Membicarakan tentang cornet !

Keesokan harinya, seperti biasa Aurora akan bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan dan memindahkan jemuran yang sudah dijemurnya di kamar mandi. Sementara Pelangi dan kedua bocah beda gender masih tertidur pulas. 

Setelah selesai memasak sayur dan tempe goreng, Aurora beralih memindahkan jemuran ke depan rumah. Seperti biasa, Bibi Sally datang ke kontrakan Aurora membawa hidangan lainnya. Wanita tua itu tampak senang bisa makan bersama dengan Aurora yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. 

“Rora ! “

“Eh, bibi ! Ayo, masuk ! Rora baru selesai pindahin jemuran, hehe… “ ujarnya tertawa pelan. 

“Arisha mana ? “ tanya Bi Sally. 

“Masih tidur bi, nggak tahu Arisha sama Pelangi tidur di jam berapa semalam ? “

“Pelangi sama keponakannya beneran nginep di sini ? “ Aurora mengangguk membenarkan ucapan Bibi Sally. 

“Orang tua mereka nggak nanyain ? “

“Nggak bi, “ ujar Aurora. “Kemarin ijinnya nginap di kontrakan Rora, “

Bibi Sally mengangguk. Saat masuk ke dalam kontrakan Bibi Sally dan Aurora terkejut melihat seorang bocah laki-laki yang menatap Aurora dengan wajah bantalnya. 

“Almer sudah bangun, nak ?” Almer mengangguk pelan. 

“Ayo, cuci muka dulu ! “ ajak Aurora lembut, meninggalkan Bibi Sally yang memilih duduk di depan kamar. 

Setelah membantu Almer mencuci wajahnya, Aurora membawa Almer menemui Bibi Sally. “ Kamu disini dulu sama nenek ya, ibu mau siapin sarapan kita… “

“Ekheeee bunda… “ rengek Almer yang sedikit takut melihat Bibi Sally. 

“Nggak papa, nenek baik kok orangnya. Sudah ya, ibu tinggal dulu.. “ Aurora berjalan masuk ke dapur meninggalkan Almer yang menatap takut Bibi Sally. 

“Memangnya wajahku seram banget ya ? Perasaan biasa aja, “ gumam Bibi Sally sambil meraba wajahnya. 

Tak lama, terdengar langkah kaki seseorang membuat Bibi Sally mengangkat kepalanya. Pelangi gadis itu belum sepenuhnya sadar, ia keluar kamar bersama Arisha yang mengalungkan handuk kecilnya di leher. 

“Ehhh, anak gadis sudah bangun… “ seru Bibi Sally. 

“Celamat pa—, “ ucapan Arisha terhenti saat melihat Almer yang duduk di pojok ruangan. 

“Eee Amellll, napa kau duduk dipojok cana !! “ ujar Arisha bingung. Bocah itu dapat menangkap raut wajah Almer yang ketakutan. 

Tatapan bocah itu beralih melihat wanita tua yang menyapanya dan Pelangi. Begitu juga Pelangi, gadis itu menatap heran keponakannya yang terlihat takut. 

“Mer, kamu kenapa ? “ Almer langsung menunjuk wanita tua itu membuat Pelangi dan Arisha langsung menatap yang ditunjuk Almer. 

“Cicak dinding rayap au au !! “ latah Pelangi kaget begitu juga Arisha. 

“Nenekkkkk, napa masih pake maskel gocongggggg ??! “ pekik Arisha kesal. 

“Kenapa sih, kan nenek udah cuci mu—, “

“Cuci apanyaaa, masih hitam itu mukanaaaa ! Belsihinnn canaaa, pantacan anggul melah duduk di pojokan…  wong nenek mukanya hitam kayak pantat wajannnn ! “ pekik Arisha kesal. 

“Ah, masa ? “ tanya Bibi Sally tak percaya. 

Ia menatap Pelangi yang mengelus dada karena kaget. Merasa ditatap gadis itu mengangguk seraya memberikan cermin kecil miliknya, “ ini bibi liat sendiri ya, Langi mau cuci muka… “ katanya. 

“Lisa juga ! “ ujar Arisha mengejar Pelangi yang menuju kamar mandi di belakang. 

Bibi Sally yang ditinggal berdua dengan Almer, langsung melihat wajahnya di cermin namun sebelum itu ia melihat Almer yang berdiri seperti siap pergi dari pojokan. 

“Masa sih, maskernya masih nempel perasaan udah di bersihin sebelum kesini… “ kata Bibi Sally bingung, meraba wajahnya. 

“Kamu mau kemana ? “ tanya Bibi Sally saat Almer melangkah pelan tanpa menimbulkan bunyi. 

Mendengar itu, Almer menoleh sebentar setelah akhirnya dia berlari memanggil Aurora dengan keras. 

“Bundaaaaaaaaa tolongggggggggg !!! “

Bibi Sally melongo, ia merasa orang-orang tengah mengerjainya. Bahkan dirinya saja belum melihat wajahnya di cermin kecil milik Pelangi. 

“Rora saja biasa aja lihat wajahku, tapi kenapa bocah itu ketakutan ? “ ujarnya sambil membawa cermin itu ke depan wajahnya, dan … . … . 

*

*

*

*

*

Sementara di kediaman Gilbert, Arumi sudah memeriksa keadaan putranya di kamar tamu. Panasnya juga belum kunjung turun membuat Arumi khawatir. 

Ceklek ! 

Atensi Arumi mengarah pada pintu yang terbuka dari luar. Terlihat suaminya masuk sambil membawa dasi yang berada ditangannya. “ Sayangggg, pasang dasi untukku… “ rengek Gilbert manja. 

“Astagaaaa ?! Sini ! Kamu ini mau kemana sih mas ! “ ujar Arumi gemas. 

“Mau gantikan putramu ! Hari ini dia ada meeting dengan klien luar negeri ! “ jelas Gilbert kepada istrinya. 

Sesampai di depan Arumi, Gilbert menyerahkan dasinya. Keduanya tak mengingat bila menantu mereka belum tahu keadaan suaminya yang sedang sakit, tapi Liyana juga tidak menanyakan dimana suaminya. 

“Sudah ! “ kata Arumi kepada suaminya, tak lupa menepuk dada bidang suaminya itu dengan pelan. 

“Liyana kemana ? “ tanya Gilbert heran. Arumi mengangkat bahunya. 

“Apa dia nggak tau, jika suaminya sedang sakit ? “ tanya Gilbert kesal. Arumi diam, ia tak mau ikut campur lagi, semenjak dirinya memaksakan putranya untuk bertanggung jawab atas kehamilan Liyana, saat itu hubungannya dengan sang putra menjadi renggang. 

Ditambah lagi, putri bungsu mereka memusuhi Liyana, istri abangnya sendiri. 

Sementara itu, orang yang sedang mereka bicarakan masih tertidur pulas dikamarnya. Sekarang sudah jam delapan pagi tapi wanita itu belum bangun hingga kedatangan Aurora dan Almer sedangkan Pelangi memilih menemani Arisha di warung milik Bibi Sally. 

“Kamu yakin ingin menemani Arisha disini, Langi ? “

“Yakin banget kak, dirumah pasti ada si Loyo.. Ogah aku, lihat wajahnya ! “ seru Pelangi dengan wajah kesalnya. 

Aurora menggelengkan kepalanya, “ Jangan seperti itu, bagaimanapun juga Nyonya Liyana adalah istri tuan Gara dan juga kakak iparmu… “

“Kamu tidak boleh berkata seperti itu… “ jelas Aurora menegur tindakan salah Pelangi. 

“Sudahlah Kak Rora, aku tak peduli tentang itu ! Langi tetap disini nemenin Arisha jaga warung, “ ujar gadis itu menolak untuk pulang dan bertemu Liyana, kakak iparnya. 

Aurora menghela nafasnya, ia mengangkat tubuh Almer naik ke atas sepeda sementara dirinya duduk di depan membonceng Almer yang memeluknya erat. 

*

*

*

*

*

“Cucu opa ! Gimana tidurnya nyenyak ? “ tanya Gilbert yang berpas-pasan dengan kedatangan Almer dan Aurora. 

“Permisi tuan, saya pamit ke belakang menemui yang lain… “ ucap Aurora, Gilbert mengangguk memberikan ijin. 

“Nyenyak opa ! Nanti nginap lagi ya di rumah Bunda Rora !! “ ujar Almer senang menceritakan dirinya yang menginap di kontrakan Aurora. 

“Anaknya bunda, sangat garang opa ! Almer ngeri liatnya “ cicit Almer. 

“Kenapa ? “ tanya Gilbert penasaran. “ Dia seperti singa yang kelaparan. Hampir saja, Almer dipukul nya. Tapi, opa tenang saja ! Arisha tidak mungkin beneran memukul Almer ! “ jelas Almer tersenyum. 

“Ohhh, jadi namanya Arisha. Dimana dia, kenapa tidak ikut kalian ke rumah ? “ tanya Gilbert heran. 

Almer menggeleng, “ Arisha jaga warung, opa ! Oh, ya opa. Almer boleh minta sesuatu nda sama opa ? “.

“ Sesuatu apa ? “ tanya Gilbert lagi-lagi dibuat penasaran dan heran. 

Almer segera membisikan sesuatu ditelinga opanya. Bocah itu sepertinya menginginkan sesuatu yang hanya opanya saja yang mendengar. 

“Opa mau ? “ tanya bocah itu. Gilbert tentu saja mengiyakan permintaan cucu kesayangan. 

“Yeyyyy ! Opa yang terbaik ! “ seru Almer senang. 

“Licaaaaaa !! “ teriak seseorang memanggil Arisha yang sibuk menonton film di dalam warung. 

“pos ! pos dulu onti ! Ada pelanggan, janan buat Lisa ketinggalan hiks…  Cebentallll !! “teriak Arisha sebentar saat pelanggannya terus memanggil dirinya. 

“ Isssh ?! nda bica apa, datangna ciangan dikit ! “ gerutu Arisha kesal. 

“Haaa, mau nyali apa kau ? “ tanya Arisha mode serius. 

“Mamiku nyali kolnet, ada nda ? “

“Kolnet lasa apa ? “ tanya Arisha datar. 

“Lasana banyak, tapi yang dia mau cuma catu ! “ ucap bocah itu membuat Pelangi yang menyusul Arisha ke depan dibuat bingung dengan pembicaraan dua bocil. 

“Lasa apa ? “ tanya Arisha lagi. 

“Lasa yang telcakiti, ada ? “

“Ehhh, dekkk ! Masih bocah jangan mikir rasa yang tersakiti. Kayak lagu aja… “ celetuk Pelangi kesal saat tau topik pembicaraan Arisha dan bocah perempuan itu. 

Kedua bocah itu menatap Pelangi dengan wajah heran, apalagi Arisha dia menggaruk kepalanya pelan.

“Onti kenapa ? “

“Licaaa cepatlaaah, mamiku nyali niii ! Lasa yang telcakiti pokoknaaa !! “ Arisha mengangguk, ia turun dari kursi mengambil cornet yang diminta Anggi.

“Ini lasa yang telcakiti, halganya dua tujuh libu…”

Anggi memberi uang lima puluh ribu kepada Arisha, tentu saja Arisha langsung mengambil uang kembalian dan memberikannya kepada Anggi. Pelangi yang melihat itu baru sadar yang dibicarakan dua bocah itu adalah cornet yang rasanya paling pedas. 

“Ternyata rasa yang tersakiti, kalengnya merah. Terus rasa yang hambar kalengnya warna apa ? “ gumam Pelangi. 

*

*

*

“Sudah merasa hebat, merebut perhatian putraku ? Setelah mengambil perhatian putraku, kamu mau merebut perhatian suamiku ? Ingat ! Kamu itu hanya oengasuh putraku jangan berlaga seolah kamu istri dari suamiku ! “

...***...

Jangan lupa dukungannya, bestie◡̈

Terpopuler

Comments

Ignatia Guwaunaung

Ignatia Guwaunaung

/Heart//Heart//Heart//Ok//Ok//Ok/

2025-01-31

0

Atik Marwati

Atik Marwati

wah wah makin tak tahu diri lah dia

2024-07-21

2

Erlinda

Erlinda

mulai malas aq membaca nya memang luar biasa bodoh nya tokoh dlm cerita ini

2024-07-16

0

lihat semua
Episodes
1 Dua Garis Biru
2 Kehamilan simpatik
3 Ngidam bakso
4 Rekening baru
5 Arisha
6 Nda ucah nawal dili !
7 Bisa ditukar nda ?
8 Korban kejahilan Arisha
9 Daddy pelit sama bunda...
10 Membicarakan tentang cornet !
11 sama-sama garang
12 Kejahilan Almer
13 Icina pasti tebalkan ?
14 Salah paham
15 Pertemuan tak sengaja
16 Gilbert dan Arisha
17 Milcekek coklat dua
18 Masa lalu Aurora
19 Jadi dia ?
20 Kecelakaan
21 Donor darah
22 Hasil test DNA 99,99%
23 Arisha...
24 Arisha 2
25 Arisha sadar
26 Pertemuan Aurora dan Valenzy
27 Terima kasih, bunda
28 Ajakan ke rumah
29 Calon suami, bunda
30 Hak asuh
31 Pengacala - Reza
32 Almer ikut bunda,
33 Serangga...
34 Jaga pintunya !
35 Daddy Anggalan belanja
36 Rexo-Na & Lea-K
37 Jahil dibalik jahil
38 Aku masih pemula
39 Wewe Gombal
40 Gara-Gara GAS
41 Nggak gitu konsepnya
42 Daddy Meltua
43 Ulang tahun si kembar
44 Kapan potong kuenya ?
45 Terbongkar !
46 Terbongkarnya 2
47 Kamu tidak marah padakukan ?
48 Dia.....
49 Perumpamaan ala Arisha
50 Pelangi Bersinar
51 Bertemu oma buyut
52 Velzyku kembali
53 Wanita bertopeng
54 masa lalu Aurora kecil
55 Pertengkaran Rexo dan Lea
56 Suara misterius
57 Buku harian milik oma buyut
58 Nenek Pale-Palee
59 Persiapan Anggara
60 Surat pemecatan Rexo
61 Tentang Kita
62 TimeZoneೄྀ
63 Reza putraku ?
64 Pertemuan Aurora dan Rino
65 Reza putraku 2
66 Flashback
67 Flashoff
68 Kedatangan Alvaro
69 Berakhir !
70 Tertangkapnya Alvaro
71 Ketahuan berselingkuh
72 Pernikahan
73 Gagal Malam Pertama
74 Hari pertama sekolah.
75 Kehidupan Lea
76 Pertemuan Lea dan Rino
77 Pindah ruang kelas
78 Pernikahan Pelangi & Vino
79 Pertemuan Zara dan mantan suaminya
80 Keusilan Lisa dan Lejana
81 Hari bahagia semua orang
82 Bisikan Arisha
83 Centong bekal
84 Sekolah
85 Menasehati Alvara
86 Kedatangan masa lalu
87 Letusan minyak
88 Kelucuan Reva
89 Misteri dompet Anggara
90 Petak umpet
91 Kebusukan Liyana terbongkar
92 Berakhir
93 Akhirnyaaaaaa !!!
94 Centong cayul
95 D3nd4m Liyana
96 Kebahagian Anggara dan Aurora
97 KARYA BARUUUU
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Dua Garis Biru
2
Kehamilan simpatik
3
Ngidam bakso
4
Rekening baru
5
Arisha
6
Nda ucah nawal dili !
7
Bisa ditukar nda ?
8
Korban kejahilan Arisha
9
Daddy pelit sama bunda...
10
Membicarakan tentang cornet !
11
sama-sama garang
12
Kejahilan Almer
13
Icina pasti tebalkan ?
14
Salah paham
15
Pertemuan tak sengaja
16
Gilbert dan Arisha
17
Milcekek coklat dua
18
Masa lalu Aurora
19
Jadi dia ?
20
Kecelakaan
21
Donor darah
22
Hasil test DNA 99,99%
23
Arisha...
24
Arisha 2
25
Arisha sadar
26
Pertemuan Aurora dan Valenzy
27
Terima kasih, bunda
28
Ajakan ke rumah
29
Calon suami, bunda
30
Hak asuh
31
Pengacala - Reza
32
Almer ikut bunda,
33
Serangga...
34
Jaga pintunya !
35
Daddy Anggalan belanja
36
Rexo-Na & Lea-K
37
Jahil dibalik jahil
38
Aku masih pemula
39
Wewe Gombal
40
Gara-Gara GAS
41
Nggak gitu konsepnya
42
Daddy Meltua
43
Ulang tahun si kembar
44
Kapan potong kuenya ?
45
Terbongkar !
46
Terbongkarnya 2
47
Kamu tidak marah padakukan ?
48
Dia.....
49
Perumpamaan ala Arisha
50
Pelangi Bersinar
51
Bertemu oma buyut
52
Velzyku kembali
53
Wanita bertopeng
54
masa lalu Aurora kecil
55
Pertengkaran Rexo dan Lea
56
Suara misterius
57
Buku harian milik oma buyut
58
Nenek Pale-Palee
59
Persiapan Anggara
60
Surat pemecatan Rexo
61
Tentang Kita
62
TimeZoneೄྀ
63
Reza putraku ?
64
Pertemuan Aurora dan Rino
65
Reza putraku 2
66
Flashback
67
Flashoff
68
Kedatangan Alvaro
69
Berakhir !
70
Tertangkapnya Alvaro
71
Ketahuan berselingkuh
72
Pernikahan
73
Gagal Malam Pertama
74
Hari pertama sekolah.
75
Kehidupan Lea
76
Pertemuan Lea dan Rino
77
Pindah ruang kelas
78
Pernikahan Pelangi & Vino
79
Pertemuan Zara dan mantan suaminya
80
Keusilan Lisa dan Lejana
81
Hari bahagia semua orang
82
Bisikan Arisha
83
Centong bekal
84
Sekolah
85
Menasehati Alvara
86
Kedatangan masa lalu
87
Letusan minyak
88
Kelucuan Reva
89
Misteri dompet Anggara
90
Petak umpet
91
Kebusukan Liyana terbongkar
92
Berakhir
93
Akhirnyaaaaaa !!!
94
Centong cayul
95
D3nd4m Liyana
96
Kebahagian Anggara dan Aurora
97
KARYA BARUUUU

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!