“Bersekutu lah denganku, aku pastikan akan mempertemukan kamu dengan pengantinmu!” lantang Ki Yusna tak ubahnya dalang dalam sebuah cerita.
Ki Yusna begitu percaya diri hingga tak ada sedikit pun yang tampak meragukan darinya. Padahal sebenarnya, kesaktian saja ia sudah tidak punya. Bermodalkan pengetahuan mengenai sesajen dan mengundang komunikasi dengan mereka yang tak kasatmata, ki Yusna memang memanggil Ani. Ani yang ki Yusna baru ketahui ternyata sangat sakti. Hingga ki Yusna berniat memanfaatkan Ani.
Ani yang tampil sangat cantik dan jelas menjadi primadona di sana, jadi terusik. Ia menatap saksama ki Yusna yang memang tiba-tiba saja mengundangnya. Pria itu melakukan sejumlah ritual dilengkapi dengan sesajen bahkan kepala kambing maupun ayam cemani. Tentu, sebagai bagian dari bangsa lelembut, Ani tak kuasa menolak. Terlebih tidak setiap saat ada yang berjiwa besar memberinya makan seperti yang ki Yusna lakukan. Paling penting, itu mengenai janji ki Yusna yang akan mempertemukan Ani dengan pengantinnya. Karena memang, Ani sudah mulai lelah tak kunjung bertemu pengantinnya.
Kini, meski menatap Ki Yusna curiga, sebenarnya Ani mulai tertarik pada tawaran pria tua itu. Apalagi ternyata Ki Yusna sampai memberinya tawaran sekaligus janji lain.
“Aku akan memberimu semuanya, tapi kamu juga harus menjamin, bahwa kamu akan mengabdi kepadaku!” lantang ki Yusna yang dalam hatinya berkata, “Ini di luar kendali. Karena ternyata, Ani memiliki kekuatan besar yang bahkan bisa mengalahkanku dengan mudah. Dendam karena alasannya berakhir seperti sekarang, serta kebaikannya di masa lalu menjadi alasannya memiliki semua kekuatan itu. Karenanya, aku harus segera mengendalikannya sebelum dia justru menyerangku. Takutnya, suatu hal membuatnya ingat, bahwa aku menjadi bagian dari alasannya berakhir gentayangan seperti sekarang!”
Setelah merenung dan mempertimbangkan tawaran dari ki Yusna, senyum kemayu seorang Ani akhirnya terbit. Senyum kemayu yang membuat ki Yusna mengomel dalam hati.
“Ciiih ... demit kok secantik dan seseksi ini. Bikin baper saja!” batin ki Yusna.
Suara Angklung dan gendingan perlahan menggelegar menguasai keadaan. Sebagai wujud persekutuan mereka, Ani memakan kepala kambing dan juga meminum darah ayam cemaninya.
Ritual kali ini membuat lolongan suara anjing terdengar sangat berisik. Dari berbagai penjuru, lolongan yang awalnya terdengar jauh, makin lama terdengar makin dekat. Seolah, mereka sengaja datang setelah merasakan apa yang terjadi.
“Baiklah. Mulai sekarang kamu akan selalu mencari Syukur dan Athan. Karena mulai sekarang juga, misimu sungguh hanya menjadikan keduanya sebagai pengantinmu. Dengan begitu, aku tidak perlu takut lagi kepada mereka. Karena mereka berdua pasti akan mati oleh Ani. Sementara sesuai yang aku rasakan, harusnya dalam waktu dekat, Syukur dan Athan datang ke sini!” batin ki Yusna yang juga telah membuat semuanya sesuai rencananya. Karena melalui sesajen yang ia berikan dan telah Ani nikmati, arwah penasaran itu sudah langsung ia arahkan untuk mengejar-ngejar Athan maupun Syukur.
••••
Keesokan harinya, Elra baru sampai restoran. Berbeda dari sikap ibu Ajeng maupun pak Imron kepada karyawan, Elra justru sangat ramah. Setelah mengobrol sejenak dengan para karyawan dan juga pembeli, Elra baru masuk ke ruang kerjanya.
Semuanya tampak baik-baik saja. Ruang kerja yang rapi, termasuk beberapa alat tulis di meja kerjanya. Akan tetapi, ada yang menyita dan dirasa Elra jadi agak beda. Ini mengenai aroma melati yang begitu kuat sekaligus segar. Aroma yang Elra curigai berasal dari kebaya pengantin warna merah di meja kerjanya. Layaknya ketika awal pertama Ani melihat, di mata Elra, kebaya pengantin warna merah tersebut juga sangat bagus. Kebaya pengantin warna merah itu langsung mencuri hati seorang Elra. Elra yang baru melihatnya langsung berbinar-binar.
“Namun, ini kebaya siapa? Itu kebaya pengantin, kan?”
“Ih, ... sebagus apa pun suatu barang. Apalagi kalau barang yang bisa dipakai seperti baju. Aku enggak boleh memakainya atau pun sekadar menyentuhnya.”
“Takut ada guna-guna. Takut juga itu dari Bian yang dari dulu sibuk ngajak aku nikah!”
Saking niatnya tak mau menyentuh kebaya tersebut, Elra sengaja memakai kantong keresek di kedua tangannya.
“Kata opa, buat menangani hal-hal syirik harus gini. Belakangi, kentuti, terus doai, pindah deh!” Dan Elra sungguh melakukannya.
Elra memindah kebayanya dan menaruhnya di meja sebelah. Kemudian, yang ia lakukan ialah melaporkannya kepada karyawannya. Namun dari semuanya, tak ada satu pun yang mengetahuinya. Mereka bahkan kompak kaget ketika melihat kebaya yang Elra maksud. Lucunya, ada yang langsung suka juga seperti Elra. Banyak juga yang langsung muntah bahkan berdalih bahwa kebaya tersebut sangat anyir.
“Ini aneh, tapi menarik. Coba nanti aku minta Athan dan Syukur buat lihat kebayanya. Oh iya, ya. Aku juga baru kepikiran, takutnya nih kebaya justru bagian dari guna-guna lawan bisnisku. Bukannya bermaksud fitnah, tapi semenjak rumah makan juara di depan kebakaran, semua cabang mereka kan kebakaran semua. Terakhir tadi, rumah makan pusatnya malah dirampok. Sementara kata Athan dan Syukur, rumah makan juara seperti pakai tumbal pesugihan biar laris. Di sana banyak penampakan yang mengundang pembeli biar datang sekaligus betah,” pikir Elra sengaja jaga-jaga.
Akan tetapi, ketika akhirnya Syukur dan Athan benar-benar datang, kebaya pengantin warna merahnya tidak ada.
“Asli, tadi siang aku taruh di sini. Tadi, sebelum aku ke kalian pun, kebaya itu masih di sini. Eh siapa yang ambil. Masa iya, kebaya itu jalan sendiri?!” Elra uring-uringan dan terus mencari kebaya pengantin warna merahnya. Namun, di sana benar-benar tidak ada.
“Sudah, jangan dicari. Kalaupun ada lagi, ... langsung bakar saja!” tegas Athan masih bersikap misterius. Sadar, Elra langsung ketakutan sekaligus sedih menatapnya, ia berkata, “Kebaya itu punya aura enggak baik. Ke sini pun dia datang sendiri. Karena memang, dia incar kamu. Jadi, mungkin ada yang spesial dari kamu, hingga kebaya itu, datang sendiri cuma buat goda kamu.”
“Tadi siang, ... enggak semuanya suka juga sih. Ada beberapa yang mirip aku dan bagi mereka, kebaya itu wangi sekaligus menarik. Banyak juga yang jadi muntah-muntah karena bagi mereka, kebaya itu anyir parah,” jelas Elra.
“Biasanya yang begitu bakaran neror terus, kecuali kamu sudah langsung membakarnya!” tegas Athan.
Mendengar itu, Elra langsung menatap takut Athan.
“Kamu jangan gitu dong Than ....” Elra melangkah buru-buru menghampiri Syukur. Tanpa pikir panjang, ia juga mendekap sekaligus bersandar pada dada bidang milik pemuda itu. “Aku beneran takuuuuuuttt!” rengeknya, tapi Athan yang langsung muntah-muntah malah menertawakannya.
Lain dengan syukur yang tetap tak ada peka-pekanya. Justru, Syukur jadi melihat sekelebat wanita berkebaya merah berwajah gelap. Sementara Athan juga lagi-lagi mendengar gendingan dan angklung selaku suara yang terus mengiringi langkah arwah Ani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Ray
Ani lagi cari calon pengantinnya, Syukur dan Athan, atas suruhan Ki Yusna🤔😣
2024-08-14
0
Erina Munir
horoorr banget ini mah
2024-07-16
0
Tati st🍒🍒🍒
baru sempet baca lagih
2024-07-05
0