Mengapa Arthazia begitu gigih ingin bercerai, sampai nekat meninggalkan rumah seperti ini? Pertanyaan itu terus memenuhi kepala Arslan sejak dia menerima surat gugatan dari Arthazia. Apakah hati Arthazia telah terluka begitu dalam karena sikap Arslan selama ini? Mungkinkah sejak awal Arslan telah memilih cara yang salah dalam mencintai Arthazia?
Arslan terus merenung memikirkan hal fatal yang telah dia lakukan, sehingga membuat istrinya yang lembut dan bersahaja itu kini berubah menjadi sosok yang tak dikenali.
"Juan," panggil Arslan kemudian pada asistennya.
"Ya, Tuan." Juan mendekat.
"Carikan aku kartu seluler yang baru." Arslan memerintah. Dia hendak menghubungi nomor kontak baru Arthazia, tetapi sepertinya sang istri tak akan menerima panggilan jika tahu itu dari dirinya.
"Baik, Tuan." Juan berlalu sejenak, kemudian kembali dengan membawa apa yang Arslan minta.
Juan langsung pergi meski Arslan tak memintanya, seolah tahu jika atasannya itu butuh ruang untuk berkomunikasi secara pribadi dengan sang istri.
Setelah mengganti kartu seluler di ponselnya, Arslan pun langsung menghubungi nomor kontak Arthazia yang baru. Panggilan langsung tersambung dan hanya berselang beberapa detik, panggilan itu diterima.
"Halo," suara Arthazia terdengar di seberang sana. Suara yang sangat Arslan rindukan beberapa hari ini.
Arslan terdiam dengan perasaan yang sulit dia jabarkan. Sorot mata lelaki itu langsung terlihat sendu.
"Zia," gumam Arslan kemudian dengan sangat lirih, nyaris menyerupai sebuah bisikan.
Kali ini, sepertinya Arthazia yang tak mampu berkata-kata. Meski telah menduga Arslan akan menemukan jejaknya, tapi Arthazia tetap saja merasa terkejut saat Arslan berhasil menghubunginya seperti ini.
"Bagaimana bisa kamu mengetahui nomor ini?" tanya Arthazia kemudian. Pertanyaan bodoh yang harusnya tak perlu dia tanyakan.
"Sedang berada di mana kamu sekarang, Zia? Aku tahu, kamu tidak sedang berlibur bersama teman-temanmu." Mengabaikan - pertanyaan Arthazia, Arslan tak sabar untuk mengetahui di mana saat ini Arthazia bersembunyi.
Arthazia menghela napasnya. Sejak awal mendengar suara Arslan, dia tahu jika dirinya telah ketahuan.
"Katakan di mana sekarang kamu berada. Aku akan datang menjemputmu. Jika kamu memang ingin berlibur, aku akan menemanimu ke manapun kamu mau pergi," pinta Arslan.
"Tidak, Arslan. Justru ini baru bisa disebut berlibur jika aku pergi tanpa dirimu," sahut Arthazia.
"Zia ...."
"Beberapa hari ini rasanya benar-benar tenang dan damai saat aku memutuskan untuk keluar dari rumahmu," ujar Arthazia lagi.
"Itu rumahmu juga, Zia. Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?" Arslan menyahut dengan suara yang hampir tertelan di tenggorokan.
"Tidak, rumah itu tidak pernah menjadi rumahku, Arslan. Aku hanyalah orang asing yang tidak pernah diharapkan kehadirannya di sana. Harusnya sejak awal aku sadar jika itu bukan tempatku."
"Zia, aku tahu jika saat ini kamu sedang marah dan kecewa padaku, tapi mari kita selesaikan semuanya secara baik-baik. Aku akan mendengarkan semua keluhanmu tentangku dan berjanji akan memperbaikinya." Arslan terdengar memohon.
"Tidak perlu, tidak ada yang harus kamu ubah. Satu-satunya yang harus kamu lakukan adalah melepaskanku," sahut Arthazia.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapanpun! Aku pasti akan menemukanmu dan membawamu kembali. Tidak akan ada perceraian di antara kita!" Kali ini Arslan nyaris tak bisa manahan gejolak di dalam dirinya. Suaranya terdengar meninggi dan mengintimidasi.
"Dan aku juga pernah bilang padamu jika aku pasti akan membuatmu tak punya pilihan selain melepasku. Surat pemberitahuan dari pengadilan pasti sudah kamu terima. Sampai bertemu di pengadilan." Arthazia mengakhiri panggilan tersebut.
Napas Arslan tampak memburu. Dia kembali melakukan panggilan telepon, tapi kali ini tak tersambung. Jelas Arthazia telah memblokirnya.
"Juan!" Arslan memanggil asistennya.
"Ya, Tuan." Juan masuk ke dalam ruang kerja Arslan.
"Kamu sudah melacak posisi istriku menggunakan nomor kontaknya yang baru?" tanya Arslan.
"Belum, Tuan. Saya juga baru saja mendapatkan nomor kontak itu," sahut Juan.
"Sepuluh menit, temukan posisinya dalam kurun waktu sepuluh menit!" perintah Arslan.
