Tetapi, pada detik berikutnya, ia justru menghela nafas panjang serta terus menatap nanar wanita tersebut.
"Aka? Buruan elah! Satu jam lagi kita ada kelas!"menatap Sean sebentar, arka justru mengarahkan rambutnya kebelakang.
"Kalian duluan aja, gue ada urusan."ujarnya sambil berjalan terlebih dahulu. Ia akan mati gelisah bila masalah ini tak di selesaikan segera. Jadi, ia memutuskan untuk mendatangi cewek itu alih-alih menghindarinya.
"Ikut, gue."tanpa menghentikan langkah, ia berbicara dengan cewek tersebut sambil berlalu. Dan, jasmine benar-benar mengikutinya.
Dia tak banyak bicara, karena gugupnya sudah mencapai ujung kepala. Dan, rasa takut telah mendominasi benaknya. Mereka melewati gelanggang mahasiswa. Berbelok ke kanan, menuju bekas perpustakaan lama yang hingga kini bangunannya masih kosong.
Terus melaju ke belakang bangunan, jasmine baru tahu bahwa dibelakang bangunan perpustakaan lama tersebut ada anak tangga yang undakannya terbuat dari beton, dan peganganya merupakan besi yang telah berkarat. Kemudian, disanalah langkah kaki jasmine memanjat. Mengikuti langkah arka yang sudah terlebih dahulu sampai pada undakan paling atas.
Begitu sampai di atas, jasmine sedikit menghela. Rasanya, kakinya lumayan pegal juga. Tadi, di kelas pertamanya saja sudah berada di lantai tiga. Dan kini, ia merasa lelah.
"Lo mau apa sih?"todong arka langsung begitu saja menyadari mereka hanya berdua saja di tempat ini.
"Lo mau ngejebak gue?"tanya arka sekali lagi dan jasmine sontak menggeleng.
Dia membuka tasnya dan meraih bungkusan tisu yang didalamnya terdapat tespack yang tak jadi di buang.
"Gue hamil, ka."ia sodorkan bukti itu.
"Dan, ini anak lo."
Dengan rahang mengatup, arka menatap benda itu dengan pendar penuh amarah. Diraihnya gulungan tisu tersebut, lalu melemparkannya ke lantai.
Belum cukup dengan semua itu, arka menginjak-injak sekuat tenaga. Meluapkan emosinya, ia memaki berulang kali.
"Ka..."
"Diem, lo!"hardik arka ketika menyadari perempuan itu menangis.
"Gue benci air mata lo, bangsat!"bentaknya yang sudah di kuasai emosi tinggi.
"Lo dateng-datang ngaku hamil ke gue! Lo pikir, gue percaya, hah?"
"Tapi gue memang beneran hamil, ka."
"Ya. terus, apa gue bapaknya?"arka tak mengakuinya. Tidak, ia akan berusaha keras menyanggah kenyataan tersebut bila memang benar adanya.
"Kita cuman ngelakuin hal itu sekali, ya?"
Dua kali, batin arka bersuara. Namun, arka mengabaikan semua itu.
"Dan lo pikir gue bakal percaya?"
"Tapi, gue cuman ngelakuin itu sama lo, ka."Air mata jasmine mengalir deras.
"Gue cuman ngelakuin itu sama lo, ka."tegas jasmine sekali lagi.
"Terus, gue harus percaya gitu?"seringai arka terbit segaris.
"Kejadian itu sudah dua bulan lebih. Dan dalam waktu selama itu, lo bisa aja-"
"GUE NGGAK SERENDAH ITU, ARKA!"jerit jasmine akhirnya.
"Ah masak, sih?"arka semakin menyebalkan bila dirinya sudah tersudut begini.
Jasmine menatap laki-laki itu dengan tirai buram dari air matanya. Ia tak mengatakan apapun, menunduk sejenak sembari menepuk dada. Seharusnya, jasmine sudah memperkirakan reaksi ini, bukan?
"Lo tahu, sekalipun itu memang anak gue, nggak ada hak lo buat nuntut tanggung jawab dari gue."
Dheg...
Jasmine kembali membawa tubuhnya ke hadapan arka.
"Ma-maksud, lo?"
"Ya. Bukannya lo sendiri yang menyerahkan diri ke gue?"
Arka menebak jasmine dengan tepat.
"Lo 'kan yang repot-repot ngikutin acara nggak penting itu demi menghabiskan malam sama, gue? Nah. Seharusnya, lo tahu betul kalau kesalahan ini murni milik lo seutuhnya. Karena, lo yang datang ke gue. Bukan sebaliknya."
