Jasmine juga berharap hari ini akan aman.
Ia tak sanggup berlari menuju toilet bila perasaan mualnya terus membabi buta begitu. Terlebih, saat lapangan sudah ramai dan banyak mahasiswa mampir untuk membeli minuman. Disitulah perutnya bergejolak kembali. Berkali-kali sudah ia menutup mulut dengan tangan. Dan berkali-kali itu pula, ia menekan keinginan untuk muntah.
Rasa pusing kembali menyambanginya. Wewangian dari parfum yang hilir mudik mahasiswa melewati hidungnya, menbuat perasaan jasmine kian tak karuan. Dan perasaan ingin muntah benar-benar tak tertahankan lagi.
"Fi?"Ia berisik pelan.
Sebelah tangannya sudah membekap mulut serta hidungnya. Kali ini mualnya tak mampu ia kendalikan.
"Oke, kak."
Ia tak bermaksud meninggalkan fiani seorang diri ditengah ramainya pembeli. Namun, jasmine tak bisa berada disana terlalu lama. Ia perlu mencari toilet dengan segera. Mengeluarkan apapun yang kini mendesak di tenggorokannya. Meski ia tahu, itu hanyalah cairan asam dari lambungnya.
\*\*\*\*\*\*\*
"Ehh, yang jaga stand minuman tadi anak mana, sih?"
"Anak FKIP kalau nggak salah. Kenapa bray?"
"Hum, kok gue ngerasa dia lagi hamil, ya?"
Deg...
Seketika arka menghentikan langkahnya. Kepalanya segera menoleh pada stand minuman yang ia lewati tadi. Memang, ia sempat melihat jasmine berada disana. Namun tak berselang lama, perempuan itu justru berlari entah kemana. Sambil mendekap mulutnya, gerak samar perempuan tersebut menyentuh perut cukup membuat arka tercekat.
Dan barusan, Apa yang dikatakan mahasiswa FK tadi?
"Ah, lo mah seneng banget ilfil sama orang, Des."
"Bener, deh. Soalnya dari kita antri beli minuman tadi, tuh cewek keliatan pucat banget. Terus, beberapa kali gue lihat dia nahan mual. Dan pas gue lihat dia lari, entah kenapa gue ngerasa panggulnya berbeda. Cara dia mengelus perut juga ganjil banget, Tri."
Penjelasan itu resmi memaku tubuh arka di tempat. Ia kembali menatap arah dimana jasmine menghilang tadi.
Haruskah ia menyusul kesana?
Tapi untuk apa?
Astaga, arka tak peduli.
Baik, ia akan teruskan saja langkahnya. Sebab, ia harus melihat temannya yang bertanding hari ini.
"Arka!"
Seseorang menepuk pundaknya, arka tak perlu menoleh karena suara itu milik kenzo ia hanya bergumam saja, berjalan setenang mungkin dengan kedua tangannya yang tersimpan di saku celana.
"Nih, es leci."
Langkah arka berhenti lagi.
Kali ini, ia terpaku pada sodoran satu cup minuman yang diberikan kenzo padanya. Bukan karena ia merasa terharu. Tentu saja, bukan karena itu. Melainkan, pada fakta dimana kenzo membelinya.
"Aka? Bengong aja sih lo? Nih ambil!"
Persetan!!!
Arka segera memutar langkah.
Mengabaikan seruan kenzo yang memanggil namanya, arka justru berlari. Menelusuri arah, dimana perempuan tadi menghilang dari pandangannya.
Arka sudah gila.
Dia resmi tidak tertolong lagi.
Ketidakpedulian yang terus ia agungkan, rupanya hanya sekadar alibi. Buahnya tuk sedikit lebih waras memulai hari. Padahal, tiap detik, ia ketakutan setengah mati.
Dan kaki-kaki yang terayun secepat itu, mengarahkannya pada toilet yang berada di dekat kantin FH. Jantungnya berdebar, mencoba ketika mengatur nafasnya kembali. Perempuan itu jelas memasuki toilet wanita. Dan tak mungkin arka masuk kesana. Jadi, satu-satunya yang ia bisa lakukan adalah menunggu.
Menyandarkan tubuhnya ke tembok, arka merasakan ponselnya yang bergetar didalam saku. Ia meraih benda pintar itu, lalu nama kenzo tertera disana.
"Apa?"
"Lo dimana? Anak-anak sudah mulai tanding, nih."
"Gue kebelet. Lo cari tempat yang strategis aja buat kita."
Sean dan marvel ikut bertanding, harusnya arka sudah berada ditribun lapangan. Namun karena menuruti kegilannya, arka justru bersandar bodoh didinding toilet.
"Oke, cepetan ya."
"Hum, tunggu aja disana."sambungan ia matikan segera. Ia mengedarkan pandangan, kemudian mengernyit heran ketika menyadari bahwa tempat ini tampak lenggang.
"Hoekkk..."
"Hoeekkk..."
Arka menegang. Kepalanya tertoleh pada toilet wanita yang sunyi. Kini, ia dilanda gugup setengah mati. Antara ingin menerobos kedalam sana, atau tetap bertahan saja di tempat ini.
"Hoeekk..."
"Hooeekkk..."
Bagus!
Karena akhirnya, arka menyerah.
Dia melangkah kedalam toilet wanita dengan konsekuensi akan mendapat teriakan dari para wanita. Namun, ketika ia sudah berada di dalam sana, toilet itu sama sunyinya dengan keadaan di luar. Tetapi, hal itu tak membuatnya langsung lega. Jantungnya masih berdebar, sementara ia terus menerus menelan ludah. Hingga suara itu kembali mengusiknya, membuat arka mempercepat langkah memeriksa tiap di bilik toilet wanita.
"Jas-jasmine."ia bergumam tak yakin.
Namun, arka sedang tidak memiliki pilihan, ia pun berlari kecil, menuju satu-satunya pintu yang tertutup. Tanpa menunggu lama, ia menggedor kencang.
"Jas? Jasmine? Lo nggak apa-apa?"tidak ada sahutan, arka mulai merasa tak tenang.
"Jasmine?"Ia gedor kembali pintu tersebut, tangannya mencoba memutar kenopnya.
Ternyata tidak terkunci.
Dan arka menemukan jasmine duduk di depan closet sambil terus memuntahkan cairan dari mulutnya.
"Jasmine??"
\*\*\*\*\*\*
Dengan wajah sembab dan bibir pucat, jasmine memejamkan mata. Ia memeluk tubuhnya yang terasa lemah. Bersandar pada kursi mobil yang telah diatur sandarannya. Aroma wewangian dari para mahasiswa tadi memang begitu menyiksa. Dan ketika ia memasuki mobil ini, dengan pengharum yang juga terasa bila ia menarik nafas, anehnya tak ada mual yang mendera.
Bahkan pusing tak lagi menerpa.
Gejolak diperutnya pun, tidak menunjukkan tanda-tanda.
Semua terasa normal, kini ia justru merasa mengantuk dan lapar. Ketika pintu mobil terbuka, ia reflek membuka mata. Mengarahkan netranya pada si pemilik mobil.
Tak memiliki tenaga untuk menghindar, ia hanya mampu mengigit bibir dan menelan ludah.
"Nih, minum tehnya dulu."
Jasmine hampir tak percaya pada apa yang ia saksikan.
"Kenapa lo ngelihatin gue gitu? Lo pikir gue setan, ya?"
Tak ingin memperpanjang perdebatan, jasmine pun menerima tumbler yang ternyata terasa hangat.
"Makasih."gumamnya sambil menyesap minuman itu sedikit demi sedikit.
Dia tak berani bertanya darimana arka mendapatkan teh ini, tetapi yang jelas, perutnya terasa sangat hangat dan tenang sekarang.
"Nih, sekalian makan."
Sosok itu kembali menyodorkan sesuatu pada jasmine. Kali ini, sebuah sebuah kantong plastik berisi styrofoam.
"Apa ini?"
"Bubur ayam."arka menjawab ogah-ogahan.
"Lo abis muntah. Makan yang lembut-lembut aja dulu. Dah, cepet lo makan."cetus arka yang membuat jasmine takut membukanya.
"Kenapa?"arka menyadari wajah perempuan itu mengernyit.
"Lo takut gue racuni hah?"tubuhnya langsung sewot.
"Gue nggak-"
"Bukan."jasmine memotongnya tanpa sadar.
"Gue takut mual lagi."Ucap jasmine menunduk.
"Gue nggak bisa makan dari pagi, karena mual terus."akunya tanpa menoleh melihat arka.
Mendengar penuturan itu, arka justru mencengkram erat kemudinya. Matanya mencoba menatap mana saja, asal tidak melirik ke arah jasmine. Maksud arka, tentu saja pada perut perempuan itu juga.
"Jadi?"Ia menjeda sejenak hanya untuk berdeham singkat.
"Lo belum gugurkan kandungan, lo?"
Jasmine meletakkan bubur ayam itu keatas dashboard. Meraih kembali tumbler teh hangat, ia teguk agak banyak demi melarutkan keluh yang begitu terampil mengunci lidahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Rarapangestu
updatenya mana thor/Drool/
2024-08-24
4