"Siapkan mobil, Juan. Aku harus menjemput istriku!" Arslan memberi perintah setelah terdiam cukup lama. Lelaki itu memilih mengabaikan semua fakta yang didengarnya mengenai Arthazia, juga mengabaikan fakta tentang Arthazia yang tak mau bertemu dengannya. Yang ada dalam pikiran Arslan saat ini adalah bagaimana caranya untuk bertemu dengan sang istri dan membawanya kembali ke rumah.
"Tapi, Tuan, itu akan sangat berbahaya. Bisa jadi itu rencana Logan untuk menjebak Anda. Kondisi tubuh Anda–" Juan membantah dengan khawatir, tetapi tertahan di tengah kalimat, seolah apa yang hendak dikatakannya itu adalah sesuatu yang tak boleh didengar oleh orang lain.
"Siapkan mobil! Kamu tahu kalau aku tidak suka mengulangi perintah, kan?" Arslan tampak bangkit dengan ekspresi marah.
"Baik, Tuan." Juan lagi-lagi tak memiliki pilihan selain mematuhi bosnya itu. Juan keluar dari ruang kerja Arslan, kemudian kembali setelah beberapa saat.
"Mobilnya dan sopir sudah siap, Tuan." Juan memberi tahu.
Arslan meraih sebuah mantel dan mengenakannya. Lelaki itu juga membuka sebuah laci khusus dan mengambil sebuah pistol dari dalam sana, kemudian disimpannya senjata api tersebut di balik mantel yang dia kenakan.
"Ayo, cepat." Arslan bergegas keluar dari ruang kerjanya, diikuti oleh Juan dari belakang.
Di lantai bawah, mereka berdua berpapasan dengan Elisa, tetapi Arslan tak menghiraukan ibu tirinya itu. Bahkan saat Elisa bertanya pun Arslan tak mau repot-repot menjawab. Mau tak mau Juan yang menyahut menggantikan Arslan. Itu juga hanya jawaban sekedarnya saja.
Mobil yang disiapkan oleh Arslan rupanya tak hanya satu, melainkan dua mobil. Salah satu mobil diisi oleh para bodyguard dan seorang dokter yang merupakan dokter pribadi Arslan.
"Kau agak berlebihan, Juan," protes Arslan, sebelum kemudian masuk ke dalam mobil.
Juan tak menyanggah. Mungkin persiapan yang dilakukannya memang sedikit berlebihan, tapi itu semua demi keselamatan Arslan. Dia lalu ikut masuk ke dalam mobil dan mereka semua berangkat ke kawasan hutan lindung tempat Arthazia berada.
Butuh waktu sekitar dua jam untuk tiba di hutan tersebut, ditambah waktu untuk masuk ke dalam hutan menuju sebuah vila milik keluarga Maverick. Untung saja akses jalannya sudah bisa dilalui oleh mobil. Pada akhirnya, Arslan dan para bawahannya pun sampai di vila tersebut.
"Sepi sekali, seperti tidak ada penghuninya," gumam Juan saat mereka semua turun dari mobil.
Arslan tak mempedulikan celotehan asistennya itu. Dia langsung mengetuk pintu bangunan tersebut berulang kali. Seorang pelayan perempuan akhirnya membukakan pintu.
"Ada keperluan apa ya, Tuan-Tuan?" tanya pelayan itu.
"Saya datang untuk menjemput istri saya," sahut Arslan tanpa basa-basi. "Di mana dia?"
"Istri Anda?" Pelayan itu terlihat bingung.
"Wanita yang datang dan menginap di sini, itu istri saya," ujar Arslan lagi.
"Oh, maksud Anda Nyonya Arthazia?"
Mata Arslan tampak berbinar. Tenyata memang benar Arthazia berada di tempat ini.
"Nyonya Arthazia memang datang dan menginap di sini beberapa hari, tapi sekarang dia sudah pergi," ujar pelayan itu lagi.
"Sudah pergi?" tanya Arslan tak percaya.
"Iya, tadi Tuan Logan menjemputnya."
Arslan tak percaya dengan kata-kata pelayan itu begitu saja. Dia langsung menerobos masuk dan mencari Arthazia.
"Zia! Zia!" Arslan memanggil sang istri sambil memeriksa setiap ruangan yang ada di vila tersebut, tapi ia tak menemukan jejak Arthazia.
"Arthazia!" panggil Arslan lagi.
"Sudah saya katakan, Nyonya Arthazia sudah pergi bersama Tuan Logan. Tidak ada siapapun di sini sekarang selain saya. Saya juga akan pergi jika setelah menyelesaikan pekerjaan saya." Pelayan tadi menyusul Arslan.
Arslan masih terlihat tak percaya. Dia curiga saat ini Arthazia sebenarnya sedang bersembunyi di salah satu sudut vila, mengingat sebelum mereka berangkat tadi, posisi Arthazia masih di kawasan hutan lindung. Karena itulah, Arslan tetap meneruskan menggeledah isi vila tersebut meski telah diberi penjelasan. Sampai akhirnya, di sebuah kamar, Arslan menemukan sebuah ponsel tergeletak di atas nakas.
"Oh, itu ponsel milik Nyonya Arthazia. Sepertinya ketinggalan," ujar pelayan tadi.
