08, rumah pohon

...moon or the stars?...

...your eyes...

...-davian bramastha...

...****...

"Udah dari tadi?" Tanya izora pada davian ketika ia keluar dari kelas. Sesuai perkataan cowok itu tadi pagi jika dia akan menjemput nya di depan kelas saat pulang.

Davian menggeleng kalem, "ngga, baru aja dateng."

"Yaudah yuk langsung pulang." Ajak izora mengingat sekarang sudah menunjukkan jam empat sore.

Keduanya berjalan bersama menuju parkiran dengan davian yang sengaja memelakan langkahnya agar gadis cantik disampingnya itu tidak terburu-buru karna harus mengejar langkah kakinya yang panjang.

Sesampainya di parkiran, davian langsung cepat-cepat menurunkan pijakan kaki motornya sebelum izora naik.

Izora yang melihat nya spontan tersenyum.

Davian mulai memakai helm dan menaiki motornya, ia menoleh ke kiri lalu menyodorkan helm yang kemarin ia beli khusus untuk gadis tersebut, dan mengulurkan tangan agar izora bisa naik ke motornya yang terbilang tinggi itu.

"Makasi."

Davian mengangguk, "Maaf udah buat lo kesusahan naiknya, besok gue janji bakal bawa mobil biar lo ga perlu ribet-ribet naik kaya gini." Ujar davian menyesal sambil mulai melajukan motornya keluar dari kawasan sekolah.

Izora terkekeh, "apasi, gue bukan cewe-cewe lebay yang diluar sana harus ngerasa ribet karna naik motor kaya gini. Gue malah seneng karna bisa ngerasain sejuknya angin sore, soalnya kalo pake mobil ga bisa."

Lalu gadis itu melingkar kan kedua tangannya di pinggang davian dan menyenderkan setengah tubuhnya di punggung tegap milik cowo itu, seperti yang dia lakukan tadi pagi.

"Lagian emang lo udah boleh bawa mobil? Bawa motor aja aslinya lo belum boleh kan? Karna belum punya SIM."

Kali ini davian yang terkekeh, dari balik helm full face yang dikenakannya dia mulai menjawab, "kalau semisal di tilang gue tinggal telpon papa, biar anak buahnya yang ngurusin. Lagian bentar lagi gue udah bisa buat KTP sama SIM kok, dan pastinya gue udah bisa ngajak lo pacaran karna udah cukup umur."

Dibalik tubuh tegap cowo itu izora tersenyum salting, "apasih, emang nya gue mau sama lo?" Tanyanya dengan nada jenaka.

Mendengar itu davian ikut tersenyum, bukannya menjawab pertanyaan izora ia malah balik bertanya, "lo tau lirik lagu ini ga?"

"Apa?" Tanya izora kemudian davian mulai menyanyikan se potong lagu milik coboy junior dengan suara merdunya.

"jika kau tak mau, kan ku buat kamu mau. jika kau tak cinta, kan ku buat kamu cinta. tenang saja kan ku pastikan kau jadi pacarku~"

Sungguh izora tidak tau caranya berhenti tersenyum sekarang.

"Oke coba aja, siapa takut." Tantang izora.

Lalu keduanya terdiam, sama sama menikmati udara jakarta di sore hari. Walaupun ujungnya mereka harus terjebak macet.

"Em kak." Panggil davian agak sedikit keras.

"Iyaa?"

"Mau ikut gue gak?" Tanya davian.

Untungnya izora itu punya pendengaran yang cukup kuat, jadi di tengah padatnya jakarta sekarang izora masih bisa mendengar suara davian.

"Mau kemana emang?"

"Suatu tempat, yang gue yakin pastinya lo bakal suka." Jawab davian sok rahasia.

Dahi izora mengernyit namun tak urung gadis itu menganggukkan kepalanya, "boleh."

...****...

Dan disini lah izora berada sekarang, di atas bukit dengan banyak pohon rindang di sekitarnya yang tidak izora ketahui pasti lokasinya ada dimana, ia hanya mengikuti kemana davian membawanya pergi.

Sekarang waktu menunjukkan pukul tujuh malam, sudah sangat di pastikan bukan jika tempat ini sangat gelap. Yang menerangi sekitar hanyalah bulan yang bersinar terang di langit.

Setelah memarkirkan motornya dengan benar davian mulai membuka suara, "Ini tempat rahasia gue, tempat yang gue suka kunjungi kalau pikiran gue lagi jenuh. Jadi jangan kasih tau siapa-siapa ya. Cukup kita berdua yang tau."

Izora menoleh lalu mengangguk, "iyaa."

Tiba-tiba davian menyodorkan jari kelingkingnya, "janji?"

Mata izora spontan mengerjap, ah kenapa cowo dihadapannya ini mendadak seperti anak kecil, yang mempunyai rahasia dan harus melakukan pinky promise?

Kan izora jadi gemes liatnya.

Tanpa pikir panjang izora menautkan jari kelingking davian itu dengan jari kelingking nya, "janji"

"Sekarang kita naik ke atas yuk kak." Ajak davian.

"Naik kemana? Pohon?" Tanya izora dengan dahi mengernyit bingung.

Davian terkekeh, lalu ia mulai menghidupkan senter di handphone nya dan mengarahkan ke atas pohon yang disana terdapat rumah kecil dari kayu.

"Rumah pohon lebih tepatnya." Jawab davian.

Mata izora berbinar, demi apa dia bisa menaiki rumah yang sejak kecil ia idam-idamkan?

Dulu izora sempat meminta pada sang papa untuk di buatkan rumah pohon namun darrel menolaknya dengan alasan takut putri semata wayangnya itu jatuh. Mengingat saat kecil izora adalah anak yang super aktif.

Davian meraih plastik berisi cemilan yang ia beli bersama izora tadi sebelum datang kesini. Satu tangannya lagi ia pergunakan untuk menggenggam tangga gantung agar gadis itu bisa menaikinya dengan tenang.

"Pelan pelan kak." Kata davian yang di angguki semangat oleh izora.

Setelah memastikan izora naik dengan selamat barulah davian menaiki tangga tersebut.

Davian membuka pintu rumah pohon dan mulai menghidupkan lampu, kini izora bisa melihat seisi dalam rumah pohon itu.

Izora menatap takjub sekitarnya yang terlihat rapih dan bersih. Disana izora hanya menemukan satu kasur busa yang tidak terlalu besar, teko listrik dan kompor listrik kecil lengkap dengan wajan dan panci yang berukuran kecil juga.

Davian, cowo itu mulai memasak air panas untuk menyeduh pop mie yang keduanya beli tadi. Izora membiarkan pria itu dengan kegiatannya ia lebih memilih berjalan keluar menuju balkon rumah pohon untuk melihat sekitar.

Matanya tak berhenti menatap takjub hamparan rumput luas di hadapannya itu walaupun kini tidak terlalu terlihat karena gelap, mata izora beralih menatap ke arah kiri karena sejak tadi ia mendengar suara gemercik air, ternyata disana ia menemukan sungai yang tidak terlalu besar dengan air yang mengalir tenang.

Dalam hati izora tidak berhenti mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat indah itu. Andai sekarang matahari masih terlihat mungkin pemandangannya tampak lebih indah.

"Lo suka kak?" Tanya davian yang tiba-tiba datang bersama dua pop mie di tangannya.

Izora menoleh, mengangguk "bangett."

Davian melangkah mendekat kemudian duduk di sebelah gadis itu.

"Nih." Ia menyodorkan satu pop mie nya pada izora.

Izora menerima dengan senang hati, "thanks."

"Lo yang nemuin tempat ini?" Tanya izora sambil menyeruput popmie nya.

Davian mengangguk, "iya, waktu itu posisi gue lagi stress, akhirnya gue milih nenangin diri dengan cara keliling sambil bawa motor. Terus gue malah nyasar kesini deh. Karna tempatnya bagus akhirnya gue bangun rumah pohon disini." Jelas davian panjang lebar.

Izora mengangguk mengerti, "Tempat nya pas banget deket sungai, cocok buat jadi tempat piknik atau berkemah." Ujar izora.

"Iya, mau nyoba ngelakuin itu kapan-kapan?"

Izora menoleh, menatap davian dengan mata yang berbinar cantik, "boleh?"

"Sure, apasih yang gak buat elo kak." Jawab davian sambil menyelipkan anak rambut izora yang berterbangan terkena angin.

Izora bisa merasakan pipinya memanas, pasti sekarang wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.

Alih alih membuang muka, izora malah balik membalas tatapan davian, jadilah kedua orang itu saling tatap sekarang.

"Lo cantik kak." Ucap davian pelan dengan tangan yang sudah bertengger manis di pipi izora.

Diam diam izora menahan diri untuk tidak mengeluarkan sisi cegilnya ketika menatap bibir ranum tipis milik cowo itu. Rasanya ia ingin membekap bibir yang barusan mengatainya cantik itu dengan menggunakan bibirnya.

Oke. Tahan zora, lo mau kena pelanggaran undangan undang karna nyium anak yang belum legal? Batin izora mencoba menenangkan.

Tiba-tiba sebuah serangga dengan badan bisa menyala terbang mendekat. Izora yang melihat itu dari sudut ekor matanya langsung cepat cepat menoleh.

"Ih kunang kunang!" Pekik izora senang.

Gadis itu mengangkat satu jari telunjuknya membuat salah satu kunang-kunang hinggap di jari lentik tersebut.

Davian yang duduk di sebelah izora tak berhenti menatap wajah gadis itu yang kini tengah tersenyum senang dengan mata berbinar indah, membuatnya berkali lipat terlihat semakin cantik.

"Yah kunang-kunang nya pergi." Lirih izora saat kunang-kunang yang tadi merayap di jarinya terbang menjauh.

Davian yang tak mau binar mata indah izora meredup akhirnya membuka suara, "kak liat ke langit geh"

Izora mendongak, mengikuti ucapan cowo itu. Tak ada lima detik binar mata izora kembali lagi.

Izora menatap takjub langit malam ini, bagaimana tidak? Selain bulan yang terlihat indah ada banyak bintang-bintang bertaburan dengan terang seakan menemani bulan agar tak kesepian.

"Cantik banget ian langitnya!" Pekik izora lagi.

Tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah cantik izora, davian mengangguk lalu membalas, "iya, cantik."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!