Untuk beberapa saat, Arthazia hanya bisa tercenung sembari menatap ke arah Arslan dengan tatapan tak percaya. Terlebih saat melihat apa yang lelaki itu bawa saat ini. Seketika hatinya terasa bagai tercubit tatkala mengingat jika hari ini memang benar hari ulang tahun Arslan
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Arthazia dengan suara yang hampir tertelan tenggorokan saking lirihnya.
Senyuman tipis kembali tersungging di bibir Arslan, seakan hendak menutupi kesedihan yang saat ini terpancar jelas di matanya.
"Bukankah tadi aku sudah bilang kalau aku mau merayakan ulang tahunku bersamamu." Arslan kembali memperlihatkan boks kue yang dibawanya. "Boleh aku masuk?"
Tanpa sadar Arthazia menyingkir dari ambang pintu, memberikan ruang bagi Arslan untuk masuk ke dalam.
"Terima kasih." Arslan melenggang masuk.
Arthazia sendiri hanya bisa mematung saat melihat Arslan tanpa sungkan duduk di lantai beralaskan karpet, seakan sedang berada di rumahnya sendiri.
"Kamu mau berdiri di sana terus?" tanya Arslan pada Arthazia.
Arthazia masih belum sepenuhnya memahami situasi yang dihadapinya saat ini. Dia juga tak mengerti kenapa Arslan tiba-tiba datang ke rumahnya dengan alasan mau merayakan ulang tahun. Padahal seingat Arthazia, lelaki itu tak pernah ingat dengan hari ulang tahunnya sendiri, bahkan tak begitu antusias saat Arthazia memberikan kejutan ulang tahun untuknya.
Kediaman Arthazia saat ini bahkan tak memiliki sebuah kursi ataupun sofa di ruang tamunya. Hanya ada sebuah karpet yang menjadi alas agar tak terlalu dingin. Dari sejak pertama kali Arthazia mengenal Arslan, tak pernah sebelumnya dia melihat lelaki terhormat itu duduk di lantai hanya beralaskan karpet tipis.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu coba lakukan, Arslan?" Arthazia akhirnya bertanya sembari ikut duduk di hadapan Arslan.
"Memangnya mau berapa kali aku bilang kalau aku mau merayakan ulang tahunku?" sahut Arslan sembari membuka boks kue yang tadi dibawanya, lalu mengeluarkan isinya.
Apa itu? Arthazia semakiin terperangah saat melihat kue yang dikeluarkan Arslan, strawberry cheese cake berukuran besar yang dihiasi beberapa buah manisan ceri di atasnya. Kue kesukaan Arthazia, tetapi Arslan sendiri tak menyukainya karena dominan manis.
"Sejak kapan kamu peduli dengan hari ulang tahunmu? Dan sejak kapan kamu repot-repot membeli kue ulang tahun untuk dirimu sendiri? Bukankah kamu tidak menyukai semua itu?" Arthazia bertanya dengan agak sarkas.
Arslan hanya menipiskan bibirnya sembari memasang beberapa buah lilin yang sudah tersedia di kemasan kue, lalu menyalakan ujungnya dengan korek api.
"Sejak istriku tidak ada bersamaku. Biasanya dia yang merayakan ulang tahunku. Dia juga yang membelikan aku kue ulang tahun," sahut Arslan. Lelaki itu kemudian memejamkan matanya sejenak, seperti sedang memanjatkan sebuah doa khusus di dalam hatinya. Lalu setelah itu, dia kembali membuka mata dan meniup lilin yang tadi dia nyalakan.
Arthazia hanya bisa memperhatikan apa yang Arslan lakukan dengan raut wajah yang tak dapat dijabarkan dengan kata-kata. Ada rasa sesak yang tiba-tiba saja hinggap di dadanya.
"Kamu tidak mau mengucapkan selamat untukku?" tanya Arslan. "Kamu juga tidak memberikan aku kado?"
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Arthazia. Tentu saja sebelumnya dia telah merencanakan banyak hal untuk merayakan ulang tahun Arslan tahun ini, tetapi itu sebelum dia memutuskan untuk bercerai. Jika sekarang dia masih melanjutkan rencana kejutannya itu, bukankah justru akan terasa konyol? Toh, Arslan juga buka orang suka dengan hal seperti itu.
Tetapi fokus Arthazia kemudian teralihkan. Dia baru menyadari jika saat ini Arslan masih mengenakan pakaian yang digunakannya saat datang ke persidangan tadi, setelan kerja yang biasa lelaki itu pakai ke kantornya. Pantas saja wajah Arslan terlihat sangat lelah. Sepertinya dia baru pulang bekerja dan belum beristirahat sama sekali.
"Kamu cepat sekali terbiasa tanpa aku, ya." Arslan kembali bergumam. Kali ini, suaranya terdengar putus asa dan sedikit bergetar.
Arthazia tak sanggup untuk terus bersitatap dengan Arslan. Dia membuang pandangannya ke arah lain sembari menelan ludah dengan agak kesusahan.
"Selamat ulang tahun, Arslan," ujar Arthazia kemudian tanpa menoleh ke arah lelaki itu.
Arslan tersenyum sendu sembari menatap Arthazia. Sungguh baginya ini adalah hari ulang tahun paling menyedihkan yang pernah dia lalui.
"Hanya ucapan tanpa kado. Bukankah setidaknya kamu memberikan aku sebuah pelukan?"
Kali ini, Arthazia menoleh. Raut wajah Arslan terlihat begitu penuh harap, terlalu menyedihkan untuk dia tolak. Arthazia pun beringsut mendekat dan memeluk lelaki itu dengan perasaan yang berkecamuk.
"Selamat ulang tahun, Arslan. Semoga panjang umur dan sehat selalu." Arthazia mengulang ucapan selamatnya.
Arslan tak menjawab. Hanya kedua tangannya saja langsung membalas pelukan Arthazia, bahkan dia juga mengecup pucuk kepala istrinya itu beberapa kali dengan mata yang berkaca-kaca.
Jangan tinggalkan aku, Zia. Ingin sekali Arslan membisikkan kalimat itu di telinga Arthazia, tetapi lidahnya terlalu kelu. Setelah banyak luka yang dia berikan untuk istrinya itu, dia terlalu malu untuk meminta Arthazia untuk tetap berada di sisinya.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Henny Aprilaz
nyesek baca nya 😭😭😭😭
2024-11-28
0
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
Arslan. kuat ya... semoga kalian bisa bersama lagi.
2024-09-26
0
Yuyun Yunita
semoga kesedihan ini menjadikan cinta kalian semakin kuat...
kejadin yg sdh terjadi mmg membuat kehidupan menjadi miris saat ini tp percayalah melalui itu semua akan memberi tahu cinta yg besar itu apa
2024-08-29
1