“Ini enggak beres!” ucap Syukur yang kemudian menatap kedua mata Elra. Ia sampai membungkuk hanya karena melakukannya.
“Apa, Kur? Kamu mau ngajak aku nikah?” lirih Elra antara kurang sadar sekaligus terpesona kepada ketampanan Syukur.
“Aku melihat kebaya itu dipakai oleh seorang wanita. Jadi, tadi siapa saja yang suka ke kebaya itu. Sepertinya, kebaya itu sudah mengincar target lain karena tak kunjung dapat kamu!” sergah Syukur.
“Eh, kamu jangan bikin aku takut!” sergah Elra.
Namun sekitar setengah jam kemudian, di tengah malam yang ramai, mereka mengunjungi beberapa rumah karyawan. Dua dari tiga yang tertarik ke kebaya merahnya sudah sampai rumah. Namun satu di antaranya, belum.
“Aku bisa lihat dia sudah pakai kebaya pengantin warna merah. Ia sudah merias wajah ala-ala pengantin. Dia jalan di jalan sepi, penuh kabut, dan sangat minim penerangan. Masalahnya, buat aku lokasi itu masih asing. Aku beneran enggak tahu!” tegas Syukur menjelaskan. Di depan jalan raya, ia masih bersama Athan dan Elra.
“Sepertinya aku tahu lokasinya. Itu ada di sekitar Sukabumi. Karena kebetulan, aku sempat mengalaminya,” sergah Rena tiba-tiba bergabung dengan ketiganya.
Sejak ditolong Syukur, Rena menang langsung mengikuti Syukur. Rena sudah langsung tahu ke mana Syukur pergi maupun tinggal.
“Loh,” lirih Athan sudah langsung mengenali Rena. Begitu pun dengan Syukur meski Syukur langsung diam.
Namun, Elra yang bis merasakan bahwa Rena ada ketertarikan khusus ke Syukur, segera membentangkan jarak untuk keduanya. “Sayang, ... kita kan sudah menikah, tapi di luar sana pelakor makin menggila!”
“Oh, mereka sudah menikah? Ya gitu lah, yang sudah punya orang memang lebih menantang!” batin Rena dan membuat Athan yang bisa mendengarnya langsung istighfar.
“Nih cewek enggak beres!” bisik Athan kepada Syukur ketika sang rekan menatapnya akibat istighfar dadakan yang ia lakukan.
“Tapi, dia bilang dia tahu lokasinya!” bisik Syukur membalas dan sampai sekarang belum berani membalas pelukan Elra. Terlepas dari semuanya, Syukur juga heran kenapa Elra begitu hobi memeluk sekaligus bermanja-manja kepadanya.
“Sudah ayo pulang ... ayo pulang. Wallahuwalam!” ucap Athan sambil menggiring Syukur untuk menyetir mobil Elra dan juga membawa Elra. Sementara ia kembali menyetir mobilnya sendiri dan kebetulan ada di belakang mobil Elra.
Athan yang sudah tahu suara hati sekaligus isi pikiran Rena dan itu tidak baik, sengaja langsung membentangkan jarak. Ia tak ubahnya seorang ibu yang langsung berusaha melindungi anak-anaknya.
“Loh, ini aku benar-benar ditinggal?” sedih Rena kembali uring-uringan dalam hati.
Athan yang masih bisa mendengar suara hati Rena berkata, “Ya ditinggal lah. Kamu keganjenan, kan ibarat hama!”
Di tempat berbeda, di lokasi yang Syukur maksud, Aira selaku karyawan Elra memang melangkah ayu layaknya seorang pengantin. Kendati belum menjadi arwah jahat seperti Ani, Aira juga tampak sudah tidak sadar. Tatapannya kosong dan meski ia hanya melangkah pelan, pada kenyataannya ia cepat sampai di depan gubuk ki Yusna. Gubuk yang tak bisa dilihat oleh sembarang orang kecuali bagi mereka yang memiliki sangkutan. Bersamaan dengan itu, ibu Ajeng yang nekat menyetir mobil sendiri juga akhirnya sampai.
“Loh, ... loh ... ini kebaya merahnya. Oh jadi benar, ... kebaya merahnya cari calon pengantinnya sendiri?” yakin ibu Ajeng dalam hatinya. Ia yang bertampang pucat awut-awutan, berangsur turun menghampiri Aira.
Tak lama kemudian, ibu Ajeng sengaja menuntun Aira kemudian mengetuk gubuk Ki Yusna. Cukup lama ia mendapatkan balasan karena Ki Yusna malah muncul dari samping rumah.
Betapa bahagianya Ki Yusna karena baru pulang setelah memperdaya Ani, ia sudah langsung disuguhi pengantin penuh ketenangan sekaligus sangat cantik. Pengantin yang dari tanda-tandanya sudah dipastikan masih perawan. Karena memang, pada kenyataannya, siapa pun mereka yang masih perawan, akan menjadi pengantin memesona dan tak sedikit pun terganggu dengan aroma sangat anyir dari kebayanya.
“Aku yakin, ini juga bagian dari persekutuanku dengan Ani. Hingga apa-apa, jadi sangat dimudahkan,” batin ki Yusna.