"Setidaknya perlu waktu satu jam, Tuan."
Arslan bangkit, lalu menatap Juan tajam.
"Dua puluh menit. Jika kamu tidak menemukannya setelah dua puluh menit, aku harus mempertimbangkan orang lain untuk mengganti posisimu!" Arslan sedikit memberikan ancaman.
"Baik, Tuan." Juan akhirnya tak memiliki pilihan selain mengiyakan permintaan Arslan.
Setelah Juan pergi, Arslan kembali memeriksa surat pemberitahuan dari pengadilan yang tadi diterimanya. Di sana tertera tanggal persidangan pertama yang akan digelar, yaitu tiga hari lagi dari sekarang.
Arslan meremas surat tersebut dengan dada yang bergemuruh. Tak pernah terbesit di pikirannya untuk berpisah dari Arthazia. Sungguh ia tak menyangka hubungannya dan sang istri akan menjadi seperti ini.
"Permisi, Tuan." Juan kembali lebih cepat dari waktu yang Arslan tentukan.
"Sudah ketemu?" tanya Arslan dengan mata yang sedikit berbinar.
"Bukan itu, Tuan. Pelacakan keberadaan Nyonya sedang dalam proses. Sudah ada laporan terkait dengan penyelidikan bocornya data rahasia perusahaan kita," sahut Juan.
Arslan tampak sedikit kecewa. Dia sedang tak berminat mendengar apapun selain tentang keberadaan Arthazia.
"Lain kali saja," ujar Arslan malas.
"Tapi ini berkaitan dengan Nyonya." Juan menambahkan.
Seketika Arslan mendongak ke arah Juan sembari mengerutkan keningnya tak mengerti.
Juan menyerahkan berkas berisi laporan analisis data disertai dengan beberapa foto tangkapan kamera CCTV.
"Ada seseorang yang telah mencuri data penting dari komputer Anda dan beberapa bukti menujukkan jika orang tersebut adalah Nyonya–" Ucapan Juan terhenti, dan lelaki itu tampak menghela napas sejenak sebelum kembali membuka mulutnya.
"Dari rekaman beberapa CCTV yang berbeda, terpantau Nyonya datang ke perusahaan yang memenangkan tender, waktunya sebelum tender digelar," tambah Juan.
"Maksudmu, Zia datang ke perusahaan milik Logan?" tanya Arslan dengan ekspresi terkejut.
"Benar, Tuan. Nyonya datang menemui Logan Maverick, lebih dari sekali. JJadi bisa dipastikan jika Nyonya adalah pihak yang telah mencuri data rahasia kita, sekaligus yang memberikan data tersebut pada Logan," sahut Juan. Sungguh ia sebenarnya agak takut menjabarkan fakta itu di hadapan Arslan.
Wajah Arslan tampak pias. Lelaki itu bahkan tak mampu mengatakan apapun.
"Kamu yakin tidak salah mendapatkan informasi, Juan?" tanya Arslan kemudian setelah menghela napas panjang.
"Tidak, Tuan. Saya sudah memastikannya berulang kali. Saya tahu, Anda akan sulit mempercayainya, tapi itulah kenyataannya."
Juan tampak prihatin melihat raut wajah Arslan saat ini. Sesaat kemudian, dia mendapatkan panggilan telepon dari orang yang ditugaskan melacak keberadaan Arthazia. Lelaki itu pamit undur diri sejenak, kemudian masuk kembali ke ruang kerja Arslan.
"Posisi Nyonya susah ditemukan, Tuan. Beliau berada di kawasan hutan lindung yang terletak di pinggian kota," ujar Juan memberi tahu.
"Kawasan hutan lindung?" ulang Arslan.
"Benar, Tuan."
Arslan terdiam sejenak. Tak ada pemukiman ataupun penginapan di kawasan tersebut. Akan tetapi, sebagian dari tanah tersebut adalah milik keluarga Maverick. Setahu Arslan, ada sebuah vila milik keluarga tersebut yang terletak di tengah hutan, dikarenakan para tetua keluarga Maverick dahulu suka berburu sebelum kawasan tersebut dijadikan hutan lindung.
"Maaf, Tuan, besar kemungkinan Nyonya sedang berada di vila milik Logan Maverick. Hanya itu tempat satu-satunya bangunan yang ada di sana." Juan berkata persis seperti yang ada di benak Arslan.
Arslan terdiam, tak tahu harus mengatakan apa. Lelaki itu bahkan tak tahu apa yang dia rasakan setelah mendengar informasi yang disampaikan oleh Juan. Semuanya terlalu mengejutkan dan sulit dipercaya.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
yg kuat Arslan. terserah mau mempertahankan atau melepas zia. yg jelas saat ini banyak hal yg harus kamu pikirkan
2024-09-25
0
🌹Fina Soe🌹
Emosi membuat Zia hilang kendali..kemungkinan terburuk adalah Zia akan dimanfaatkan Logan..utk menjatuhkan Arslan..
2024-08-23
2
Vanni Sr
harga mahal yg hrus d byar arslan krn mengkesampingkan perasaan zia , dy hrus dtg tepat wkt sih sblm sidang d mulai
2024-08-22
2