Panasnya Gudang

Sesuai izinnya tadi pagi saat sarapan, Saras pulang kerja pukul 5 sore dan langsung pergi ke Bandung tanpa sang suami. Ia mengendarai mobil sendiri.

Diam diam, Aksa mengikuti mobil BMW milik Saras menuju Bandung.

"Ngapain dia ke Bandung? Sendirian lagi? Dimana pria tua itu?" lirih Aksa ketika masuk ke tol arah Bandung.

Didalam rasa penasarannya, ia tetap mengikuti Saras dari belakang.

Saras menyalakan musik keras di radio mobilnya untuk menyalurkan rasa kesal dan marahnya kepada Arman. Sepertinya dia sudah capek diperlakukan sebagai mesin anak. Ia tidak menyadari bahwa ada mobil sport yg mengikutinya.

Ketika keluar tol Bandung, Saras berhenti ke supermarket untuk membelikan bingkisan buat orang tuanya.

Aksa pun ikut parkir di supermarket dan tiba tiba terpikir untuk membuat drama pertemuan yang tidak disengaja disana.

"Bagus juga buat cerita pertemuan disini daripada menculiknya lagi" lirih Aksa sambil tersenyum licik dan penuh siasat. Ia pun turun dari mobilnya dan masuk ke supermarket. Pria ini juga mengambil keranjang untuk tempat ia menaruh barang2 belanjaannya biar aktingnya terlihat beneran.

Ketika sudah mengambil barang secara acak, Aksa mulai mencari keberadaan Saras dan akhirnya melihat wanita itu sedang memilih seafood mentah yg ia rencanakan untuk dibuat sarapan besok.

Aksa sengaja berdiri disamping Saras yg menunggu udang dan salmonnya dibungkus oleh karyawan supermarket.

"Aroma ini" batin Saras yang refleks menoleh ke samping dan melihat Aksa yang sudah berdiri disamping sambil menatapnya dengan senyuman.

"Hi" sapa Aksa.

Saras terkejut dan dia pun memundurkan langkah kakinya hingga tak tau jika ada anak kecil yang berlari kearahnya dan membuatnya hampir ditabrak anak kecil itu. Secepat kilat Aksa menarik tangan Saras kepelukannya.

"Hampir saja kamu ditabrak oleh anak kecil itu" lirih Aksa di telinga Saras, seperti berbisik manja.

Saras langsung mendorong tubuh Aksa dan membalikkan tubuhnya melihat anak kecil itu.

"Maaf maaf mbak, anak saya memang suka lari larian padahal sudah saya larang. Saya minta maaf" ucap ibu anak kecil itu yang merasa bersalah.

"Oh bukan masalah, bu. Namanya juga anak kecil, maklum kalau aktif. Istri saya juga tidak apa apa" sahut Aksa dengan ramah sambil meraih pinggang Saras.

"Kalian sepertinya pengantin baru, romantis banget. Semoga segera diberikan momongan ya mas dan mbak, pasti cantik dan ganteng" sahut ibu ibu tadi.

Aksa tersenyum puas dan begitu bahagia sedangkan Saras memilih memberikan senyuman tipis yang dipaksakan.

Ibu ibu tadi pun berjalan sambil mengandeng anaknya agar tidak lari larian. Saat ibu itu sudah menjauh, Saras melepaskan diri dari rengkuhan Aksa dan berkata "Apa apan kamu? Bisa bisanya kamu mengatakan hal yang menjijikan seperti itu? Aku ibu tirimu"

Aksa hanya tertawa kecil.

"Hahaha iya kamu ibu tiriku yang akan aku jadikan istriku" sahutnya enteng.

"Permisi, ibu. Ini seafoodnya" sela petugas supermarket memberikan pesanan Saras.

"Terima kasih" ucap Saras langsung mengambil bingkisan itu dan berjalan menjauh dari Aksa, namun pria ini begitu pantang menyerah.

Ia mengikuti dari belakang setiap langkah Saras hingga membuat wanita itu meledakan amarah.

"Stop! Bisa gak usah ikutin aku! Aku beneran gak suka diikuti sama kamu! Pergi nggak!" seru Saras di lorong supermarket. Untung lagi sepi didaerah itu.

"Hei, jangan pake nada tinggi begitu. Didengar orang, gak enak. Kayak suami istri yang bertengkar aja. Lagian aku gak sengaja ketemu kamu disini. Kalau aku mau nemuin kamu, ngapain nunggu 2 tahun baru ketemu" sahut Aksa santai.

Saras terdiam dan ia sudah lelah berdebat, lalu memilih untuk segera menyelesaikan belanjanya.

Ia berjalan ke kasir dan tetap diikuti oleh Aksa.

Mereka berada di kasir berbeda yang bersebelahan. Karena belanjaan Aksa lebih sedikit, ia pun duluan menyelesaikan pembayaran. Saras memberikan tatapan tajam saat Aksa melewatinya terlebih dahulu menuju parkiran.

"Hmmm, kenapa bisa bertemu dia disini ya" batin Saras tak percaya.

Ketika dirinya sudah selesai membayar, Saras pun keluar supermarket dan berjalan menuju mobilnya. Namun saat ia sudah sampai, eh Aksa sudah bersandar di pintu mobil miliknya.

"Ngapain kamu ganggu aku terus?" tanya Saras yg lebih memilih memakai nada datar daripada tinggi karena menguras tenaganya yg sudah lelah.

"Aku merindukanmu" jawab santai Aksa.

"Aku tidak peduli denganmu, minggir" sahut Saras.

"Aku hanya ingin menatapmu saja, Saras. Aku benar benar merindukanmu" ucap Aksa dengan raut wajah lebih terlihat serius.

"Tapi aku tidak merindukan, ayahmu yg mungkin merindukanmu" sahut Saras.

"Hahaha, ayah yang menyalahkanku atas kematian ibu. Tidak mungkin. Dia lebih memilihmu daripada aku" ujar Aksa sambil tertawa yg menyakitkan.

"Minggir, Aksa. Aku mau pergi" ucap Saras lagi sambil mendorong tubuh pria itu untuk menyingkir dari pintu mobilnya.

Aksa pun bisa melihat wajah Saras yang memang terlihat sorot mata kelelahan dan akhirnya ia pun menyingkir.

Saras masukan dulu barang belanjaan ke dalam mobil dan berniat akan masuk juga namun tiba tiba Aksa beraksi. Tadi ia melihat ada gudang kecil di dekat posisi parkiran mobil Saras dan berfikir akan melampiaskan rindunya disana. Mungkin hanya berjarak 10 meter dari parkiran mobil Saras yg dipojokan tempat parkiran.

Tangan Saras ditarik oleh Aksa masuk ke gudang itu. Saat Saras ingin berteriak mulutnya dibekap oleh tangan kekar Aksa.

"Jangan berteriak, atau semua orang akan tau jika ibu tiri bersama anak tirinya berdua" ancam Aksa.

Lalu Saras pun diam tidak memberontak. Setelah dirasa tenang, Aksa pun melepaskan tangannya.

"Aksa, aku sungguh lelah saat ini. Please, lepasin aku" ucap Saras mode memelas dan ia benar benar tak memiliki tenaga untuk berdebat atau melawan.

Tangan Aksa pun memegang pipi Saras dan menyentuhnya lembut.

"Aku lepasin setelah, aku melampiaskan rinduku meskipun hanya sesaat" ucap Aksa lalu ia pun mencium bibir Saras.

Beberapa detik tidak ada respon, namun entah detik keberapa respon dari Saras mulai terasa di bibir Aksa. Ciuman pun terbalaskan.

Keahlian ciuman Saras meningkat sejak 2 tahun lalu saat Aksa menciumnya pertama kali hingga sekarang pun Aksa cukup kaget karena ibu tirinya sudah upgrade skill.

"Wow, pria tua itu membuatnya begitu ganas" batin Aksa yg tetap berusaha memberikan ciuman terbaiknya.

Saras tanpa sadar pun mengalungkan tangannya di leher Aksa. Mereka berdua dibakar oleh sensasi ciuman yang membara. Ditambah lagi gudang itu terasa pengap dan panas, membuat tubuh keduanya serasa dibakar gairah. Hingga nafas keduanya habis, ciuman pun terlepas.

"Kamu memang wanita istimewa, Ras" puji Aksa dengan senyuman smirk lalu entah kenapa Saras kembali mencium pria itu.

Aksa pun merasa senang karena mendapatkat balasan positif dari Saras. Tangannya refleks ia masukkan ke sela celana Saras dari bawah perut dan berhasil menerobos ke dalam celananya itu.

"Aaaakh!" suara sexy Saras terlepas dan membuatnya sadar jika Aksa sudah memegang bagian sensitifnya. Ia pun mendorong tubuh Aksa untuk menjauh darinya.

"Apaa? Apaa aku membuatmu tidak nyaman?" pertanyaan konyol Aksa kepada ibu tirinya.

