2. Kebaya Pengantin Warna Merah

“Bajiiingan! Dasar pembantu tak tahu diri!” kesal pak Imron tak lama setelah ia memasuki kamarnya.

Di luar kamar, ibu Ajeng juga tak kalah jengkel. “Awas kamu ya Ani! Kamu harus mati! Bisa-bisanya selama ini kamu berhubungan dengan Rega! Rega itu putra kebanggaanku, tapi kamu yang cuma pembantu lulusan SD, berani memacari Rega!” batin ibu Ajeng sambil mendekap erat tas di pundak kanannya. Tas yang juga berisi kebaya merah dan rasanya sangat berat.

Sejak ada kebaya pengantin warna merah di dalam tasnya, ibu Ajeng seperti menggendong orang dewasa seberat lima puluh kiloan. Bahkan karena itu juga, langkahnya jadi tertatih, selain ia yang juga jadi tertinggal jauh oleh sang suami.

“Duh, Pa. Berat banget!” keluh ibu Ajeng yang akhirnya sampai.

Pak Imron yang masih berkecak pinggang di depan tempat tidur, langsung menatap heran sang istri. “Berat bagaimana, Ma? Apanya yang berat? Tasmu? Kok kamu jalannya sampai gitu?”

“I—ya, Pa! Tasku! Sejak diisi kebaya merah pemberian ki Yusna, berasa bawa satu manusia!” cerita ibu Ajeng yang sekadar bernapas saja jadi kesulitan.

“Ya ampun ... bener. Kok bisa seberat ini?” heboh pak Imron sampai menggunakan kedua tangannya untuk mengambil alih tas sang istri. Mereka menaruhnya di lantai depan ranjang tidur mereka.

Sampai detik ini, baik ibu Ajeng maupun pak Imron masih sangat emosi. Tak terima rasanya lantaran Rega putra kebanggaan mereka, justru pacaran dan izin menikahi Ani. Ani yang tak hanya pembantu mereka, tapi juga hanya lulusan SD, seorang yatim piatu, dan bagi mereka tidak selevel dengan mereka.

Pasutri itu duduk di lantai sambil bersandar pada tempat tidur.

“Aku beneran terkejut banget Pa. Mereka pacaran, dan Rega sampai berani minta restu buat menikahi Ani! Enggak terima aku Pa!” lirih ibu Ajeng benar-benar geram. Kedua tangannya saling remas di pangkuan, sementara rahangnya mengeras di tengah giginya yang bertautan.

Di waktu yang sama pak Imron menoleh ke sang istri, ibu Ajeng juga melakukan hal serupa.

“Pokoknya, malam Selasa kliwon besok, kita langsung bawa Ani ke sana. Kasih kebaya merahnya sekarang juga!” ucap pak Imron sampai ngos-ngosan saking emosinya.

Ibu Ajeng langsung mengangguk setuju di tengah tatapan seriusnya ke sang suami. “Iya, Pa! Lebih cepat lebih baik! Enggak terima banget rasanya aku!” Saking marah dan kecewanya, selain napas jadi ngos-ngosan, suara yang ia hasilkan pun selalu gemetaran.

Tadi, baik pak Imrom maupun ibu Ajeng memang langsung memberi restu, ketika Rega mengabarkan hubungannya dan Ani. Namun, itu tak semata agar mereka bisa makin mudah menjadikan Ani sebagai tumbal pesugihan.

•••

“Bang, ... ini aku enggak salah dengar, kan? Ini aku enggak sedang bermimpi? Masa ... papa mama Abang, langsung merestui hubungan kita? Beneran mulus tanpa hambatan?” ucap Ani masih menatap Rega tak percaya. Pria gagah berambut ikal itu langsung tersenyum kepadanya.

“Sudah Dek, ... jangan ambil pusing! Ini beneran nyata, dan kita beneran dapat restu dari mama papa!” ucap Rega lirih tapi sangat semringah kepada wanita berusia dua puluh empat tahun di hadapannya.

Dua belas tahun bersama. Ani selalu merawat Rega yang lumpuh selama enam tahun lamanya hingga akhirnya Rega sembuh. Bahkan, Ani juga yang mengisi kekosongan hati Rega karena setelah lumpuh, wanita yang harusnya Rega nikahi malah memilih pergi menikah dengan pria lain. Kebersamaan keduanya yang nyaris terjalin 24 jam setiap harinya, membuat benih-benih cinta tumbuh dengan sangat subur. Ditambah lagi, meski seorang pembantu, orang kampung, dan hanya lulusan SD, Ani yang lemah lembut sekaligus ceria, juga memiliki paras cantik. Mantan Rega yang memilih meninggalkan Rega saja kalah cantik dari Ani.

“Aku pikir, cinta pembantu dan majikan sampai bisa menikah, hanya di novel online. Namun, nyatanya aku juga akan mengalaminya. Pak Imron dan ibu Ajeng yang terkenal kejam. Ucapan mereka selalu lantang, tajam, penuh makian. Bahkan, ... gajiku saja hampir semuanya ditahan, ... tadi mereka memberiku restu. Aku dan Abang Rega beneran boleh nikah!” batin Ani masih sulit percaya. Kini, ia tersenyum menatap kedua mata Rega yang sedari mereka mendapat restu, terus tersenyum kepadanya.

Ani membiarkan tangan kanannya digandeng tangan kiri Rega. Rega menuntunnya keluar rumah dan sepertinya, mereka akan jalan meski itu hanya untuk makan nasi goreng di angkringan depan.

“Ehm!” Suara dehaman dari ibu Ajeng, mengusik kebersamaan Rega dan Ani.

Selain berangsur berhenti melangkah, Rega dan Ani juga berangsur menoleh sekaligus menatap ibu Ajeng. Berbeda saat baru datang, kali ini baik ibu Ajeng maupun pak Imron yang baru menyusul, sama-sama memakai masker. Namun, kebaya merah yang pak Imron bawa, juga mendadak membuat Rega mual muntah. Lain dengan Ani yang tak mencium aroma anyir dan terus Rega keluhkan.

“Itu kebaya apaan sih, Ma? Pa? Kok bau anyir banget berasa habis direndam pakai darah! Ah!” keluh Rega lagi-lagi pergi dari sana.

“Kamu beneran enggak nyium bau anyir juga, An?” sergah ibu Ajeng penasaran. Ia melirik sang suami dan sengaja berkode mata.

“Enggak, Bu. Bukan bau anyir, tapi bau bunga kantil dan melati khas pengantin, yang saya cium dari kebaya itu,” yakin Ani sangat santun.

Lagi, pak Imron dan sang istri makin bingung. Keduanya saling lirik.

“Coba tanya, Ma. Dia beneran masih perawan apa enggak. Tumbal kita wajib perawan!” ucap pak Imron berbisik-bisik kepada sang istri.

Andai tidak dibisiki oleh sang suami, ibu Ajeng yang telanjur larut dengan kemurkaannya atas hubungan Rega dan Ani, memang lupa.

“Pe—perawan, Bu?” jawab Ani jadi deg-degan sekaligus mulai takut. Kenapa juga, ibu Ajeng sampai menanyakannya.

Sambil melotot dan tidak bisa untuk tidak garang, ibu Ajeng mengangguk-angguk. “Iya, ... kamu masih perawan enggak? Kalau memang sudah enggak. Jangan harap kamu bisa menikah dengan Rega!” galaknya.

Antara takut sekaligus nelangsa, itulah yang Ani rasa. Sambil menunduk dalam dan membiarkan air matanya jatuh ke lantai, Ani mengangguk. “Masih, Bu. Saya masih perawan.” Meski dalam hatinya, ia juga berkata. Andai dituruti, tentu Ani sudah tidak perawan. Sebab di beberapa kesempatan bahkan terhitung sering, Rega selalu meminta melakukan hubungan yang bisa membuat Ani kehilangan keperawanannya.

Belum sempat memastikan sekaligus menghakimi Ani perihal keperawanan yang tengah dibahas. Ibu Ajeng dan sang suami, dikejutkan oleh kedatangan sang putri. Tak beda dengan Ani, Rena putri mereka yang baru keluar dari kamar juga berdalih, kebaya pengantin warna merah di tangan pak Imron sangat wangi. Wangi kantil dan melati khas aroma pengantin.

“Sini, Pa! Itu kebaya punya siapa? Buat aku saja deh, buat acara kartinian minggu depan di sekolah!” bawel Rena sampai mencoba merebut kebaya pengantin warna merahnya dari sang papa.

Dalam diamnya, baik pak Imron maupun ibu Ajeng berpikir, apakah kebaya pengantin warna merah pemberian ki Yusna, memang sengaja memikat target yang masih perawan untuk mau memiliki bahkan mengenakannya?

Terpopuler

Comments

Nur Rahmad

Nur Rahmad

siapa yaaaa

2024-09-28

1

Ray

Ray

Demi harta, kekayaan, dan martabat, apapun akan dilakukan walau bersekutu dengan Setan, tidak peduli tumbal yg akan diberikan😱😱
Dan kira2x siapa yang akan memakai kebaya merah itu ya🤔?
Lanjut baca, biar gak penasaran😘🙏

2024-08-14

0

Tati st🍒🍒🍒

Tati st🍒🍒🍒

kira2 siapa ya yang bakal jadi tumbal

2024-06-29

1

lihat semua
Episodes
1 1. Tumbal yang Menjadi Solusi
2 2. Kebaya Pengantin Warna Merah
3 3. Hajatan Gaib
4 4. Menjadi Tumbal Pesugihan
5 5. Rumah Makan Juara
6 6. Siasat Ki Yusna
7 7. Keadaan Rena dan Pantangan Ki Yusna
8 8. Harus Perawan!
9 9. Semuanya Benar-Benar Akan Dimulai!
10 10. Akhirnya Terjadi
11 11. Nasib Kebaya Pengantin Merah
12 12. Mulai Di Luar Kendali
13 13. Persekutuan Ki Yusna Dengan Ani
14 14. Teror Kebaya Pengantin Merah
15 15. Karma yang Mulai Mengincar
16 16. Kekuatan Tumbal yang Mulai Luntur
17 17. Iblis dan Manusia Tamak
18 18. Serangan Dadakan
19 19. Lorong Waktu dan Hutan Tua
20 20. Termakan Sumpah : Elra Kesayangannya Syukur
21 21. Dendam Masa Lalu yang Mendarah Daging
22 22. Gara-Gara Tumbal Pesugihan
23 23. Tak Boleh Terpisah
24 24. Perpisahan
25 25. Menyelamatkan Bian
26 26. Keris yang Akhirnya Terbang
27 27. Terpisah
28 28. Solusi Dan Mengatasi
29 29. Makam Aira dan Jejak Makam Wanita Berkebaya Pengantin Merah
30 30. Kedatangan Rega
31 31. Lahirnya Bayi Bajang Bermata Merah
32 32. Jebakan?
33 33. Sudah Berakhir?
34 34. Bertanda Baik?
35 35. Tumbal Pengantin Sepasang Perjaka
36 36. Yang Hilang
37 37. Hilangnya Jasad Pak Imron
38 38. Luka-Luka Karena Tumbal
39 39. Sudah Ada Titik Terang
40 40. 5 Tahun Setelah Syukur Ditemukan
41 41. Masih Ada Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah?
42 42. Terikat Sumpah
43 43. Eksekusi dan Ritual yang Gagal
44 44. Kelemahan Ki Yusna
45 Akhir Dari Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah
46 Novel Athan Daisy : Gadis Berisik Kesayangan CEO Pembaca Pikiran
47 Novel Bian : Transmigrasi Dan Pembalasan Gadis Yang Ternoda
48 Pengumuman Pemenang!
49 Novel Elra Syukur : Kejar Aku Mas Mafia (Kisah Cinta Dua Dunia)
Episodes

Updated 49 Episodes

1
1. Tumbal yang Menjadi Solusi
2
2. Kebaya Pengantin Warna Merah
3
3. Hajatan Gaib
4
4. Menjadi Tumbal Pesugihan
5
5. Rumah Makan Juara
6
6. Siasat Ki Yusna
7
7. Keadaan Rena dan Pantangan Ki Yusna
8
8. Harus Perawan!
9
9. Semuanya Benar-Benar Akan Dimulai!
10
10. Akhirnya Terjadi
11
11. Nasib Kebaya Pengantin Merah
12
12. Mulai Di Luar Kendali
13
13. Persekutuan Ki Yusna Dengan Ani
14
14. Teror Kebaya Pengantin Merah
15
15. Karma yang Mulai Mengincar
16
16. Kekuatan Tumbal yang Mulai Luntur
17
17. Iblis dan Manusia Tamak
18
18. Serangan Dadakan
19
19. Lorong Waktu dan Hutan Tua
20
20. Termakan Sumpah : Elra Kesayangannya Syukur
21
21. Dendam Masa Lalu yang Mendarah Daging
22
22. Gara-Gara Tumbal Pesugihan
23
23. Tak Boleh Terpisah
24
24. Perpisahan
25
25. Menyelamatkan Bian
26
26. Keris yang Akhirnya Terbang
27
27. Terpisah
28
28. Solusi Dan Mengatasi
29
29. Makam Aira dan Jejak Makam Wanita Berkebaya Pengantin Merah
30
30. Kedatangan Rega
31
31. Lahirnya Bayi Bajang Bermata Merah
32
32. Jebakan?
33
33. Sudah Berakhir?
34
34. Bertanda Baik?
35
35. Tumbal Pengantin Sepasang Perjaka
36
36. Yang Hilang
37
37. Hilangnya Jasad Pak Imron
38
38. Luka-Luka Karena Tumbal
39
39. Sudah Ada Titik Terang
40
40. 5 Tahun Setelah Syukur Ditemukan
41
41. Masih Ada Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah?
42
42. Terikat Sumpah
43
43. Eksekusi dan Ritual yang Gagal
44
44. Kelemahan Ki Yusna
45
Akhir Dari Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah
46
Novel Athan Daisy : Gadis Berisik Kesayangan CEO Pembaca Pikiran
47
Novel Bian : Transmigrasi Dan Pembalasan Gadis Yang Ternoda
48
Pengumuman Pemenang!
49
Novel Elra Syukur : Kejar Aku Mas Mafia (Kisah Cinta Dua Dunia)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!