Kenapa tidak menikah denganku?

Aksa bangun bangun tidak mendapati Saras disampingnya. Lalu ia buru buru melihat jam di handphonenya.

"Shit! Udah jam 6! Pak Arif dan Bi Wanda pasti udah bangun" ucapnya panik lalu segera turun dari ranjang dan berniat untuk mandi. Namun ia mengingat pengamannya yg ia taruh di bawah tempat tidur.

Dan saat ia lihat disana sudah tidak ada berarti Saras sudah membuangnya.

"Untung saja. Hampir kelupaan" lanjutnya lagi merasa lega.

Aksa pun memutuskan mandi sebelum turun ke bawah.

Didapur sudah terdengar bunyi masakan yang dibuat oleh Saras. Orang tuanya sudah pergi kesawah sejak habis subuh jam 5 pagi. Ia keluar kamar Aksa jam 3 pagi, sebelum ayah ibunya bangun.

Hari ini hari minggu jadi besok pagi dia harus segera kembali ke Jakarta untuk bekerja dan kembali ke rumah utama Abimanyu.

30 menit kemudian, Aksa turun ke lantai bawah dengan pakaian casual rapi bersamaan dengan Saras sudah menata sarapan di meja makan.

"Wah aromanyaa enak banget. Kamu yang masak?" tanya Aksa.

"Siapa lagi. Kalau bukan aku , siapa yang kamu harapkan disini memasak untukmu?" sindir Saras.

"Yaampun pagi pagi udah galak banget nih Nyonya Abimanyu" balas Aksa tak kalah senggit.

"Udah ngejeknya. Ayo makan, mumpung masih hangat" ajak Saras yg duduk duluan di kursi meja makan dan Aksa pun menyusul duduk dihadapannya.

"Ini seafood yang kamu beli hari Jumat malam itu ya? Ikan salmon bukan?" tanya Aksa.

"Iya. Sisa kemarin. Tapi masih enak apalagi aku yg masak" sombong Saras memanerkan diri.

"Okee, akan aku buktikan enak nggaknya ya" sahut Aksa.

Satu suapan berhasil masuk ke mulut pria itu dan beneran enak.

"Wah beneran enak. Lebih enak daripada masakan bibi hehe. Tapi lebih enak masakan ini dimasak istriku bukan ibu tiriku" ucap Aksa membuat Saras tersedak.

Uhuuk..uhukk..uhuk..

Aksa panik dan langsung membantu mengambil minum untuk Saras.

"Maafkan aku" ucap Aksa merasa bersalah.

"Sekali lagi kamu bilang begitu, aku benar benar tidak ingin bertemu denganmu lagi, Aksa" ancam Saras serius membuat Aksa takut jika beneran terjadi.

"Iyaa, keceplosan hehe" sahut Aksa mencoba bercanda dan mencairkan suasana.

"Jangan marah please. Masa enak makan sambil marah marah" bujuk Aksa ketika melihat wajah Saras cemberut.

"Kamu sih merusak suasana" ujar Saras lalu ia pun melanjutkan sarapannya dan Aksa pun sama. Mereka menikmati sarapan tanpa berbicara lagi sampai selesai.

"Sini aku yg beresin" tawar Aksa sambil berniat mengambil piring kosong milik Saras.

"Gak usah, biar aku aja. Nanti nyuci piringmu gak bersih" sahut Saras yg mengambil alih pirinh kosong milik Aksa.

"Dasar wanita yg selau meremehkan kemampuan rumahan para pria mandiri" cibik Aksa kesal dan Sekar pun tersenyum.

Tak lama kemudian, Saras sudah membersihkan piring kotor dan alat masak yg telah ia pakai, kembali ke ruang makan dan melihat meja makan sudah bersih dan rapi. Membuat wanita ini bahagia karena Aksa cukup bisa diandalkan dalam mengurus rumah.

Lalu ia berjalan ke depan rumah dan melihat Aksa sedang duduk disana.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Saras.

"Aku hanya menikmati udara pagi pedesaan" jawab Aksa.

Saras pun duduk disamping Aksa. Sepertinya momen ini tepat untuk saling mengobrol.

"Sudah dua tahun aku sengaja menjauhimu dan ayah, Ras" ucap Aksa tiba tiba.

"Yah, sudah 2 tahun aku tidak pernah melihatmu pulang kerumah" sahut Saras.

"Kamu tau apa yang kurasakan ketika memutuskan ke luar negeri untuk menghindari kalian?" tanya Aksa dan Saras menggeleng.

"Aku sungguh tidak rela, wanita sebaik dan selembut kamu menikah dengan pria tua itu" jawab Aksa dengan sendirinya.

"Tapi aku sudah menikah dengan ayahmu dan itu tidak semudah itu dibatalkan" sahut Saras.

"Aku sangat penasaran dengan keputusanmu ini, kenapa kamu mau menikahi ayahku? Apa kebaikannya? Apa kamu mengincar hartanya? Atau karena ingin balas dendam kepadanya karena ketika ibuku meninggal ayahku begitu menyiksa Pak Arif?" tanya Aksa memberikan beberapa pertanyaan sekaligus.

"Kamu tidak perlu tau, Aksa. Meskipun kamu tau pun, tidak merubah statusku saat ini" jawab Saras.

"Salah. Jika aku tau alasanmu menikahi ayahku, mungkin aku bisa membantumu. Jika karena kebaikan ayahku, kamu seharusnya menikahiku dan menjadi menantu yang baik untuknya. Jika mengincar hartanya, seharusnya kamu bisa menikahiku untuk mendapatkan warisanku, jika ingin balas dendam seharusnya kamu pun bisa menikahiku untuk menjadikanku alat balas dendammu tanpa mengorbankan dirimu sendiri" jelas Aksa dengan wajah yang serius.

"Sudah terlambat. Aku tidak bisa menarik keputusanku lagi" ujar Saras.

Aksa pun lelah menjelaskan perasaanya pada Saras dan menghembuskan nafas kasar.

"Baiklah jika begitu. Sepertinya aku tidak memiliki status yg lain selain menjadi anak tirimu" ucap Aksa dengan senyuman smirk lalu ia berdiri.

"Mau kemana kamu?" tanya Saras sambil memegang tangan Aksa.

"Aku akan kembali ke Jakarta" jawab datar pria itu lalu berjalan naik ke lantai 2 dan mengambil barang barangnya.

Saras hanya terdiam di depan rumah karena ia masih kebingungan harus menahan Aksa dengan alasan apa.

Beberapa saat kemudian, Aksa turun sambil membawa ranselnya dan keluar rumah orang tua Saras. Ia tidak menoleh lagi kepada Saras dan berjalan menuju luar gang dimana mobilnya masih ia parkirkan di halaman rumah orang.

Saras berdiri dengan wajah sedih. Hanya melihat punggung Aksa yang pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun, membuatnya merasa sakit di hati.

Aksa berjalan melalui jalan desa menuju mobilnya dengan perasaan kesal. Namun ketika bertemu bapak2, ia ingat jika dirinya berniat memasangkan lampu di sepanjang jalan itu.

"Permisi pak" sapa Aksa.

"Oh iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya bapak bapak itu.

"Mohon maaf sebelumnya, anda warga sini?" tanya balik Aksa.

"Betul. Saya asli orang disini, ini saya habis belanja sayuran untuk istri saya yg sedang hamil" jawab bapak bapak itu.

"Syukurlah. Perkenalkan saya Aksa, saudara dari keluarga Pak Arif" ujar Aksa.

"Oh Pak Arif yang mantunya pria kaya di Jakarta itu ya? Saya Gunawan, Mas. Ada yg bisa saya bantu?" tanya Gunawan lagi.

"Iya pak, mohon maaf merepotkan. Saya tidak bisa meminta tolong langsung ke Pak Arif karena ingin memberikan kejutan. Saya bisa nitip salam ke RT/RW untuk jalan ini dipasang lampu ya, karena tadi malam saya lewat sini gelap bange. Hanya cuma ada satu lampu redup" jawab Aksa.

"Boleh boleh, Mas. Sebenarnya pemasangan lampu disini sudah dianggarkan tapi biasa mbulet kalau soal uang begitu" sahut Gunawan.

"Oke, pak. Saya kasih kartu nama saya, mohon sampai rumah nanti bapak chat saya ya" minta Aksa sambil memberikan kartu namanya.

"Baik mas, sebelumnya saya juga terima kasih banyak atas niat baiknya. Nanti saya chat kalau sudah sampai rumah" sahut Gunawan.

Aksa pun pamit untuk melanjutkan perjalanannya menuju mobil, sedangkan Gunawan pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah.

Episodes
1 Aku ingin Ibu Tiri
2 Salah tapi Nikmat
3 Sahabat panutan
4 Bingkisan Sarapan
5 Resepsi Mewah
6 Tak senikmat bersamanya
7 Pernah keguguran
8 Panasnya Gudang
9 Tak ingin keluar didalam
10 Pria panggilan
11 Menginap
12 Menantang
13 Kenapa tidak menikah denganku?
14 Buat lah aku hamil
15 Datang bulan
16 Hinaan untuk istri
17 Emang udah gila
18 Double Date
19 Cek kesuburan
20 Permainan belum selesai
21 Berpisah di bandara
22 Setuju
23 Terlalu cepat
24 Suami tua temperamen
25 Keluar malam
26 Membujuk suami
27 Rencana cerai
28 Semakin yakin bercerai
29 Murka
30 Terdampar di tepi sungai
31 Saras siuman
32 Akrab
33 Amnesia
34 Berteman
35 Memberi kabar
36 Saling terhubung
37 Vila menawan
38 Sah Menikah!
39 Memberi jarak
40 Membuka kembali
41 Terhenti tengah jalan
42 Menemukan passion lain
43 Enaknya Indomie
44 Hujan tapi Panas
45 Ngumpul di Vila
46 Berjalan baik
47 Pria mencurigakan
48 Mulai bekerja
49 Masuk perangkap
50 Kopi Asin
51 Bebas menyembur
52 Sky Lounge
53 Kabar bahagia
54 Tertangkap Basah
55 Kerjasama rahasia
56 Mantan kekasih
57 Syukuran Baby Boy
58 Kembali bersama (Julia&Gun)
59 Dibayar dengan nyawa
60 Ke Bandung
61 Obrolan Wanita
62 Ganti kaki tangan
63 Bukti datang
64 Kebakaran
65 Sidang hukuman
66 Ingatan yang kembali
67 Lahiran karena penyusup
68 Happy di New York
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Aku ingin Ibu Tiri
2
Salah tapi Nikmat
3
Sahabat panutan
4
Bingkisan Sarapan
5
Resepsi Mewah
6
Tak senikmat bersamanya
7
Pernah keguguran
8
Panasnya Gudang
9
Tak ingin keluar didalam
10
Pria panggilan
11
Menginap
12
Menantang
13
Kenapa tidak menikah denganku?
14
Buat lah aku hamil
15
Datang bulan
16
Hinaan untuk istri
17
Emang udah gila
18
Double Date
19
Cek kesuburan
20
Permainan belum selesai
21
Berpisah di bandara
22
Setuju
23
Terlalu cepat
24
Suami tua temperamen
25
Keluar malam
26
Membujuk suami
27
Rencana cerai
28
Semakin yakin bercerai
29
Murka
30
Terdampar di tepi sungai
31
Saras siuman
32
Akrab
33
Amnesia
34
Berteman
35
Memberi kabar
36
Saling terhubung
37
Vila menawan
38
Sah Menikah!
39
Memberi jarak
40
Membuka kembali
41
Terhenti tengah jalan
42
Menemukan passion lain
43
Enaknya Indomie
44
Hujan tapi Panas
45
Ngumpul di Vila
46
Berjalan baik
47
Pria mencurigakan
48
Mulai bekerja
49
Masuk perangkap
50
Kopi Asin
51
Bebas menyembur
52
Sky Lounge
53
Kabar bahagia
54
Tertangkap Basah
55
Kerjasama rahasia
56
Mantan kekasih
57
Syukuran Baby Boy
58
Kembali bersama (Julia&Gun)
59
Dibayar dengan nyawa
60
Ke Bandung
61
Obrolan Wanita
62
Ganti kaki tangan
63
Bukti datang
64
Kebakaran
65
Sidang hukuman
66
Ingatan yang kembali
67
Lahiran karena penyusup
68
Happy di New York

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!