“Ayo Ki, cepetan dimulai ritualnya. Saya benar-benar butuh bantuan Ki Yusna. Karena semua rumah makan saya, bermasalah, Ki!” tegas ibu Ajeng benar-benar tidak sabar.
“Diam, ... jangan merusak suasana. Karena aku rasa, memang ada yang aneh dengan usahamu! Biarkan aku memulai ritual dan menyatu dengan pengantinku. Agar aku bisa mendapatkan kekuatanku lagi yang sebelumnya sudah dirusak oleh anak perempuanmu!” tegas ki Yusna lirih. Ia sudah merangkul Aira yang belum diapa-apakan sudah langsung tidur di bahu reotnya.
Dihakimi demikian, ibu Ajeng tak kuasa berkomentar. Namun, ia langsung berdalih sanggup ketika ki Yusna memintanya untuk mencari bayi yang lahir Selasa Kliwon.
Pelajaran dari apa yang menimpa Aira. Jangan sekali-kali tertarik ke barang yang jelas bukan barang milik kita Lebih-lebih sampai memakainya, padahal barang tersebut sempat menimbulkan pro kontra. Jangan lupa untuk berdoa dalam segala hal, dan tentunya, wajib menguatkan iman.
Bersamaan dengan petir yang mendadak menggelegar, juga angin yang berembus kencang, ki Yusna sungguh mengeksekusi Aira. Ibu Ajeng yang sudah gelap mata dengan setia duduk mengikuti arahan sang junjungan. Jangankan kini yang ibaratnya, ibu Ajeng sedang sangat terpuruk. Saat ibu Ajeng jaya-jayanya pun, ibu Ajeng tetap melakukannya.
Jangankan tangis kesakitan dari Aira yang memohon meminta tolong agar ki Yusna menyudahi hasratnya. Saat Rena termasuk Ani mengalaminya pun, ibu Ajeng tak peduli. Terbukti, Rega sang anak kesayangan juga ibu Ajeng tumbalkan. Rega yang dulunya gagah kekar, kini tak ubahnya mayat hidup dan tubuhnya kering tinggal tulang.
“Mendadak hujan gini, aku benar-benar merasa bersalah,” pikir Syukur bisa melihat apa yang ki Yusna lakukan.
“Pokoknya hari besok juga, aku harus pergi ke desa Harapan Kahuripan. Aku harus cari ayahnya Ibra sekalian beberes pekarangannya kakek!” pikir Syukur tetap tidak bisa tidur meski ia sudah sampai melakukan shalat malam.
“Aku kok jadi kepikiran ke Aira. Itu kira-kira gimana ceritanya?” pikir Elra yang juga tidak bisa tidur. Karenanya, ia sengaja mengajak Syukur VC.
Alasan tersebut juga yang membuat Syukur tidak bisa melihat proses selanjutnya atas apa yang menimpa Aira. Bahwa Aira yang tubuhnya masih bergerak-gerak, ki Yusna dan ibu Ajeng kubur hidup-hidup di sebuah pekarangan kosong. Ibu Ajeng dan ki Yusna bekerja sama meninggalkan kuburan hanya bermodal bongkahan kayu sebagai patoknya.
“Berkat pengantin itu, aku sudah langsung merasa lebih baik,” ucap ki Yusna jujur kepada ibu Ajeng.
Dengan entengnya, ibu Ajeng berkata, “Andai saya bisa berguna buat Ki Yusna. Saya yang tentu saja sudah tidak perawan, boleh melayani hasrat ki Yusna. Asal Ki Yusna membantu usaha saya, kapan pun saya siap melayani ki Yusna!” ucapnya sungguh-sungguh dan membuat lawan bicaranya ketakutan.
Karena pada kenyataannya, ki Yusna hanyalah pria biasa yang dikuasai nafsu. Andai tidak ada pantangan fatal, tentu ibu Ajeng yang sudah peot tapi tetap menjaga penampilan, juga akan ki Yusna terjang. Kini saja, ki Yusna jadi deg-degan hanya karena digandeng mesra oleh ibu Ajeng yang tampak sangat putus asa.
“Pokoknya asal Ki Yusna bantu saya. Mengenai bayi yang lahir Selasa kliwon juga akan saya usahakan secepatnya!” yakin ibu Ajeng yang makin membuat ki Yusna baper. Terlebih sejauh ini, demi mempertahankan ilmu hitam yang digeluti, ki Yusna ibarat tanah gersang yang sangat kurang siraman kasih sayang.
Namun tanpa keduanya sadari, arwah Aira keluar dari kuburan ala kadarnya. Arwah tersebut langsung duduk di tempat duduk penumpang sebelah belakang, mobil milik ibu Ajeng.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Ray
Arwah yg ditumbalkan gak bisa balas dendam ya Outhor🤔😱😄
2024-08-14
0
Erina Munir
cekeek aja tuh dua2 nya aira...
2024-07-16
0
Damai Damaiyanti
mak ajeng dah ketutup hatinya,,sebab bersekutu dg jin
2024-06-30
0