Jasmine merasa telapak tangannya mulai berkeringat. Keadaan dimana biasanya ia merasa takut. Sambil mengecek arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, jasmine mengigit bibir. Dari story arin yang ia lihat tadi pagi, arka seharusnya akan datang ke kampus jam sebelasan. Tetapi, bagaimana jasmine harus menjelaskannya? Pokoknya, setelah sholat subuh, ia pun berselancar ke dunia maya. Ia membuka story-story teman yang tak sempat ia lihat ketika beranjak tidur. Dan akun instagram arin yang paling menyita perhatian jasmine.
@. Aswika Arinadza
Finally, sampai jg di rmh.
Huhuhu capekkk...
Tapi, bang @. Daniel_arka besok jgn lp anterin ke kampus.
Jam 11. Awas aja lo ngk bs bangun.
Dari yang jasmine pahami selama memantau akun sosial media arka dan arin, kompak keduanya berlibur ke Sukoharjo. Tidak menggunakan pesawat. Mereka tampak menikmati perjalanan dengan menggunakan kereta api. Tapi, tak hanya berdua saja. Karena teman-teman arka pun terlihat liburan bersama mereka.
"Oke, semuanya boleh bubar. Thank's banget buat kalian semua yang sudah sempatin datang di tengah liburan kalian."
Ketika rapat itu resmi di bubarkan, jasmine segera beranjak dari sana. Ia harus segera mencari arka untuk menjelaskan semuanya.
\*\*\*\*\*
"Kalau lama, gue tinggal?"
"Isss... emang tega?"
"Tegalah."cebik arka sambil mendorong punggung kecil arin menjauh.
"Lo bilang sejam ya, rin? Awas aja kalo lebih dari sejam."
"Huhh... jahat!"Arin menepuk tangan cowok itu, sambil menjulurkan lidah dan ia pun berlari menuju aula jurusannya.
"Nanti aku minta jemput Sean kalau Abang tinggalin aku?"
"Lesean setan nggak keluar siang-siang."Balas arka sambil berteriak juga. Lalu, ia pun menggaruk kepala.
"Ck, terus gue ngapain nunggu tu anak selama sejam?"gumam arka pelan.
Selama satu jam menunggu, ia harus apa? Teman-temannya tidak ada disini. Semua masih kelelahan pasca liburan mereka. Harusnya, arka pun masih bermalas-malasan dirumah. Bukannya malah berkeliaran di kampus yang sunyi ini.
Hanya saja, beberapa mahasiswa masih berlalu lalang, hal yang kontan saja membuat arka terpekur sejenak. Ternyata, selain arin, masih banyak juga orang yang kurang kerjaan. Hingga rela menggadai hari liburnya untuk mendatangi kampus yang membosankan.
Well, karena bagi arka tempat paling menyenangkan adalah rumah arin. Ah, ia mulai terdengar tak keren sekarang. Kenapa semua harus arin, sih? Ia bahkan rela di perbudak arin hari ini. Tidak juga hari ini, sih, bahkan rencana liburannya pun juga mengikuti agenda liburan arin. Alih-alih berada di Bali atau Raja Ampat, ia dan teman-temannya justru terdampar di Sukoharjo hanya karena arka mendengar arin merindukan kampung halaman orang tuanya.
Astaga arin benar-benar penjajah!
Ya, penjajah untuk hati arka!
Ck, menyebalkan sekali sih.
Baiklah, arka harus mencoba mencari kegiatan atau ia akan mati bosan menunggu arin menyelesaikan rapat jurusannya selama satu jam kedepan.
Humm kemana kira-kira, ya?
Sepertinya main basket lebih cocok.
Namun, belum jauh ia melangkah dari parkiran mobilnya, seruan memanggil namanya sontak saja membuat arka menolehkan kepala. Langkah pun terhenti juga, keningnya berkerut bingung.
"Lo manggil, gue?"
"Iya,"
"Lo kenal gue?"
Karena sepertinya, arka mengenal cewek itu tapi dimana?
"Gue jasmine."
Oh arka tidak mengenalnya.
"Maksud gue Beccanoer."
Tunggu! Sepertinya, arka pernah mendengar nama itu.
"Kita bertemu di acara dream partner. Dan kebetulan malam itu, gue yang jadi partner lo."
Ah, Arka ingat sekarang. Astaga, ternyata cewek yang sempet ia cari-cari itu namanya jasmine. Baiklah, arka akan mengingatnya.
Ehh, tapi untuk apa?
Ck, arka gak ada urusan dengan cewek itu.
"Oh, jadi lo cewek itu."ujar arka yang mengangguk sekilas. Ia sedang lelah, jadi malas menanggapi.
"So, ada perlu apa lo nyari gue?"
"Gu-gue mau ngomong sama lo, ka."
"Oh, oke. Ngomong aja."ujar arka santai.
Namun, wajah jasmine sama sekali tidak menunjukkan kesantaian yang sama.
"Gue mau ngomong di tempat lain, ka."
"Tempat lain? Alam lain maksud lo?"arka tertawa mendengar candaan yang garing.
"Sorry, ya. Gue radak ngantuk. Jadi nggak fokus. So, mau ngomong apa? Ngomong aja disini. Gue lagi nunggu arin, mager gue buat jalan."
Sontak, jasmine menelan salivanya sendiri.
Arin?
Ingin rasanya langsung bertanya pada arka mengenai hubungan pria itu dengan adik tingkat mereka. Namun, siapa dirinya yang pantas mempertanyakan hal itu?.
"Heii! katanya lo mau ngomong? Kok malah bengong sih?"
Jasmine kembali menggigit bibir, resahnya makin ketara. Gugupnya sudah sampai ke tulang juga ubun-ubunnya.
"Gue nggak yakin harus ngomong disini, ka."ia telah menelan ludah dengan susah payah.
"Apa nggak sebaiknya kita mencari tempat yang lebih-"
"Lo siapa, sih? Kok ngatur gue jadinya?"sergah arka berdecih sinis.
"Kalau mau ngomong, ya ngomong aja. Nggak usah banyak cingcong, deh."ia mulai tak sabar.
"Lo nggak tahu cuaca lagi panas?"
Jasmine menunduk, bibir bawahnya masih setia berada dalam gigitannya.
"Maaf!"gumamnya penuh sesal.
"Gue cuma nggak mau aja pembicaraan kita di dengar orang lain."Ucap jasmine yang membuat arka mengangkat bahu tak acuh, memutar bola mata malas.
"Ya sudah, mending nggak usah ngomong aja sekalian"putusnya bertampang malas. Ia sudah akan melangkah kembali. Namun, suara cewek itu kontan membuatnya arka tercengang.
"Gu-gue hamil, ka"
"Hah?"sahut arka melotot tak percaya.
"Terus gue harus bilang apa?"Ia tertawa miris.
"A-anak lo,"cicit jasmine menarik nafas.
"Gue hamil anak, lo"imbuh jasmine dan arka tak mampu menahan laju lidahnya untuk memaki.
"Gila!!"
Arka benar, karena setelah itu jasmine benar-benar merasa ingin gila saja. Sebab, arka meninggalkannya tanpa sekalipun merasa percaya pada apa yang ia katakan. Tangisan mati-matian jasmine simpan, terburai detik itu juga. Ketakutan yang mencengkram, segera memberikan gambaran mengerikan.
Hari demi hari berlalu. Berhari-hari kemudian, ia diterpa gelisah yang tiada habisnya. Berkali-kali datang ke kampus, ia tak menjumpai arka dimana-mana. Pesan yang ia kirim pada pemuda itu di lamanya sosial medianya, tidak kunjung mendapat balasan. Ia tidak memiliki kontak pribadinya, tak tahu juga dimana alamat arka tinggal.
Jalan satu-satunya, mungkin ia harus meninggalkan komentar di postingan yang di unggah arin beberapa waktu lalu. Menandai punggung pemuda, yang ia butuhkan untuk memecahkan kebingungan ini bersama-sama. Tetapi, jasmine tidak memiliki keberanian itu. Jadi, yang ia putuskan adalah menunggu.
"Sudah, nggak ada yang ketinggalan?"
Menekan keinginan ingin berlutut dan mengakui dosa-dosanya detik ini juga, jasmine sengaja menghindari kontak mata dengan sang ayah.
"Sudah semua kok, yah."ucapnya tercekat.
Pura-pura sibuk memeriksa ranselnya. Jasmine menelan ludah ketika bundanya kemudian datang dengan tas yang penuh dengan perbekalan untuknya.
"Ayah, ini gimana sih? Tadi bunda bilang, jangan lupa tas yang ini. Kok, malah sengaja di lupain, sih?"
"Mana mungkin ayah sengaja, bun."ujar sang ayah dari tiga orang anak tersebut.
"Sini, masukin bagasi masih muat kok."
Tak mampu menahan matanya yang memanas, jasmine cepat-cepat memasang masker diwajah. Tak lupa, ia gunakan helm segera. Supaya bila nanti air matanya jatuh, hal tersebut tidak terlalu ketara di mata kedua orangtuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments