Garis takdir kembali mengukir sebuah nasib dalam rangkaian peristiwa yang sering di sebut manusia sebagai tidak kesengajaan. Kali ini, peran utamanya, adalah sepasang mahasiswa. Baru mengecap angka 20 sebagai usia, namun prahara yang akan menimpa ketika tak seringan putus cinta. Hidup keduanya akan berubah.
Tak lagi menyoal prinsip juga romansa, semesta menempah mereka tuk mengarungi dunia dewasa segera setelah akibat dari keteledoran keduanya membentuk kesejatian baru dalam rahim sang wanita.
Dan kini, biarkan mereka berlakon sejenak. Sebagai dua orang mahasiswa yang tak saling mengenal. Yang tak sengaja di pertemuan takdir di suatu sore melalui sebuah kecelakaan kecil.
"Sekali lagi, gue minta maaf banget."marvel meringis seraya menggaruk tengkuknya.
"Gue beneran nggak sengaja menyerempet lo berdua."
"Selow, gue mah nggak ada luka. Tapi, adek tingkat gue luka-luka. Lo lebih baik minta maaf saja ke dia aja."yudha memberitahu.
"Adek tingkah gue, tuh."
"Tapi, motor lo juga lecet-lecet 'kan? Mau gue ganti rugi, kenapa lo nggak mau sih?"
"Gue melapisi body motor gue pakai stiker sih. Woles, nanti stikernya kalo gue buka dan menu lecet-lecet, baru deh gue hubungi lo."
Sementara marvel sibuk meminta maaf pada yudha selaku pemilik motor, netra arka justru mengarah pada perempuan itu yang tengah di obati oleh perawat di klinik yang tak jauh dari kampus mereka. Perempuan itu mengalami lecet-lecet di telapak tangan, siku, lengan hingga lututnya ikut lebam.
Dan sialannya, mata arka kembali menjadikan bagian perut perempuan itu sebagai pusat atensi. Walaupun siluetnya sama sekali tak tercetak berkat kemeja longgarnya, namun, entah kenapa arka merasa tercekat. Ia ingin menghampiri perempuan itu. Tetapi, ragu kembali membuatnya membatu di tempat duduk ini.
Lagipula, marvel pasti akan ribut mendesaknya bila ia terlihat mencurigakan. Menahan diri di luar biasa itu menyiksa. Arka menarik rambut kebelakang berkali-kali seraya mengumpat dalam hati.
Fuck!
"Aka!"marvel menepuk pundak tangannya itu.
"Ya sudah. Lo balik sono. Udah kelar ini, kok. Makasih ya temen gue, karena sudah segera mengabari gue kalau ada korban laka lantas yang terjadi akibat kebut-kebutan kita tadi."ringis marvel tak enak.
"Dan lo kenapa so sweet gini sih, ka? Repot-repot banget deh lo nungguin gue."seloroh marvel tertawa.
"Najis!"
Ya, sangat najis sekali.
Karena nyatanya, arka tetap berada ditempat ini bukan untuk marvel. Tetapi, karena kegilannya yang ingin tahu bagaimana nasib perempuan itu.
Sial!
Arka pasti sudah gila!
"Sudah, jas?"
Kelapa arka mendongak seketika.
"Sudah, kak."
"Maaf banget ya, jas. Gara-gara ditumpangi gue, lo yang malah lecet-lecet begini."
"Nggak apa-apa kok, kak. Cuma luka kecil."
Halah!
Seketika, telinga arka terasa gatal sekali.
Ia segera bangkit, entah untuk apa. Namun, anehnya ia tetap melangkah. Mungkin, kegilan arka sudah tak tertolong lagi.
"Kosan lo dimana?"tembaknya langsung pada perempuan yang pernah mengaku hamil karena dirinya.
Ada yang ingin ia yakinkan. Makanya ia nekat mencari tahu.
"Eh, aka. Biar gue aja yang anter jasmine."marvel ikut bangkit dan bergabung dengan temannya. Ia tadi pin, sudah berkenalan dengan perempuan yang luka-luka itu.
"Jas, gue anter balik, ya? Anggaplah, gue berusaha menebus kesalahan gue."
Marvel bangsat!!umpat arka dalam hati.
"Vel, biar gue aja yang anter ini cewek pulang. Lo mestinya maksa si yudha buat ke bengkel langsung."tak ingin mendengar terdesak, arka mencari akal agar ia bisa bicara dengan perempuan itu.
"Yud?"Ia menatap kakak tingkatnya dengan pendar serius.
"Walau lo bilang nggak ada masalah soal motor lo. Tapi marvel punya tanggung jawab penuh sama motor lo. Lagian, marvel anaknya nggak enakan sama orang. Dia nggak bisa tidur nanti malam kalau inget dosa-dosanya. Ya nggak, vel?"
Walau dengan kening mengkerut bingung, marvel mengangguk sajalah.
"Yoi, yud. Ayolah, kita kebengkel dulu. Biar gue tenang dan bisa tidur dengan nyaman."ujarnya menyindir arka
"Eh, tapi lo nggak masalah nganterin jasmine dulu, ka?"Justru itulah yang sedang arka tunggu!.
"Nggak masalah, itung-itung bantu sesama."celetuk arka bertampang ogah-ogahan. Padahal, hatinya sudah dag dig dug tak karuan.
"Lo beresin deh masalah motornya yudha. Bawa aja ke bengkel langganan."
"Gu-gue nggak perlu di antar kok. Kosan gue deket dari sini."
Seketika, tengkuk arka langsung menegang mendengar suara perempuan itu. Refleknya begitu luar biasa, ia sampai harus memutar tumitnya hingga menghadap tepat pada perempuan tersebut.
Apa-apaan sih ini perempuan?
Kenapa malah nggak mau di anter, woy?
"Gue bisa pulang sendiri. Dan beneran, kos gue deket banget dari sini. Gue tinggal jalan kaki saja."
Yaelah!
Terserahlah!
"Oke, terserah lo aja."ujar arka jengkel. Matanya terus menatap perempuan itu dengan tajam.
"Gue cuma mau berlaku baik sama lo. Lo lagi kenak musibah. Jadi, sebagai sesama manusia yang kebetulan kita kuliah di kampus yang sama, gue berniat nolongin lo."
Jasmine menarik nafas, ia tepikan sejenak kegugupannya.
"Lo nggak perlu memperlakukan gue dengan baik."tuturnya pelan. Namun, ia yakin arka mendengarnya dengan jelas.
"Ja-jangan tolongin gue, ka. Gu-gue bisa sendiri."
Dan arka menegang kembali saat menyaksikan sebutir air mata yang jatuh dari perempuan itu.
Gue cuman mau tanya, apa lo sudah gugurkan kandungan lo?.
Arka memilih menelan bulat-bulat pertanyaannya itu. Ia palingkan wajah kemana saja, menyamarkan rahangnya yang mengetat. Entah kenapa ada emosi yang menggelegak dalam dada.
"Fine! Terserah lo!"
\*\*\*\*\*\*
Bersama Arin, semua terasa benar. Walaupun lagi-lagi arka harus siap di perbudak gadis itu dengan permintaan yang aneh-aneh sekali. Walaupun menggerutu, ia tetap menurutinya.
Seperti malam ini, ketika langit sama sekali tak berpenghuni. Arin mengatakan ingin piknik dibawah bintang, entah bintang yang mana. Mungkin saja, bintang laut temannya si petak kuning. Yang jelas, arka membawa peralatan piknik lengkap dengan setermos susu hangat. Lalu, menggelar semua yang ia bawa di halaman depan rumah.
Well, lagi-lagi Arin yang meminta. Katanya, didepan saja, agar gadis itu bisa bergegas kembali ke rumahnya bila mobil sang ayah memasuki pekarangan. Arin memang seaneh itu kadang-kadang.
"Serius, Rin? Di saat gue sudah repot-repot nurutin requestnya lo. Sedangkan, lo malah justru datang bawa rujak?"
Bibir arin yang mungil memberi cengiran. Ia duduk di atas karpet plastik yang terhampar di atas rumput. Meletakkan semua yang ia bawa, lalu membuka tutup dari masing-masing wadah.
"Sayang kalau nggak dimakan, bang."Bibir arin yang mengerucut.
"Rujaknya nggak pedes kok."jelasnya arin yang merayu.
Arka hanya bisa menghela nafas panjang. Dia bersila dihadapkan gadis itu, membukakan kaleng soda untuk Arin juga untuknya. Mereka melakukan tos sejenak, sebelum meneguk minuman itu bersama-sama.
"Aakkhhh..."
Sudut Bibir arka melebar tanpa sadar, ia lirik Arin dengan pendar geli di matanya. Gadis manis itu tidak pernah suka tegukan pertama dari soda. Katanya, gasnya terlalu menyengat. Makanya, arin lebih suka meminum milik arka yang tinggal setengah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Rarapangestu
tetep semangat kak
2024-08-22
3