Ibu Ajeng memang berniat menumbalkan Rena, sang putri yang belum menikah dan ia yakini masih perawan. Ibu Ajeng sungguh harus segera melakukannya agar keadaan kembali baik-baik saja layaknya arahan ki Yusna. Bagaimana jika saingan usahanya kembali seperti Elra dan keluarga? Bisa-bisa ibu Ajeng kembali miskin dan mau tak mai harus menjalani hidup susah lagi.
Hanya saja, rasa berat itu tetap ada. Karena meninggalkan Rega di rumah lama demi membuat dunia tak tahu bahwa dirinya memiliki putra ca.cat, juga kerap membuat ibu Ajeng kepikiran. Masalahnya ketimbang ia yang sudah dikenal masyarakat luas sebagai pengusaha kuliner sukses justru dianggap miring. Ibu Ajeng benar-benar cari aman.
“Ya sudah lah. Besok sore juga aku bawa Rena ke rumahnya ki Yusna!” mantap ibu Ajeng diam-diam mengintip Rena dari pintu kamar putrinya itu yang sedikit ia buka.
Layaknya ketika membukanya, di tengah suasana malam yang temaram karena semua lampu nyaris sudah dimatikan semua. Ibu Ajeng menutup pintu kamar Rena dengan sangat hati-hati. Namun, ketika ia balik badan, ia dikejutkan oleh adanya sang suami.
Yang membuat ibu Ajeng terkejut, selain pak Imron datang tanpa tanda-tanda, wajah suaminya juga nyaris tanpa ekspresi. Tatapan pak Imron kosong dan wajahnya pun pucat gelap. Selain itu, kedua mata pak Imron juga nyaris tak berkedip.
“Papa ih!” cibir ibu Ajeng yang berlalu meninggalkan sang suami begitu saja.
Ibu Ajeng berpikir, alasan sang suami begitu karena memang sedang sangat pusing. Permintaan tumbal perawan dalam jumlah banyak dari ki Yusna, ibu Ajeng yakini menjadi penyebabnya.
Tak lama setelah kepergian ibu Ajeng, pak Imron yang tampangnya mirip manusia terinfeksi virus zombie, menjadi sibuk mengendus pintu kamar Rena. Namun, cara pak Imron mengendus, benar-benar masih tanpa ekspresi.
Di dalam kamar, di balik selimutnya, Rena masih terjaga. Rena masih sibuk dengan ponselnya dan ekspresi sekaligus gelagatnya benar-benar gelisah. Rena tengah berkirim pesan WA dengan kontak Bebz ❤️, dan foto profilnya merupakan mobil sport warna merah difoto dari samping.
Bebz ❤️ : Mau ngomong apa? Kangen? Malam ini juga aku ke sana, asal kamu bukain pintu saja 😘😘😘😘
Rena : Aku hamil
Balas Rena yang kemudian memfoto test pack di tangan kirinya.
Rena : Jangan tanya kok bisa?!
Rena : Kita sudah terlalu sering kan? Sementara kamu sering datang tiba-tiba. Aku belum persiapan kb, kamu pun enggak pake pengaman.
Di tempat berbeda, di gubuknya ki Yusna tengah merenung serius. Di tengah suasana yang nyaris gelap gulita, Ki Yusna tampak putus asa. Beberapa kali ki Yusna menghela napas kemudian mengusap wajah.
“Pantangan terbesarku ialah melakukan sengg.ama dengan selain yang perawan. Jadi, ketika harus berseng.gama sebenarnya antara senang sekaligus deg-degan takut.”
“Semoga, tumbal perawan yang besok beneran perawan seperti sebelumnya. Sekalian mau aku puas-puasin. Karena andai sampai tidak, kekuatanku beneran berkurang drastis. Aku harus minum darah orok yang lahir di malam kliwon buat memulihkan efeknya,” keluh ki Yusna sulit buat semangat.
•••
“I—ikut Mama, Papa? Aku kan mau kuliah, Ma. Ini mau langsung berangkat,” ucap Rena sangat hati-hati. Ia yang sebelumnya cukup deg-degan, jadi makin deg-degan hanya karena permintaan sang mama. Sebab andai dirinya ikut sang mama, ia khawatir gelagat aneh efek mengidam yang ia alami, diketahui orang tuanya.
Kini saja, sekadar menghirup aroma masakan sejenis nasi dan lauk-pauk, membuat Rena sangat mual. Padahal, ia sudah memakai masker yang ditempeli stiker aroma terapi.
Sambil melahap nasi dan rendangnya, ibu Ajeng yang makan dengan lahap layaknya orang tak memiliki beban, mengangguk-angguk. Ia membenarkan pernyataan sang anak yang memastikan putrinya itu untuk ikut dengannya.
“Iya. Hari ini kamu ikut Mama ke Sukabumi buat—” Ibu Ajeng yang sempat berucap lancar layaknya orang tak memiliki beban bahkan dosa, refleks diam. Namun tentu saja, ibu Ajeng tak mungkin jujur bahwa alasannya mengajak Rena karena ia akan menjadikan putrinya itu tumbal.
Mendadak, ibu Ajeng tak bisa melanjutkan ucapannya. Mendadak juga, ia tak lagi fokus ke menu sarapannya dan memang langsung menu berat yaitu rendang dengan nasi. Dengan sendirinya, tatapan ibu Ajeng jadi menatap putrinya sendu.
Rena yang makin cantik dengan segala kemewahannya, duduk persis di hadapan ibu Ajeng. Rena masih menatap sang mama dengan banyak keseriusan cenderung takut. Namun kini, sang mama yang sedari tadi bahkan memang selalu sibuk dengan dunianya sendiri, mendadak menatapnya sendu. Ibu Ajeng yang biasanya bengis, tampak sedih khas orang yang merasakan kehilangan mendalam.
“M—ma ...?” ucap Rena ragu lantaran sang mama justru bengong.
Panggilan Rena barusan membuat ibu Ajeng terusik. Meski ibu Ajeng refleks menelan makanan yang belum beres kunyah dan membuat wanita itu merasakan seret. Ibu Ajeng mantap untuk menumbalkan Rena. Agar usaha yang ia bangun dan sudah mengharumkan namanya sekeluarga, tetap jaya.
“Aku harus nurut ke Ki Yusna!” batin ibu Ajeng yang kemudian berkata, “Pokoknya kamu wajib ikut. Apa pun alasannya!”
Ibu Ajeng refleks menghela napas dalam sekaligus berat. Sementara Rena langsung mendengkus jengkel. Rena tidak bisa sepenuhnya menerima keputusan sang mama yang lagi-lagi memaksanya. Akan tetapi, Rena juga tak memiliki keberanian untuk menolak apalagi memberontak.
Kenyataan ibu Ajeng yang menoleh ke sebelah kanannya dan di sana ada sang suami, justru membuatnya jengkel. Sudah pakaian saja masih sama, makanan juga masih utuh, dan pak Imron juga hanya diam.
“Laki-laki ... beneran lebih sering enggak gunanya. Bakatnya cuma nyusahin dan dikit-dikit minta dilayani. Paling banter tagihan kartu kredit paling banyak. Gedeg banget kalau sudah gitu!” batin ibu Ajeng memilih pergi dari sana.
“Cepat habiskan sarapanmu. Mama tunggu di mobil!” sergah ibu Ajeng sambil menenteng tas mahalnya.
Rena langsung mendengkus sebal melepas kepergian sang mama. Namun ketika ia tak sengaja menatap ke sang papa, ia refleks merinding. “Kok, ... aku mendadak jadi merinding panas dingin gini, y?” pikir Rena berangsur mengusap leher dan sekitarnya. Sesekali, tatapannya kembali tertuju ke sang papa.
Di kursi paling ujung meja makan mereka yang mewah, pak Imron tetap saja diam. Bahkan sekadar mengedipkan mata saja, pak Imron seolah tidak melakukannya. Termasuk juga perihal bernapas, Rena tak kunjung mendengarnya.
“Aku pikir, setelah kehidupan kami mendadak sangat enak dan memang kaya raya. Aku bisa bahagia dan dapat banyak perhatian dari orang tuaku. Namun, nyatanya sama saja. Kau malah jadi sangat kesepian sejak kak Rega lumpuh mirip mayat hidup. Ditambah lagi, mbak Ani yang biasa jadi temen curhat malah mudik buat nikah terus enggak balik kerja lagi,” batin Rena tak sampai menyentuh sarapannya. Ia bergegas dari sana untuk menyusul sang mama. Ia tak mau ada badai tornado di sana dan itu karena kemarahan mamanya.
“Ayo Pa. Cepetan. Papa ikut, kan? Nanti Mama marah-marah lagi,” ucap Rena lantaran sang papa mirip tugu keramat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Ray
Pak Imron sudah Koit, tapi masih bisa dilihat Ibu Ajeng dan anaknya😱🤔
Apa mati penasaran karena tumbal🤔
Lanjut baca agar tidak penasaran💪😘
2024-08-14
0
Erina Munir
bpkmu wis meninggooy
2024-07-16
0
Tati st🍒🍒🍒
pak imron jadi mayat hidupkah
2024-07-02
0