...Kan ku arungi tujuh laut samudra...
...Kan ku daki pegunungan himalaya...
...Apapun kan ku lakukan tuk dirimu sayang...
...Penjaga hati~Nadhif Basalamah...
...****...
BRAKK
pintu rooftop terbuka dengan keras, membuat kedua gadis yang tak lain adalah izora dan nessa berjengit kaget.
kedua gadis itu tadinya sedang asik membolos sebelum seseorang yang menendang pintu rooftop datang dan menghancurkan suasana.
"lo berdua ikut gue!" ujar bintang mengistrupsi.
bintang adalah anak kelas sebelas sekaligus Ketua osis di taruna, satu satunya lelaki yang berani menghadapi anak-anak nakal di kelas dua belas.
izora melirik sinis, "siapa lo nyuruh-nyuruh kita?"
"gue ketua osis disini, lo lupa?" balas bintang penuh penekanan.
nessa terkekeh, "babu sekolah aja bangga."
mencoba mengabaikan ucapan nessa barusan, bintang kembali berujar dengan nada penuh ancaman, "lo berdua ikut gue sekarang, atau gue panggil bu setya kesini?"
izora bangkit, berjalan menghampiri Ketua osis itu dengan dagu di angkat, "lo tau?...."
"....orang yang kerjaannya tukang cepu, biasanya besoknya mati!" sambung gadis itu saat tepat di hadapan bintang.
"dari pada besok lo mati, mending lo pergi!" ucap izora lagi, mengusir.
bintang menaikkan sebelah alisnya dengan kedua tangan menyilang di dada, "mati itu di tangan Tuhan, bukan di tangan ramalan konyol yang lo ucapin itu!"
izora mengedikkan bahunya dengan wajah yang terlihat lempeng, "siapa tau besok lo beneran mati, umur gaada yang tau kan?"
bintang menggeram, ia mencengkal pergelangan tangan milik izora kuat, "dari pada lo bacot, mending lo turutin ucapan gue."
"dan lo nessa! ikut gue! jangan coba-coba kabur!" ujar bintang pada nessa lalu menarik tangan izora keluar dari rooftop.
nessa menghela nafas, mau tak mau ia harus mengikuti langkah kemana bintang pergi dengan izora yang di seret oleh cowo itu.
"lepasin gue anjing!" izora memberontak.
"gue bisa jalan sendiri bangsat! LEPASIN!!"
Bintang menatap tajam gadis yang sedang berada di genggaman nya itu, "Diem!"
"ga, sebelum lo lepasin tangan gue!"
"nanti gue lepas kalau udah di lapangan."
izora pasrah, akhirnya ia diam dan mengikuti kemana bintang membawanya walaupun harus menahan pergelangan tangannya yang sakit.
sesampainya di lapangan, bintang langsung melepas cengkalan tangannya pada izora.
"lo berdua, keliling lapangan 50 kali!"
mata izora dan nessa membelalak, apa-apaan cowo itu? dia mau membuat anak orang mati?
"lo gila?!" tanya nessa seraya menatap bintang nyalang.
"gue waras." balas bintang datar.
"gaada orang waras yang nge hukum lari keliling lapangan sebesar ini lima puluh kali!" izora menyahut.
"ada, gue." balas bintang santai.
izora menggeram kesal, rasanya ia ingin membalang sepatu ke wajah songong milik cowo itu sekarang.
"kerjain sekarang? atau gue tambah hukuman kalian?" kata bintang yang lagi lagi menggunakan nada mengancam.
"gue berharap lo beneran mati si besok!" ujar izora dengan mata penuh kilat dendam lalu setelahnya gadis itu mulai berlari mengelilingi lapangan.
baru putaran pertama peluh keringat sudah membasahi dahi izora, gadis itu dengan cepat mengusapnya dan melanjutkan ke putaran selanjutnya.
namun saat di putaran ke lima napas izora memberat, gadis itu merasakan sesuatu yang menyesakkan di bagian perut atasnya.
izora menghentikan larinya, kedua tangan ia letakkan di lutut untuk bertumpu, lalu izora mulai mengatur nafasnya secara perlahan walaupun sulit.
"GUE GAADA NYURUH LO BERHENTI ZORA! LANJUT LARI LAGI! INI BARU LIMA PUTARAN!" teriak bintang dari pinggir lapangan.
izora melirik nya sekilas tanpa ada niatan membalas, biarlah cowo itu mencak-mencak disana.
nessa yang masih fokus berlari mulai menghampiri izora, "lo gapapa ra?"
izora mengangguk, "iya, gue cuma ngatur nafas bentar lo lanjut aja larinya."
"tapi bibir lo pucet ra, ke UKS aja yuk." ujar nessa khawatir.
"ga usah, gue gapapa. mending lo lanjut aja lari, dari pada setan taruna tambah kebakaran jenggot disana." balas izora melirik tempat bintang berada.
"tapi--"
"udah sana, bentar lagi gue nyusul." izora mendorong bahu nessa pelan, membuat gadis itu mau tak mau melanjutkan larinya.
merasa nafasnya sudah sedikit membaik, izora kembali menegakkan tubuhnya dan mulai melanjutkan larinya yang sempat tertunda.
saat baru beberapa langkah izora berlari rasa sesak di perut bagian atasnya makin menjadi jadi, pandangannya juga mulai memburam. hingga.....
BRUK
"IZORA!"
...****...
"jadi dari penjelasan yang sudah ibu sampaikan, apa ada yang mau di tanyakan? atau masih ada yang belum jelas?" tanya bu nita, selaku guru sosiologi di kelas 10.
guru itu kini tengah mengajar di kelas 10 IPS 3, kelas davian.
semua terdiam tidak ada satu orangpun yang menjawab pertanyaan dari guru sosiologi itu.
namun tiba-tiba davian mengangkat satu tangannya.
"iya davian? ada yang mau di tanyakan?" tanya bu nita.
davian menyengir kemudian menggaruk tekuknya yang tidak gatal, "ngga bu, itu... saya mau izin ke kamar mandi."
bu nita menghela nafas, "yasuda silahkan davian.
"Terima kasih bu" ucap davian sopan lalu ia melangkah keluar kelas.
bukannya menuju kamar mandi seperti ucapannya tadi davian malah berjalan menuju lapangan, entahlah saat ini davian hanya ingin menuruti kemana kaki nya melangkah.
saat baru sampai di lapangan, telinganya langsung mendengar teriakan Nessa dengan izora yang sudah tak sadarkan diri di tengah lapangan.
tanpa berpikir panjang davian langsung berlari mendekati tempat izora berada, ekor matanya langsung menangkap bintang si ketua osis yang sedang ikutan berlari juga kearah tempat izora.
namun sayangnya davian yang lebih dulu sampai disana, dengan wajah yang terlihat sangat khawatir ia langsung membopong tubuh izora dengan gaya bridal style lalu membawanya ke UKS secara terburu-buru.
ketika sudah di depan UKS davian langsung menendang pintu ruangan tersebut, hingga dokter dan beberapa anak PMR disana berjengit kaget.
"tolong cepet priksa dia bu!" titah davian setelah membaringkan tubuh izora di bed uks.
dokter yang menjaga UKS itu dengan sigap menghampiri mereka dan langsung memeriksa keadaan izora.
"gimana keadaannya bu?" tanya davian tidak sabar ketika dokter itu telah selesai memeriksa.
bu eli, dokter penjaga uks itu tersenyum saat melihat wajah davian yang saat ini terlihat sangat khawatir.
"gimana bu?" tanya davian lagi, mendesak.
"izora punya riwayat asam lambung, di tambah saat ini dia sedang kelelahan. salah satu pemicu asam lambung naik itu karna kelelahan. dankarna izora ga bisa nahan rasa sakit dari asam lambungnya dia jatuh pingsan." jelas bu eli.
davian mengangguk mengerti.
"tadi sebelum izora pingsan, dia melakukan aktivitas apa?" tanya bu eli.
"davian kurang tau bu, waktu davian sampai di lapangan, izora udah lebih dulu pingsan."
selesai mengatakan itu tiba-tiba bintang dan nessa datang. lalu ketua osis itu menyambung obrolan davian dan bu eli, menceritakan kronologi awal dari permasalahan ini.
"maaf bu ini salah bintang, tadi izora sama nessa bolos, dan akhirnya bintang hukum untuk lari keliling lapangan. eh izora malah pingsan, bintang gatau kalau ujungnya bakal kaya gini bu."
"iya, kaya gitu lo maksa kita lari keliling lapangan 50 kali." sahut nessa mencibir.
davian yang sejak tadi menyimak seketika mengeraskan rahangnya kemudian ia maju mendekati tempat bintang berdiri dan mencengkal kuat kerah baju milik cowo tersebut.
"lo gila?! dimana otak lo bangsat?!" tanya davian emosi.
belum sempat bintang menjawab, davian sudah lebih dulu melayangkan bogeman mentah di pelipisnya hingga membuat ia jatuh tersungkur.
BUGH
davian tidak peduli jika bintang adalah kakak kelasnya yang menjabat sebagai ketua osis.
persetan dengan itu semua, jika dia adalah orang yang membuat izora pingsan, maka davian tak segan segan menghajar cowo itu.
bu eli, nessa dan beberapa anak PMR disana memekik ketika melihat apa yang di lakukan davian pada bintang.
seakan tau jika davian ingin menghampiri bintang dan menghajarnya kembali, nessa dengan gerakan cepat menahan lengan cowo itu, namun langsung di tepis oleh si empunya.
"biarin gue bales sakit yang di rasain izora, nes." ujar davian dengan gigi gemeletuk menahan emosi.
"tapi-"
belum selesai nessa berbicara davian sudah lebih dulu membogem kembali wajah songong milik bintang itu.
"kalo lo punya otak di pake anjing!"
BUGH
"lo ga bisa seenaknya nyama-nyamain kekuatan fisik cewe sama cowo!"
BUGH
"Taruna ga akan pernah bangga punya ketua osis goblok kaya lo!"
BUGH
"DAVIAN UDAH!" teriak bu eli.
davian menoleh sesaat ke arah dokter uks itu lalu kembali lagi menatap bintang yang kini sudah babak belur.
davian menghela nafas, mencoba meredakan amarahnya. kemudian dia bangkit berdiri lalu tanpa rasa kasihan sedikit pun ia menendang dada milik bintang membuat cowo itu terbatuk.
"goblok itu di buang! bukan malah di simpen terus lo pelihara!" ujar davian sebelum keluar dari uks.
setibanya di luar ia langsung menduduki bangku yang memang di sediakan di depan uks lalu mengeluarkan Handponnya dan mulai menelpon seseorang.
"halo dad" sapa davian saat telpon tersambung.
"yes son, what happen?" jawab si penelpon. dia adalah brama, ayah dari davian.
belum sempat davian menjawab, brama sudah kembali bertanya.
"wait, are you skipping class? It's still study time!"
"ck tidak penting membahas itu sekarang."
"lalu ada apa kau menelpon ku? tidak biasanya." tanya brama dengan cibiran di akhir kalimat.
"belikan aku rumah di perumahan elit cendikia, samping rumah tante nathalie dan harus sudah bisa di tinggali saat aku pulang sekolah nanti."
di balik telfon brama terkekeh, "apa kau di usir oleh mama mu hingga meminta ku untuk membelikan rumah?"
"tidak, mama tidak setega itu mengusir anak kesayangannya."
"lalu, mengapa kau meminta rumah?"
"oh ayolah, tidak bisa kah kau tidak banyak bertanya? membelikan aku satu rumah tidak akan membuat mu miskin pak tua."
"jika kau tak mengabulkan permintaan kecil ku itu, akan ku adukan kau ke mama agar tidak mendapatkan jatah selama sebulan!"
tut
panggilan itu di matikan secara sepihak oleh davian.
brama memijat pangkal hidungnya, "William kau mendengarnya kan? cepat urusi semua permintaan anak itu atau aku akan bener-benar tidak mendapatkan jatah selama sebulan dari jesica."
William, asisten pribadi yang sudah lama mengabdi pada brama itu terkekeh, "serahkan saja semuanya pada saya tuan." ucapnya sebelum pamit undur diri.
brama menyenderkan tubuhnya pada kursi besar kebanggaan nya itu, memejamkan matanya sesaat lalu menghela nafas,
"ah anak itu." gumamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Nadia Ramadani
iya masih kok
2024-06-27
0
Silvia Gonzalez
Thor, masih ingat sama penggemar yang gak sabar nungguin kelanjutan ceritanya?
2024-06-27
0