Malam kedua setelah kembali melakukan aksinya bersama dengan Rafe, Jevan dan Rafe lalu kembali ke hotel tempat Rafe menginap. Kali ini Jevan yang mengemudi mobil yang di sewa oleh Rafe selama ia berada di Las Vegas. Tetapi Jevan tidak mengebut seperti Rafe kemarin. Karena aksi malam sebelumnya adalah yang pertama kali baik bagi Jevan maupun Rafe, membuat Rafe menjadi tegang dan akhirnya mengendarai mobilnya sambil mengebut.
Rafe dan Jevan telah selesai menghitung uang dari hasil mereka beraksi malam ini dan Rafe telah membaginya dengan adil kepada Jevan.
"Apakah kau telah melunasi hutangmu, Jev?"
"Iya, aku telah membayar orang itu demi membantu adikku"
"Adik kandung?"
"Bukan, tapi dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri"
"Oh, I see... "
"Rafe, kenapa kamu melakukan ini? Aku pikir kau terlihat seperti pria baik-baik"
"Aku memang pria baik-baik dan kurasa kau juga begitu, kan?"
"Aku rasa itu tidak berlaku untukku, Rafe"
"Tapi aku yakin kau dan aku sama-sama sedang tak punya pilihan lain. Apa aku benar kali ini?"
"Iya, kamu benar"
Rafe kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Mamaku menderita penyakit serius, Jev. Aku membutuhkan banyak biaya agar ia mendapatkan pengobatan terbaik"
"Sudah kuduga. Berarti kamu memang orang baik, Rafe"
"Aku harap begitu, Jev. Aku rasa kau juga orang baik, Jev"
"Aku rasa itu tidak mungkin. Aku hanya seorang pria panggilan, aku rasa aku juga lupa dimana aku menaruh harga diriku"
"Jangan begitu, Jev. Anyway, berapa usiamu?"
"19 tahun"
"Kamu sudah lulus SMA belum?"
"Belum. Aku berhenti sekolah waktu aku berumur 17 tahun"
"Selesaikan sekolahmu dulu, Jev. Nanti kita bicara lagi"
"Buat apa? Aku kan sudah bekerja sejak aku berumur 16 tahun"
"Iya memang, tapi pendidikan itu penting. Memangnya kamu tak ingin mempunyai pekerjaan yang layak seperti orang-orang pada umumnya?"
"Aku bahkan tak tahu kalau itu mungkin"
"Bisa saja. Gunakan sebagian uangmu untuk sekolah, aku janji akan membantumu. Sekolah di pagi hari, malamnya baru kamu kerja"
"Itu terdengar melelahkan, Rafe"
"Tapi sebanding dengan hasilnya. Setidaknya pikirkan saja dulu"
"Baiklah, akan kupikirkan"
"Besok aku harus pulang karena masa cutiku akan segera berakhir. Nanti kalau aku kesini lagi, kamu pasti jadi orang pertama yang aku hubungi"
"Iya, Rafe. Terima kasih banyak karena telah membantuku"
"Don't mention it. Kita kan sama-sama telah saling membantu"
***
Keesokan harinya, Jevan mengantarkan Rafe ke bandara, lalu ia mengembalikan mobil yang telah Rafe sewa ke tempat penyewaan mobil. Setelah ia sampai di rumah, Simone telah menunggunya di depan pintu.
"Mommy, tumben jam segini udah bangun"
"Iya, mommy memang sengaja nunggu kamu pulang. Mommy ingin bicara denganmu"
"Bicara tentang apa, mommy?"
"Bicara tentang darimana kamu mendapatkan uang sebanyak itu untuk membantu Louisa"
"Aku bekerja seperti biasa, mommy"
"Jangan bohongi mommy, Jevan! Mommy tau kamu sedang membohongi mommy"
"Mommy, yang penting kan Lou bebas untuk sementara dari para pria hidung belang. Setidaknya sampai tahun depan"
"Kamu seharusnya tahu kalau Nino bisa saja berlaku curang"
"Iya, aku tahu"
"Karena sepertinya kamu tak mau memberitahu pekerjaan tambahan apa yang telah kau lakukan untuk membebaskan Louisa, maka mommy hanya bisa memberi saran agar kamu harus lebih berhati-hati, jangan sampai Nino tahu yang sebenarnya"
"Yes mommy, I will. Terima kasih telah memperingatkan aku"
Jevan kemudian mencium pipi mommynya dengan penuh kasih sayang, yang kemudian di balas dengan pelukan hangat oleh Simone.
"Mommy sayang kamu, Jevan. Hanya kamu yang mommy punya"
"Aku juga begitu, mommy"
Sebuah suara dari belakang Jevan kemudian terdengar.
"Wah... Wah... Kalian berpelukan, mengharukan sekali... Anyway, Jev... Lebih baik kamu segera bersiap-siap. Ada klien istimewa yang ingin memakai jasamu"
"Sekarang?"
"Iya, sekarang. Aku akan kirim share lock ke ponselmu. Satu lagi, dia agak... Unik"
"Unik bagaimana?"
"Dia akan meminta permintaan khusus untukmu, jadi tolong turuti saja, oke? Nanti dia berjanji akan memberimu bonus"
Jevan dan Simone saling melirik dengan curiga, tetapi dengan berat hati akhirnya Simone mengizinkan Jevan untuk menemui orang tersebut.
***
Kliennya bernama Miranda. Ia tinggal di sebuah kompleks perumahan yang asri. Yang mengejutkan adalah ternyata ia adalah seorang ibu rumah tangga yang kesepian. Suaminya sering dinas ke luar kota. Saat Jevan datang, kompleks perumahan tersebut terlihat sepi karena sebagian besar yang tinggal di sana sedang bekerja.
Miranda sengaja memilih waktu dimana kompleks perumahan itu sedang sepi. Walau sudah mempunyai dua anak yang saat itu sedang bersekolah, sebenarnya tubuh Miranda masih terlihat bagus dan sexy. Sepertinya ia rajin berolahraga dan merawat diri. Ketika melayani Miranda, Jevan pikir ia sudah melakukanya dengan maksimal, terapi Miranda terlihat masih kurang puas, bahkan cenderung bosan.
"Eh, Jevan... Sepertinya Nino sudah memberitahu kamu sebelumnya kan kalau aku mempunyai permintaan khusus"
"Iya. Jadi tante ingin meminta apa dariku?"
"Aku ingin kakimu"
"Apa?"
"Iya, aku ingin mencium kakimu. Boleh kan? Nanti aku akan kasih kamu bonus seperti yang telah aku janjikan kepada Nino. Tapi bonus ini untukmu, bukan untuk Nino lp"
"Tante hanya ingin mencium kakiku?"
"Iya. Kakimu indah sekali. Aku suka.... "
Kemudian Miranda mulai menciumi kaki Jevan dengan lembut. Dan hal aneh pun terjadi. Miranda merasa puas seperti seseorang yang sedang berada di puncak kenikmatan. Jevan sungguh merasa di buat heran dengan kelakuan Miranda. Setelah itu ia memberikan sebuah amplop yang berisi sejumlah uang tunai yang cukup banyak.
"Terima kasih, Jevan. Aku puas. Lain kali pastinya aku akan memakai jasamu lagi. Sekarang sebaiknya kamu segera pulang karena aku harus menjemput anak-anakku pulang dari sekolah"
"Baiklah, aku bersiap dulu ya"
***
Di tengah perjalanan menuju rumah, Jevan memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan mengeluarkan ponselnya untuk mencari tahu tentang jenis kelainan apa yang telah di alami oleh Miranda.
"Fetisisme?"
Fetisisme adalah ketertarikan se*sual kepada benda-benda non se*sual, untuk kasus Miranda kemungkinan lebih merujuk kepada kaki dari pasangan se*sualnya, yang dalam hal ini adalah kaki dari Jevan. Setelah cukup puas mendapatkan informasi dari ponselnya, Jevan kemudian menyalakan mesin mobilnya dan kembali melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.
***
Di hari Jum'at sore, Nino kembali menemui Jevan.
"Besok pagi kamu harus menemui klien baru di apartemennya. Ia bekerja di salah satu perusahaan besar dan jabatannya juga bagus, jadi kamu harus bisa memuaskannya agar ia jadi pelanggan kamu"
"Iya, Nino. Aku akan datang"
***
Klien baru Jevan tinggal di sebuah apartemen mewah. Dari informasi yang di berikan oleh Nino, nama dari kliennya adalah Cherly. Setelah menekan bel pintu apartemen Cherly, Jevan mendapati seorang gadis berpostur tubuh mungil dengan senyum canggung di wajahnya. Ia memakai kacamata berbingkai yang di sebut kacamata kucing.
"Hai... "
"Hai... Kamu... Kamu Jevan ya?"
'Iya. Kamu Cherly?"
"I... Iya... "
"Well... Mmm... Apakah aku boleh masuk?"
"Oh iya... Tentu... Tentu saja... Ayo masuk... "
Setelah berada di dalam apartemen Cherly, ia malah diam saja dan berdiri mematung di sudut ruangan. Jevan kemudian mendekatinya.
"Cherly, apakah aku membuatmu gugup?"
"Tentu saja tidak... Ah, sebenarnya iya, aku gugup. Kamu tampan sekali, Jevan. Itu membuatku jadi tambah gugup. Tapi sebenarnya bukan cuma kamu yang membuatku gugup, tapi semua pria... Semua pria membuatku gugup!"
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, Cherly?"
"Entahlah, aku sendiri tak tahu pasti. Yang jelas aku membutuhkan bantuanmu, Jevan"
Jevan mengerutkan keningnya karena tak mengerti. Cherly sepertinya tak seperti wanita lain yang pernah di temuinya. Dan ia yakin kalau ini takkan jadi semudah yang ia pikir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
anggita
klo lagi gugup... kadang juga bisa gagap😁
2024-08-25
1