Seketika, jasmine ditampar kenyataan. Wajahnya semakin pucat pasi.
"Tapi, kalau gue boleh saran. Gugurin aja. Toh, baik buat gue ataupun lo, sama sekali nggak butuh anak saat ini,'kan?"arka diam sejenak.
"Gue bukan bermaksud jahat. Tapi, kalau benar-benar terjadi kehamilan gara-gara malam itu. Semuanya cuman kesalahan, kan?"
Kesalahan?
Langsung, jasmine meraba perutnya.
Ini sebuah kesalahan.
Beberapa hari berlalu, perempuan itu tidak mendatangi arka lagi. Hari-hari di kampus pun berjalan tenang seperti biasa. Harusnya arka merasa lega, bukan?.
Namun yang terjadi, justru sebaliknya. Arka masih terus di rundung gelisah. Diam-diam, ia sering berkeliaran ke seluruh penjuru kampusnya hanya demi memastikan bahwa perempuan itu masih hidup. Tetapi, arka tidak menemukannya. Ia bahkan lupa menanyakan perempuan itu berada di fakultas mana.
Teman-temannya meledeknya sedang caper alias cari perhatian. Juga, beberapa lain mengatakan ia sedang tebar pesona dengan mengajak mereka berkeliling dari satu jurusan ke jurusan lainnya. Temannya mengira, ada mahasiswa baru yang tengah di incar. Mereka seolah lupa, bahwa perhatian arka hanya berpusat pada arin seorang.
Ah, tetapi belakangan ini, ia bahkan mengabaikan arin. Terlalu sibuk menerka-nerka. Ia kerap dilanda banyak prasangka mengenai hal buruk yang bisa saja terjadi padanya dimasa depan.
Apa jangan-jangan, cewek itu sudah pindah kuliah, ya?
Ya, baguslah kalau begitu. Jadi, arka tak perlu memusingkannya lagi.
Tapi...
"Aka?"
"Apa?"sentaknya dengan nada sewot.
"Perasaan badmood mulu dah."celetuk marvel sambil menyerahkan sekarang coba pada temannya itu.
"Lagi ada masalah di rumah?"
Di kampus
Sambil menghela nafas, arka membuka kalengnya. Meneguk beberapa kali sesekali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman didepan gudang fakultasnya.
"Yang lain, mana?"
"Masih ada kelas mungkin?"marvel melihat kakinya di atas bangku yang terbuat dari semen.
"Tapi. beneran deh, aka, lo kenapa sih?"
"Ck, mulai cerewet lo persis nyokap gue."cetus arka enggan menjawab. Merogoh saku hoodie, ia mengeluarkan sebatang rokok.
"Gue lagi suntuk aja. Tapi nggak tahu kenapa?"
Bohong!
Ia sangat tahu alasan kenapa dirinya menjadi uring-uringan begini. Hanya saja, ia tak mungkin katakan yang sebenarnya, bisa habis ia diledek teman-temannya. Jadi, sembari menghisap rokok, arka memeluk kakinya yang semula yang semula berselonjor, ia memainkan rokok sesudahnya membuat beraneka bentuk sebisanya. Sebelum kemudian terbatuk-batuk.
"Sial?"makinya berang.
Marvel terbahak kian kuat, ia mengeluarkan ponsel dan sibuk berselancar di sosial media.
"Heran gue, kenapa ya. Akhir-akhir ini nggak ada yang trending 19 detik lagi?"gumamnya seraya mengedikkan bahu.
"Otak lo perlu di kucek."timpal arka menyeringai
"Kayak otak lo sudah bersih aja."ledek marvel yang masih sibuk berselancar. Kini, ia beralih pada akun instagramnya.
"Ck, orang lagi berduka. Ada apa aja, ya yang komentar nggak-nggak di status orang itu. Yang mengiklan nggak ada otak sumpah."
Arka malas menanggapi. Sebab kini, pikirannya sudah sibuk menerawang jauh.
Apa itu cewek sudah menggugurkan kandungnya?
Apa cewek itu benar-benar tak ingin mengganggunya?
Benarkah itu cewek mengandung benihnya? .
Halah, buat apa sih dia merasa bersalah begini?
Toh, mereka tidak saling mengenal.
Masa bodoh sajalah!
"Aka, arin noh, jalan kemari?"marvel menyenggol kakinya.
Dan arka buru-buru membuang puntung rokok setelah menyudut baranya.
"Shitt!! Pasti bakal ngadu sama nyokap nih."gerutu arka menghalau sisa-sisa asap rokok yang masih berada di sekelilingnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments