Kemudian, ia coba lagi karena arka memandangnya dengan alis yang terangkat. Meraup minuman dengan tegukan besar, jasmine tidak tahu jika rasanya begitu menegangkan.
"Kok minuman gue, aneh!"
"Aneh gimana?"
"Nggak enak!"
Lantas, arka terkekeh. Kemudian, ia sodorkan minumannya pada gadis itu.
"Lo mau coba punya gue?"
"Ehh, nggak usah!"
"It's okey, coba aja siapa tahu punya gue rasanya nggak aneh."
Dan disaat itulah sesuatu yang salah segera terjadi. Mengumpulkan sisa kesadarannya yang sudah berada di ambang batas. Jasmine mendongak ke atas. Lalu, diantara keremangan ini, ia menemukan sepasang Black hole yang seakan menyerapnya jauh keluar inti bumi. Menerbangkannya menuju galaksi, jasmine tak percaya bahwa hanya dengan memandangnya saja ia bisa tersesat begini.
"Beccanoer lo mau apa?"suara bisik arka yang terdengar begitu memabukkan.
"Beccanoer?"
"Gu-gue..."
"Lo pusing?"
Bariton rendahnya yang berat membuat tengkuk jasmine meremang. Terpaan nafas hangatnya, masih membuat jasmine tercengang. Walaupun terhalang topeng perak penanda sang dream partner, jasmine bisa melihat bulu mata panjang yang menaungi kelopak mata pria itu.
Secara keseluruhan, memang arka mengagumkan. Member inti dari geng motor berjuluk racing hell membuat mahasiswa semester empat itu digilai banyak mahasiswa lainnya. Baik, dari fakultas yang sama dengan pria itu maupun yang bersebrangan. Walaupun pergaulannya lebih banyak santai, tak membuat arka terlihat urakan. Bahkan justru sebaliknya, pria itu rapi dan mempesona dengan caranya.
"Hey Beccanoer? Lo pusing?"
Cita-cita jasmine adalah mencerdaskan anak bangsa, memperbaiki tata bahasa serta kemajemukan bertutur kata. Namun sepertinya, tak lama lagi ia akan memasuki dimensi yang dimana kebobrokan moralitas generasi muda dan juga bermula dari kekonyolannya mengiyakan tawaran arka untuk beristirahat.
Karena istirahat yang di maksud arka bukanlah mengantarkannya kembali ke kosan, melainkan membuka sebuah kamar dan tepat ketika malam itu berakhir. Mimpi kedua mahasiswa tersebut pun tak kan pernah terukir didalam hidup mereka masing-masing.
Arka membenci drama ini. Apabila hal itu dimainkan dipagi hari. Disaat ia baru saja terbangun dari lelap yang luar biasa nyenyak. Ketika yang harusnya ia terima adalah sarapan enak dengan susu coklat hangat. Bukan malah tangisan menyayat hati yang membuatnya penat. "Ck, gue harusnya diem aja, kan!"gerutu arka dalam hati sambil melirik sedikit wanita di sampingnya yang masih tertidur pulas.
Beberapa saat kemudian, muncul kesiap kecil dari balik punggungnya. Sungguh mengganggu dan kantuknya telah berlalu. Dia pun tak mungkin bisa ia abaikan begitu saja apa yang telah terjadi. Belum lagi, secara sadar malam tadi ia menjumpai darah saat presentasi mulai membuatnya lupa diri. Arka tahu, akan ada sedikit bencana. Tetapi, ia yakin tak bersalah.
Jadi, dengan dengkusan kasar, ia membuka kelopak matanya. Membalikkan tubuh, ia coba bersandar sambil menatap tajam seorang wanita di sampingnya. Yang sudah terjadi terlebih dahulu mengkerut takut di sampingnya. "Astaga, kenapa sih wanita itu selalu mudah mengeluarkan air mata?"batin arka yang begitu Geram.
"Gue nggak memperk*sa lo!"cetus arka tanpa berbasa-basi.
"Kita ngelakuin itu atas dasar suka sama suka, gue nggak maksa, malah lo yang kelewat semangat."imbuh penjelasan arka yang tak berdusta.
Lagipula, untuk apa dirinya bersusah memperk*sa, bila banyak para wanita yang berdatangan kepadanya?. Ck, ia memiliki harga diri tinggi untuk memuaskan egonya sebagai laki-laki. Jadi, tak akan ia buat susah saat yang mudah berdatangan tanpa harus diminta.
