Sejak Louisa pertama di paksa untuk melayani seorang pelanggan oleh Nino, yang tentu saja gagal dilakukan berkat usaha Jevan tanpa sepengetahuan Nino. Tapi beberapa tahun kemudian, Nino kembali memaksa Louisa untuk kembali melayani seorang pria hidung belang. Jevan kemudian kembali menentang Nino.
"Jevan, apa sih masalahmu? Louisa sudah besar! Kamu sendiri dulu juga memulainya sebelum usia 17 kan?"
"Tapi dia kan perempuan dan sakit-sakitan!"
"Hei, aku tak selemah itu ya!"
"Lou, kau kan tahu apa maksudku... "
"Iya aku tau maksudmu, Jev. Tetapi sama seperti dirimu, aku juga tak punya pilihan lain, kan?"
"Tapi tidak untukmu, Lou. Please Nino, setidaknya tunggu sampai Louisa berumur 17 tahun! Kumohon!"
"Jevan, klien ini sangat penting karena dia menjanjikan banyak uang untukku! Eh, maksudnya untuk kita! Memangnya kamu akan sanggup untuk menanggungnya?"
"Memangnya berapa yang dia bersedia bayar untuk Louisa?"
Nino kemudian menyebutkan sejumlah uang dalam bentuk dollar yang jumlahnya memang melebihi dari yang biasa di berikan oleh pelanggan lain. Jevan membelalakkan matanya saking terkejutnya ia mendengar jumlah uang yang di sebutkan oleh Nino, begitu juga dengan Louisa karena jumlahnya hampir sama dengan dua bulan menjadi pria peliharaan tante Mariana yang selalu mengejar Jevan. Seolah tahu jalan pikiran Jevan, Louisa lalu menegur Jevan.
"Oh no, don't you think about it! Aku tak ingin kamu melakukan pengorbanan sebesar itu untukku, Jevan"
"Tapi Lou, hanya ini satu-satunya jalan... "
"Tidak, jangan Jevan! Lebih baik aku melakukannya daripada kamu berkorban untukku!"
"Lou, kamu kan udah janji... "
Jevan menggantung ucapannya karena ia hampir saja keceplosan di depan Nino.
"Janji apa, Jevan?"
"Eh, maksudku janji kalau ia akan melakukannya jika sudah berumur 17 tahun"
"Ternyata tidak semudah itu, kan? Ayo Lou, kamu harus segera bersiap-siap!"
"Tunggu! Beri aku waktu beberapa hari lagi!"
"Hhh... Ya, baiklah... Sebaiknya kamu menepati janjimu kalau tidak Louisa secara otomatis harus melakukan tugasnya"
"Iya, aku akan menepati janjiku! Tunggu saja, Nino!"
***
Jevan belum menghubungi Mariana karena ia masih ingin mencari jalan lain untuk mencari uang agar Louisa bisa terbebas dari tugas yang harus ia lakukan untuk Nino. Ia berpikir sambil berjalan-jalan di sekitar area perjudian. Karena iseng, kemudian ia mencoba keberuntungannya dengan main di slot machine.
Entah sedang beruntung atau alasan lain, ia mendapatkan banyak koin dari mesin tersebut. Seseorang berpenampilan seperti seorang kutu buku mendatanginya dan mencoba untuk bicara dengannya.
"Beginner's luck?"
"Sepertinya begitu"
"Kamu kerja di tempat ini?"
"Tidak"
Apa kamu mau aku beritahu bagaimana caranya supaya bisa menang banyak?"
"Apakah aku harus membayarmu?"
"Bukan membayar, tapi bagi hasil"
"Maksudmu bagaimana?"
"Kamu sudah makan?"
"Kamu tak menjawab pertanyaanku"
"Aku akan jelaskan nanti sambil kita makan. Ayo, kita cari tempat makan. Jangan khawatir, aku akan traktir kamu"
"Baiklah, tapi aku tukar koinku dulu"
"Oke, aku tunggu di sebelah sana ya"
'Iya"
Setelah selesai menukar koinnya, Jevan dan orang tersebut kemudian makan di restoran di dekat tempat tersebut.
"Kenalkan, namaku Rafael, tetapi kamu bisa memanggilku Rafe"
"Halo Rafe, aku Jevan"
"Jevan... Nama yang bagus. Oke, aku langsung saja ya, aku ada penawaran untukmu. Aku adalah seorang ahli iT dan belum lama ini menemukan cara untuk mengakali semua permainan yang ada di atas meja judi, termasuk slot machine seperti yang kau mainkan tadi"
"Benarkah?"
"Iya benar. Aku akan buktikan nanti malam"
"Kenapa kau ingin aku untuk membantumu?"
"Karena kita saling membutuhkan, Jevan. Kamu sedang butuh uang kan? Begitu juga dengan aku"
"Mmm... Iya sih... "
"Kalau begitu aku tunggu nanti malam. ya? Kamu punya setelan jas? Kalau tak punya nanti aku pinjamkan"
"Iya, aku punya"
Karena tinggal di kota perjudian dan terkadang harus menemani klien untuk bermain judi, jadi Jevan punya beberapa setelan resmi yang di anggapnya sebagai baju kerja. Di malam hari, sesuai permintaan dari Rafe, Jevan datang dengan setelan resmi. Rafe yang sudah datang lebih dulu kemudian menghampiri Jevan. Rafe juga memakai setelan resmi seperti Jevan, membuat ia terlihat berbeda karena siang tadi ia terlihat seperti seorang kutu buku.
"Dimana kacamata kamu, Rafe?"
"Aku tinggal di hotel. Aku pakai contact lens sekarang. Setidaknya untuk mengimbangi penampilanku denganmu"
"Memangnya penampilanku kenapa? Sepertinya aku merasa biasa saja deh"
"Lihatlah di cermin, Jev. Kamu adalah seorang bocah tampan, untuk itulah aku memilihmu agar para wanita yang ada di sini tertarik padamu. Kita akan menemani mereka bermain. Tentunya kamu pernah melakukan itu, kan?"
"Iya pernah, Rafe"
"Ayo kita beraksi. Tapi sebelumnya pakai ear piece ini. Aku akan membimbingmu. Tapi kunci utamanya adalah kamu harus selalu bersikap tenang. Oke?"
"Bagaimana kalau kita ketahuan, Rafe?"
"Maka kita harus menjalankan rencana kedua agar kita bisa melarikan diri. Tapi aku harap itu tidak terjadi. Sekarang, tarik nafas, lalu hembuskan perlahan"
Jevan melakukan permintaan Rafe dengan patuh, setelah itu mereka memasuki gedung tempat perjudian dengan langkah mantap dan penuh percaya diri walau di dalam hati detak jantung Jevan terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.
***
Rafe benar. Penampilan Jevan yang di sebutnya sebagai bocah tampan menarik perhatian para pengunjung yang sebagian besar berjenis kelamin wanita. Sudah tak terhitung berapa kali ia di dekati oleh mereka dan tentunya mereka meminta Jevan untuk menemani mereka bermain. Seorang wanita yang mengaku bernama Chayene membisikkan sesuatu di telinga Jevan.
"Aku sudah puas bermain di sini, ayo kita ke kamarku untuk memainkan permainan yang lain"
"Maaf nona, aku juga ingin. Tapi sayangnya malam ini aku masih ingin bermain di sini dulu. Lain kali, barangkali?"
Wanita itu terlihat kecewa, tetapi kemudian ia menyelipkan selembar kertas di saku jas Jevan. Kemudian ia menyerahkan koin yang tadi sudah ia menangkan bersama Jevan untuk di tukar dengan uang.
"Anda yakin?"
"Tentu saja. Jumlahnya tak seberapa bagiku. Anggap saja hadiah, Jevan. Aku pergi dulu. Jangan lupa untuk menghubungi aku, oke? Aku di sini sampai hari Selasa besok. Aku tunggu ya"
"Baiklah, Chayene"
Setelah Chayene pergi, wanita lain bergantian mendatangi Jevan. Kemudian Rafe yang mengamati Jevan dari jauh bicara kepada Jevan melalui ear clip yang ia pakai sebelumnya.
"Kamu laku keras malam ini, Jevan. Ingat, jangan tergoda. Kita akan keluar dari sini setelah di rasa cukup. Jangan terlalu serakah dulu. Kalau masih perlu, kita akan melakukannya lagi di tempat lain"
"Oke, Rafe"
Malam itu mereka sukses besar. Jevan dan Rafe menukarkan koin mereka secara terpisah dan tidak berbarengan agar pemilik tempat itu tidak curiga. Tetapi ketika Jevan sedang menukarkan koinnya untuk yang ketiga kalinya, seorang bodyguard mendatanginya.
"Menang besar malam ini ya?"
"Iya, dan aku berhenti bermain ketika sedang menang besar agar keberuntungan aku tidak hilang"
"Memangnya kamu tak ingin dapat kemenangan lagi?"
"Tidak, cukup malam ini saja. Sudah dulu ya"
Jevan menepuk pelan pundak bodyguard tersebut kemudian menyelipkan selembar uang seratus dollar ke tangannya.
"Anggap saja bonus untukmu"
Jevan mengedipkan sebelah matanya lalu pergi keluar dari tempat itu dengan langkah santai walau orang lain tak tahu kalau ia masih berdebar seperti waktu ia masuk ke tempat itu tadi.
Rafe yang sudah menunggu di luar dengan mobilnya kemudian mengendarai mobilnya bersama Jevan menuju hotel tempat ia menginap selama beberapa hari ini.
Rafe dan Jevan pikir mereka sudah terbebas dari tempat judi dimana mereka telah mengambil banyak keuntungan dari tempat tersebut, tetapi di tengah jalan menuju hotel, mobil mereka di cegat oleh sebuah mobil lain.
"Berhenti sekarang juga atau aku akan menembak kalian!"
Rafe dan Jevan kemudian saling memandang dengan wajah tegang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments