"Dom ! Kamu bawa apa?" seru Alan panik. "Narkoba ? Uang? Berlian?"
Dominic melongo. "Paklik terlalu banyak nonton film action deh. Bukan Paklik... Eh tunggu. Kenapa aku jadi manggil Paklik ya ? Bukannya harusnya Oom?"
"Sudah fasih lidah kamu ! Sekarang bilang sama Paklik ... Eh kok aku jadi ikutan ? Anyway, sekarang bilang kamu terlibat apa?" Alan menatap tajam ke pria yang memiliki tubuh lebih besar darinya.
Dominic hanya nyengir. "Dom mandi duluuu!" Pria itu langsung masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Alan yang masih gemas penasaran.
"Woi Dom ! Dasar ! Nggak keponakan nggak Tante, sama saja !" sungut Alan sebal.
***
"Kami menemukan kontrak kerjasama militer dari salah satu perusahaan kontraktor militer dan ternyata mereka berkhianat dengan menjual banyak RDX ke para pemberontak," jawab Dom.
"You're kidding Dom?" bisik Alan.
"No Paklik. Bahkan salah satu rekan kami menjadi korban dengan mengorbankan nyawanya saat Hummer nya meledak. Aku dan Gizem berhasil mencuri laptop mereka yang berisikan semua dokumen termasuk mereka berjanji akan memberikan banyak RDX karena selama mereka menjadi kontraktor militer, memiliki akses ke gudang persenjataan untuk dikirimkan ke para pemberontak."
Alan mengusap wajahnya. "Kenapa kamu tidak lapor ke CO kamu ?"
"Yang benar saja Oom ! Justru CO aku yang berkhianat! Bagaimana tidak, terjadi nepotisme saat dilakukan tender perusahaan kontraktor. CO aku adalah anak dari pemenang tender itu dan asal Paklik tahu, ayahnya adalah keponakan salah satu jenderal di US Army. Ini benang ruwet Paklik ! Teman ku sampai mengorbankan nyawanya demi laptop ini !" Dominic memperlihatkan tas laptop yang berisikan macbook disana.
"Dom, boleh Oom kasih saran ... Eh enak Paklik ya Whatever... Kenapa kamu tidak minta tolong sama Opa Bayu? Bagaimana pun musuh kamu orang dalam sendiri lho ! Paklik tidak bilang kamu tidak mampu melawan mereka tapi ini berbahaya dan nyawa kamu terancam Dom ! Bayangkan bagaimana ngamuknya Opa Bayu dan Ayahmu."
Dominic menatap Alan. "Aku tidak mau melibatkan keluarga aku, Paklik."
Alan tampak berpikir. "Oke. Paling aman kamu kemana?"
"London atau Manchester atau Glasgow."
"Tunggu, biar Oom rundingan dengan Matt Frazier."
"Paklik ..."
"Ya ?"
"Sebenarnya panggilan yang benar itu Paklik atau Oom sih?"
Alan menatap Dominic datar. "Terserah asal bukan Pakdhe saja."
Dominic terbahak. "Paklik memang cocok masuk di keluarga aku. Membagongkan."
***
"Aku ada kenalan disini." Matt Frazier menatap Dominic dan Alan. "Sudah dipersiapkan. Pesawat ke London."
"Bagaimana bisa Oom?" tanya Dominic.
"Shaqeer menghubungi aku dan ternyata kami mengenal orang yang sama. Dia akan membantu kamu dan tim sampai London."
"Shakira itu kenalannya banyak ya ..." gumam Dominic.
"Aku hubungi dia dulu. Buat memastikan kalian bisa terbang jam berapa." Matt segera menghubungi Draen Gvardiol.
Rayline menatap Dominic. "Dom, kasus pelik begini, Oom Alex dan Oom Scott kamu harus tahu. Tidak bisa Shaqeer bekerja sendirian meskipun Tante tahu dia seperti assassin."
"Tapi Tante, kalau Oom Alex dan Oom Scott tahu, Opa dan Daddy juga pasti tahu !"
"Tante yakin sebenarnya mereka sudah tahu saat kamu AWOL. Tapi mereka ingin tahu sampai sejauh mana kalian bisa survive. Tante pastikan, mereka juga sedang menyusun rencana di New York."
Dominic langsung memegang pelipisnya. "Ini yang aku takutkan Tante. Kengereogan Opa itu lho. Semua pasti dilawan."
"Mau gimana lagi Dom. Kamu cucunya Oom Bayu."
***
Airport Pribadi Milik Keluarga Gvardiol
Pesawat milik Draen Gvardiol siap pukul empat subuh untuk tinggal landas dari Zagreb ke London. Draen juga sudah mengatur mereka tidak akan landing di Heathrow melainkan di bandara pribadi milik keluarga Blair London. Shaqeer sudah mengatur semuanya.
Dominic memeluk Rayline erat sebelum take off.
"Hati-hati Dom. Jangan sampai Opamu hancurin Pentagon," bisik Rayline.
"Nggak kebayang kalau Opa dan Opa Gio melepaskan misil ke Pentagon. Kacau deh !" jawab Dominic.
Pria itu lalu memeluk Alan. "Paklik, ditunggu di Pula sama Oom Sergey buat honeymoon."
Alan mendelik. "Sama mafia ?"
"Lho dapat undangan spesial."
Alan menggelengkan kepalanya.
Rayline lalu memeluk Gizem. "Sen ve Dom mükemmelsiniz ( kamu dan Dom cocok kok )."
Gizem menegang mendengar ucapan Rayline dalam bahasa Turki.
"Aunty ..." Gizem menatap wanita cantik yang sepantaran dengannya dengan pipi merona.
"Hati-hati ya?"
Gizem mengangguk dan Rayline mencium pipi gadis itu.
Liam dan Peter saling bersalaman lalu mereka masuk ke dalam pesawat.
"Mr Gvardiol, terima kasih banyak..." Rayline menyalami mafia itu.
"Miss McCloud, keluarga Pratomo banyak membantu kami-kami lewat Paman de Luca dan paman Mancini. Kami memiliki hubungan bisnis yang baik. Jadi saat Shaqeer meminta tolong, dan itu berhubungan dengan Gegeran, wajar aku membantu," jawab Draen Gvardiol yang memiliki bekas luka di wajahnya yang membuat wajahnya semakin seram.
Rayline mengangguk. "Terima kasih sekali lagi."
Semua orang menunggu sampai pesawat pribadi itu tinggal landas baru bersiap pulang.
"Semoga tidak ada Gegeran di London..." gumam Rayline.
"Kenapa?" tanya Alan bingung.
"Karena sudah pasti kalau ada korban jiwa dari penjahat, kakaku Mbak Galena, sudah siap untuk mengambilnya organnya."
Alan melongo. "Tunggu, kakak mu itu dokter apa?"
"Dokter bedah tapi memang jagal," kekeh Rayline.
"Bagaimana dengan sumpah dokternya ?"
Rayline mengedikkan bahunya. "Sumpah apa?"
Alan menepuk jidatnya.
***
Di dalam pesawat, pilot pesawat berdiskusi dengan Dominic yang duduk di kokpit. Mengetahui pria muda di sebelahnya adalah pilot pesawat tempur, membuat pilot senior itu senang mendapatkan teman diskusi.
"Aku tidak menyangka teman-teman keluarga Dom sangat banyak," ucap Peter. "Dan mereka para Mafioso, Liam !"
"Keluarga Dourdan juga berbuat ala mafia jadi kita harus membalas ala Mafia," jawab Liam. "Lagipula keluarga Dom itu juga mafia, Triad dan Yakuza. Sudah biasa dia !"
***
Dominic mendapatkan telepon dari Sergey Brozovic.
"Paman Sergey, sudah sampai di rumah ?" tanya Dominic lega.
"Sudah Dom. Ohya, harga kepala kamu naik lagi. Menjadi $200,000. Menurut informan Sandy yang ada di London, mereka tahu kamu kesana karena ada keluarga kamu dan para bounty hunter sudah bersiap ke Inggris."
"$200,000 masih murah Paman."
"Satu hal yang paman dan Sandy khawatirkan... Opamu, Bayu O'Grady."
Dominic menghela nafas panjang. "I know."
"Just be careful Dom. Shaqeer sudah siap di London."
"Sekali lagi, terima kasih Paman dan Bibi Dijana sudah membantu kami ..."
"Sama-sama Dom. Oh, apakah undangan aku ke Tante kamu sudah disampaikan?" tanya Sergey.
"Sudah."
"Bagaimana reaksinya?"
"Tante Ray sih santai, Oom Alan yang panik."
Sergey terbahak.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Ninik Rochaini
gk mgkn klu mas Lisus gk th... siap2 gegeran nih...
2024-12-18
2
Murti Puji Lestari
makin seru ini kalau twisster level VII ikut turun tangan, ngak sabar liat serunya gegeran mereka 😁👍
2024-07-25
1
Schyler
Keturunan Giordano gak ada kisah nya,thor.. ?
2024-07-25
1