Menantang

Aksa mengikuti Saras naik ke lantai 2 dengan riang gembira. Saat sudah sampai di kamar yg dituju, Saras langsung menutup pintu dan melipat kedua tangan di dada.

"Mau mu apa sih? Hah? Apa kamu tidak takut jika ayah dan ibu tau hubungan kita?" tanya Saras dengan amarah.

"Hubungan apa yang kamu maksud? Aku disini sebagai anak tirimu kan, mereka juga tau" jawab Aksa enteng.

"Ck, jika kamu tidak tau batasan seperti ini, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi" ancam Saras namun Aksa malah memberikan senyuman smirk dan berjalan mendekat.

"Oh begitu. Kamu tidak ingin bertemu denganku lagi? Apakah ayahku sanggup membuatmu bahagia?" tantang Aksa sambil membelai pipi kanan Saras yang tadi siang ditampar oleh Arman didepan matanya.

"Aku tau jika ayahku tidak bersikap baik padamu. Tadi siang aku melihat ayahku menamparmu, bukan? Kenapa?" lanjutnya lalu mencium pipi kanan Saras.

Cup.

Saras pun mendorong dada Aksa namun tidak berhasil membuat pria itu menjauhkan posisinya.

"Jujurlah, bagaimana pria tua itu memperlakukanmu? Ceritalah padaku" ucap Aksa lagi.

"Aku tidak mau cerita dan biar kan aku pergi" sahut Saras memalingkan wajah kesamping.

Tiba tiba Aksa langsung mencium leher Saras tanpa izin dan tangannya meremas salah satu aset kembar yg masih terbungkus kain dress rumahan.

Sentuhan Aksa benar benar membuat Saras tak berdaya. Tadi marah marah, sekarang sudah melunak dan tidak memberontak mendapatkan ciuman dan sentuhan dari pria yg mendorongnya di balik pintu ini.

"Kamu suka kan? Aku rasa ayahku tidak memberikan sentuhan seperti ini" lirih Aksa memancing Saras.

Namun ketika tangan Aksa menerobos ke bawah dress, tangannya ditahan oleh Saras.

"Biarkan aku turun dulu. Aku akan kesini jika sudah tengah malam" ucapnya lalu mendorong tubuh Aksa dan dirinya berhasil keluar kamar.

"Hahaha, dasar wanita malu tapi mau" lirih Aksa.

Saras pun turun dari kamar lantai 2 dan mengatur nafasnya. Ia masuk kamar dan sengaja menutup pintu kamarnya lebih keras agar orang tuanya tau kalau dia sudah masuk.

"Pak, aku lebih suka kalau Aksa jadi menantu kita loh" ucap Wanda kepada Arif.

"Hust! Aksa udah jadi cucu kita, anak dari putri kita. Jangan ngawur kalau ngomong" sahut Arif.

"Tapi..." sela Wanda.

"Nggak ada tapi tapian bu, kalau sekarang ada hubungan diantara Aksa dan Saras hanya hubungan anak dan ibu tiri" lanjut Arif.

Wanda pun terdiam sambil melanjutkan memijat punggung sang suami.

.

Sesuai janji Saras, ia naik kembali ke lantai 2 di kamar Aksa ketika jam sudah pukul 12 malam lebih. Dia sudah mengganti dressnya dengan dress yg lebih bagus dan wangi tentunya.

Ketika sampai didepan kamar, ternyata pintunya tidak tertutup rapat dan Saras langsung masuk.

"Kemana dia kok tidak ada?" lirih Saras mencari keberadaan Aksa yg tidak ada di pandangannya, padahal pria itu berdiri dibelakangnya karena tadi bersembunyi di balik pintu.

Greeep..

Tiba tiba, Aksa menutup dan mengunci pintu lalu memeluk Saras dari belakang tanpa sempat wanita itu berbalik menatapnya.

"Akh! Kamu bikin kaget aja" protes Saras.

"Kejutan" sahut Aksa.

"Wangi banget kamu" lanjutnya sambil mencium leher sang wanita yg ia peluk.

"Aku hanya menyeimbangkan diri dengan wangi tubuhmu" sahut Saras dengan senyuman smirk.

"Kamu tidak lelah kah?" tanya Aksa dan Saras pun menggelengkan kepala lalu membalikkan tubuhnya.

Cup.

Saras mencium Aksa terlebih dahulu.

"Wah mulai nakal nih, ibu tiriku" ejek Aksa.

"Kamu ajarin" sahut Saras tak ingin kalah.

Lalu Aksa yg sudah gemes membalas kecupan itu menjadi ciuman penuh gairah. Saras pun menerimanya dengan senang hati.

Aksa mengiring tubuh mereka berdua mendekati ranjang dan meletakkan tubuh Saras berlahan di atasnya.

Tangan kekar Aksa mulai membantu melepas kain yang menutupi tubuh cantik Saras hingga polos, sedangkan Saras membantu Aksa melepas celana boxer dan kaosnya.

Yap, Aksa membawa baju ganti di ransel yang ia bawa tadi. Ia membelinya di store baju sebelum bertemu Bobi tadi.

Setelah senjatanya berdiri, Aksa langsung memakaikannya pengaman yg ia sengaja bawa karena jika berdekatan bersama Saras, keinginan untuk mengeluarkan benihnya tak terbendung. Maklum 2 tahun setelah malam di Bogor, ia tidak bermain dengan wanita lain di New York.

"Siap yaaaa??? Aku masuk nih" ucap Aksa.

Saras pun mengangguk saja dengan senyuman manis dari bibirnya. Aksa langsung mencium bibir wanita dibawahnya dan berusaha memasukkan senjatanya.

Blupp.. berhasil masuk dan ia gerakan tubuhnya berlahan.

Suara gairah mereka berdua terperangkap dalam ciuman yg membara. Tangan Saras memeluk punggung Aksa dengan kuat.

Sekitar 15 menit kemudian, Aksa merasakan akan meledakan gairahnya dibawah dan Saras pun merasakan hal yang sama.

"Bareng bareng ya" minta Aksa dan "aaaaaakh!!!" suara keduanya terlepas bersama hingga mereka sadar seharusnya tak mengeluarkan suara sexy sebebas itu mengingat ada orang tua di lantai 2.

"Ayah ibu mu tidak dengar kan?" tanya Aksa sedikit panik karena kelepasan.

"Semoga tidak" jawab Saras dengan senyum lalu tertawa membuat Aksa heran.

"Hahahhahaha" tawa Saras.

"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu? Kalau ketauan gimana?" tanya Aksa terlihat mulai panik.

"Ternyata kamu takut juga kan kalau ketahuan. Gitu pake nantang tadi" ejek Saras.

"Hehe, ternyata membayangkan kepergok sama ayah ibumu membuatku cukup takut" jujur Aksa sambil melepaskan pengamannya yg sudah terisi. Lalu mengikatnya dan ia berniat membuangnya disampah yg selalu tersedia di kamar yg ia huni.

Ketika sudah berdiri dengan senjata yg mengantung, Aksa kebingungan mencari sampah.

Saras tau apa yang dicari oleh pria itu dan menahan tawanya.

"Eh, dikamar ini gak ada sampah?" tanya Aksa.

"Gak ada. Taruh aja di bawah tempat tidur, nanti aku bawa turun waktu keluar kamar. Sini, aku tidak bisa menahan tawaku lagi jika kamu berdiri dengan polosnya tanpa memperhatikan senjatamu yg loyo itu" jawab Saras sambil berniat menggoda Aksa yang tidak sadar jika senjatanya yg tak tertutup apapun itu membuat wanita di ranjangnya merasa terhibur.

"Oh gitu? Oh kamu meremehkan senjataku yg loyo ini ya? Okeee, akan aku buktikan bahwa loyo loyo tapi mampu membuatmu bersuara indaaaah" sahut Aksa sambil tersenyum smirk lalu menaruh pengaman yg sudah iikat dibawah tempat tidur dan meloncat di ranjang lagi, kembali menggoda Saras.

Mereka seperti anak muda yg saling menggoda, menyentuh, dan melayani di ranjang yg sama. Hingga tak bisa melewatkan ronde dua permainan bergairah.

Saat sudah selesai bermain, Aksa pun meletakkan pengaman kedua yg sudah terisi dibawah tempat tidur dan kembali keatas ranjang dengan berbaring disisi Saras yg langsung memeluknya.

"Oh ya, aku mau tanya. Luka luka punggungmu setelah aku cakar waktu pertama kali kita bermalam apakah sudah sembuh sekarang?" tanya Saras tiba tiba karena penasaran.

"Ya sudah sembuhlah. Sudah 2 tahun, tapi meninggalkan bekas cakaran wanita ganas" jawab Aksa.

"Kamu mau lihat?" tawarnya.

"Iya, aku mau lihat. Aku ingat soalnya malam itu kuku ku cukup panjang dan aku merasa menancapkannya di punggungmu" sahut Sekar yg sudah duduk terlebih dahulu lalu Aksa pun duduk membelakangi.

"Sudah bisa melihatnya?" tanya Aksa.

"Ya. Ada 1 garis putih yg terlihat masih jelas sebagai bekas luka" jawab Sekar jujur.

"Itu bekas cintamu padaku, jadi aku tidak keberatan hahaha" goda Aksa membuat Sekar pun kesal dan memukul punggungnya.

Plak..

"Awww! Sakit Beb!" rintih Aksa.

"Biarin" kesal Saras lalu membaringkan tubuhnya lagi membut Aksa gemas dan memeluknya dari belakang.

"Kayaknya kalau berdua aja , aku bakal sering manggil kamu beb, gapapa kan?" tanya Aksa.

"Terserah" sahut Saras masih kesal tapi hatinya bahagia.

"Oke, beb. Tidurlah, pasti capek" ujar Aksa.

Mereka pun tertidur bersama meskipun entah untuk beberapa lama.

Episodes
1 Aku ingin Ibu Tiri
2 Salah tapi Nikmat
3 Sahabat panutan
4 Bingkisan Sarapan
5 Resepsi Mewah
6 Tak senikmat bersamanya
7 Pernah keguguran
8 Panasnya Gudang
9 Tak ingin keluar didalam
10 Pria panggilan
11 Menginap
12 Menantang
13 Kenapa tidak menikah denganku?
14 Buat lah aku hamil
15 Datang bulan
16 Hinaan untuk istri
17 Emang udah gila
18 Double Date
19 Cek kesuburan
20 Permainan belum selesai
21 Berpisah di bandara
22 Setuju
23 Terlalu cepat
24 Suami tua temperamen
25 Keluar malam
26 Membujuk suami
27 Rencana cerai
28 Semakin yakin bercerai
29 Murka
30 Terdampar di tepi sungai
31 Saras siuman
32 Akrab
33 Amnesia
34 Berteman
35 Memberi kabar
36 Saling terhubung
37 Vila menawan
38 Sah Menikah!
39 Memberi jarak
40 Membuka kembali
41 Terhenti tengah jalan
42 Menemukan passion lain
43 Enaknya Indomie
44 Hujan tapi Panas
45 Ngumpul di Vila
46 Berjalan baik
47 Pria mencurigakan
48 Mulai bekerja
49 Masuk perangkap
50 Kopi Asin
51 Bebas menyembur
52 Sky Lounge
53 Kabar bahagia
54 Tertangkap Basah
55 Kerjasama rahasia
56 Mantan kekasih
57 Syukuran Baby Boy
58 Kembali bersama (Julia&Gun)
59 Dibayar dengan nyawa
60 Ke Bandung
61 Obrolan Wanita
62 Ganti kaki tangan
63 Bukti datang
64 Kebakaran
65 Sidang hukuman
66 Ingatan yang kembali
67 Lahiran karena penyusup
68 Happy di New York
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Aku ingin Ibu Tiri
2
Salah tapi Nikmat
3
Sahabat panutan
4
Bingkisan Sarapan
5
Resepsi Mewah
6
Tak senikmat bersamanya
7
Pernah keguguran
8
Panasnya Gudang
9
Tak ingin keluar didalam
10
Pria panggilan
11
Menginap
12
Menantang
13
Kenapa tidak menikah denganku?
14
Buat lah aku hamil
15
Datang bulan
16
Hinaan untuk istri
17
Emang udah gila
18
Double Date
19
Cek kesuburan
20
Permainan belum selesai
21
Berpisah di bandara
22
Setuju
23
Terlalu cepat
24
Suami tua temperamen
25
Keluar malam
26
Membujuk suami
27
Rencana cerai
28
Semakin yakin bercerai
29
Murka
30
Terdampar di tepi sungai
31
Saras siuman
32
Akrab
33
Amnesia
34
Berteman
35
Memberi kabar
36
Saling terhubung
37
Vila menawan
38
Sah Menikah!
39
Memberi jarak
40
Membuka kembali
41
Terhenti tengah jalan
42
Menemukan passion lain
43
Enaknya Indomie
44
Hujan tapi Panas
45
Ngumpul di Vila
46
Berjalan baik
47
Pria mencurigakan
48
Mulai bekerja
49
Masuk perangkap
50
Kopi Asin
51
Bebas menyembur
52
Sky Lounge
53
Kabar bahagia
54
Tertangkap Basah
55
Kerjasama rahasia
56
Mantan kekasih
57
Syukuran Baby Boy
58
Kembali bersama (Julia&Gun)
59
Dibayar dengan nyawa
60
Ke Bandung
61
Obrolan Wanita
62
Ganti kaki tangan
63
Bukti datang
64
Kebakaran
65
Sidang hukuman
66
Ingatan yang kembali
67
Lahiran karena penyusup
68
Happy di New York

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!