Aura yang lain sudah langsung Elra rasakan. Ia yang bukan indigo saja bisa merasakan, bahwa suasana di sana membuat tubuhnya langsung meriang.
“Kenapa ya? Andai bukan buat Syukur, ... ini aku pengin pulang,” batin Elra yang masih menempel ke Syukur. Ia menggandeng erat sebelah tangan Syukur.
“Yakin, berani pulang sendiri? Hmmm!” bisik Athan sengaja mengejek. Apalagi, setiap isi hati maupun isi pikiran Elra, membuat indera pendengarannya keberisikan.
Elra yang sudah seperti dengan kakak sendiri jika dengan Athan, sengaja mencubit asal perut Athan, hingga pemuda itu kesakitan.
Syukur memperhatikan kedua sejoli yang ada di sebelahnya.
“Athan,” rengek Elra benar-benar manja kepada Syukur.
Detik itu juga, Syukur menghela napas dalam dan bermaksud menegur Athan. Akan tetapi, sebelum ia melakukannya, sang bos juga sudah lebih dulu lebih galak daripada Syukur. Athan menggunakan kuasanya dan mau tidak mau membuat Syukur tunduk.
Ketiga serangkai itu baru saja turun dari mobil. Mobil mereka, Syukur parkir di pekarangan sebelah jalan. Karena memang, jalan di sana dan berupa tanah, hanya merupakan jalan setapak. Andai mereka memarkir mobil di jalan, tentu yang lain tidak bisa lewat.
Namun tanpa mereka sadari, kebaya pengantin merah sudah ada di tas bahu Elra yang ada di dalam mobil. Namun sebisa mungkin, kebaya merah tersebut berusaha menyusul keluar. Layaknya Rena yang akhirnya berseru. Rena tak sampai membawa mobilnya. Rena memarkir mobil sedannya di jalan umum dan terbilang jauh dari pekarangan Syukur berada.
“Ada cewek dan dia panggil-panggil Syukur?” batin Elra seiring dirinya yang mendekap lengan Syukur makin erat.
Athan yang bisa mendengar suara hati Elra langsung mengembuskan napas pelan melalui mulut. “Kok dia lagi, dia lagi. Baper banget ya ke si Syukur. Namun kalau aku pikir-pikir, Syukur memang punya pesona khusus. Jangankan wanita yang manusia, demit saja kata opa Helios, bakalan banyak yang klepek-klepek ke pesona Syukur!” batinnya.
“Hai ... sepertinya memang harus aku jelaskan. Kamu pasti salah paham,” ucap Syukur sopan.
“Dia yang mau konferensi pers, aku yang deg-degan,” batin Elra sambil menahan napas dan masih bertahan mendekap lengan kanan Syukur. Kali ini ia menggunakan kedua tangannya untuk melakukannya.
“Aduh Elra ... konferensi pers apaan sih,” batin Athan lama-lama jadi pusing sendiri atas kemampuannya bisa mendengar suara hati sekaligus membaca pikiran.
“Tadi aku enggak sengaja lihat kamu. Aku pikir, aku salah lihat. Eh ternyata, enggak!” Ketika menatap wajah Syukur, Rena tersenyum semringah. Sementara ketika ia menatap Elra, ia langsung sinis. Ia sungguh tidak bisa mengontrol emosinya.
Athan yang menjadi saksi dan tahu setiap alibi mereka, menggunakan telapak tangan kanannya untuk menepuk wajah.
“Dia, ... adik kamu, kan?” tentu yang Rena maksud itu Elra dan baginya sudah terlalu manja kepada Syukur.
“D—dia ....” Syukur menjelaskan, tapi Elra sudah lebih dulu mengaku sebagai istrinya. Syukur yang berniat menghindari Rena dengan entengnya membenarkan anggapan Elra. “Iya, benar. Istri.”
Elra yang mendengar itu langsung sempoyongan. Kedua kakinya mendadak lemas dan tak mampu berpijak. Untung, kedua tangan Syukur langsung sigap mengangkat tubuh Elra menyerupai mengemban, meski tatapan Syukur masih lurus ke kedua mata Rena.
“Aku hanya seorang sopir yang merangkap menjadi kuli. Aku bekerja serabutan, asal istriku bisa makan dengan kenyang!” ucap Syukur yang kemudian juga mengenalkan Athan sebagai bosnya. Alasannya kerap membawa mobil maupun motor mewah, murni karena itu fasilitas Athan bosnya.
Detik itu juga, perhatian Rena tertuju ke Athan yang memang tak kalah tampan dari Syukur. Terlebih, kenyataan Athan yang Syukur katakan sebagai sang bos, juga membuat ketampanan Athan jadi berkali-kali lipat di mata seorang Rena. Hanya saja, balasan horor justru keluar dari Athan. Karena Athan yang tahu Rena tipikal wanita enggak benar dan memang matre, sengaja mengaku gay.
Sebenarnya, bukan hanya Rena yang terkejut atas kenyataan tersebut. Sebab Syukur dan Elra juga. Elra sampai merosot dari embanan Syukur sambil menatap iba Athan.
“Pokoknya aku enggak doyan cewek. Aku anti!” yakin Athan.
“Jangan-jangan selama ini, si Athan justru naksir Syukurku?!” batin Elra benar-benar panik.
Athan yang mendengar itu langsung mendelik dan refleks menatap Elra yang juga masih bengong sambil menatapnya dengan mendelik.
“Ya Allah, ... masa iya Elra percaya!” ngenes Athan dalam hatinya. Namun di hadapannya, Rena jadi ketakutan. Untuk sekadar menatapnya saja, Rena tampak enggak—benar-benar sesuai rencana Athan. Meski karena pengakuannya juga, Elra jadi meragukan kenormalannya sebagai laki-laki.
“Kamu berbohong, kan?” tanya Rena memastikan kepada Syukur. Kini, Rena yang sedang melangkah pelan naik ke daratan atas dan itu merupakan jalan aspal, teringat obrolannya dengan Syukur. Pria mudah yang ia taksir justru menceramahinya untuk tetap meminta tanggung jawab kepada Arga, atas kehamilannya.
“Aku sudah bosan ke Arga. Jangankan cinta, yang ada aku jijik banget ke dia yang mau-maunya jadi simpanan ibu kost. Padahal selain tua, ibu kost dia mirip babi. Galak, gendut, hidung saja enggak punya saking peseknya. Malahan sekarang, yang aku mau hanya kamu, Kur. Eh kamu kere dan. Gimana ya, kamu tetap enggak mau sama aku, padahal urusan harta bisa dicari!” Namun tiba-tiba saja, Rena yang sampai terduduk lemas di pinggir jalan, langsung ingat ki Yusna.
Selain ingat ke ki Yusna, Rena juga ingat, dukun itu butuh darah bayi. “Bagaimana jika anak ini aku lahirkan tepat di hari Selasa kliwon dan aku berikan ke ki Yusna? Bisakah ini jadi alasanku dan Syukur menyatu? Lagian buat apa juga aku merawat bayi Arga, sementara Arga saja menjijikan gitu?!”
Tak sampai setengah jam kemudian, di suasana yang berkabut dan kanan kiri hutan, akhirnya Rena sampai. Rena sungguh mendatangi gubuk ki Yusna. Ia langsung menemukannya, meski ia baru pertama kalinya datang ke sana seorang diri. Namun pada kenyataannya, siapa pun mereka yang sudah memiliki niat bersekutu dengan ki Yusna, mereka pasti akan bisa menemukan gubuk sang dukun dengan sangat mudah.
“Membuat Rena melahirkan di hari Selasa kliwon. Kemudian menggunakan darah anaknya untuk tumbal pesugihan sekaligus pelet kepada pria yang Rena cintai? Sepertinya ini bukan ide yang buruk!” batin ki Yusna yang perlahan tersenyum membalas wanita muda di hadapannya. Tak beda dengan sang ibu, Rena juga tampak sangat percaya dan menjadikannya sebagai junjungan.
“Bahkan nantinya, aku bisa mengisi jasad bayi Rena dengan stok jiwaku. Seperti apa yang dulu aku lakukan ke anak kuntilanak itu. Syukur, ... dialah anak kuntilanak yang justru menentang ilmu hitam!” batin ki Yusna langsung menerima penawaran Rena. Di hadapannya, Rena tersenyum semringah sekaligus sibuk mengucapkan terima kasih.
“Namun selama menunggu, kamu wajib tinggal di sini.” Ki Yusna yang duduk di hadapan Rena, langsung plonga-plongo.
“Hah, maksudnya gimana, Ki?” tanya Rena yang tentu saja tidak mau jika harus tinggal di gubuk reyot tanpa fasilitas milik ki Yusna.
“Tidak hanya itu. Karena kamu juga —”
Alih-alih meringankan syarat, ki Yusna malah sengaja mengikat wanita muda di hadapannya dengan syarat lain. Syarat yang memberatkan Rena, tapi sangat menguntungkan bagi ki Yusna.
“Mau tidak mau, dia pasti mau. Apalagi dia butuh, dan dia mulai percaya kepadaku. Sisanya, biar guna-gunaku saja yang maju agar dia makin tunduk kepadaku!” batin ki Yusna.
“Harus rutin berhubungan ba.dan kapan pun Ki Yusna minta, Ki? Kita berdua ... beneran harus begitu?!” tanya Rena penuh penekanan sekaligus kepastian. Tubuhnya sampai maju ke atas meja kayu yang memisahkan kebersamaannya dan ki Yusna.
Dengan tegas ki Yusna mengangguk. “Ya. Agar janin yang kamu kandung makin sakti dan itu bisa membuat kita makin untung. Karena jangankan nasib laki-laki yang akan kamu pelet, nasib rumah makan orang tua kamu juga akan kembali maju!”
“Namun bukankah ki Yusna pantang bersetubuh dengan wanita non perawan?” sergah Rena mengingatkan dan memang jadi agak ragu.
Ki Yusna yang sempat merasa tertampar, menjadi kebingungan. Itu memang kelemahannya, tapi pesona Rena sangat menggodanya yang memang tidak beriman. Ditambah lagi, ki Yusna yakin, bayi Rena akan memberinya kekuatan abadi. Belum lagi, kini ia bisa mengandalkan Ani. Lagian, sejak kapan iblis sepertinya mau terikat oleh aturan bahkan itu mengenai kelemahannya. Jika yang ia hadapi justru wanita muda nan seksi?
Lagi-lagi, wanita dan juga nafsu menjadi kelemahan seorang ki Yusna. Sementara Rena yang tak kalah tamak, juga ingin semuanya serba instan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
N___vt
kirain bakalan beda sama ortunya ternyata sama
2025-01-03
0
kimiatie
rupanya buah jatuh memang tidak jauh dari pokok
2024-11-14
2
Ray
Terjadilah dosa dan bersekutu dengan Setan, manusia tamak😣😥
2024-08-14
0