Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya sepasang teman sejoli itu sudah sampai didepan rumah arin. Setelah mematikan deru mesin mobil, kemudian arin bergegas turun dan masuk kedalam rumah. Sesaat kemudian, mereka berdua disambut oleh pelukan dari sang bunda yang membuat arin tertawa senang.
"Bun, bang aka tadi berantem bun!"adu arin kepada sang bunda.
Seketika, arka tersenyum canggung seraya menggaruk tengkuk leher yang tak gatal di tambah mendengar pengaduan dari arin yang membuatnya semakin malu. Bukan pada orangtuanya. Namun, hal itu akan semakin mencoreng nama baiknya.
"Apasih lo, rin?"Geramnya sambil menipiskan bibir. Arin ini benar-benar tidak bisa menyimpan rahasia.
"Bohong, dia tante!"kilah arka sambil menyalami ibu kandung arin.
"Kalau orang berantem itu, saling pukul-pukulan sampai bonyok. Nah, lo lihat tadi, apa ada gue mukul sampai bonyok?"
"Isss, nyebelin. Dengan jelas tadi abang mukulin orang."
"Ya pengertian lo salah. Mukulin orang belum tentu berantem. Bisa jadikan kalau gue ternyata lagi belajar ilmu bela diri."
"Ihh,, mana ada ya? Abang ini lho ya..."
"Biarin!!"sahut arka sambil menjulurkan lidah.
"Masak apa, tante?"
"Soto daging sama perkedel ayam. Makan sekalian disini ya, ka?"
"Duh arka pengen tante, cuman nanti mama mengamuk tante kalau aka makan disini. Sementara, dirumah mama nggak ada yang nemenin dia makan."jawab arka sambil cengengesan.
"Gimana kalau aku makan disini, terus arin makan makan di rumah bareng mama tante?"cetus arka memberikan ide.
"Ada saja pikiranmu itu, ka."sahut ibunda arin-Bunda Aira sambil menggelengkan kepala.
"Bawa pulang aja ya, ka? Nanti makan dirumah sama mama ya, ka."
"Wokeh tante."
Jadi, bagaimana bisa arka mengenal arin dengan akrab dengan keluarganya?. Well, secara teknisi mereka bertetangga. Rumah arka berada di seberang rumah arin. Dan secara dramatis, ternyata arin pernah di adopsi oleh sang mama di masa lalu. Cerita yang sangat sinetron sekali. Di dalam pikiran arka, tetapi begitulah kenyataannya.
Arka terlahir kembar. Namun, begitu lahir sang kembaran sering terus jatuh sakit, bayi berjenis kelamin perempuan. Afka, begitu mama dan papa menamai saudara kembarnya itu. Namun, usianya tidak lama. Beberapa bulan setelah melahirkan, afka pun meninggal dunia. Sang mama masih tak kuat menerima kenyataan, memilih menepi dair kesibukan Sang papa yang merupakan seorang diplomat pada saat itu.
Sang mama memilih menetap di Sukoharjo, kampung halamannya dulu. Serta, membawa arka yang kala itu masih berusia enam bulan. Sementara, kakak laki-laki dan kakak perempuan arka tinggal di jakarta bersama keluarga sang papa. Sebelum kemudian sang papa memutuskan pensiun, lalu memlilih menjalankan perusahaan bisnis keluarga.
Arka dan sang mama, mereka menetap di Sukoharjo selama enam bulan. Lalu, disanalah sang mama pertama kali bertemu arin yang kala itu bahkan masih berada di dalam kandungan. Arin belum lahir saat itu. Namun, desas desus yang berada didesa tersebut sudah ramai membicarakan bahwa cucu dari salah seseorang saudagar kaya yang berada disana akan dijual.
Sontak, mama dari arka tentu saja di rundung gelisah. Apalagi saat mengetahui anak yang akan dijual berjenis kelamin perempuan. Sang mama ingin mengadopsi bayi itu sebagai pengganti putrinya, dan keinginan itupun dipermudah. Arin sudah berada di Jakarta, saat berminggu-minggu kemudian sang mama arka mengetahui ada kekeliruan dalam hal adopsinya.
Ternyata, ibu kandung arin tidak pernah mengizinkan anaknya untuk diberikan pada orang lain. Terjadi kesalahpahaman. Namun, anehnya tak berlarut-larut. Arin di tebus dengan sejumlah uang yang awalnya ingin ditolak oleh sang mama arka. Apalagi setelah mengetahui cerita sebenarnya. Mana mungkin ia tega menerima uang tersebut.
Tapi, karena paksaan dari keluarga ibunya arin, mau tak mau april atau sang mama arka terpaksa menerima uang dengan nominal yang sama, ketika ia keluarkan dulu saat ingin mengadopsi arin. Mereka sempat kehilangan kontak dengan arin kecil yang sudah berada ditangan ibu kandungnya. Padahal, ibunya arka sudah sangat jatuh cinta pada bayi mungil itu. Hingga sekitar tujuh tahun yang lalu, takdir mempertemukan mereka. Tepatnya, ketika arin dan keluarganya pindah ke depan rumah arka.
"Rin!"Ucap arka sambil membuka pintu kamar arin yang berada di lantai dua.
Setelah tadi sempat mengetuk pintu dan arin mempersilahkan masuk. Arka pun menghempaskan tubuh kekarnya ke ranjang arin.
"Andai lo dulu beneran jadi adik gue, kira-kira lo bakal lebih bahagia dari sekarang nggak?"tanya arka sedangkan arin sudah mengganti pakaiannya dengan kaos rumahan dengan celana pendek di bawah lutut. Dia sedang menghapus wajahnya dengan rasanya tipis yang selalu ia kenakan bila ke kampus.
"Kenapa tiba-tiba abang nanya gitu?"
"Penasaran aja."sahut arka kalem.
Membuang kapas wajah pada tempat sampah yang berada di bawah meja riasnya. Kemudian, arin melepas bandana yang ia gunakan untuk menyanggah rambut. Lantas, ia putar tubuh menghadap cowok itu.
"Mami pasti manjain aku, sih. Kalau waktu itu aku beneran jadi anak mami."sahut arin yang sudah mendengar semuanya sejak dua tahun yang lalu. Ketika neneknya meninggal dunia, rahasia akan kelahirannya pun di ceritakan Pelan-pelan.
Tentang alasan mengapa ia harus berpisah dengan ayahnya semala sepuluh tahun. Mengenai, mengapa ibunya harus bekerja keras menghidupinya. Arin akan jelas marah mendengarkan hal itu. Dia langsung menangis dan bersedih serta sekaligus bangga telah melihat bagaimana perjuangan sang ibunya dalam menghidupi dirinya. Kesetiaan sang ibu pada ayahnya, juga derita yang mereka lalui bersama sepanjang sepuluh tahun begitu berat. Arin sangat menyayangi ibunya, tak akan pernah ia ingin tukar sepuluh tahun penuh makna itu dengan perandaian semu.
"Aku sayang sama mama, tapi nggak mau ah jadi anak mama."ujar arin sambil mengerucutkan bibir.
"Arin tetap mau jadi anak ibu dan ayah aja. Nggak mau jadi adeknya abang. Arin maunya jadi kakak buat gavin dan gio."
Arka mengangguk dengan senyum puas. Lalu memiringkan posisi tidurnya sembari menahan kepala menggunakan tangan.
"Sama rin. Walau gue mungkin juga bakal seneng punya adik kayak lo. Tapi gue lebih suka lo nggak jadi adik gue."
Sembari mendengkus, bibir arin siap-siap mencibir sosok laki-laki dengan paras perpaduan bule itu.
"Kenapa? Abang nggak suka sama arin, kan?"
"Justru sangking sukanya gue sama lo, rin. Makanya gue nggak mau lo jadi adek gue."
"Lha! Terus jadi apa dong?"
"Jadi teman hidupku mungkin, rin."celetuk arka tanpa berpikir.
"Ihh... abang ini lho, ya!"
Seketika arka tergelak sesaat. Namun, setelah itu ia benar-benar meluruskan tatapan lembut pada arin.
"Nggak sekarang rin, tapi nanti mungkin. Enam tahun atau tujuh tahun lagi, ya? Tunggu gue benerin hidup gue dulu. Baru setelah itu, gue pasti nggak akan khawatir ngajak lo di hidup gue. Gimana? Lo mau nunggu'kan, rin?."
Lantas, arin mengalihkan pandangan. Namun, kedua pipinya merah merona dan ia mengerti maksud dari laki-laki yang ada di hadapannya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments