Rumah Makan Juara yang ada di depan restoran milik Elra sungguh ludes terbakar. Ibu Ajeng dan pak Imron langsung sangat emosi. Keduanya merasa merugi bahkan meski rumah makan yang lain masih rame.
“Kenapa kita bisa kecolongan, Pa? Memangnya tumbal-tumbal yang Ani dan ki Yusna hasilkan, tidak bisa menjaga rumah makan kita?!” lirih ibu Ajeng meluapkan emosinya. Gigi putih rajin dan selalu ia rawat dengan harga mahal, bertautan erat. Ia kesulitan mengontrol emosinya di tengah tubuhnya yang seolah dididihkan. Karena sekadar bernapas saja, ia jadi merasa sakit. Sementara jauh di dalam dadanya, di sana jantungnya yang berdetak kencang, seolah akan meledak.
Ibu Ajeng buru-buru meninggalkan lokasi kebakaran. Ia menuntun paksa sang suami masuk ke dalam mobil. Pak Imron yang awalnya kurang fokus karena tengah melongo, menatap layar ponselnya yang berisi PAP wanita seksi hanya memakai bra dan celana da.lam merah, buru-buru mengantongi ponselnya. Ia membiarkan lengan kirinya yang sudah makin berisi akibat kehidupannya yang makmur, dituntun sang istri.
Pak Imron dan sang istri meninggalkan kekacauan di rumah makan mereka yang terbakar. Bahkan, mereka sama sekali tidak menggubris keluh kesah karyawan mereka. Karena memang, ada dua karyawan yang mengalami luka bakar cukup serius setelah mencoba memadamkan api.
“Bener ya kabar yang beredar, bos kita kejam banget. Aku mau langsung keluar saja. Mau langsung cari kerja yang lain. Takut aku kalau punya bos kejam gini,” ucap seorang gadis cantik yang memakai hijab hitam.
Karena nasib apes yang menimpa kedua rekan mereka, para pramusaji sepakat keluar tanpa menunggu gaji. Kebetulan, mereka memang baru bekerja satu hari di sana.
••••
“Kita harus ke rumah ki Yusna! Sekalian cari penyebab rumah makan baru kita ludes terbakar!” bisik ibu Ajeng paling mendominasi emosi sekaligus mencari solusi, ketimbang sang suami.
Alasan pak Imron tidak bisa sepenuhnya fokus ke masalah yang tengah membuat ibu Ajeng emosi lantaran pria baya itu tengah terbayang-bayang pap wanita seksi tadi. Sudah cantik, masih sangat muda, kulit putih mulus, rambut panjang bergelombang dan sangat lembut, buah dada yang hanya tertutup sebagian bra juga sangat montok menggoda.
“Duh ... andai rumah makan enggak kebakaran. Pasti cukup ke hotel langsung goyang!” batin pak Imron refleks menghela napas dalam sambil mengusap wajah menggunakan kedua tangan.
Yang ibu Ajeng tahu, alasan sang suami lesu sampai berkeringat dan sekadar bicara saja seolah tidak sanggup. Murni karena rumah makan baru mereka yang kebakaran. Padahal, suaminya sedang memikirkan si wanita seksi. Pak Imron bahkan sengaja diam-diam berkirim pesan. Termasuk juga beberapa foto sen.onoh si wanita dan membuatnya mengirimkan sejumlah uang melalui M—banking. Semua itu meninggalkan riwayat di ruang obrolannya dengan kontak tak berfoto dan ia beri nama : Tukang Ojek.
Ketika melewati jalan di sekitar hutan Tua yang sepi sekaligus berkabut, pak Imron melihat sosok cantik berkebaya merah. Sosok cantik yang memang akan menggoda para lelaki beriman lemah seperti pak Imron. Saking cantiknya dan sampai pamer belahan paha, pak Imron lupa bahwa wanita cantik berkebaya merah merupakan Ani yang akan ia tumbalkan.
Pak Imron sungguh lupa, bahwa lima tahun lalu, dirinya telah menumbalkan sang ART yang harusnya ia jadikan menantu. “Ssst! Andai enggak sama si Ajeng. Di hutan gini, berkabut dan beneran adem. Mana pahanya mulus menggoda gitu gitu. Semoga nanti aku bisa cicipin juga. Kapan-kapan, bahkan secepatnya, aku harus balik buat cari dia!” batin pak Imron yang juga buru-buru fokus. Rumah ki Yusna sudah makin dekat. Sementara ki Yusna yang sakti ia khawatirkan bisa membaca pikirannya.
••••
“Anak kuntilanak ...? Pelakunya benar-benar anak kuntilanak?!” batin ki Yusna benar-benar syok. “Dia sudah besar dan sepemberani itu?!” batin ki Yusna benar-benar syok.
Di benaknya setelah ia melakukan ritual menggunakan sesajen lengkap dengan kemenyan, ia melihat Syukur. Pemuda itu dengan sangat berani memanjat rumah makan dan membakar tuntas rumah makan tanpa bantuan.
“Syukur ... Athan ... mereka harus mati agar bukan aku yang mati! Namun, aku butuh kekuatan tambahan lagi!” batin ki Yusna lagi.
“TUMBAL PERAWAN LAGI?!” ibu Ajeng tidak bisa untuk tidak ngengas—marah. Sebab setelah memintanya menutup rumah makan yang terbakar. Bahkan ia dilarang membuka cabang di sekitar rumah makan milik Elra karena Elra dikatakan memiliki agama yang kuat. Kini, ki Yusna meminta tumbal perawan lagi.
“Dia harus jadi pengantin. Nanti saya siapkan kebaya merahnya lagi. Lebih banyak lebih baik! Lebih cepat juga lebih baik! Karena semakin banyak kalian menumbalkan perawan, makin banyak juga keuntungan yang akan kalian dapatkan!” tegas ki Yusna sengaja menakut-nakuti sekaligus menyemangati pasangan baya gila harta di hadapannya. “Setelah aku mendapatkan tambahan kekuatan dari keperawanan yang aku nikmati, ... aku akan menarik anak kuntilanak itu ke sini. Bagaimanapun caranya, aku akan menghabisi Syukur dan Athan. Karena selagi mereka masih ada, aku juga tidak akan bisa tenang!” batin ki Yusna.
°°°°
“Lebih banyak perawan yang kutumbalkan, lebih baik! Namun, minimal aku harus menumbalkan satu dulu biar usahaku balik lancar lagi! Masalahnya, di zaman yang sudah edan seperti sekarang, cari yang perawan itu susah. Masih SMP saja sudah banyak yang enggak perawan gara-gara pergaulan bebas!” pikir ibu Ajeng sibuk sendiri.
“Masa iya kali ini aku harus menumbalkan Rena?” pikir ibu Ajeng. Mendadak, ide gila itu sungguh muncul karena ia takut, usahanya yang tengah jaya-jayanya, mendadak jatuh.
Ibu Ajeng pulang hanya bersama sang sopir. Sebab sang suami mendadak turun dari mobil dengan alasan, mau rundingan lagi dengan ki Yusna. Ibu Ajeng merestui izin pak Imron lantaran permintaan tumbal lagi dari ki Yusna memang terbilang berat.
Padahal, alasan pak Imron turun dari mobil di jalan sekitar hutan tua Ani dibuang, murni karena nafsu sek.sualitas. Pak Imron mengalami puber untuk kesekian kalinya. Gaya hidup yang serba mudah akibat uang dan kejayaan yang dimiliki, membuatnya ingin apa-apa serba dicoba. Termasuk wanita demi wanita yang menggugah gairahnya.
Terlepas dari semuanya, Ani yang akhirnya pak Imron temukan juga tidak mengenali pak Imron apalagi sampai dendam. Ani dengan gaya kemayu sekaligus menggoda, membiarkan dirinya didekati dan perlahan dipegang-pegang oleh pak Imron. Pertemuan keduanya ada tepat di sebelah jurang.
Tanpa benat-benar menatap pak Imron, Ani yang masih kemayu berkata, “Jadilah pengantinku. Nikahi aku, ... sentuhlah aku.”
Sambil mendekap agresif pinggang ramping Ani dan dibiarkan oleh Ani yang terus menunduk, pak Imron berkata, “Kalau urutannya dibalik, tetap berlaku, kan? Menyentuhmu dulu, menikahimu, menjadi pengantinmu, ... bahkan ....”
Pak tak kuasa melanjutkan ucapannya. Sebab sentuhan lembut dari jemari lentik Ani yang membingkai wajahnya, benar-benar membuatnya terbuai. Jantungnya berdetak sangat kencang sementara napasnya memburu. Apalagi ketika bibir berisi milik Ani yang dipoles ginju merah seterang warna kebayanya, perlahan menempel bahkan meluma.t bibirnya. Namun tak lama setelah itu, Ani yang merengkuh tengkuk pak Imron, membuat pria baya itu jatuh menggelinding ke lereng jurang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Santi Rizal
rasain tuh Imron
2025-02-26
0
Ray
Nah itu Pak Imron ya gak kuat Iman jadi tumbal juga😱🤔
2024-08-14
0
Erina Munir
matteek luhh imroon
2024-07-16
0