Arthazia rupanya tak main-main dengan perkataannya ingin bercerai dari Arslan. Dia benar-benar melayangkan gugatan perceraian ke pengadilan. Hal itu tentu membuat Arslan terkejut bukan main. Arslan berusaha untuk mengajak Arthazia berbicara beberapa kali tetapi hasilnya nihil. Setiap membuka mulutnya, yang diucapkan oleh Arthazia hanyalah tentang perceraian. Perempuan itu seolah sudah tak sudi menghabiskan hidupnya lebih lama lagi bersama Arslan.
Akan tetapi, tentu saja Arslan punya banyak cara untuk menggagalkan perceraian itu. Pada akhirnya, hakim menolak gugatan yang dilayangkan oleh Arthazia karena menilai tak ada unsur yang memberatkan Arslan. Dengan kata lain, lelaki itu dinilai telah memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami dengan baik, sehingga tak ada alasan bagi Arthazia untuk bercerai.
Hari itu, Arthazia hanya bisa menghela napas panjang saat mendengar keputusan hakim. Tatapannya menjadi kosong. Beberapa saat kemudian, ia bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan gedung pengadilan tanpa mengatakan apapun. Arslan bahkan tak datang, hanya diwakilkan pada kuasa hukumnya saja. Tampaknya lelaki itu sudah tahu hasil persidangan sejak awal. Arthazia harusnya sudah mengira jika langkahnya untuk terlepas dari Arslan pasti tak akan mudah.
"Sudah pulang?" Arslan bertanya tatkala Arthazia sampai di rumah. Dia ada di rumah dan tampak sengaja duduk di sofa ruang keluarga khusus untuk menyambut kedatangan Arthazia.
Arthazia hanya melirik suaminya itu sekilas, kemudian melewatinya begitu saja tanpa mengatakan apapun. Dia merasa jika saat ini Arslan sedang berusaha untuk mengejeknya. Akan tetapi, saat ini Arthazia terlalu lelah untuk berseteru dengan Arslan.
Entah kenapa, sekarang kebencian Arthazia pada Arslan terasa semakin nyata. Tindakan Arslan yang membuat hakim menolak gugatan cerai Arthazia pun semakin membuat lelaki itu terlihat egois di mata Arthazia.
"Zia." Arslan memanggil sang istri, tetapi tak digubris oleh Arthazia.
Melihat Arthazia yang bahkan tak mau menoleh, Arslan pun bangkit dan menyusul istrinya itu.
"Zia." Sekali lagi Arslan memanggil. Lagi-lagi tak mendapatkan respon apapun, sampai keduanya berada di dalam kamar mereka.
"Kenapa? Kamu ingin mengejekku karena kali ini aku tidak berhasil melepaskan diri darimu?" Arthazia berbalik dan menatap tajam ke arah Arslan.
Arslan terdiam sejenak. Ia terkesiap selama beberapa saat melihat betapa tatapan mata sang istri begitu menghujam. Tatapan mata yang dulu penuh cinta, kini berganti dengan sorot kebencian.
"Zia, berhentilah marah dan berpikirlah dengan jernih. Hakim menolak gugatanmu karena menilai pernikahan kita masih bisa diperbaiki. Aku tahu jika kamu banyak keluhan terhadapku, tapi mari kita mulai lagi semuanya dari awal," ujar Arslan berusaha meredam amarah Arthazia.
"Memulai dari awal lagi?" ulang Arthazia sambil tersenyum asimetris. "Aku sedang berusaha mengakhiri rasa sakit yang kamu berikan bertahun-tahun ini, lalu kamu ingin aku memulai luka itu lagi dari awal lagi? Jika kamu ingin membunuhku, tidak bisakah kamu langsung memberiku racun saja? Kenapa kamu harus menyiksa mentalku dan membuatku mati pelan-pelan?"
Arslan membuang napas sembari mengusap wajahnya kasar. Sepertinya ada begitu banyak kesalahpahaman yang terjadi di sini dan akan sangat sulit untuk meluruskannya karena Arthazia sudah terlanjur menutup hatinya. Tetapi semua itu bukan salah Arthazia. Salah Arslan sendiri yang tak terbuka pada sang istri sehingga Arthazia terus berasumsi sendiri.
"Semua itu tidak seperti yang kamu pikirkan, Zia. Aku sungguh minta maaf jika apa yang aku lakukan selama ini menyakitimu, tapi percayalah aku memiliki alasan untuk semuanya. Aku akan menjelaskan semuanya satu persatu padamu, tapi kumohon percayalah padaku. Berikan kesempatan untuk pernikahan kita sekali lagi," ujar Arslan kemudian dengan penuh permohonan.
Arthazia bergeming dengan tatapan yang masih sama menusuk. Apapun yang Arslan katakan saat ini rasanya tak berpengaruh apapun terhadap dirinya. Tak ada keinginan sedikitpun untuk berusaha memahami posisi lelaki itu. Rasa sakit yang bertubi-tubi sudah menghantam hati Arthazia selama tiga tahun ini, dan penghiburan yang Arslan berikan hanyalah berupa materi, tanpa mau menjelaskan situasi macam apa yang sedang Arthazia hadapi. Lalu salahkah juga saat ini Arthazia tak mengharapkan semua itu lagi? Salahkah jika dirinya tak bisa lagi menaruh kepercayaan kepada sang suami, mengingat yang tersisa di hati Arthazia terhadap Arslan saat ini hanyalah kebencian dan juga kekecewaan.
"Aku tidak butuh penjelasan apapun lagi darimu, Arslan. Simpan saja semua untuk dirimu sendiri. Sejak awal kamu tidak pernah benar-benar menganggapku sebagai istri, melainkan hanya teman tidurmu saja." Arthazia menyahut sembari membuang pandangannya ke arah lain.
"Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu, hah? Kapan aku pernah merendahkanmu?" Arslan menarik lengan Arthazia dan memaksa istrinya itu untuk kembali menatap ke arahnya. Jelas sekali ekspresi yang Arslan tunjukkan saat ini menyiratkan keputus-asaan. Dia tak tahu harus bagaimana lagi mencairkan hati Arthazia yang terlanjur membeku karena dirinya.
"Itulah masalah terbesarnya. Kamu bahkan tidak menyadari jika yang kamu lakukan selama ini telah lebih merendahkanku dibandingkan apa yang dilakukan oleh orang lain." Arthazia berujar dengan suara yang terdengar agak parau. "Kamu tahu apa yang lebih menyakitkan ketimbang mendengar orang-orang menghina dan menyudutkanku selama tiga tahun ini? Itu adalah saat aku melihat kamu diam saja dan tak berusaha untuk membelaku, padahal kamu yang paling tahu seperti apa posisiku. Kamu menganggap aku sebagai patung pajangan yang hanya perlu terlihat cantik, tanpa peduli bagaimana perasaanku. Kamu lupa satu hal, aku juga manusia. Aku bukan boneka, Arslan."
Arslan melepaskan cengkraman tangannya di lengan Arthazia, tetapi matanya masih lekat menatap istrinya itu.
"Zia, maafkan aku ... Kumohon, aku akan memperbaiki semuanya ...."
"Tidak, Arslan. Cukup." Arthazia menyela. "Terima kasih untuk semua kemewahan yang kamu berikan padamu selama ini, tetapi maaf, aku tak membutuhkannya. Aku juga tidak terlalu menyukai semua itu, harusnya kamu tahu jika memang kamu benar-benar menganggap dirimu sebagai suamiku." Arthazia menambahkan sembari berlalu dari hadapan Arslan.
Arslan hanya mematung dengan raut wajah yang tak bisa dijabarkan. Dia tak tahu kenapa semuanya bisa menjadi tak terkendali seperti ini. Dia pikir, semua barang-barang mewah yang dia berikan selama ini akan cukup untuk meredam sakit hati yang Arthazia rasakan atas banyak hal. Bukankah semua perempuan suka dengan kemewahan, sampai ada yang rela menggadaikan harga diri demi untuk mendapatkannya? Lalu kenapa Arthazia tak menyukainya?
Entahlah, Arslan sendiri bingung kenapa situasinya menjadi begitu rumit. Semua yang terjadi terlalu jauh dari prediksinya.
Setelah hari itu, hubungan Arslan dan Arthazia semakin buruk. Sikap Arthazia juga menjadi semakin dingin, seolah ingin menunjukkan jika Arslan telah mengambil keputusan yang salah karena menghalangi perceraian mereka. Meski belum memutuskan angkat kaki dari kediaman Edbert, tetapi Arthazia memilih untuk pindah kamar tidur dan sering bepergian tanpa memberi tahu Arslan terlebih dahulu. Bahkan, Arthazia juga kini sering membalas kata-kata kasar Elisa dengan ucapan yang tak kalah kasar. Para pelayanan bahkan mulai bergunjing tentang sikap Arthazia yang seolah kehilangan sopan-santunnya.
Namun, meski Arthazia telah menunjukkan semua sikap memberontaknya, Arslan sama sekali tak menunjukkan reaksi apapun. Lelaki itu seolah tak merasa terganggu sedikitpun, sehingga yang semakin merasa kesal justru Arthazia sendiri. Sampai kemudian, Arthazia nekat mendatangi seseorang yang merupakan musuh terbesar Arslan untuk memberikan sebuah penawaran.
"Bantu saya bercerai dari Arslan. Sebagai gantinya, saya akan memberikan informasi mengenai nominal harga yang akan perusahaan Arslan ajukan untuk tender kali ini," tawar Arthazia kepada orang tersebut.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
YuWie
wahh..emosi sdh menumpuk..akhirnya jalan ini yg ditempuh.
2024-11-09
0
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
ini bahayanya jika Arslan tidak jujur. zia akhirnya menjadi musuh nya sendiri
2024-09-24
0
Aslamiah
aku ud ngerasaan Ama pha yg dirasain arthazia.sungguh rasanya sgt menderita .disaat mertua.kk ipar mencela suami cm bilang sabar..bhkn suami sempat gk percaya saat aku dilecehkan sampai 3 kli.oleh mertua😭😭sungguh hampir gila serta trauma serta jijik SM diri sendiri.mau mengadu SM org tua jauh,posisi ortu lg sakit struk..KY gk ada tempat berbagi..ya Alloh sempet ngucap cerai krna rumah serasa dineraka😭😭giliran minta cerai dibilang istri gk bersyukur dpt suami yg baik dan sabar...ujian rumah tangga itu bener berat bisa gila beneran klo gk inget ank"..
2024-09-13
1