Melihat Arthazia yang tampak tak menanggapi tatapan Arslan, Logan terkekeh. Lelaki itu kemudian melangkah melewati Arslan begitu saja dan duduk di samping Arthazia.
"Jangan khawatir, Kakak Ipar. Sekarang ada saya di sini. Kali ini, Anda pasti akan memenangkan gugatan. Saya akan membantu Anda semaksimal mungkin," ujar Logan pada Arthazia, seolah ingin menenangkan Arthazia yang terlihat risau karena kehadiran Arslan.
"Percayalah, meskipun dia adalah kakak sepupu saya, tapi saya berada di pihak Anda," tambah Logan lagi sembari melirik ke arah Arslan. Jelas dia hendak memprovokasi.
Arslan tentu tahu jika Logan sengaja melakukan hal itu untuk memancing emosinya. Akan tetapi, tetap saja darah Arslan terasa mendidih tanpa bisa dia tahan. Lelaki itu mencengkram kerah baju yang Logan kenakan dan menyeret Logan hingga berdiri di hadapannya.
"Menjauhlah dari istriku, Bajingan!" seru Arslan sembari menghadiahkan satu pukulan di wajah Logan.
"Hentikan, Arslan!" Arthazia langsung bangkit dari duduknya dan menahan Arslan yang hendak kembali memukul Logan.
Arslan menarik kembali tangannya yang siap memukul Logan, sedangkan Arthazia langsung membantu Logan bangkit.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Arthazia pada Logan.
Logan menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah. "Saya tidak apa-apa, Kakak Ipar. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya, tapi saya dan Kakak memang saling menunjukkan kasih sayang dengan cara seperti ini."
Senyuman Logan yang ditujukan pada Arthazia membuat Arslan kembali meradang. Lelaki itu hendak melayangkan pukulannya kembali ke wajah Logan, tapi Arthazia menghadang dengan tubuhnya, membuat pukulan Arslan hanya mengambang di udara.
"Cukup, Arslan. Singkirkan tanganmu itu. Aku yang mendatangi Logan terlebih dahulu dan meminta bantuannya," ujar Arthazia.
Arslan menurunkan tangannya yang menggantung di udara sembari menatap Arthazia dengan tatapan nanar. Kenyataan jika istrinya itu telah berkhianat dan bekerja sama dengan musuhnya membuat dada Arslan seketika terasa begitu sesak.
"Kamu tahu manusia macam apa yang kamu mintai pertolongan ini, Zia?" tanya Arslan.
"Aku tidak peduli. Selama dia bisa membantuku lepas darimu, maka itu bukanlah masalah untukku," sahut Arthazia.
Arslan kembali merasakan dadanya seperti tertusuk sebuah benda tajam. Sungguh tak ada lagi bias cinta yang berpendar pada sorot mata Arthazia untuknya. Hanya kebencian yang tersisa. Bahkan, Arthazia sampai mengesampingkan fakta jika Logan adalah orang yang sangat berbahaya. Istrinya itu memilih melemparkan diri ke dalam bahaya hanya untuk berpisah darinya.
"Kamu tidak seharusnya melakukan ini. Kamu tidak harus bekerja sama dengan Logan hanya untuk bercerai dariku. Ke mana perginya akal sehatmu, Zia?" Arslan tampak begitu emosional, sampai-sampai mencengkram kedua bahu Arthazia tanpa sadar.
"Jangan bertanya tentang akal sehat padaku. Kamu sendiri yang membuatku kehilangan akal sehat. Jika kamu sejak awal tidak mempersulitku untuk pergi dari hidupmu, aku tidak perlu mendatangi Logan dan meminta bantuannya." Arthazia menyahut sembari menyingkirkan dengan paksa kedua tangan Arslan di bahunya.
Arslan mengatup mulutnya dan menatap Arthazia dengan sorot mata yang teramat sendu. Tekad Arthazia yang begitu besar untuk bercerai darinya membuat lelaki tangguh itu mendadak seperti kehilangan pijakannnya.
"Apa kamu benar-benar membenciku, Zia?" tanya Arslan kemudian dengan suara yang terdengar agak parau. Tak peduli jika saat ini ada Logan yang ikut mendengarkan mereka berdua, Arslan tak bisa menahan pertanyaan menyedihkan itu keluar dari mulutnya.
Arthazia terdiam meski matanya masih bersitatap dengan Arslan. Benar jika rasa cintanya pada suaminya itu kini telah berubah menjadi benci. Akan tetapi, raut wajah Arslan saat ini sungguh membuat hatinya ikut terasa sakit.
"Iya, aku sangat membencimu. Kamu menikahiku, tetapi kamu tak pernah sekalipun menggenggam tanganku. Kamu terus membiarkan aku menderita seorang diri dan membunuh perasaanku sedikit demi sedikit." Arthazia menjawab tajam, seakan menolak untuk goyah. "Jika yang tersisa di hatiku saat ini hanyalah kebencian untukmu, itu karena sikapmu sendiri, Arslan. Tapi kamu memilih untuk egois sampai akhir. Kamu masih saja tidak mau melepasku meski tahu jika aku tak bisa lagi bertahan di sisimu. Kamu tidak membiarkanku pergi meski kamu tahu aku sangat menderita bersamamu."
Air mata Arthazia jatuh tak tertahankan. Dia sudah berusaha untuk menahan diri, tapi masih kalah dengan emosi yang meluap-luap di dalam dirinya. Sedangkan tatapan Arslan terlihat semakin sendu setelah mendengar ucapan Arthazia barusan.
"Kamu sangat menderita bersamaku?" ulang Arslan sembari menyeka air mata Arthazia. Suara lelaki itu terdengar lirih dan bergetar. Matanya juga tampak mengembun.
"Ya, aku sangat menderita bersamamu. Apa kamu tidak bisa melihat itu?" sahut Arthazia.
Arslan tak mengatakan apapun selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia kembali membuka mulutnya.
"Jika tidak bersamaku lagi, apa kamu akan merasa bahagia, Zia?" tanya Arslan kemudian. Bahkan Arthazia bisa mendengar nada putus asa dari pertanyaan yang dilontarkan lelaki itu barusan.
"Tentu saja," jawab Arthazia tanpa berpikir lagi. Jawaban yang begitu kejam dan membuat hati Arthazia pun ikut terasa hancur sebagaimana yang Arslan rasakan.
Sorot mata sendu Arslan terlihat semakin meredup. Sekuat tenaga lelaki itu menahan agar air matanya tak jatuh. Kali ini, Arthazia sungguh telah memberikan sebuah tikaman yang tepat mengenai jantungnya. Tak ada lagi yang bisa Arslan katakan, sampai kemudian seorang petugas yang bekerja di gedung pengadilan datang memberitahukan jika persidangan akan dimulai.
Kuasa hukum Arslan datang tepat sebelum sidang benar-benar dibuka. Lelaki paruh baya yang merupakan salah satu orang kepercayaan Arslan itu tampak menyampaikan beberapa hal pada Arslan, tetapi tak ada yang benar-benar Arslan dengarkan. Tatapan Arslan terus tertuju pada Arthazia yang saat ini sedang menyampaikan tuntutannya melalui Logan.
Semua yang Arslan dengar tak bisa ia cerna. Satu-satunya yang memenuhi pikiran Arslan saat ini hanyalah ucapan Arthazia yang mengatakan bahwa dia sangat menderita bersama Arslan. Arslan terus mempertanyakan pada dirinya sendiri, bagaimana dia bisa menyakiti Arthazia sejauh itu?
"Saya tidak bisa meneruskan pernikahan ini. Ada banyak hal yang begitu menyakitkan dan membuat saya merasa sedih berkepanjangan." Arthazia mengucapkan keinginannya di hadapan hakim.
Logan menambahkan beberapa statement yang tentunya menyudutkan Arslan. Dan Arslan sendiri tak berusaha untuk menyangkal hal itu. Nyatanya, selama ini Arslan memang telah memilih cara yang salah untuk menunjukkan rasa cintanya pada Arthazia. Hanya saja, Arslan tak pernah menduga jika kesalahannya itu akan membuat sang istri akan sebegitu menderitanya.
"Selama tiga tahun ini, saya tak pernah merasa aman dan tak memiliki tempat bersandar. Memang benar jika suami saya selalu memberikan materi yang berlimpah, tetapi nyatanya hal itu tak mengurangi kesedihan dan penderitaan batin yang saya rasakan. Banyak diskriminasi yang saya terima dan saya tidak pernah mendapatkan pembelaan dari suami saya. Saya sungguh tidak sanggup lagi meneruskan pernikahan yang seperti ini." Arthazia kembali menyampaikan isi hatinya.
"Jika masih saja terus dipaksakan, mungkin saya akan mati karena depresi," tambah Arthazia lagi.
Kali ini, Arslan kalah. Lelaki itu memejamkan matanya dengan hati yang terasa seperti disayat sembilu, dan air matanya yang sejak tadi dia tahan pun ikut jatuh.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Henny Aprilaz
ARSHLAN 🥺🥺🥺
2024-11-28
0
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
lepaskan saja zia, Arslan. biar dia rasakan bagaimana hidup tanpamu.
2024-09-25
0
Yuyun Yunita
coba lepaskan dengan ihklas istri dari menjadi mantan nnti pada akhirnya hati lah yg memberi tahu seberapa besarnya cinta itu dan seberapa pentingny dirimu
2024-08-24
1