mbak Mila tahu soal ini?” tutur Cika.

Mendengar cerita sang adik yang menohok, membuat Mila hampir ambruk. Bukan hanya karena ia yang belum makan sedari tadi siang, tapi juga seakan apa yang ia takutkan menjadi kenyataan. Namun, sebisa mungkin ia berpikir positif akan berita itu.

“Mungkin Mas Rega sedang nonton sama teman-temannya, terus tidak sengaja bertemu Selia juga. Lagi pula, Selia ‘kan sudah punya suami. Mas Rega juga tidak pernah macam-macam selama ini. Setahuku, Selia memang meminta tolong pada Mas Rega terkait skripsinya, mungkin mereka terlihat dekat karena hal itu,” ujar Mila mencoba tenang.

Menyangkal ucapan sang kakak, Cika merasa mereka perlu menyelidiki hal ini lebih lanjut dan meminta Mila agar lebih peka.

“Tidak ada yang menjamin seseorang yang sudah bersuami atau beristri, untuk tidak berselingkuh. Catat itu, Mbak. Arum saja yang orang lain, bisa merasakan keanehan itu setiap kali melihat mereka bersama. Buktinya lagi, mereka masuk ke sini juga barengan, ngakunya Selia sih mereka tidak sengaja bertemu di kampus dan ternyata sama-sama mau ke sini. Ya, meski pakai mobil sendiri-sendiri, tapi tetap saja janggal,” jelas Cika mantap.

Ia lalu menanyakan apakah kakak iparnya itu bersikap mencurigakan akhir-akhir ini.

Menggeleng, Mila mengaku tak ada apa-apa dengan suaminya. Hanya saja, Rega memang tampak lebih sibuk dari sebelumnya. Itu pun karena ia sering diminta menghadiri seminar proposal mahasiswanya dan dipercaya menjadi dosen pembimbing. Ia juga mengatakan jika mungkin saja Selia dan Rega memang tak sengaja bertemu di kampus dan karena arah tujuan mereka sama, jadi mereka berangkat bersama.

Terdiam, Cika tak ingin memperkeruh keadaan dengan praduganya, karena ia juga belum tahu betul kebenarannya.

***

Keesokan siangnya, saat baru saja selesai bimbingan skripsi, Arum tak sengaja melihat Selia keluar dari bilik ruangan Rega sembari membenarkan kancing bajunya. Di sana, hanya dosen yang memiliki jabatan lah yang memiliki ruangan sendiri. Sedangkan dosen biasa, ruangan kerjanya hanya sebatas bilik yang disekat.

“Perasaan, dosen pembimbing Selia juga sedang ada di ruangannya, tapi kenapa Selia malah konsultasi ke bilik ruangan Pak Rega ya, aneh. Padahal dospemnya sendiri malah lebih senior,” gumam Arum.

Tak ambil pusing, ia lalu menuju kantin karena perutnya sudah keroncongan sedari tadi.

Saat sedang menikmati baksonya di kantin kampus, ponsel Arum berdering.

“Ya, Cik, ada apa?” Sembari mengunyah, Arum mengangkat teleponnya.

Arum tampak dengan saksama mendengarkan ucapan dari lawan bicaranya itu.

“Oh itu, sepengetahuanku, Pak Rega tidak menjadi dosen pembimbing, karena beliau ‘kan baru di sini dan termasuk dosen muda. Di fakultasku, yang jadi dospem itu rata-rata dosen yang sudah berusia 35 tahun ke atas,” jawab Arum dalam panggilan teleponnya.

“Eh, Cik...” Arum lalu membeberkan apa yang tadi ia lihat.

Mereka lalu melanjutkan obrolan mereka dalam telepon, dan sesekali Arum mengangguk tanda paham dengan apa yang lawan bicaranya ucapkan.

Hingga beberapa menit kemudian, panggilan itu pun berakhir.

Lalu, saat malam harinya sepulang kerja, Mila mendapati suaminya juga baru saja sampai rumah. Tapi, Rega tampak turun dari kursi kemudi sebuah mobil putih yang ia kenal betul pemiliknya. Memang, tadi pagi suaminya itu sengaja berangkat dengan ojek online karena bangun kesiangan dan takut terlambat jika mengendarai mobil.

“Hai, Mbak,” sapa Selia yang ikut turun karena akan berganti kemudi.

Tersenyum mengangguk, Mila berpura-pura terlihat baik.

"Tadi waktu selesai bimbingan, aku lihat Mas Rega sedang menunggu ojek. Karena sudah malam dan aku juga mau pulang, jadi aku tawarkan saja kita pulang bersama, rumah kita ‘kan searah. Lagi pula, tidak enak kalau aku pura-pura tak tahu ada Mas Rega,” terang Selia lalu berpamitan pulang.

“Iya, terima kasih ya,” ucap Mila berusaha ramah.

Sejujurnya, ia masih shock melihat Rega menyetir di mobil Selia, dan mereka pulang berdua dalam 1 mobil.

...****************...

Terpopuler

Comments

vj'z tri

vj'z tri

ya ampun sadar Mila sadar ....ayolah ulat bulu pengganggu ituh 😤😤😤

2024-09-10

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!