"Hei, Nak. Aku lihat beberapa hari ini kamu terus membawa pulang mi instan. Apa kamu hanya makan itu setiap hari?" Nenek Juni menyambut kepulangan Arthazia dengan sebuah pertanyaan yang sedikit cerewet. Beliau adalah pemilik gedung yang bagian atapnya disewa oleh Arthazia. Nenek Juni sendiri tinggal di lantai dua, sedangkan lantai satu gedung miliknya digunakan untuk bisnis kedai kopi kekinian.
Arthazia yang baru saja tiba di teras rumahnya sedikit terkejut karena sebelumnya tak menyadari kehadiran Nenek Juni di sana. Sepertinya, itu karena sejak tadi dia berjalan sambil melamun.
"Eh, iya, Nek. Saya tidak memiliki peralatan untuk memasak, jadi hanya bisa menyeduh mi instan dan memanaskannya di dalam microwave saja," sahut Arthazia.
"Jangan terlalu sering mengkonsumsi makanan tidak sehat, tidak baik untuk kesehatanmu. Jika kamu akan tinggal di sini untuk waktu yang cukup lama, sepertinya kamu harus mempertimbangkan membeli peralatan memasak. Atau pesanlah makanan dari rumah makan. Kamu masih muda. Sayang sekali kalau tubuhmu menjadi sakit-sakitan karena salah pola makan." Nenek Juni memberikan nasihat.
"Terima kasih atas perhatiannya, Nek. Saya akan mengingatnya." Arthazia kembali menyahut sembari tersenyum. Meski rasanya sedikit mengejutkan mendengar teguran dari Nenek Juni, tetapi Arthazia memahami ketulusan dan niat baik perempuan tua itu. Lagi-lagi hal itu mengingatkannya pada sosok Arslan.
"Oh, iya, Nenek kenapa repot-repot naik kemari? Bukankah sudah saya bilang, kalau ada yang ingin Nenek sampaikan, Nenek bisa mengirim chat saja. Biar saya yang datang menemui Nenek." Arthazia mengalihkan pembicaraan agar Nenek Juni tak membahas tentang mi instan lagi.
"Ah, itu, tadi aku membuat bubur dengan sayuran dan daging. Aku membawakannya untukmu dan meletakkannya di sana," sahut Nenek Juni sambil menunjuk ke arah sebuah tempat duduk berbentuk persegi yang menyerupai sebuah meja. Di atas sana tampak sebuah panci lengkap dengan penutupnya.
"Itu? Nenek tidak memberi saya bubur satu panci itu, kan?" tanya Arthazia. Dia bergegas mendekati panci tersebut dan membuka penutupnya. Benar saja, isi di dalamnya nyaris penuh.
"Kamu harus makan banyak, apalagi akhir-akhir ini kamu hanya makan mi instan. Jika memang tidak bisa menghabiskannya, kamu tinggal mengajak seseorang untuk makan bersama, kan?" Nenek Juni menjawab sekenanya.
"Baiklah, terima kasih banyak." Arthazia tak bisa melakukan apapun selain berterima kasih. Semoga saja buburnya tidak cepat basi, jadi bisa dia makan sampai pagio besok.
"Ya, sama-sama. Kalau begitu, aku pulang dulu," ujar Nenek Juni berpamitan.
Arthazia hendak mengantar Nenek Juni ke tempat tinggalnya di lantai dua, tetapi Nenek Juni menolak dan menyuruh Arthazia untuk segera masuk. Lagi-lagi Arthazia hanya bisa patuh. Dia segera membawa panci berisi bubur pemberian Nenek Juni ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah mungil yang hanya memiliki tiga ruangan itu, Arthazia tertegun sejenak. Dia sudah terlanjur nyaman di sana dan berencana akan tinggal untuk waktu yang lama. Benar apa yang Nenek Juni katakan tadi, mungkin Arthazia harus mempertimbangkan membeli beberapa perabotan sehari-hari yang dia perlukan.
Arthazia hanya meletakkan bubur pemberian Nenek Juni. Karena masih kenyang, dia berencana menjadikan bubur tersebut menu makan malamnya. Setelah mandi dan berganti pakaian rumahan, Arthazia mengeluarkan buku dan pena, lalu menulis beberapa hal penting yang berkaitan dengan masa depan. Sepertinya, dia mulai menyusun rencana untuk kehidupannya setelah bercerai nanti.
Malam merambat tanpa terasa. Arthazia beranjak dari tempat duduknya dan baru menyadari jika waktu telah cukup larut. Dia bahkan melewatkan makan malamnya karena terlalu asyik dengan semua rencana masa depan yang dirancangnya. Saat hendak pergi ke dapur, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu rumah Arthazia.
Untuk sesaat, Arthazia tertegun dan membayangkan jika itu adalah Arslan, seperti kedatangannya yang tiba-tiba waktu itu. Tetapi kemudian Arthazia merasa konyol dengan pikirannya sendiri. Segera ia membuka pintu rumahnya karena sangat yakin jika itu adalah Nenek Juni.
"Arslan?" Arthazia terhenyak. Pikiran konyolnya tadi rupanya sebuah kenyataan. Orang yang berdiri di ambang pintu tempat tinggalnya saat ini memang benar Arslan.
"Hai," sapa Arslan dengan wajah lelah yang dipaksakan tersenyum.
"Boleh aku merayakan ulang tahunku bersamamu?" Lelaki itu bertanya sembari memperlihatkan boks kue yang dibawanya.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
Arslan datang karena ingin ditemani tiup lilin... 🥺🥺🥺
2024-09-25
0
Mrs.Riozelino Fernandez
pasti ini Arslan yang minta tolong...
2024-08-28
1
Yuyun Yunita
jadi seperti mengulang saat pacaran semoga saja bisa memperbaiki kesalahan yg ada.. 😔
2024-08-28
1