Tak lupa, ia gunakan helm segera. Supaya bila nanti air matanya jatuh, hal tersebut tidak terlalu ketara di mata kedua orangtuanya.
"Jas! Pokoknya semua di makan, ya? Bunda sudah tuliskan nama kamu di kotak makanannya. Simpan aja dikulkas dapur kosan kamu, ya.?"
"Ya, bun."gumam jasmine sambil menggigit lidah.
Demi tuhan, keinginan untuk menangis benar-benar menguasai diri. Tespack yang ia beli waktu itu, masih menunjukkan garis dua merah yang kini terlihat samar, ia simpan benda itu dengan berlapis tisu dan menaruhnya pada bagian ransel terdalam. Ia akan membuangnya setelah sampai di kost nanti. Atau, haruskah ia simpan sampai mati? Jasmine bingung harus berbuat apa.
"Jasmine!"
Mungkin, karena ia terlalu banyak menunduk. Atau bisa jadi, karena naluri bundanya yang terlalu luar biasa. Hingga membuat wanita separuh baya yang bernama lengkap Riana Joseph itu akhirnya memutuskan menyentuh bahu jasmine yang bergetar. Mati-matian ia menggigit bibir bawahnya. Tangannya mengepal kuat, berharap ia masih menahan laju air mata dan tak membuat pengakuan gila yang nantinya akan ia sesalkan.
"Jangan nangis lho. Nanti kalau kangen rumah, ya pulang. Kangen bunda, ya bilang. Biar bunda yang datang ke kos kamu. Nginep disana sesekali."
Jasmine hanya menjawabnya dengan anggukan di kepala. Sebab, ia takut bersuara, atau tangisnya akan pecah.
Demi tuhan, ia sudah tidak mendapatkan datang bulannya. Dan ketika ia nekat mengeceknya, benda pipih tipis menunjukkan garis dua, membuat jiwanya terasa bagai dineraka. Apakah ia harus mengatakan semua?
"Jasmine?"
Suara ayahnya menegur, membuat jasmine mau tak mau harus menatap sosok tegas itu dengan nyali mengkerut takut.
"I-iya, yah?"suaranya bergetar parah.
Kedua orangtuanya pasti tahu bahwa kini ia tengah melawan keinginan tak menangis.
"Bunda lagi ngomong itu. Kenapa nggak lihat ke bunda?"
Jasmine meneguk saliva, lalu mengangguk dan segera memalingkan wajah pada wanita yang telah melahirkannya. Dan, ketika netranya bersirobok dengan mata yang paling tulus didunia versinya. Jasmine tak lagi bisa menutupi deras air mata yang ingin tumpah.
"Bun?"
Tak kuasa menahan tangis, jasmine melepas tas ransel di punggungnya dan memeluk sang bunda dengan erat. Dia luapkan tangis, namun tetap merahasiakan alasan yang melatari terbentuknya kesesakan didada.
"Maafin jasmine, bun."bisiknya tercekat air mata.
"Hus, kok minta maaf sih? Kan kamu ninggalin bunda sama ayah demi kuliah."
Bukan karena itu, bun.
Ah, andai ia mampu mengatakannya.
"Sudah , sudah."
Jasmine merasakan tepukan lembut di punggung. Ayahnya merupakan sosok yang tegas bila itu sudah menyangkut pendidikan anak-anaknya. Tetapi, bukan berarti ayahnya adalah orang yang keras. Jasmine tahu betul seberapa sayang sang ayah padanya.
"Makanya kuliah yang bener, jas. Jangan main-main. Ingat, kamu punya orang tua yang menaruh kepercayaan besar sama kamu."
Andai ayahnya tahu, bahwa jasmine sudah mencoreng kepercayaan itu.
Demi tuhan, ia hamil.
Bagaimana ia harus hidup setelah ini.
\*\*\*\*\*\*\*
"Aka!"
"Kenapa sih, ma?"arka berdecak karena tidurnya merasa terganggu. Tepukan kuat di punggung, tak main-main sakitnya.
"Mama kenapa sih?"
Arka menggeliat dari tumpukan selimut yang baru saja ia tarik ke atas kepala. Namun, langsung mencebik lagi. Ketika selimut tebal itu ditarik darinya.
"Arka, bangun dulu. Mama mau ngomong."
Entah kenapa, arka justru menegang mendengar nada bicara sang ibu. Ia teringat peristiwa dua minggu lalu. Ketika, tiada angin dan tak ada hujan, namun ia justru dihampiri oleh hantu mengerikan di siang bolong.
"Gu-gue mau ngomong sama lo, ka."
Arka memejamkan mata, ketika suara itu tak kunjung pergi dari telinganya. Belum lagi raut wajah nelangsa yanng entah kenapa justru mencabik-cabik netra arka hingga tak bisa melupakan hari itu.
"Gu-gue hamil, ka."
Tubuh arka kembali menegang. Dengungan kalimat itu benar-benar menyusahkan akal sehatnya.
"A-anak lo, gue hamil anak lo."
Bangsat! Sontak, arka membuka matanya. Ia ingin mengumpat lagi, namun keberadaan sang mama membuat ia meregang frustrasi. Jadi, demi menyalurkan emosi, ia memilih mengacak-acak rambutnya. Selain itu, kepalan tangan mengerat kuat.
"Arka!"
"Iya, kenapa sih ma?"Ia harus berusaha tenang.
Dan kembali menyakinkan diri bahwa apa yang ia dengar dua minggu lalu adalah ilusi. Lagipula, perempuan itu bisa saja hanya membual. Membuat prank demi konten yang sekarang sangat marak dan tak manusiawi.
"Kenapa sih, ma?"
"Kamu ada masalah?"tanya sang mama dan arka menelan ludah.
"Memang, masalah apa?"
"Ya, mama nggak tahu dong. Tapi mama perhatikan, kamu sekarang kerjanya dikamar terus. Tidur terus, nggak kamu banget gini."
"Ahh, perasaan mama, aja."elak arka memutar bola mata malas.
"Arka. Mama ini kenal banget lho sama kamu. Mama tahu, pasti ada yang ganggu pikiran kamu, kan? Sampai-sampai arin datang aja selalu kamu cuekin sekarang. Kenapa sih, ka?"
Arka kepikiran, bagaimana kalau apa yang di katakan perempuan itu benar?
Siapa namanya kemarin?
Jasmine?
Bagaimana bisa ia tanpa sengaja menghamili perempuan itu?
Tetapi, mereka 'kan hanya melakukannya sekali?
Ck, sekali my ass!!
Astaga, arka mengulanginya lagi tepat malam itu.
Memang hanya dilakukan satu malam saja. Namun, arka melepaskan pelepasan sebanyak dua kali.
Satu kali, ketika memerawani cewek itu. Kemudian terjeda sebentar sembari ia menyesap sebatang rokok. Dan ketika menangkap cewek itu tertidur karena kelelahan. Nafsu binatang arka justru menggeliat tak tahu diri. Begitulah, saat akhirnya menumpahkan bukti gairahnya. Terlalu merasa puas, ia lupa memperhitungkan, bahwa cewek perawan memang bodoh.
"Aka! Kok malah melamun sih?"
"Aduh, ma! Kenapa aku di pukulin terus sih?"Ia mengeluh sambil mengusap lengannya yang terasa panas.
"Sekarang jawab mama, ka! Kamu kenapa? Mama ingat, terakhir kamu kayak gini tuh, sewaktu belajar nyetir pake mobil papi. Terus nabrak pagar tetangga, takut ketahuan, nggak mau keluar rumah setelah itu."
Dan kini, arka juga sedang ketakutan.
Bagaimana bila benar adanya?
Apa yang harus ia lakukan jika cewek itu benar-benar mengandung karena dirinya?
Hari ini adalah hari terakhir liburan. Itu artinya, besok ia akan masuk sebagai mahasiswa semester lima. Dan, kemungkinan cewek itu memburunya lagi.
Astaga arka pusing.
Keesokan harinya, dugaan arka tepat. Selesai dengan kelas pertama, arka berniat ingin ke kantin dengan teman-temannya. Tetapi langkahnya harus memberat begitu mengenali cewek yang membuatnya uring-uringan karena pengakuan sialannya tempo hari itu.
Rambutnya panjang sebatas bahu, tampak kasut seperti wajahnya yang terlihat kurang tidur. mengenakan kulot panjang dengan blouse berlengan pendek, tatapan arka justru mengarah pada area perut perempuan itu yang tertutup dengan beberapa buku yang di peluknya. Entah sengaja ingin menutupi atau emang begitulah perempuan itu terbiasa membawa buku. Masa bodo bagi arka, ia tak ingin peduli. Tetapi, pada detik berikutnya, ia justru menghela nafas panjang serta terus menatap nanar wanita tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments