Tanpa sadar Arthazia memejamkan matanya, menghirup aroma tubuh Arslan yang selama ini sangat dia sukai. Pelukan Arslan yang hangat dan menenangkan, entah kapan terakhir kali Arthazia merasakannya. Bohong jika ia tak merindukan semua itu. Akan tetapi, rasa sakit yang selama ini menghujam tanpa henti membuat Arthazia perlahan berhenti mendamba, sampai akhirnya dia benar-benar lelah dan ingin mengakhiri semuanya.
Tak ingin terbuai dan menjadi goyah, perlahan Arthazia mengurai pelukannya.
"Kamu perlu menikmati kue ulang tahunmu, kan? Biar aku ambilkan piring kecil," ujar Arthazia beralasan untuk menjauh. Dia segera bangkit dan pergi ke dapur. Setibanya di sana, Arthazia tak langsung mengambil apa yang hendak diambilnya, melainkan berdiri sejenak sembari memejamkan mata dan menghela napas panjang beberapa kali.
Setelah gemuruh di dadanya dirasa telah sedikit mereda, barulah Arthazia meraih sebuah piring dan juga garpu yang ada di dapur mungil miliknya itu. Arthazia kemudian kembali ke ruang tamu. Dia langsung memberikan piring dan garpu tadi kepada Arslan.
"Makanlah kue ulang tahunmu, setelah itu segera pulang," ujar Arthazia. Dia kembali duduk, dan kali ini tepat di sebelah Arslan, meski sembari menatap ke arah lain.
Arslan tak menjawab, tetapi dia melakukan seperti yang Arthazia perintahkan. Lelaki itu memotong kue ulang tahunnya dan memakannya sendiri. Lagi-lagi Arthazia keheranan dibuatnya. Arslan yang biasanya sangat tidak menyukai makanan manis, kini tampak melahap kue tersebut dengan sangat nikmat.
"Apa kamu belum makan malam?" tanya Arthazia kemudian. Tanpa sadar dia memperdengarkan nada khawatir di telinga Arslan.
"Entahlah, sepertinya belum," sahut Arslan.
Mata Arthazia sedikit membeliak. Arslan bukanlah tipe orang yang teledor mengurus diri sendiri, apalagi itu berkaitan dengan kesehatan. Sesibuk apapun lelaki itu, dia akan tetap makan tepat waktu, dengan makanan yang sehat dan bernutrisi juga tentunya. Justru Arthazia yang biasanya suka abai dengan hal tersebut, bahkan sering lupa makan.
"Sudah larut begini kamu masih belum makan?" ulang Arthazia lagi meyakinkan.
"Hm." Arslan masih sibuk mengunyah kue di dalam mulutnya.
Arthazia terdiam dengan wajah yang berubah menjadi sendu. Kenapa Arslan terlihat begitu berantakan dan menyedihkan seperti ini hanya karena dirinya pergi? Bukankah lelaki itu tak begitu menganggap dirinya istimewa? Buktinya saja Arslan tak begitu peduli dengan apa yang ia alami selama tiga tahun ini.
Sekali lagi Arthazia menghela napasnya dalam. Dia ingin sekali tak peduli, tetapi tidak bisa. Rasa cinta dan benci di hatinya untuk Arslan terlalu membaur dan tak memiliki sekat, sehingga sulit untuk dipilah. Karena itu, Arthazia akhirnya kembali pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dijadikan menu makan malam untuk Arslan. Sayangnya, hanya beberapa cup mi instan yang Arthazia miliki, juga satu panci penuh bubur pemberian Nenek Juni.
Arthazia membuka tutup panci tersebut. Dari aromanya yang gurih dan harum, bubur itu tampaknya sangat enak. Di samping itu juga dimasak dengan campuran sayuran dan daging, jadi pastinya cukup bernutrisi. Jauh lebih layak disajikan untuk Arslan ketimbang mi instan.
Akhirnya, Arthazia memanaskan bubur pemberian Nenek Juni di microwave sebelum kemudian ia sajikan ke dalam mangkuk. Ia juga membuatkan segelas teh hangat untuk Arslan.
"Makanlah, nanti pencernaanmu terganggu kalau kamu telat makan," ujar Arthazia sambil menghidangkan bubur tadi di hadapan Arslan.
Arslan tak menjawab. Dia hanya memandang semangkuk bubur dan segelas teh di hadapannya itu, kemudian pandangannya beralih ke arah Arthazia. Sorot matanya terlihat semakin sedih. Meski begitu, dia pun meraih mangkuk bubur tersebut dan mulai melahapnya.
"Terima kasih," gumam Arslan dengan suara yang begitu lirih. Bahkan, Arthazia bisa melihat lelaki itu menyeka sudut matanya yang berair.
Arthazia kembali duduk di samping Arslan sembari menatap lurus ke depan. Hatinya kini melemah. Rasa sedih itu juga ia rasakan, bukan hanya milik Arslan. Hanya saja, Arthazia pikir dirinya dan Arslan harus tetap berpisah meski itu menyakitkan. Itu jauh lebih baik ketimbang dia harus terus menderita karena ketidakpedulian dan ketidakterbukaan Arslan padanya, seperti yang selama ini terjadi sepanjang pernikahan.
"Arslan, boleh aku minta sesuatu padamu?" tanya Arthazia kemudian tanpa menoleh.
"Apa?"
"Setelah ini, mari kita jalani hidup masing-masing. Tolong jangan datang lagi kemari." Arthazia berujar sambil masih menatap lurus ke depan.
Arslan terdiam sejenak dengan ekspresi wajah yang meredup. Lelaki itu menunduk dalam waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya mengangguk pelan mengiyakan permintaan Arthazia.
"Terima kasih," ujar Arthazia. "Habiskan segera makan malammu, setelah itu pulanglah. Aku juga mau beristirahat."
Arslan kembali mengangguk sambil menahan perasaan sedih tak terkira. Sekuat tenaga lelaki itu menghabiskan bubur yang kini terasa bagai cairan lahar di kerongkongannya.
Tak lama berselang, Arslan pun berhasil menghabiskan makanannya tersebut. Lelaki itu juga telah meneguk teh buatan Arthazia hingga, tandas. Setelah itu, dia langsung beranjak dari duduknya.
Arthazia ikut berdiri dan mengiringi Arslan sampai ke pintu.
"Terima kasih untuk makan malamnya. Maaf sudah merepotkanmu," ujar Arslan.
Arthazia tak mengatakan apapun, membuat Arslan merasa jika sang istri sungguh tak ingin dirinya lebih lama lagi berada di tempat itu. Jangan ditanya lagi bagaimana perasaannya saat ini, benar-benar sangat sakit dan menyesakkan.
Sejenak Arslan terdiam sembari menatap Arthazia dalam-dalam. Satu tangannya tampak terangkat dan mengusap lembut pucuk kepala istrinya itu.
"Jaga dirimu, Zia." Lirih suara Arslan terdengar, bahkan hampir menyerupai sebuah bisikan. Sebenarnya ada banyak kata yang ingin dia sampaikan, tapi tak terucap. Lelaki itu akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan air mata yang jatuh tak tertahankan. Dia tak lagi menoleh, sehingga tak menyadari jika saat ini Arthazia juga menatap punggungnya yang menjauh dengan pipi yang basah.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Henny Aprilaz
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
2024-11-28
0
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
memang sakit. membacanya saja sudah sakit. andai masih bisa diperbaiki. 🥺🥺🥺🥺
2024-09-26
0
🌹Fina Soe🌹
sedihnya...
2024-09-02
0