Di ruang yang berbeda, jasmine menghela nafas dan menutup ponsel juga matanya. Sejenak, ia menikmati yang mulai menusuk sanubari. Menjadi pengagum rahasia, benar-benar maka hati. Dan sampai kapan ia akan melakukan stalking ini?.
Padahal, sudah satu bulan lebih sejak berakhirnya malam itu. Bahkan bisa menghitungnya dengan sungguh-sungguh, dua bulan berlalu. Harusnya, jasmine mulai menumpuk benci tetapi yang terjadi ia tetap menyukai arka. Sembunyi bagaimanapun, laki-laki itu tetap seharusnya ia sebut banci. Meninggalkannya dengan kepanikan seorang diri. Merenggut apa yang seharusnya tak ia beri. Tetapi, walau begitu arka tidak bersalah sepenuhnya. Karena memang dialah yang berkeras untuk mengikuti acara itu. Ia terlalu naif dengan berasumsi menghabiskan malam bersama arka berarti mengobrol sepanjang malam hingga pagi.
Astaga, jasmine hampir gila setelah hari itu terjadi. Bila tidak teringat UAS mungkin jasmine akan mengubur dirinya dalam duka penyesalan. Mengikuti media sosial semua orang yang berhubungan dengan arka danielson, terkadang mendebarkan. Namun, tak jarang justru menyakitkan. Apalagi, disaat seperti ini ketika liburan semester sudah berjalan beberapa minggu. Jasmine tak bisa mencoba lagi memandang arka dari jauh, karena mereka tidak berada di tempat yang sama.
"Jasmine!"
Pintu kamarnya terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya yang paling berharga dalam hidupnya.
"Kenapa, bun!"
"Kamu masih pusing?"
Tadi sudah tidak pusing. Tetapi baru saja, pusing kepala kembali datang. Tepatnya, ketika ia melihat story yang di tampilkan di akun media sosial milik Aswika Arinadza yang ia ikuti. Adik tingkatnya dikampus, namun mereka berbeda fakultas. Sosok arin begitu cewek cantik itu sering disapa, merupakan sosok yang paling dekat dengan arka.
Mereka berdua dekat tak hanya di kampus saja, melainkan juga di rumah mereka masing-masing. Dari kabar yang beredar, hubungan mereka hanya sebatas adik kakak biasa. kebetulan lainnya, tempat tinggal keduanya saling berdekatan. Namun, jasmine tidak mengetahui fakta itu. Sebab, pernah beberapa ia mendapati arka selalu memandang arin dengan tatapan yang seperti miliknya ketika diam-diam memandang laki-laki itu.
"Jas? Kok malah bengong, sih? Masih pusing banget, ya?"
Lalu, akhirnya jasmine bangkit. Ia duduk di tengah ranjangnya sambil bersila.
"Masih pusing sedikit, bun. Tapi, nggak pusing bangetlah. Memang kenapa, bun? Bunda mau minta jasmine temenin kemana?"
"Ambil kebaya di bude nisa, yuk Jas? Bisa nggak kamu bawa motornya? Kalau nggak bisa, ya nggak apa-apa, bunda akan pergi sendiri."
"Jasmine ikut aja dah bun. Biar sekalian nyoba kebayanya disana. Kalau nggak ada yang pas, bisa langsung diperbaiki."
"Yasudah. Yuk, siap-siap. Bunda tunggu di depan, ya."
Langsung, jasmine mengangguk. Ia bangkit dari ranjang menuju ke lemari pakaiannya. Ia hanya perlu mengambil jaket saja. Jasmine adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya perempuan, sudah menikah beberapa tahun lalu. Dan minggu depan, kakak laki-lakinya yang akan menikah. Untungnya segala persiapan dilakukan oleh pihak mempelai wanita. Maka dari itu jasmine tidak perlu repot membantu mengurusi printilan pernikahan hanya saja karena ia sedang menjalani hari liburnya.
"Udah?"
Jasmine mengangguk. Kemudian, ia menerima helm yang di sodorkan sang bunda.
"Bun, setelah nikah nanti, mas rafiq tinggal disini dulu 'kan sama mbak chika?"
Rumah mereka terdiri satu lantai. Memiliki empat kamar tidur dan dua kamar mandi. Dulu, saat kakak perempuannya belum menikah suasana rumah ini terasa ramai. Namun, semenjak kakaknya menikah dan jasmine mulai sibuk kuliah, hanya ada bunda, ayah dan kakak laki-lakinya saja.
"Iya, biar disini dulu sambil ngumpulin uang buat beli rumah. Sayang uangnya kalau buat ngontrak, mending di tabung dulu."
Ayah jasmine adalah seorang PNS yang bertugas di dinas pendidikan. Sebelum mendapatkan jabatan disana, ayah jasmine merupakan seorang kepala sekolah di sebuah SD negeri yang jaraknya cukup jauh dari rumah mereka. Sementara, kakak perempuannya yang sudah menikah juga seorang PNS di dinas pariwisata. Rumahnya tidak beberapa jauh dari rumah orang tua jasmine, hanya berbeda blok saja. Sementara, kakak laki-lakinya bekerja di perusahaan rokok dan sudah menjabat sebagai karyawan tetap dan minggu depan akan mempersunting mbak chika, kekasih yang sudah di pacari sejak kuliah dulu.
"Lagian, bunda nanti kesepian kalau kamu sudah balik kuliah."
Iya juga sih, selama ini jasmine memutuskan kos didekat kampusnya. Jarak dari rumahnya ke kampus itu bisa di sampai dua jam bila sedang macet. Jika lancar, perjalanannya cukup memakan waktu lebih dari satu jam. Jadi, daripada capek dijalan, jasmine diperbolehkan tinggal dikost selama masa perkuliahan. Dan sekarang, jasmine sudah nyaris mati bosan menghabiskan waktu liburan di rumah. Ayahnya cukup ketat pada aturan keluar maupun jam malam. Selama di rumah, bisa dihitung dengan jari, beberapa kali jasmine keluar bersama teman-teman SMA-nya dulu.
Hal yang sama saat berada di kosan, ayahnya juga begitu rajin menghubungi di waktu malam. Bahkan bisa tidak di percaya pada keberadaan jasmine, pria paruh baya itu tak segan-segan menyuruh ibunya melakukan panggilan video hanya untuk mengetahui dengan jelas dimana jasmine berada. Hanya satu malam, ketika orang tuanya tidak menghubunginya dan di situlah mereka kecolongan.
Patah hati terbesar untuk seorang adik perempuan adalah menyaksikan kakak laki-lakinya menikah. Mungkin, mereka tidak selalu akrab seperti yang di harapkan, tetapi rasa sayang itu nyata. Selain ayah jasmine yang protektif jasmine juga mempunyai kakak lelaki yang terkadang sangat menyebalkan bila hal itu sudah menyangkut teman jasmine yang berjenis kelamin laki-laki. Kerap bertingkah bagai jagoan di depan teman-teman jasmine. Sekaligus menjadi orang yang paling berusaha menjaga jasmine.
Selama jasmine kuliah, tajam terhitung jumlahnya berapa rupiah yang sudah kakaknya itu di beri jasmine. Mampir ke kampus jasmine, mengajaknya untuk sekedar makan siang atau menjemputnya kala libur dan tak ada kegiatan. Dan, hari ini sosok itu telah menikah. Mas Fahri tidak lagi menjadi milik jasmine seutuhnya. Jasmine akan merindukan sosok itu setelah ini.
"Mas?"
Jasmine memeluk kakaknya dengan erat. Menangis tersedu dalam pelukan tersebut. Jasmine tak peduli pada tampilan wajahnya setelah ini.
"Heyy, masnya nggak apa-apa lho? Masih tetap akan selalu jagain kamu. Jatah uang jajan tetap sama kok, nggak ada yang berkurang."
Jasmine yang mendapat gurauan itu justru memantik air mata jasmine semakin deras.
"Ya ampun, jasmine. Kenapa sih, ini?"fahri tertawa sambil menepuk-nepuk punggung sang adik.
"Nggak ada yang berubah, jas. Mas bakal tetep jemput kamu kalau mau pulang kerumah, oke? Nanti, mau balik ke kosan juga mas yang anter, Kayak biasanya. Duh, adek bontot masnya sedih, ya?"
Sedangkan, jasmine tak mengatakan sepatah katapun. Ia hanya diam sambil menumpahkan air mata. Sesaat setelah merasa lebih tenang, ia pun menghapus lintasan basah di seluruh pipinya. Sudah bisa di pastikan, fondationnya pasti ikut tersapu juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments