Hampir semua rumah makan milik ibu Ajeng serempak terbakar tanpa sisa. Namun yang tersisa pun jadi sepi. Jangankan sampai antrean panjang. Yang datang pun jadi sibuk komplain. Ada yang mengaku makanannya basi. Ada juga yang sampai histeris karena makanan yang dibeli dihiasi belatung kecilnya. Semua itu sungguh nyata hingga pramusajinya bingung. Karena sebelum menyuguhkan mereka yakin, makanan dalam keadaan segar layak konsumsi.
Di rumah makan juara pusat, dan menjadi satu-satunya rumah makan yang tersisa memang masih ada para arwah laki-laki korban Ani. Masalahnya, mereka yang awalnya jadi tumbal penglaris, malah membuat keadaan jadi sebaliknya. Makanan dan minuman pembeli yang mereka ludahi, tak lagi membuat semuanya jadi lebih nikmat. Melainkan, semua makanan dan minuman justru jadi bermasalah. Hingga yang ada, rumah makan ibu Ajeng mau tak mau jadi rugi bandar. Sudah membuat bahan pokok rusak, pelanggan pun kecewa bahkan kapok untuk datang lagi. Ditambah lagi, ibu Ajeng juga sulit dihubungi. Begitu juga dengan pak Imron.
“Benaran enggak ada yang bisa dihubungi. Nomornya pak Imron maupun ibu Ajeng enggak ada yang aktif. Polisi pun tadi nanyain, kok nomor ibu Ajeng sama nomornya pak Imron enggak ada yang aktif?” ucap Susi, selaku karyawan kepercayaan di sana.
“Eh, coba telepon mbak Rena saja. Dia kan anak tunggal bos kita dan harusnya bisa kasih solusi juga,” usul rekannya dan merupakan seorang wanita muda.
Yang semuanya tahu, Rena memang anak tunggal pak Imron dan ibu Ajeng. Mereka-mereka yang baru mengenal ibu Ajeng dan pak Imron semenjak keduanya sukses di dunia kuliner, tidak mengenal Rega. Karena memang, Rega sengaja disembunyikan.
Di tempat berbeda, ibu Ajeng benar-benar masih hidup. Hanya saja, wanita itu terluka parah.
“Aku masih hidup, kan? Iya ... aku enggak mungkin mati. Karena aku ditakdirkan buat jadi orang kaya. Aku enggak ditakdirkan buat mati. Apalagi aku sudah pakai susuk yang bikin aku susah mati!” batin ibu Ajeng.
Gemetaran parah ibu Ajeng mencoba melepas sabuk pengaman dari tubuhnya. Akan tetapi efek mobil yang masih terbalik, ibu Ajeng jadi terperosok dan membuat tubuh bahkan wajahnya mengenai kaca mobil. Ibu Ajeng benar-benar terluka parah, tapi wanita itu tetap memiliki tenaga untuk menyelamatkan diri.
••••
“Tadi beneran ada Aira. Aku enggak bohong. Lihat saja di CCTV!” bawel Elra.
“Tadi kamu ngomong sendiri, sebelum kamu malah pingsan, cintaku!” balas Bian benar-benar geregetan.
Orang tua Elra yang turut di sana, di kamar Elra bersama Bian, jadi mengernyit bingung. Bian berucap tegas Elra hanya bicara sendiri. Sementara Elra yakin dirinya sedang berkomunikasi dengan Aira.
“Kalau gitu nanti aku tanya Athan sama Syukur. Biar mereka reka ulang apa yang aku alami!” jengkel Elra sambil menatap sebal Bian.
Bian yang lengan kemejanya sampai kotor lumpur. Karena saat jatuh dari tembok mengenai bagian yang berlumpur, langsung mendelik. “Iya ... sana tanya ke yang indigo. Aku kan indihome, eh out go. Jadi mana mungkin ngerti selain lewat CCTV!” ucapnya teriak-teriak dan memang mengomel.
Pak Elmer papanya Elra tidak bisa untuk tidak menahan tawa. Ia mengelus-elus punggung Bian.
“Menantumu sabar, kok, Pa. Enggak apa-apa, Pa. Beneran, ... aku sudah order banyak kesabaran biar bisa jadi suami idaman buat Elra seorang!” ucap Bian sambil menatap sungguh-sungguh pria berkacamata di sebelahnya.
Ketika pak Elmer jadi sibuk menahan tawa, tidak dengan Elra yang malah mual-mual karena gombalan Bian.
“Bian enggak boleh tahu kalau alasanku ke sini karena hari ini juga aku mau ikut Syukur dan Athan ke kampungnya Syukur. Kalau sampai Bian tahu, yang ada bahaya banget. Mulut si Bian kan mirip sangkakala! Bukannya healing, malah pusing tujuh keliling!” batin Elra yang kemudian izin ke kamar mandi. Namun sepert biasa, Bian dengan sangat sigap membantunya, bahkan meski ia terus menolak.
