Jasmine yang bodoh mengangguk kepala tanpa curiga. Mereka memesan kamar bersmaa arka tanpa berbasa-basi. Kemudian, ia naik kesana. Awalnya, ia hanya benar-benar berniat istirahat. Namun, ketika pria itu mengajaknya berbicara dengan melepas topeng di wajah. Jasmine seharusnya tahu bahwa hal tersebut adalah langkah yang salah.
Senyum arka masih terlalu memabukkan untuk dirinya yang menyukai dalam diam. Suaranya yang dalam, sungguh menyejukkan bagi dia yang kerap memandang dari kejauhan. Apalagi, saat membicarakan hobi seputar balapan dengan teman-temannya. Jasmine merasa netra arka berbinar terlalu indah. Sapuan lembut di lengan menjadi babak baru bahwa situasinya semakin berbahaya. Namun, jasmine terlalu naif, ia begitu terbuai begitu saja. Masih memandang arka seolah dewa, jasmine tersipu malu kala kecup singkat mendarat di sudut bibirnya.
Begitu saja, jasmine terlena dan seakan tak berdaya. Mabuk karena kemauannya sendiri yang ia salahkan, sebagai pelaku utama dan membawa fase yang paling berbahaya. Bahkan, ia tak bisa mengembalikan seperti semula dan jasmine menyerahkan diri sepenuhnya kala pertemuan mereka yang membuatnya lupa segalanya.
"Apa yang gue lakuin?"bisikknya pada diri sendiri sambil memutar semua memori yang ingin ia hanguskan sekejap mata.
"Jasmine, apa yang lo lakuin semalam?"ucap lirih jasmine dan kembali air matanya mengalir.
Kepalanya tertunduk sementara satu tangan berhasil menjambak rambutnya yang panjang.
"Lo sudah mengecewakan bunda sama ayah, jas."katanya dalam diri sendiri.
Bayangan kedua wajah orang tuanya yang membuat jasmine merasa semakin gelisah. Segala petuah yang diberikan ayahnya ketika mulai ia memasuki bangku kuliah. Kini, bak palu yang menghantam jiwa. Bahkan, bunda juga bilang agar berhati-hati dalam pergaulan. Tetapi, lihat dirinya saat ini, rasa suka dalam diam membuatnya mengambil jalan yang salah.
"Maafin jasmine, bunda."bisiknya tercekat rasa bersalah.
"Maafin jasmine. Yah."bisiknya benar-benar merasa bersalah. Ia tahu ayahnya tak akan pernah memaafkannya dengan mudah bila pria paruh baya itu mengetahui kelakuannya.
Melangkah menuju shower, jasmine berusaha membersihkan seluruh tubuhnya yang kotor dengan sabun sebanyak-banyaknya. Menggosok kulitnya begitu kuat, derai air mata tentu saja mengikuti tiap geraknya kala menyucikan diri. Namun, semua itu tidak membuatnya merasa lebih baik.
Keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang ia kenakan semalam yang membuat jasmine menelan ludahnya begitu gugup. Dia tak tahu harus bersikap seperti apa. Tetapi, ia sudah mempersiapkan diri. Setelah pintu terbuka dan netranya mulai terangkat, ia tak menemukan siapapun disana. Ia mencoba mengerjap beberapa kali, mulai memindai seluruh tempat dan arka tidak ada disana.
Deg...
Arka yang tidak ada di kamar, membuat detak jantungnya seakan berhenti. Apa inikah dari hasil semuanya?. Dengan perlahan, jasmine membuka bibirnya sementara langkahnya tertatih kaku.
"Ar-ka!!."jasmine mencoba memanggil. Namun, yang meluncur dari bibirnya justru cicit yang mengganggu.
"Arka!!"
"Arka!!!"Teriak jasmine yang lebih menantang, tetapi tidak mendapat sahutan. Disitulah, jasmine tahu bahwa ia telah tamat dan masuk ke dalam hidup baru yang tak berujung.
*************
"Akhirnya, kelar juga ini ujian. Kesel gue main dag dig dug mulu, njirr."keluh marvel sembari menguap.
"Kayak lo belajar aja, njirr"sahut Sean yang mengambil sebatang rokok yang di tawarkan kenzo."
"Tapi memang benar, kalau ujian itu benar-benar hawannya beda banget ege."ujar ipul.
"Kayak hawa neraka yang manggil manusia gitu'kan maksud lo?"kekeh kenzo sambil bertanya pada ipul yang duduk atas motor sedangkan yang telah melompat di atas kapal mobil berwarna silver hitam.
Kembali berada di parkiran, bedanya kali ini mereka berada di parkiran khusus roda empat.
"Jadi kemana nih kita ngisi liburan? Sebulan yok pergi yang jauh."cetus ipul sambil menghisap sebatang rokok yang berada disela jari telunjuk dan jari tengah.
Sementara para sahabatnya sibuk merencanakan liburan panjang, justru lain halnya dengan arka yang tak kunjung membuka suara. Sepanjang minggu ini, ia didera rasa penasaran tingkat dewa. Bahkan, ia tak bisa belajar sama sekali. Karena, ia pun tak pernah melakukannya. Arka merasa suntuk luar biasa ketika tidak dapat menemukan jawaban atas rasa penasarannya tersebut.
"Aka!!"Ucap marvel menegur arka yang sedari tadi diam sambil memandangi ponselnya.
"Kasih masukan dong, ka. Liburan kemana enaknya."imbuh ucapan marvel yang menanyakan tentang liburan.
"Atur kalian aja, deh."sahut arka yang tidak tertarik.
"Bentar, gue mau ketemu sama si agus dulu."imbuh penjelasan arka sambil menunjuk pada cowok berkaos hitam yang tengah berjalan ke arah mereka.
Kemudian, arka menghampiri sang panitia dream partner yang sedang bersama para anggota timnya. Seketika, arka menampilkan raut wajah setengah malas serta memasang topeng wajah seolah berpura-pura ingin tahu sesuatu demi antusiasnya.
"Susah banget sih ngehubungi, lo."tembak arka langsung to the point.
"Emang mau ngapain, sih? Tumbenan lo nguber gue?"tanya agus yang hanya mengedik bahu.
Sedikit melirik pada teman-temanya di belakang, arka memberi isyarat pada agus agar sedikit menjauh dari teman-temannya.
"Gue ada perlu!"
"Apaan?"
Sembari menghela nafas, demi rasa penasaran yang membuncah, arka harus membuang rasa gengsinya. Dia benar-benar terusik dengan fakta bahwa gadis yang bersamanya hari itu, bisa meninggalkan begitu saja setelah drama tangisannya terdengar dari kamar mandi. Padahal, arka sampai repot sebagainya dengan memesankan sarapan untuk mereka. Dia hanya keluar sebentar pagi itu untuk menarik sejumlah uang di mesin ATM. Dan, beberapa saat ia kembali ke kamar gadis itu sudah lenyap.
"Semua cewek yang ikut acara kampret lo malam itu, anak-anak Gading Raya?"
"Ya, iyalah. Gue nggak gila kali ngikutin anak kampus lain buat jadiin umpan kalian."jawab agus begitu santai.
"Kenapa? Lo naksir partner lo? Bahkan gue denger dari anggota gue, lo bawa dia ngamar semalam?"tanya agus yang membuat arka mendengkus kesal dan menendang sepatu agus dengan cukup keras.
"Itu anak cewek fakultas mana, hah?"
"What? Kenapa?"sahut agus yang langsung merubah mimik wajah jenaka.
"Apa? Lo naksir beneran?"
"Enak aja. Dia nyolong sesuatu dari gue!"kilah arka dengan cepat.
"Wah nyolong Apaan itu? Duit? Atau k*ndom lo yang ketinggalan di dalam?"
"Bangsat!!"Geram arka sambil menendang kaki agus dan membiarkan pemuda itu mengadu kesakitan.
"Namanya Beccanoer. Gue yakin itu nama samaran. Gue butuh infonya sebelum libur semester, gus. Jadi, lo harus mesti gerak cepet."
"Terus yang gue dapet dari lo, Apaan?"tantang agus kemudian.
"Apapun yang lo minta deh, gus. Kalau lo mau duit, gue ada sepuluh juta."
"Ahh,,, lo pelit!."
"Bodo amat!"sahut arka dengan santai.
"Pokoknya infoin gue secepatnya, gus."imbuh ucapan arka.
Sebaliknya agus hanya mengangguk-anggukan saja. Hingga ekor matanya tertarik menatap seorang cewek yang tampaknya berjalan ke arah mereka. Seringainya tiba-tiba saja terbit. Dia menggoda arka dengan menaik turunkan alisnya.
"Jadi sebagai imbalan gue nggak perlu duit, ka."
"Jadi, apa mau lo?"
Kemudian, Agus bersiul sembari memberi kode pada arka melalui ekor mata.
"Nomor ponsel arin, murah kan?"cetus agus.
Detik itu juga dan tak perlu berpikir ulang, arka langsung menghajar agus dengan membabi buta. Saat itu juga, ia menyesal. Persetan dengan identitas Beccanoer, tetapi ada Arin yang harus benar-benar ia lindungi dan ia jaga sepenuh hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments