"Shitt!! Pasti bakal ngadu sama nyokap nih."gerutu arka menghalau sisa-sisa asap rokok yang masih berada di sekelilingnya.
"Mampus, lo."celetuk marvel tertawa.
Mereka memang bisa merokok, namun hanya pada saat tertentu saja. Ketika suntuk sedang berat, atau sebelum ujian segera dimulai.
"Bawa Aswika Arinadza, ka."ujar marvel seraya bersiul.
"Nggak peduli gue."arka menanggapinya dengan malas. Karena kini, atensinya bukan pada teman Arin. Melainkan pada apa yang gadis itu bawa.
"Lo mau jualan?"tembaknya begitu Arin sudah berada dekat dengannya.
"Lo mau minta gue menjualkan itu?"tunjuknya dengan dagu. Pantas saja tadi Arin menanyakan keberadaannya. Pasti ada maunya.
"Atau lo mau nyuruh gue ngeborong nih jajanan?"cerocosnya tak bisa di cegah.
"Jangan bilang, lo ikut danusan ya, rin?"
"Suka banget buruk sangka sama orang."semprot Arin seketika. Ia meletakkan dua kantong plastik bening yang berisi banyak cemilan ke atas meja beton yang dikeramik hitam.
"Nih, nona mau sedekah. Jadi, kita kesini mau bagi-bagi cemilan."
"Sedekah perasaan bisa nggak sih, non?"marvel menatap adik tingkatnya itu sambil mengedipkan mata.
"Bang marvel siap menampung, kok."
"Bang marvel genit banget sih."Arin menggerutu.
"Awas aja jangan godain temen Arin terus."
"Wah, lo cemburu, rin? Oke deh, kalau gitu gue nggak akan lirik-lirik sana-sini. Asalkan pawang lo bisa dibuat jinak aja."marvel melirik geli pada arka.
Mengabaikan ocehan sahabatnya, arka menarik salah satu kantong plastik dan mengeluarkan satu kotak makanan dari sana.
"Kok tumben bawa beginian, non?"tanyanya pada teman arin.
"Ada anak danusan, bang. Kasihan gue lihat mereka capek, ya, udah deh, gue borong aja sekalian."
"Ck, anak sultan bawaannya pengen borong aja, ya, non?"celetuk arka tertawa.
"Sekalian, lo minta proposal mereka aja sih, non. Kasihlah berapa yang mereka butuh."
Widya ini adalah teman Arin semenjak kelas 2 SMP. Keluarganya adalah golongan old money yang begitu diperhitungkan dan juga di segani. Kekayaan turun temurun dari kakeknya, membuat hidup gadis itu terjamin.
"Ah, kalau masalah dana gede itu bukan ranah gue lah, bang."
"Bang aka?"Arin menarik lengan arka.
"Yang ini aja, bang."ia menyerahkan kue sus yang isiannya buah.
"Kesukaan abang nih."Ada buah naga yang merupakan buah kesukaan arka sebagai toppingnya.
"Woah, kalau belahan jiwa memang gitu ya, rin? Tahu aja yang mana kesukaan abang-abangnya."ledek marvel sambil mengunyah risol.
"Eh, ini risol mayo ternyata."ujarnya takjub.
"Duh danusannya kok enak-enak gini sih."
"Iya kan, bang?"Arin menempati setuju.
"Kue-kuenya enak-enak semua. Tadi, ada puding fla durian katanya, bang. Tapi udah abis."
"Fakultas kalian?"
"Bukan."
"Jadi?"
"Anak-anak FKIP, bang."Arin kembali memulihkan kue sus toping buah naga untuk arka.
"Buah naganya abis ternyata, bang."Arin mengadu karena tidak menemukan lagi topping buah tersebut.
"Tapi, buah hati kita tetep ada kan, rin?"celetuk marvel tertawa.
Tetapi anehnya, arka justru tersedak.
Buah Hati?
"Gu-gue hamil, ka?"
Ck, bangsat! Kenapa sih, arka harus terus mengingatnya?
******
"Kosan lo jauh, jas?"
Jasmine mengangkat wajah setelah merapikan pesanan box makanan yang baru saja tiba tadi siang. Menu untuk dijual besok adalah dessert box, puding buah, juga salad buah.
"Nggak kok, kak. Dari kampus nggak sampai satu kilo. Gue Biasa jalan atau ngojek kalau malas."ia memberi cengiran.
"Ya, udah. Gue tumpangi pulang. Yok, sudah mau sore ini."
"Beneran, kak?"
Yudha, mahasiswa semester tujuh itu mengangguk.
