Awal Kekacauan

Hari-hari berlalu dengan cepat. Setelah Arthazia menerima buket bunga dari Arslan kala itu, lelaki tersebut seolah menghilang dari hidup Arthazia. Nenek Julie mengaku tak pernah lagi melihat Arslan berdiri di seberang jalan sembari menatap atap gedung. Arthazia juga benar-benar tak pernah menerima panggilan telepon ataupun chat darinya.

Sepertinya, semua benar-benar telah berakhir sekarang. Kisah antara Arthazia dan Arslan benar-benar telah usai. Mestinya itu melegakan untuk Arthazia, mengingat dialah yang sangat menginginkan perceraian. Tetapi rupanya hanya rasa sedih dan perasaan terpuruk yang selalu memenuhi sudut hati Arthazia. Dia tak bisa move on, padahal dirinyalah yang bertekad mengakhiri pernikahan.

Arthazia berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya dengan kembali membuka toko bunga warisan mendiang neneknya dulu, meski sebenarnya dia tak perlu melakukan apapun hanya untuk sekedar menghidupi dirinya yang sebatang kara. Arthazia berusaha mengembalikan kehidupan seperti saat dia belum bertemu Arslan, tetapi rupanya semuanya tak lagi sama. Tanpa Arslan rupanya hidup Arthazia terasa kosong. Perasaan rindu itu perlahan hadir meski terus disangkal.

"Selamat pagi." Sapaan seseorang membuyarkan lamunan Arthazia.

Saat ini, Arthazia sedang berkutat dengan ratusan tangkai bunga segar dengan pikiran yang berkelana entah kemana. Pekerjaannya itu terhenti sejenak karena cukup terkejut melihat siapa yang datang.

"Tuan Logan? Sedang apa Anda di sini?" tanya Arthazia sembari bangkit dari duduknya. Perasannya menjadi kurang nyaman melihat kehadiran sosok yang sangat tak ingin dia temui.

"Memangnya apalagi kalau bukan mau membeli bunga?" sahut Logan.

"Oh ...." Arthazia sedikit mencerna ekspresi Logan saat ini. "Ah, ya, maaf. Silakan, Anda mau bunga apa?"

Meski tak percaya jika kedatangan Logan hanya murni untuk membeli bunga, Arthazia tetap harus melayaninya dengan baik seperti pelanggan yang lain.

"Satu buket mawar hitam," sahut Logan.

Arthazia terdiam sejenak. Sangat jelas jika bunga mawar yang terpajang di toko bunga miliknya tak ada yang berwarna hitam, sehingga permintaan Logan terdengar seperti lelucon yang menyebalkan. Lagipula itu bunga langka yang hanya ada di toko bunga elit saja, bukan toko bunga kecil milik Arthazia.

"Maaf, Tuan Logan. Seperti yang bisa Anda lihat, tidak ada mawar hitam di toko saya," sahut Arthazia.

"Hm, sayang sekali. Padahal saya sangat ingin bunga mawar hitam," ujar Logan.

"Anda bisa mencarinya di toko bunga lain." Arthazia berusaha mengusir Logan dengan halus.

Logan menatap Arthazia sejenak dengan sorot mata yang tak dapat ditebak. Namun, apapun itu, Arthazia tahu pasti jika tatapan lelaki itu bermakna bahaya.

"Kalau begitu, berikan saya buket mawar merah," ujar Logan kemudian setelah terdiam selama beberapa saat.

"Buket kecil atau besar?" tanya Arthazia.

"Buket besar, dan pastikan semua bunganya terlihat cantik," sahut Logan.

Arthazia terdiam sesaat mendengar ucapan konyol Logan barusan. Tetapi kemudian dia memilih untuk tak menyahut dan langsung menyiapkan buket yang lelaki itu pesan.

Setelah selesai, Arthazia langsung menyerahkan buket bunga tersebut kepada Logan.

"Bisa pakai kartu kredit?" tanya Logan sambil menunjukkan kartu berwarna hitam yang dia keluarkan dari dompetnya.

"Ya, bisa." Arthazia langsung memproses pembayaran menggunakan kartu kredit tersebut, lalu langsung mengembalikannya pada Logan.

"Terima kasih sudah membeli bunga di sini," ujar Arthazia, masih memperlakukan Logan seperti pelanggan lain.

"Sama-sama." Logan tersenyum, sebelum kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Arthazia.

"Ngomong-ngomong, saya sedang mempersiapkan sebuah kejutan. Semoga Anda nanti menyukainya," bisik Logan di telinga Arthazia.

Mata Arthazia sedikit membeliak karena tak siap dengan sikap Logan yang tiba-tiba tak berjarak, apalagi setelah mendengar apa yang Logan bisikkan padanya.

"A-apa maksud Anda?" tanya Arthazia sambil mundur selangkah.

Logan menarik diri sambil tersenyum asimetris. Lelaki itu tak berniat menjawab pertanyaan Arthazia dan berlalu begitu saja. Arthazia sendiri tampak mematung dengan raut wajah yang agak menegang.

Arthazia tak bisa menebak kejutan apa yang Logan maksud, tapi sudah pasti itu bukan sesuatu yang bagus. Hal itu membuat Arthazia terus bersikap waspada selama beberapa hari ke depan.

Namun, siapa sangka jika tindakan Logan rupanya tak ditujukan langsung kepada Arthazia, melainkan pada Arslan. Media internet tiba-tiba digemparkan dengan sebuah pemberitaan tentang lelaki itu.

'PEMILIK PERUSAHAAN PROPERTI–ARSLAN EDBERT TERLIBAT SKANDAL DENGAN BEBERAPA PEREMPUAN MUDA. ALASAN KUAT SANG ISTRI MENGGUGAT CERAI'

Arthazia hampir menjatuhkan ponselnya saat membaca judul artikel di timeline media sosialnya.

"Omong kosong macam apa ini?" gumam Arthazia dengan napas yang mulai memburu. Beberapa foto vulgar berisi lelaki yang mirip Arslan bersama beberapa perempuan juga ikut ditampilkan, membuat Arthazia meradang.

"Logan ...." Arthazia mendesis dengan ekspresi wajah yang mengeras.

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸

nah setelah ini, apakah para wartawan akan meminta keterangan pada zia?

2024-09-26

0

Yuyun Yunita

Yuyun Yunita

baru sadarkan kl logan jahat

2024-09-19

0

Esther Lestari

Esther Lestari

pasti itu rekayasa dari Logan

2024-09-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!