Rena masih sibuk muntah, tapi ki Yusna tetap memberikan kebaya merahnya. Padahal, ki Yusna meragukan keperawanan Rena. Karena memang, kesibukan Rena muntah menandakan ada indikasi kuat bahwa wanita cantik itu sudah tidak perawan. Masalahnya, penampilan Rena yang sangat menarik, sekadar kulitnya pun tampak sangat mulus, benar-benar menggoda ki Yusna yang pada dasarnya tak memiliki iman. Ki Yusna yang sebelumnya sempat mencicipi Ani dan kecantikannya masih sangat sopan, merasa tertantang dengan gaya Rena yang gaul kekinian. Ki Yusna ingin segera mencicipi tubuh Rena yang tak segan mengumbar kemulusan paha maupun dada.
Ki Yusna keluar dari ruang yang hanya tertutup tirai. Ruang di mana di sana ada dipan beralas tikar anyaman lusuh. Tentunya, itu menjadi tempat tidur ki Yusna sekaligus tempat tua bangka itu mengeksekusi tumbal-tumbalnya. Selain sampai tidak disertai bantal, di sana juga ada meja yang dihiasi sesajen lengkap.
“Sudah jangan muntah terus. Ayo cepat pakai kebaya merah ini!” lirih ibu Ajeng geregetan apalagi ki Yusna sudah meninggalkan mereka agar Rena bisa memakai kebaya merahnya dengan leluasa.
Rena menggeleng tegas. “Apaan sih, Ma! Kebaya buluk bau anyir gitu harus aku pakai? Yang ada aku bisa gatal-gatal! Yang ada kulit aku bisa rusak!” tegasnya dengan suara lantang.
Bukan hanya ibu Ajeng yang bisa mendengarnya dan langsung tercengang. Karena ki Yusna yang menunggu di luar juga. Apalagi selain di gubuk sana tidak memiliki ruangan lain selain ruangan keberadaan ki Yusna dan juga ruangan yang ada dipannya. Pemisah ruangan pun hanya tirai warna merah yang sudah sangat lusuh.
Yang ibu Ajeng apalagi ki Yusna tahu, bagi mereka calon tumbal pengantin perawan, harusnya mereka juga tertarik ke kebaya merah tersebut. Layaknya ketika Ani yang menjadi tumbal pengantinnya dan saat itu memang lancar jaya.
“Padahal dulu Rena sampai ngambek parah gara-gara kebaya merahnya tetap dikasih ke Ani. Lah, ini ... kok dia anti banget?” batin ibu Ajeng menatap Rena penuh tanya. Ia jadi menerka-nerka dan memang meragukan keperawanan putrinya.
“Jangan bilang kalau kamu justru sudah enggak perawan! Jangan sampai itu beneran terjadi karena jika iya, kamu beneran enggak berguna!” lirih ibu Ajeng benar-benar geram. Ia mencubit kuat perut Rena.
Rena yang memang merasa bersalah, juga jadi merasa tengah dihakimi. Walau tak sampai menampik apalagi membenarkan, apa yang sang mama lakukan sukses membuat Rena diam. Adegan muntah-muntah sungguh usai meski Rena tetap merasa mual.
Tanpa bisa menyudahi emosinya, Ajeng menaruh paksa kebaya merahnya di kedua tangan Rena. Ia meninggalkan putrinya yang sudah ia wanti-wanti untuk segera menggunakan gaun merah tersebut. Setelah melewati ki Yusna yang berdiri tak jauh dari tirai merah, yang mengusik pikiran ibu Ajeng tentu mengenai absennya sang suami. Di sana, sang suami sungguh tidak ada. Pak Soleh pun, hanya terjaga sendiri.
Diamnya Rena yang tak lagi sibuk muntah membuat ki Yusna tersenyum semringah. Karena diamnya Rena juga, ia yakin bahwa sebenarnya Rena masih perawan. Padahal, di balik tirai yang ada di hadapan ki Yusna, Rena masih mual nyaris muntah. Rena yang menggerai rambut panjang digaya bergelombang itu susah payah menye bunyikan suara mualnya dengan cara membekap mulut.
“Setelah aku ingat-ingat, ini kebaya beneran mirip kebaya yang dikasih ke mbak Ani deh. Nah, ini ada tandanya. Aku kan sempat bikin manik-maniknya rusak setelah saat itu, aku merebutnya paksa. Namun saat itu, mama yang tahu marah besar dan merebut balik kebaya merahnya dari aku sebelum kembali memberikannya ke Ani,” pikir Rena amat sangat yakin. Sebab tanda-tanda yang ia sebutkan barusan memang sangat mirip dengan kebaya pengantin milik Ani dulu.
Di luar gubuk ki Yusna dan penuh kabut, ibu Ajeng sengaja menghampiri sang sopir. Kebetulan, sopirnya sedang membersihkan mobil bagian luar miliknya menggunakan kemoceng.
“Pak Soleh, ... Bapak ke mana?” tanya ibu Ajeng tidak bisa untuk tidak sewot apalagi emosi.
Pak Soleh langsung membungkuk santun menghampiri sang majikan. “Tadi pergi ke sana, dan memang belum balik, Bu.” Selain bertutur sangat santun, ia juga menunjuk arah jalan yang di maksud menggunakan jempol tangan kanannya.
“Ya ampun itu orang!” jengkel ibu Ajeng yang kemudian menyuruh sang sopir untuk segera mencari pak Imron. Karena tadi saat baru sampai, alih-alih masuk ke gubuk ki Yusna, pak Imron justru pergi ke jalan arwah Ani menunggu mangsa.
“Bilang, sudah ditungguin sama Ibu!” tegas ibu Ajeng benar-benat cerewet dan memang efek dari kenyataan wanita itu yang sedang emosi.
“Iya, Bu!” santun pak Soleh yang dalam hatinya jadi khawatir, jangan-jangan, pak Imron justru tergoda hantu Ani!
“Soalnya meski baru setengah tahun kerja ke mereka, pak Imron memang punya banyak ani-ani. Cuman, aku sudah disumpah enggak boleh cerita sama bapak. Duh, jangan-jangan ... si bapak beneran kena wanita cantik yang dandan ala-ala pengantin pakai kebaya merah itu,” lirih pak Soleh sambil terus mencari sang majikan.
Sambil terus melangkah, jemari tangan pak soleh juga bertasbih. Ani yang lagi-lagi akan menggoda, langsung melipir bahkan menghilang.
Senyum ki Yusna langsung mengembang tak lama setelah pandangannya mendapati Rena. Rena baru saja keluar dari balik tirai. Berbeda dari Ani yang saat itu hanya memiliki buah dada mungil tapi kencang, Rena justru memiliki dengan ukuran besar hingga belahannya terlihat sangat menggoda. Kancing kebaya bagian dadanya tampak sulit dikancing saking besarnya ukuran buah dada Rena. Seolah, Rena melakukan perawatan khusus demi menunjang penampilannya menjadi sempurna khususnya di bagian sana. Padahal, memang efek Rena sudah terbiasa melakukannya dengan Arga, selain kehamilan Rena yang tentu saja turut berperan.
“Hello, ni aki-aki kenapa matanya jelalatan ngelihatin belahanku?” batin Rena melirik tak suka Ki Yusna. Ia bahkan buru-buru pergi menghampiri sang mama yang baru kembali masuk ke dalam gubuk.
Hujan ringan mendadak mengguyur, tapi hujan kali ini sampai disertai petir yang menyambar-nyabar.
“Mana suamimu? Kalau memang tidak ikut ya tidak apa-apa. Karena semuanya harus segera dimulai. Lebih cepat lebih baik!” sergah ki Yusna yang dalam hatinya langsung berkata, “Karena aku beneran sudah enggak tahan. Si Rena mantep banget! Depan belakang gede, meski perutnya juga agak buncit!”
“Ini apanya yang akan dimulai?” pikir Rena jadi bertanya-tanya apalagi, sang mama yang menyikapi ki Yusna penuh keseriusan, seolah sudah langsung paham pada apa yang kakek itu maksud.
“Ya sudah langsung dimulai saja Ki!” itulah yang ibu Ajeng katakan mengiringi kepergian ki Yusna.
Baik di mata ibu Ajeng maupun di mata Rena, ki Yusna tampak sangat bersemangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Ray
Seorang Ibu yg sangat keji dan biadab😣
Demi harta dan kekayaan, anak dan keluarga ditumbalkan😣 Mungkin ini saatnya kehancuran mereka😱🤔
2024-08-14
0
Hilmiya Kasinji
ya Allah Mak Ajeng Iki memang ya ...
2024-06-28
0
Reni
astaga ini emak udah ketutup harta emg 😬
2024-06-10
0