“Aku beneran mau bantu kamu. Aku enggak bakalan merkaos kamu sebelum halal dan janur kuning melengkung di depan rumah kita!” bawel Bian tetap membopong Elra. Kebetulan, kamar mandi di kamar Elra ada di luar rumah. Karena rumah keberadaan mereka memang merupakan rumah KPR yang tidak luas apalagi memiliki banyak ruangan seperti rumah tetap mereka di ibu kota.
“Sayang, ... aku takut banget loh!” sergah ibu Hyera selaku mamanya Elra kepada sang suami.
“Jangan bersugesti yang enggak-enggak, Ma.” Pal Elmer berusaha menenangkan penuh kesabaran.
“Mama rasa, Elra mirip mas Brandon. Yang dari muda sudah sering jadi target guna-guna,” sergah ibu Hyera.
“Enggak lah, beda. Kebetulan saja, saingan bisnis kita pakai sejenis tumbal penglaris. Buktinya, semua restoran mereka kebar, sementara yang tersisa pun malah sepi dan makanan maupun minumannya bermasalah,” lembut pak Elmer.
Ibu Hyera tetap belum bisa menyudahi kegelisahannya. Meski sang suami sudah sampai merangkulnya. Bibir berisi milik suaminya juga sampai menempel di ubun-ubunnya yang tertutup hijab hitam.
“Yang Mama tahu, kampung Syukur itu orangnya masih banyak yang percaya ke hal-hal syirik, Pa. Dulu, papa Helios sampai turun gunung untuk menyelamatkan Syukur. Papa masih ingat, kan? Nah, bentar lagi, Elra bakalan ikut ke sana,” ucap ibu Hyera.
“Elra ke sana nggak hanya sendiri. Ada Syukur dan Athan yang akan menemani. Enggak mungkin Syukur dan Athan enggak jagain Elra sementara selama ini, mereka getol banget jaga Elra. Lagian kalau enggak diizinin, kasihan juga. Urus kuliah saja, Elra sudah pusing. Eh ini buka cabang restoran sempat dijailin,” yakin pak Elmer kepada sang istri.
Sekitar dua jam kemudian, Elra sudah duduk santai di tempat duduk penumpang. Elra memilih duduk persis di belakang Athan. Hingga Elra bisa dengan leluasa mengawasi wajah tampan Syukur melalui kaca spion di atas pria itu.
Seperti biasa, Syukur mengemudi dengan sangat tenang. Syukur jauh lebih mahir menyetir dari Athan yang begitu Syukur jaga. Sebenarnya, Syukur hanya cucu dari alm. tukang kebun Athan. Syukur dan Athan sudah sama-sama sejak kecil, sejak keduanya berusia sekitar lima atau enam tahun. Alasan tersebut pula yang membuat keduanya sangat dekat. Apalagi sejauh bersama, Syukur tipikal pengabdi yang baik dan sebisa mungkin serba bisa hingga memang jadi sangat mengayomi Athan maupun semua orang yang dikenal.
Buktinya, Elra saja merasakan dampak sikap baik Syukur. Elra bahkan tak memandang status Syukur lantaran Elra tulus mencintai pemuda itu. Pun meski kini usia mereka baru dua puluh tahun, Elra yang tidak bisa jauh-jauh dari Syukur, siap-siap saja jika Syukur memang mau menikahinya.
Tanpa mereka sadari, bahkan itu Syukur dan Athan, di belakang mereka, di antara empat mobil yang mengikuti, Rena ada di sana. Rena menyetir sendiri dan memang masih jadi penguntit yang baik untuk Syukur.
“Jalannya kok enggak asing, ya? Mirip ke yang tempat dukun itu. Masa iya, mereka juga mau main dukun kayak Mama?” pikir Rena dan langsung sampai ke Athan.
“Itu tadi suara apa? Sepetinya aku kenal suaranya. Suara perempuan, dan memang enggak asing. Namun itu bukan suaranya Elra,” pikir Athan sambil mengawasi sekitar.
Athan percaya, setiap suara hati maupun isi pikiran yang bisa ia dengar, masih memiliki hubungan juga dengannya. “Berarti memang ada wanita yang sedang mengikuti kami!” pikir Athan yakin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Ray
Muantap Ethan bisa denger isi hati dan kata hati seseorang 🤔😄
2024-08-14
0
Damai Damaiyanti
aku ko jadi kangen kak ojan yg gila janda y
2024-06-30
0
Reni
Rena bingung nyari BPK buat anaknya 😂
2024-06-10
0