Arslan meraih ponsel tersebut dan mengaktifkannya. Saat dia mencoba melakukan panggilan ke nomor kontak Arthazia yang baru menggunakan ponsel miliknya, ternyata tersambung. Benar itu adalah ponsel yang digunakan oleh Arthazia selama beberapa hari belakangan, setelah ponsel lamanya dibuang di sebuah tong sampah pinggir jalan.
"Sial!" Arslan bergumam geram. Dia kalah satu langkah. Arthazia berhasil melarikan diri lagi dan ponsel miliknya pasti sengaja ditinggal untuk mengecoh Arslan.
Arslan akhirnya keluar dari vila itu dengan tangan kosong.
"Nyonya tidak ada di dalam, Tuan?" tanya Juan.
"Dia sudah pergi. Kita terlambat," sahut Arslan sambil masuk ke dalam mobil.
Juan tak bertanya lagi. Dia pun ikut menyusul masuk ke dalam mobil, kemudian sopir langsung mengemudikan mobil kembali meninggalkan tempat itu.
"Kemana lagi aku harus mencari dia?" Arslan bergumam frustasi, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.
"Maaf, Tuan, sepertinya akan jauh lebih baik jika Anda menyiapkan diri untuk bertemu Nyonya di persidangan saja," ujar Juan mengingatkan.
Arslan menoleh ke arah asistennya itu sejenak, tapi tak mengatakan apapun. Dia langsung teringat jika sidang pertama atas gugatan Arthazia akan digelar tiga hari lagi. Benar yang dikatakan Juan, lebih baik dia mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Arthazia di momen itu saja. Seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya, kali ini juga dirinya pasti bisa membuat gugatan Arthazia ditolak oleh hakim.
"Baiklah, kita langsung pulang," ujar Arslan kemudian. Hari ini dia harus berpuas diri dengan hasil yang tak sesuai harapannya.
Tiga hari terasa begitu lama bagi Arslan. Tak peduli dengan fakta jika Arthazia telah berkhianat dan bekerjasama dengan musuhnya, Arslan tetap ingin istrinya itu kembali. Sebesar apapun kesalahan yang Arthazia lakukan, Arslan tetap tak ingin melepaskannya.
Pada akhirnya, hari itu akhirnya tiba. Jika pada gugatan sebelumnya Arslan menyerahkan urusan di pengadilan pada kuasa hukumnya saja, kali ini tidak begitu. Arslan datang sendiri ke gedung pengadilan. Dia hendak mendengarkan sendiri tuntutan Arthazia atas dirinya. Arslan bahkan datang sebelum persidangan dimulai. Orang yang tak suka menunggu, untuk pertama kalinya dia sengaja menunggu agar bisa lebih awal bertemu sang istri.
Beberapa saat kemudian, penantian Arslan akhirnya usai. Arthazia masuk ke dalam ruang tunggu, tampak datang seorang diri tanpa ada pengacara yang menemani.
"Zia ...." Arslan tak bisa menahan diri untuk menggumamkan nama itu. Dia bangkit dan menatap ke arah Arthazia dengan sorot mata penuh kerinduan.
Arthazia membalas tatapan Arslan sejenak, tapi kemudian membuang wajah ke arah lain seolah tak sudi menatap sang suami lebih lama. Dia duduk di tempat duduknya seolah tak mendengar panggilan Arslan.
Arslan mendekati Arthazia dengan perasaan yang berkecamuk. Dari semua yang Arthazia lakukan belakangan ini, justru raut wajah tak peduli yang Arthazia tunjukkan saat inilah yang paling menusuk di hati Arslan.
"Zia," panggil Arslan lagi dengan lebih lembut dan lirih.
Arthazia mendongak. Bohong jika hatinya tak terenyuh melihat raut wajah yang Arslan tunjukkan saat ini. Dia tahu jika dirinya telah menyakiti Arslan. Namun, Arthazia sengaja melakukannya agar Arslan tak lagi berusaha menghalangi perceraian mereka kali ini.
"Apa saya datang terlambat?" Sebuah suara menginterupsi, membuat Arslan dan Arthazia menoleh secara bersamaan.
"Logan?" Arslan langsung mengerutkan keningnya saat melihat yang datang adalah Logan, saudara sepupu sekaligus musuh terbesarnya.
Logan melangkah ke arah Arslan dengan penuh percaya diri. Lelaki itu tampak tersenyum dengan pongah.
"Lama tidak bertemu denganmu, Kakak," sapa Logan.
"Ada, urusan apa kau di sini?" tanya Arslan dingin.
"Ah, izinkan saya memperkenalkan diri secara resmi." Logan mengulurkan tangannya. "Saya kuasa hukum Kakak Ipar, orang yang akan membantunya memenangkan gugatan."
Ekspresi Arslan tampak mengeras. Lelaki itu menoleh ke arah Arthazia, seolah hendak meminta penjelasan pada istrinya itu. Namun, Arthazia kembali membuang wajah ke arah lain. Sebuah sikap yang cukup menjadi jawaban untuk Arslan.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Henny Aprilaz
kecian arshlan...
2024-11-28
0
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
zia bener2 sangat keterlaluan. nanti pasti akan sangat menyesal
2024-09-25
0
Esther Lestari
tindakan gegabah yg dilakukan Zia karena rasa sakit hati diabaikan Arslan.
2024-08-24
1