Tetapi maaf saja, ia bukan laki-laki gampangan. Ia memiliki standar perempuan yang bisa menjadi pendamping hidup sekaligus calon ibu untuk masa depan calon keluarganya. Standar terhadap hubungan selibat. Malam tadi untuk pengecualian diri. Wanita yang ia ajak bersama menuju ranjang, tampak polos dan begitu manis. Persis seperti Arin yang ia jaga sepenuh jiwa.
"Jangan nangis, please. Gue suntuk banget kalau pagi-pagi ada cewek yang nangis."
Ada sisa air mata yang tak bisa arka abaikan di wajah wanita itu. Gemetar tangannya saat memeluk selimut, juga tertangkap oleh netra arka yang begitu awas. Masih menunduk menyembunyikan wajah di balik helaian rambut panjang yang menutupi wajah. Tolonglah, arka tidak mabuk saat menidurinya.
"Please, berhenti nangis."Ucap arka yang membenci perempuan cengeng.
"Fine. Gue sama lo perlu mandi sebelum bicara."imbuh ucapan arka sambil menyibak selimut. Lalu, mengambil langkah terlebih dahulu untuk membersihkan diri. Ia memunguti pakaiannya sembari berjalan ke kamar mandi hotel. Akan tetapi, arka tidak gila dan nekat membawa cewek itu pulang kerumah. Ia pasti akan di keluarkan dari daftar keluarga.
"Gue mandi dulu. Lo tunggu sini."tegas arka sedangkan jasmine tak bergeming.
Kemudian, arka turun dan melewati ranjang dan cewek itu juga tak kunjung memberi tanggapan. Seketika, arka langsung menjadi panas hati dan seolah dia yang paling bersalah disini.
"Dengerin gue, Beccanoer!!"Ucap arka tahu nama samaran.
Serta, mereka berdua sedang dalam suasana buruk untuk sekedar berkenalan dengan baik.
"Gue nggak bersalah!"cetus arka terus terang.
"Kalau gue boleh mengingatkan, lo sendiri yang dateng ke gue, kan? Dengan lo repot sendiri memenangkan challenge nggak penting ini. Jadi, stop nangis dan ngabisin gue seolah-olah yang ngejebak lo. Please, deh. Gue minta, lo juga andil disini."imbuhnya dengan tegas.
Setelah menumpahkan semua itu, arka menutup pintu kamar mandi dengan keras. Ia perlu bergerak cepat. Mandi kilat dan langsung memakai baju di kamar mandi. Setelah selesai, ia keluar dan perempuan itu masih tetap berada di tempat semula. Seakan bak patung yang tak lagi bisa berbicara maupun berpindah, dan arka yang melihat itu tak tahu harus berbuat apa.
"Gue sudah kelar. Lo buruan bersih-bersih."ujar arka seraya berdeham.
"Kita perlu ngobrol pake kelapa segar dan lo juga harus keramas, kan?"imbuhnya dan berjalan keluar sambil menunggu perempuan itu selesai melakukan aktivitasnya.
Kembali pada jasmine yang sedang menatap penampilannya di depan cermin kamar mandi seraya meringis ngeri. Melihat sisa makeup semalam yang telah berpadu dengan air matanya tadi pagi. Menciptakan sebuah pantulan yang menyedihkan, karena ia tak bisa menutupi kantung matanya juga wajah sembab yang masih tersisa di wajah tirusnya.
Membuka selimut secara perlahan, dan bibir kecil jasmine bergetar. Kulitnya yang ia tidak pernah di kunjungi bercak merah keunguan, dan kini menyebar keseluruh tubuh seolah mengejek dirinya sendiri. Secara implusif, ia coba menghilangkan tanda merah yang mengganggu itu. Namun, tindakannya tidak membuahkan hasil dan tak ada yang bisa dihapus di seluruh tubuhnya.
Jasmine tidak ingat bagaimana awal mula petaka ini bisa terjadi. Kepalanya hanya terlalu pusing setelah meneguk habis dua gelas minuman yang di pesankan arka untuknya. Saat memejamkan mata, jasmine ingat ia sempat bersandar pada bahu kekar arka. Mengeluhkan rasa sakit kelapa, lalu pria itu menawarinya istirahat sejenak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments