Kegaduhan jelas terjadi di perusahaan milik Arslan. Sebuah megaproyek yang seharusnya menjadi milik mereka, secara mengejutkan tendernya dimenangkan oleh perusahaan Logan. Jelas ada yang salah. Sebuah penyelidikan mendalam pun segera dilakukan. Di hari yang sama, ditetapkan sebuah indikasi jika ada yang telah berkhianat. Seseorang telah memberikan informasi kepada pihak lawan, mengenai harga yang akan ditawarkan oleh perusahaan Arslan.
Arthazia sendiri menyadari kekisruhan yang terjadi karena dirinya. Hanya masalah waktu saja, dia pasti akan ketahuan telah mencuri informasi penting milik perusahaan Arslan untuk diberikan kepada Logan. Akan tetapi, tak ada ketakutan sedikitpun di hati Arthazia. Bahkan jika sampai masuk penjara pun Arthazia siap asalkan Arslan menceraikannya. Satu-satunya hal yang dia khawatirkan adalah Arslan masih tak mau melepaskan dirinya meski telah melakukan makar sejauh itu.
Untuk itulah, Arthazia berniat meninggalkan kediaman Edbert dan tinggal di tempat yang tersembunyi dari Arslan sampai dia berhasil bercerai dari lelaki itu. Lagi-lagi tak ada orang lain yang bisa Arthazia mintai pertolongan selain Logan. Tentu saja dengan senang hati lelaki itu mengiyakan permintaan Arthazia. Logan pikir, inilah kesempatan untuk membuat Arthazia berada dalam genggaman tangannya.
Logan mengabari Arthazia jika dia telah menyiapkan tempat yang aman untuk perempuan itu bersembunyi. Bersamaan dengan itu, Arthazia juga diam-diam telah menyiapkan kembali berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mengajukan gugatan perceraian.
Segera Arthazia berkemas dengan sebuah koper, menyembunyikan berkas-berkas yang dibutuhkan di bawah pakaiannya. Namun, baru saja dia selesai berkemas, Arslan tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar mereka.
"Mau ke mana kamu?" tanya Arslan saat melihat sebuah koper yang telah siap di atas tempat tidur.
Arthazia menoleh dengan ekspresi datar. Sejujurnya, dia cukup terkejut melihat kemunculan Arslan, mengingat biasanya lelaki itu baru akan pulang saat malam hari tiba.
"Zia, jawab aku, mau kemana kamu dengan koper itu?" tanya Arslan lagi karena Arthazia tak kunjung menjawab.
"Aku mau pergi berlibur." Arthazia berbohong.
"Berlibur?" Arslan tampak mengerutkan keningnya. Tak pernah selama ini Arthazia pergi berlibur jika bukan Arslan yang berinisiatif mengajak pergi.
"Ya, apa tidak boleh? Aku penat berada di rumah ini sepanjang waktu, jadi aku ingin pergi berlibur."
Arslan tampak menghela napasnya. Dia ingat jika telah lama tak meluangkan waktu untuk berlibur bersama sang istri. Lelaki itu melangkah mendekati Arthazia dan menyentuh wajah istrinya itu dengan lembut.
"Maafkan aku karena terlalu sibuk akhir-akhir ini. Lain kali aku pasti akan mengajakmu ke tempat yang bagus untuk berlibur, tapi sekarang aku sedang tidak bisa bepergian," ujar Arslan.
Sontak Arthazia menepis tangan Arslan dan membuang wajahnya. Dulu dia begitu menyukai momen setiap kali Arslan bersikap lembut padanya, tetapi sekarang rasanya begitu memuakkan. Arthazia merasa seperti sedang dipermainkan oleh lelaki itu.
"Siapa bilang aku ingin pergi bersamamu. Aku ingin berlibur bersama teman-temanku. Semuanya sudah dipersiapkan, jadi walaupun kamu keberatan, aku tetap akan pergi," sahut Arthazia.
"Berlibur bersama teman-temanmu?" Arslan kembali mengerutkan keningnya. Seingatnya, Arthazia tak memiliki teman yang benar-benar akrab, apalagi sampai mengagendakan liburan bersama.
"Teman-temanmu yang mana?" tanya Arslan lagi. "Bukankah kamu hanya punya teman-teman sekolah dan itupun sudah lama tak saling berkomunikasi?"
"Akhir-akhir ini kami saling berhubungan. Tentu saja kamu tidak tahu karena kamu tidak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan."
"Zia ...."
"Aku akan pergi berlibur dengan teman-temanku. Atau sekarang aku juga tidak boleh pergi berlibur dan harus menjadi tahanan rumah?" Arthazia menatap Arslan tajam.
"Bukan seperti itu. Jika kamu mau berlibur bersama teman-temanmu, mestinya kamu mengatakannya padaku terlebih dahulu," sahut Arslan. Dia berusaha untuk tetap tenang menghadapi sikap Arthazia yang belakangan begitu meledak-ledak.
"Sekarang kamu juga sudah tahu, kan?" Arthazia menurunkan kopernya ke lantai, lalu meraih tas selempang kesayangannya yang selalu ia bawa kemanapun.
Arthazia menarik kopernya dan berlalu meninggalkan Arslan yang masih termangu. Sesaat kemudian, barulah Arslan tersadar dan bergegas menyusul sang istri.
"Zia, tunggu." Arslan memanggil Arthazia yang saat ini sedang menuruni tangga menuju lantai bawah kediaman mereka. "Setidaknya, katakan ke mana kamu dan teman-temanmu akan berlibur."
"Kenapa? Apa kamu hendak mengirimkan orang untuk memata-mataiku?" Arthazia bertanya tanpa menghentikan langkahnya.
"Bukan seperti itu. Aku hanya ingin memastikan jika kamu aman bersama teman-temanmu," sanggah Arslan.
"Kami tidak pergi ke tempat yang berbahaya. Lagipula, aku bukan anak kecil yang tidak tahu cara menjaga diri."
"Tolong jangan keras kepala, Zia. Tidak masalah jika kamu ingin pergi berlibur, tapi katakan ke mana kamu akan pergi," pinta Arslan lagi sambil menahan lengan Arthazia.
Langkah Arthazia otomatis terhenti. Namun, belum sempat ia membuka mulut, Elisa muncul di hadapan mereka berdua.
"Kamu mau pergi berlibur?" tanya Elisa pada Arthazia sambil memasang wajah tak suka.
Arthazia menarik paksa lengannya yang ditahan oleh Arslan, lalu menghadap ke arah ibu mertuanya itu.
"Ya, aku mau pergi berlibur. Apa ada masalah?" tanya Arthazia dengan nada memprovokasi.
Terang saja Elisa langsung meradang mendengar ucapan sang menantu.
"Apa ada masalah katamu? Tentu saja ada masalah! Suamimu sedang pusing dengan pekerjaannya yang tidak berjalan lancar, kamu malah mau pergi berlibur? Istri macam apa kamu ini?" Elisa mencerca Arthazia.
"Entahlah, istri macam apa aku ini. Aku hanya merasa itu urusan Arslan, bukan urusanku. Kenapa juga aku harus pusing memikirkan masalah Arslan, sedangkan dia saja tidak pernah memikirkan masalahku," sahut Arthazia enteng.
"Hei, jaga mulutmu itu! Semakin hari ucapannya semakin tak tahu sopan santun!" Elisa semakin meradang.
"Kenapa Mama begitu marah? Padahal aku belajar bicara tak tahu sopan santun juga dari Mama sendiri. Masa Mama tidak ingat bagaimana cara Mama berbicara padaku selama ini?" Arthazia tersenyum, kemudian kembali melenggang pergi sambil menarik kopernya.
Kali ini, Arslan tak menahan Arthazia lagi. Dia hanya menatap punggung istrinya itu dengan nanar, hingga Arthazia menghilang dari pandangannya.
"Lihatlah istrimu itu, Arslan. Semakin hari dia semakin kurang ajar. Kenapa tidak kamu ceraikan saja dia seperti keinginannya?" Elisa tampak masih marah dan kesal setelah perdebatannya dengan Arthazia barusan.
Tatapan Arslan beralih ke ibu tirinya itu.
"Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi jika Mama masih ingin kuanggap sebagai ibuku," ujar Arslan dengan nada berat dan penuh penekanan.
Sontak Elisa mengatup mulutnya dengan mata yang sedikit melebar. Dia pikir, melihat sikap Arthazia yang begitu buruk belakangan ini, Arslan tidak akan memihak pada istrinya itu lagi, tapi rupanya dugaan Elisa salah.
"Maaf, Mama tidak bermaksud apapun. Mama hanya tidak suka Arthazia bersikap kasar padamu," ujar Elisa kemudian dengan nada yang sedikit merendah.
"Bukankah Mama juga memiliki andil yang besar pada perubahan sikap istriku?" sarkas Arslan sambil masih menatap Elisa. "Sejak awal sudah kukatakan untuk bersikap baik pada Arthazia, atau jika itu sulit, maka jangan pedulikan dia. Tetapi sepertinya Mama suka sekali mengganggunya. Jika bukan karena wasiat Papa, aku tidak akan menahannya sampai membuat istriku menjadi seperti ini."
Ekspresi Elisa berubah menjadi sangat tak enak dilihat. Dia sungguh tak menyangka akan mendengar kata-kata barusan dari mulut Arslan.
"Jangan ganggu istriku lagi, juga berhentilah menggunjingnya di hadapan para pelayan. Jika aku masih mendengar ucapan tak mengenakkan tentang Arthazia, maka aku akan langsung meminta penjelasan dari Mama, selaku orang yang bertanggungjawab atas apa yang terjadi di rumah ini." Arslan menambahkan.
"Ingatlah satu hal, Ma. Jika ada sesuatu yang paling berharga dalam hidupku melebihi nyawaku sendiri, itu adalah Arthazia. Cukup sudah aku bersabar pada Mama karena belenggu wasiat mendiang Papa. Andai sejak awal aku tahu memaklumi sikap Mama pada Arthazia akan membuat aku kehilangan istriku, maka aku memilih untuk menjadi anak yang tak tahu balas budi saja!"
Arslan berlalu meninggalkan Elisa yang masih berdiri mematung dengan wajah yang memucat karena syok. Lelaki itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Cari tahu siapa saja teman-teman istriku yang berhubungan dengannya belakangan ini, juga cari tahu tempat mereka berencana berlibur bersama," perintah Arslan dengan nada tak ingin dibantah.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
ternyata Arslan sendirian di dunia ini. tanpa saudara, hanya dengan ibu tiri yg merupakan bagian dari wasiat ayahnya. istri yg berubah benci karena tak tau apa yg dirasakan suaminya. kasian Arslan, 🥺
2024-09-24
0
Esther Lestari
Arslan sayang sekali dgn istrinya, karena sikap ibu mertua nya selama ini membuat Arthazia berani menentang suami nya.
wasiat apa yg ditinggalkan oleh papa Arslan ?
2024-08-24
1
Yuyun Yunita
sebegitu sayangnya arslan kepada istrinya tapi syang mata hati istrinya sdh tertutup oleh kesalahpahaman yg akhirny menjadi sebuah oenghianatan
2024-08-20
4