"Ini tidak benar, Sa. Aku akan pergi. Jangan ikuti aku" ucap Saras sambil membenarkan bajunya dan mengusap keringat di wajahnya, lalu berniat keluar gudang namun terhenti ketika mendengar,

"Saras, aku mencintaimu" ucap Aksa.

Saras pun berbalik memandang Aksa dibelakangnya. Lalu melihat ketulusan Aksa membuatnya luluh ditambah lagi sentuhan Aksa memberikan gairah yang sudah 2 tahun tidak ia rasakan.

Lalu Saras pun gantian menarik Aksa keluar gudang dan menyuruhnya masuk ke mobil.

Aksa menurut dan tanpa bertanya mau dibawa kemana. Ia pasrah mau dibawa kemana oleh Saras.

Episodes
1 Aku ingin Ibu Tiri
2 Salah tapi Nikmat
3 Sahabat panutan
4 Bingkisan Sarapan
5 Resepsi Mewah
6 Tak senikmat bersamanya
7 Pernah keguguran
8 Panasnya Gudang
9 Tak ingin keluar didalam
10 Pria panggilan
11 Menginap
12 Menantang
13 Kenapa tidak menikah denganku?
14 Buat lah aku hamil
15 Datang bulan
16 Hinaan untuk istri
17 Emang udah gila
18 Double Date
19 Cek kesuburan
20 Permainan belum selesai
21 Berpisah di bandara
22 Setuju
23 Terlalu cepat
24 Suami tua temperamen
25 Keluar malam
26 Membujuk suami
27 Rencana cerai
28 Semakin yakin bercerai
29 Murka
30 Terdampar di tepi sungai
31 Saras siuman
32 Akrab
33 Amnesia
34 Berteman
35 Memberi kabar
36 Saling terhubung
37 Vila menawan
38 Sah Menikah!
39 Memberi jarak
40 Membuka kembali
41 Terhenti tengah jalan
42 Menemukan passion lain
43 Enaknya Indomie
44 Hujan tapi Panas
45 Ngumpul di Vila
46 Berjalan baik
47 Pria mencurigakan
48 Mulai bekerja
49 Masuk perangkap
50 Kopi Asin
51 Bebas menyembur
52 Sky Lounge
53 Kabar bahagia
54 Tertangkap Basah
55 Kerjasama rahasia
56 Mantan kekasih
57 Syukuran Baby Boy
58 Kembali bersama (Julia&Gun)
59 Dibayar dengan nyawa
60 Ke Bandung
61 Obrolan Wanita
62 Ganti kaki tangan
63 Bukti datang
64 Kebakaran
65 Sidang hukuman
66 Ingatan yang kembali
67 Lahiran karena penyusup
68 Happy di New York
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Aku ingin Ibu Tiri
2
Salah tapi Nikmat
3
Sahabat panutan
4
Bingkisan Sarapan
5
Resepsi Mewah
6
Tak senikmat bersamanya
7
Pernah keguguran
8
Panasnya Gudang
9
Tak ingin keluar didalam
10
Pria panggilan
11
Menginap
12
Menantang
13
Kenapa tidak menikah denganku?
14
Buat lah aku hamil
15
Datang bulan
16
Hinaan untuk istri
17
Emang udah gila
18
Double Date
19
Cek kesuburan
20
Permainan belum selesai
21
Berpisah di bandara
22
Setuju
23
Terlalu cepat
24
Suami tua temperamen
25
Keluar malam
26
Membujuk suami
27
Rencana cerai
28
Semakin yakin bercerai
29
Murka
30
Terdampar di tepi sungai
31
Saras siuman
32
Akrab
33
Amnesia
34
Berteman
35
Memberi kabar
36
Saling terhubung
37
Vila menawan
38
Sah Menikah!
39
Memberi jarak
40
Membuka kembali
41
Terhenti tengah jalan
42
Menemukan passion lain
43
Enaknya Indomie
44
Hujan tapi Panas
45
Ngumpul di Vila
46
Berjalan baik
47
Pria mencurigakan
48
Mulai bekerja
49
Masuk perangkap
50
Kopi Asin
51
Bebas menyembur
52
Sky Lounge
53
Kabar bahagia
54
Tertangkap Basah
55
Kerjasama rahasia
56
Mantan kekasih
57
Syukuran Baby Boy
58
Kembali bersama (Julia&Gun)
59
Dibayar dengan nyawa
60
Ke Bandung
61
Obrolan Wanita
62
Ganti kaki tangan
63
Bukti datang
64
Kebakaran
65
Sidang hukuman
66
Ingatan yang kembali
67
Lahiran karena penyusup
68
Happy di New York

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!