Malam ini, Arin mengenakan celana panjang putih sweater rajut berwarna coklat. Rambutnya yang panjang, diikat asal. Beberapa anak rambut mencuat, dan entah mengapa, Arin tetap cantik di matanya.
Arin sangat suka bercerita. Banyak hal yang selalu gadis itu bagi dengannya. Walau terkadang, arka menanggapinya dengan malas. Namun, Arin tak pernah kapok berbagi keluh kesah dengannya.
"Jadi dalam rangka apa lo membuat rujak malam-malam gini?"mengalihkan perhatian dari kecantikan arin yang tanpa celah dalam penglihatannya.
Arka pun mengangsurkan tangan meraih potongan mangga. Ia mengunyah perlahan, menikmati rasa manis dari buah kesukaan arin itu.
"Harusnya pake buah naga, rin?"
"Mana ada orang ngerujak pake buah naga, ya, bang?"Arin tertawa. Lalu, memajukan sedikit tubuhnya demi menjangkau jambu madu. Mencolok sedikit pada bumbu, kemudian mengarahkan buah tersebut untuk arka.
"Cobain pake bumbu dong, bang." Langusng arka membuka mulutnya lebar, menerima suapan jambu madu sembari mengunyah perlahan.
"Buahnya pada manis begini, nggak enak pakai bumbu, rin."
"Ya, gimana dong? Siapa coba yang mau makan ini?"
"Siapa yang buat? Lo?"
Arin menggeleng, ia mengambil satu potong semangka tanpa biji.
"Ibuk."
Mata arka seketika melebar. Tak jadi mengambil buat lainnya, ia tatap arin dengan pandangan horor.
"Jangan bilang?"Ia bergidik ngeri memikirkan kalimat lanjutan.
"Rin, jangan bilang kalau nyokap lo hamil lagi, ya?"
Arin hanya mengedik, dengan santai ia kembali menyuapkan potongan buah lainnya pada arka. Kali ini, jatuh kepada belimbing. Tetap mencolekkan bumbu. Ia langsung mengarahkan buah tersebut.
"Bang?"panggilnya agar arka membuka mulutnya.
"Nggak suka belimbing, rin."
"Tapi ini enak, bang. Aku yang beli lho."
"Ck,."arka berdecak singkat.
Ia pun membuka mulut, menelan buah yang berair dengan rasa yang menurutnya aneh itu.
"Rin, gue serius?"maksudnya, tentu saja tentang pertanyaannya tadi.
"Nyokap lo hamil lagi?"
Dengan bibir yang mengerucut, arin menunjuk termos berisi susu.
"Aku mau minum susu aja deh."ia meminta arka untuk mendekatkan termos itu padanya.
"Nggak ada susu sebelum lo jawab pertanyaan gue, Rin."arka menahan termos agar tetap di sisinya.
"Iss... abang lho, ya."
"Makanya di jawab dong."cerca arka makin tak sabar.
"Lo bakal punya adik lagi?"
Well, Arin boleh saja sudah satu tahun lalu menjadi maba. Dan, kini usianya hampir 19 tahun. Namun, Arin masih memiliki adik berusia tujuh tahun dan empat tahun. Jarak usia arin dan adik-adiknya memang cukup jauh.
"Rin?"
"Nggak tahu, abang."Arin mendesah.
"Ayah sama ibu lagi kedokter sekarang."jelasnya dengan mengerucutkan bibir.
Arka tertawa tanpa sadar, tangannya bergerak keatas kepala Arin. Mengusap-usap rambut lebat gadis itu, ia tarik arin agar kian dekat padanya.
"Nggak masalah sebanyak apapun adek lo. Yang penting, abang lo tetap gue."jenakanya yang mendapat hadiah cubitan dari Arin.
"Tapi, seru Rin. Kalau menang nyokap lo hamil, berarti adek lo bakal lahir tahun depan'kan? Itu artinya, jarak usia antara lo sama adek lo nanti nyaris 20 tahun."arka tergelak.
"Abang aka,,, ihhh."Arin kembali menghadiahi arka dengan cubitan.
"Iya-iya ampun, deh."arka meringis.
"Arin sudah, geli tahu nggak sih?"Ia tangkap tangan Arin dan menggenggamnya.
"Abang nyebelin banget, sih!"
"Iya, maaf lho."berusaha meredam tawa.
Tatapan arka justru melembut melihat ekspresi Arin yang ia gambarkan begitu menggemaskan. Lalu, netranya mengarah pada tangan mereka yang bertaut. Sambil mengulas senyum, arka menyingkirkan anak anak rambut arin yang berserakan di sekitar wajah cantik itu.
"Nggak apa-apa, sebanyak apapun adek yang lo punya, cuma lo doang, satu-satunya adek yang bakal gue jaga."
Arin menarik nafas panjang, ia tak lagi berusaha melepaskan tangannya dari genggaman arka. Kini, ia biarkan kehangatan itu menyebar hingga ke palung jiwa. Senyumnya pelan-pelan terkembang.
"Ayah sama ibu kelihatan Nggak enak banget sama aku kalau nanti ibu beneran hamil lagi. Padahal, aku sudah bilang nggak masalah."
Arka mengangguk, ia lepaskan genggaman tangan mereka sejenak hanya untuk menarik arin berada tepat di sebelahnya. Meminta gadis itu bersandar di bahunya, sama-sama mereka menatap ke langit yang hampa tanpa taburan bintang-bintang.
"Iya, lagian nyokap lo masih muda, belum 40 tahun'kan?"
"Iya, bang."Arin membenarkan.
"Ibu sama ayah nikah muda banget. Ibu bahkan belum tamat sekolah waktu nikah sam ayah."
"Bokap lo beneran nggak bisa banget lihat cewek bening, ya? Langsung aja ajak kawin."gelak arka tertawa.
Arin mengangguk dan tawa arka menular padanya.
"Andai aku juga nikah muda kayak ibu dulu, mungkin sekarang mereka udah punya cucu, ya kan, bang?"nadanya menyiratkan kegelian.
Namun kali ini, Arka tidak tertawa.
Bahkan, senyum memudar seketika.
Cucu?
Andai anak yang dikandung jasmine memang anaknya. Mungkin, kedua orang tuanya pun akan punya cucu.
Deg...
Perasaan arka kembali di terpa badai gundah.
\*\*\*\*\*\*\*
Sementara itu, jasmine di harapkan pada fase baru yang bernama mual dan muntah. Rasanya, moment ini sedikit terlambat mengingat sudah nyaris tiga bulan ia tidak mendapat tamu bulanan. Harusnya, peristiwa mual dan muntah ia peroleh sejak awal, bukan? Tetapi mengapa, baru sekarang ia merasakannya?.
Kepalanya pusing tak tertahankan. Lambungnya terasa begah, padahal tak ada apapun yang ia konsumsi pagi tadi. Bukannya lapar, hanya saja jasmine tak berselera. Namun, yang paling aneh, jasmine merasa bahwa perutnya sudah mulai membesar. Tiap kali ia berkaca, maka ia yakin bahwa perutnya telah nampak membuncit. Ia sempat bingung harus mengenakan pakaian apalagi agar bentuk perutnya itu tak terlalu kentara.
Siang ini, ia harus menjaga stand jurusannya. Ada pertandingan futsal antar jurusan. Dan tim danusan, merasa hal itu peluang untuk mencari sumber dana. Sudah asa beberapa stand yang berada di sekitar lapangan. Dari mulai menjajakan camilan, makanan berat, juga minuman. Jasmine kebagian menjaga stand minuman bersama dengan adik tingkatnya.
Ada lemon tea, es jeruk, dan juga leci di standnya.
Jasmine hanya tinggal duduk Dan menunggu pembeli saja. Masalahnya, jasmine terus di terjang oleh mual yang tak berkesudahan. Keringat dingin membanjiri raganya. Belum melakukan apa-apa, ia sudah merasa lelah.
"Kak jasmine, lagi sakit, ya?"
Merasa namanya terpanggil, jasmine menoleh pada fiona seraya mengangguk.
"Nggak enak badan aja, mungkin karena kemarin habis jatuh dari motor, jadi badannya ngerasa pegal-pegal gitu."Jasmine beralasan.
Tak mungkin, ia katakan bahwa kini ia sedang hamil. Sekalipun ia belum tahu harus melakukan apa pada janinnya, tetapi sepertinya menggugurkan kandungan bukan opsi yang pantas dipilih. Ia membiarkan janin itu tumbuh dengan kebingungan yang masih melanda diri.
"Haduh, kalau gitu harusnya kakak pulang aja, kak. Atau mau pergi ke ruang kesehatan, kak? Aku bisa jaga ini sendirian kok, kak?"
"Nggak apa-apa, fi."ujar jasmine berusaha menenangkan. Ia menyesap lemon tea dengan ekstrak lemon didalam cupnya. Rasa asam, ia harapkan dapat membantunya sedikit demi mengatasi mual.
"Fi, nanti kalau gue sesekali ke toilet, lo nggak apa-apa 'kan ditinggal sendiri?"
"Aman, kak."
Jasmine juga berharap hari ini akan aman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Rarapangestu
updatenya mana thor
2024-08-23
4