Alasan ibu Ajeng masuk ke dalam kamar Rena, murni karena untuk mengambil kebaya pengantin warna merah. Jadi, meski Rena tak ada di dalam kamar, yang membuatnya bak kebakaran jenggot justru keberadaan kebaya pengantin merah yang juga tidak ada.
“Kebaya merahnya mana?!” Ibu Ajeng terus mencari khususnya di kamar mandi. Karena pakaian yang Rena pakai hari ini juga terkapar di lantai kamar mandi.
“Harusnya ada di sini! Masa iya, Rena bawa kebaya pengantin warna merah itu? Atau jangan-jangan, Rena malah membuangnya?” pikir ibu Ajeng makin ketar-ketir. Terlebih, di tong sampah yang ada di dalam kamar mandi, maupun yang di kamar Rena, benar-benar tak sampai dihiasi kebaya yang ia cari.
Saking penasarannya, ibu Ajeng memeriksa melalui CCTV di dalam kamarnya. Betapa kagetnya dirinya, tak lama setelah Rena pergi, kebaya merahnya justru jalan sendiri!
“Kebaya pengantin warna merahnya benar-benar sakti. Apakah alasannya jalan sendiri karena dia akan menjadi calon pengantin perawannya sendiri?” Masalahnya, kebaya penga tin warna merah tersebut ibu Ajeng pantau sampai pergi dari kediamannya.
“Aku harus mencarinya ke mana? Aku harus mengabarkan ini ke Ki Yusna. Dengan kata lain, aku harus ke sana lagi. Namun dengan siapa? Aku enggak mungkin ajak pak Soleh karena dia beneran enggak bisa diajak kompromi. Malahan, harusnya aku mecat di Soleh!”
Ibu Ajeng terus mencari solusi untuk keluar dari keadaan yang membuatnya sangat takut. Namun lagi-lagi, alasannya takut murni karena ia tak mau kehilangan harta sekaligus kekayaannya.
Dering telepon suara di ponselnya yang ada di dalam tas membuat ibu Ajeng bergegas. Ibu Ajeng segera menjawabnya karena kebetulan, yang menelepon itu pegawai dari salah satu warung cabangnya.
“Gas meledak dan kebakaran?”
Mendengar kabar itu, ibu Ajeng tak hanya emosi, tapi juga kebas. Terlebih, kebakaran yang dimaksud tak hanya merusakan sebagian warung di sana. Melainkan karena memang menghanguskan satu kesatuan. Anehnya, meski tadi memang sempat hujan, karyawan tersebut berdalih apinya tetap tidak bisa padam karena telanjur membakar seluruh bangunan warung. Untungnya, bangunan milik tetangga di sekitar tak sampai ada yang ikut terbakar.
Belum beres dengan kabar buruk dari satu karyawannya, kabar buruk lain juga langsung ibu Ajeng terima. Anehnya, dalam waktu yang nyaris bersamaan, kabar buruk terus ibu Ajeng dapatkan. Hampir semua rumah makannya terbakar. Hanya tersisa satu rumah makan saja dan itu rumah makan pusat. Ibu Ajeng langsung kena mental. Wanita berusia lima puluh sembilan tahun itu tidak bisa untuk tidak histeris. Kedua tangannya sibuk mengacak maupun menjambak rambutnya.
“Kenapa begini? Apakah karena tumbal yang harusnya aku berikan justru gagal? Atau menang, ... gara-gara restoran MR. Kim Family Food itu? Apakah mereka justru memiliki dukun yang lebih sakti?!”
Tiga orang ART dan semuanya sebaya ibu Ajeng, berlarian dari rumah bagian dari belakang. Efek histeris sang majikan yang terdengar sangat keras menakutkan, mereka sengaja memastikan. Dari depan pintu kamar sang majikan yang tak sepenuhnya tertutup, ketiganya melihat sang majikan. Hanya saja, tak ada satu pun dari ketiganya yang berani masuk bahkan itu meski untuk membantu sang majikan. Alasannya hanya dua, seram dan memang takut!
Padahal di tempat berbeda, kebaya pengantin warna merah yang ibu Ajeng cari, justru mendadak jatuh tepat di hadapan Rega. Rega yang masih duduk di kursi roda langsung jadi emosional. Rega berusaha menggerakkan tubuhnya meski itu sungguh sulit dilakukan. Saking sulitnya, pria bertubuh sangat kurus dan memang hanya tinggal tulang itu, jadi berlinang air mata.
Kini, dalam ingatannya, Rega mendadak teringat Ani. Ani yang terlihat sangat cantik ketika memakai kebaya pengantin merah. Rega teramat yakin, kebaya merah di hadapannya masih kebaya yang sama dengan yang Ani pakai. Karena aromanya bahkan masih ia hafal. Aroma sangat anyir, tapi Ani sangat menyukainya.
“Sayang, bau banget loh kebayanya. Habis ini, kita beli kebaya baru saja yang enggak bau. Kalau enggak buat resepsi ya buat foto-foto sekali seumur hidup,” lembut Rega saat Ani nekat tetap memakai kebayanya. Saat itu, sekitar tiga tahun yang lalu, posisinya Ani baru pulang dari salon dan ia juga yang menemaninya.
Ani yang jadi makin cantik karena rias pengantinnya, berangsur mengangguk setuju. “Sekarang kita nurut saja, Bang. Papa Mama Abang setuju kita nikah saja, sudah alhamdullilah banget.” Saat itu, Ani benar-benar sabar. Kesabaran yang sampai detik ini masih bisa Rega rasakan. Air mata Rega benar-benar tak terbendung akibat ingatan barusan. Ingatan mengenai kebersamaannya dan Ani.
“Aniiiiiii! Kenapa hanya kebaya itu yang datang! Kenapa bukan kamu saja yang datanggg?!” teriak Rega jauh di dalam hatinya. Karena meski bibirnya sudah mulai komat-kamit, tetap tak ada suara yang keluar dari sana.
Begitu juga dengan tubuh Rega yang tetap tidak bisa bergerak meski Rega sudah mengerahkan seluruh tenaganya.
“ANIIIIIIIIII!!!!” teriak Rega yang berakhir jatuh dari kursi roda.
Sebenarnya, teriakan Rega barusan masih Rega lakukan di dalam hati. Namun, Ani yang ada di tengah hutan dan tengah menghadapi ki Yusna, bisa mendengarnya. Di hutan tersebut, Ani seolah menjelma menjadi bintang malam itu. Kanan kiri merupakan para teman pengantin yang dilengkapi dengan lakon hiburan. Karena pemain gendingan maupun angklung juga ada di sana. Ki Yusna yang seringnya hanya memakai kolor hitam, juga sampai memakai beskap hitam lengkap dengan keraton.
“Aniiiii!”
Sekali lagi, Ani mendengar suara Rega dan ia merasa menjadi sosok yang memang menjadi pemilik panggilan tersebut.
“Suara apa, itu?” pikir arwah Ani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Ray
Ternyata arwah Ani juga lupa sama Rega🤔😱 Semangat dan lanjut💪🙏😘
2024-08-14
0
Reni
ehhh iya ani kan juga dibuat hilang ingatan makane lupa sama Rega ya
2024-06-10
0
Firli Putrawan
alhamdulillah msh bs bc cerita ini
2024-05-27
0