"Lo kelihatan capek banget ya, jas? Bawaan lo lemes aja perasaan. Dari kemarin, muka lo juga pucat atau memang lo yang selalu gitu?"
Reflek menyentuh wajah, jasmine menghapus titik-titik peluh yang menitik di dahinya.
"Emang guenya gini kok, kak."ia berkilah menyakinkan. Padahal, ia memang merasakan lemas beberapa akhir ini.
"Oke. Kalau gitu tunggu di luar aja, ya?"
Jasmine mengangguk, sambil terus mempertahankan senyum sopannya. Namun, begitu kakak tingkatnya tersebut tak tampak di mata. Jasmine pun melemaskan bahu. Tatapannya menunduk, tangannya mengarah pada perut yang entah perasaannya saja atau tidak, tetapi sudah terasa membuncit.
Ingin sekali mengingkari keadaan ini. Tetapi, tamu bulanan yang tak kunjung datang membuat jasmine mau tak mau percaya bahwa kehamilannya nyata. Ia benar-benar mengandung. Entah berapa bulan, yang pasti ia tak mendapatkan tamu bulanannya semenjak liburan kemarin. Sementara dream partner sendiri diadakan satu minggu sebelum ujian. Jasmine pusing menghitung minggunya. Dan, ia tak tahu harus melakukan apa.
"Tapi, kalau gue boleh saran. Gugurkan aja. Toh, baik gue ataupun lo. Sama sekali nggak butuh anak saat ini,'kan?."arka diam sejenak.
"Gue bukan bermaksud jahat. Tapi, kalau benar-benar terjadi kehamilan gara-gara malam hari itu. Semuanya, cuman kesalahan'kan?"
Cuman kesalahan.
Jantung jasmine semakin berdetak kencang.
Sambil berjalan kedepan, ia harus mencoba menekan sesak yang berkumpul di dada. Paling tidak, biarkan ia menumpahkan rasa tangisnya ketika sudah berada di kamer kosnya sendiri. Bukan dijalan dengan seorang kakak kelas tingkat yang berbaik hati mengantarkannya pulang. Jasmine bahkan tidak sadar ketika ia mengiyakan ajakan itu sementara dirinya mengenakan rok hari ini.
"Nggak masalah, jas. Lo bisa duduk kesamping, kok. Motor gue juga matic."
"Sekali lagi, makasih ya, kak? Maaf banget ngerepotin."
"Sip. Yuk naik"
Kak yudha tidak memiliki dua helm. Dan karena tempat kos jasmine dekat, mereka pikir tidak akan ada masalah. Namun ternyata, mereka salah. Ditengah perjalanan, beberapa mobil justru kebut-kebutan. Membuat jasmine tanpa sadar mengeratkan pegangan di pinggang kakak tingkatnya itu. Tetapi begitu satu mobil lagi melaju dengan kencang dan jasmine sudah tak ingin menatap jalanan, motor yang ia tumpangi justru oleng ke kiri.
Jasmine tak sempat berteriak, lututnya segera menghantam aspal. Ia terperosok jatuh, beruntung motor yang ia tumpangi tidak menindihnya. Sebelah tangannya melindungi perut tanpa ia sadari, sebelum kemudian ia benar-benar terjatuh diatas aspal.
"Jasmine!"
Dia merasakan sikutnya perih, lenganya tersengat panas dari aspal. Belum cukup dengan semua itu, sebuah mobil berhenti tepat di sebelah motor kak yudha. Samar-samar, jasmine mengenalinya. Dan saat pintu kemudinya terbuka, jasmine tahu tak seharusnya mereka tak usah lagi bertemu.
"Sorry-sorry, lo nggak apa-apa?"
Suara itu?
Jasmine menahan nafas tanpa sadar.
"Gue nggak apa-apa. Tapi temen gue jatuh."seru yudha memberitahu.
Lalu, sebuah tangan terulur dan niat untuk menolong.
"Sorry teman-teman gue memang pada nggak punya otak semua. Btw, lo nggak apa-apa?"
Suara itu bertanya pada jasmine, yang hingga detik ini masih terpaku.
"Lo bisa bangkit?"
Ketika pada akhirnya jasmine mengangkat wajahnya, netra mereka saling bertemu. Membuat wajah itu membatu. Irisnya yang berwarna coklat, menggelap. Tampak berkejut, juga sekarat. Kelereng matanya melebar, seakan tak percaya pada apa yang telah terhampar.
Arka Dandelion.
Seharusnya mereka memang tak perlu bertemu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments