7. Keadaan Rena dan Pantangan Ki Yusna

Ibu Ajeng memang berniat menumbalkan Rena, sang putri yang belum menikah dan ia yakini masih perawan. Ibu Ajeng sungguh harus segera melakukannya agar keadaan kembali baik-baik saja layaknya arahan ki Yusna. Bagaimana jika saingan usahanya kembali seperti Elra dan keluarga? Bisa-bisa ibu Ajeng kembali miskin dan mau tak mai harus menjalani hidup susah lagi.

Hanya saja, rasa berat itu tetap ada. Karena meninggalkan Rega di rumah lama demi membuat dunia tak tahu bahwa dirinya memiliki putra ca.cat, juga kerap membuat ibu Ajeng kepikiran. Masalahnya ketimbang ia yang sudah dikenal masyarakat luas sebagai pengusaha kuliner sukses justru dianggap miring. Ibu Ajeng benar-benar cari aman.

“Ya sudah lah. Besok sore juga aku bawa Rena ke rumahnya ki Yusna!” mantap ibu Ajeng diam-diam mengintip Rena dari pintu kamar putrinya itu yang sedikit ia buka.

Layaknya ketika membukanya, di tengah suasana malam yang temaram karena semua lampu nyaris sudah dimatikan semua. Ibu Ajeng menutup pintu kamar Rena dengan sangat hati-hati. Namun, ketika ia balik badan, ia dikejutkan oleh adanya sang suami.

Yang membuat ibu Ajeng terkejut, selain pak Imron datang tanpa tanda-tanda, wajah suaminya juga nyaris tanpa ekspresi. Tatapan pak Imron kosong dan wajahnya pun pucat gelap. Selain itu, kedua mata pak Imron juga nyaris tak berkedip.

“Papa ih!” cibir ibu Ajeng yang berlalu meninggalkan sang suami begitu saja.

Ibu Ajeng berpikir, alasan sang suami begitu karena memang sedang sangat pusing. Permintaan tumbal perawan dalam jumlah banyak dari ki Yusna, ibu Ajeng yakini menjadi penyebabnya.

Tak lama setelah kepergian ibu Ajeng, pak Imron yang tampangnya mirip manusia terinfeksi virus zombie, menjadi sibuk mengendus pintu kamar Rena. Namun, cara pak Imron mengendus, benar-benar masih tanpa ekspresi.

Di dalam kamar, di balik selimutnya, Rena masih terjaga. Rena masih sibuk dengan ponselnya dan ekspresi sekaligus gelagatnya benar-benar gelisah. Rena tengah berkirim pesan WA dengan kontak Bebz ❤️, dan foto profilnya merupakan mobil sport warna merah difoto dari samping.

Bebz ❤️ : Mau ngomong apa? Kangen? Malam ini juga aku ke sana, asal kamu bukain pintu saja 😘😘😘😘

Rena : Aku hamil

Balas Rena yang kemudian memfoto test pack di tangan kirinya.

Rena : Jangan tanya kok bisa?!

Rena : Kita sudah terlalu sering kan? Sementara kamu sering datang tiba-tiba. Aku belum persiapan kb, kamu pun enggak pake pengaman.

Di tempat berbeda, di gubuknya ki Yusna tengah merenung serius. Di tengah suasana yang nyaris gelap gulita, Ki Yusna tampak putus asa. Beberapa kali ki Yusna menghela napas kemudian mengusap wajah.

“Pantangan terbesarku ialah melakukan sengg.ama dengan selain yang perawan. Jadi, ketika harus berseng.gama sebenarnya antara senang sekaligus deg-degan takut.”

“Semoga, tumbal perawan yang besok beneran perawan seperti sebelumnya. Sekalian mau aku puas-puasin. Karena andai sampai tidak, kekuatanku beneran berkurang drastis. Aku harus minum darah orok yang lahir di malam kliwon buat memulihkan efeknya,” keluh ki Yusna sulit buat semangat.

•••

“I—ikut Mama, Papa? Aku kan mau kuliah, Ma. Ini mau langsung berangkat,” ucap Rena sangat hati-hati. Ia yang sebelumnya cukup deg-degan, jadi makin deg-degan hanya karena permintaan sang mama. Sebab andai dirinya ikut sang mama, ia khawatir gelagat aneh efek mengidam yang ia alami, diketahui orang tuanya.

Kini saja, sekadar menghirup aroma masakan sejenis nasi dan lauk-pauk, membuat Rena sangat mual. Padahal, ia sudah memakai masker yang ditempeli stiker aroma terapi.

Sambil melahap nasi dan rendangnya, ibu Ajeng yang makan dengan lahap layaknya orang tak memiliki beban, mengangguk-angguk. Ia membenarkan pernyataan sang anak yang memastikan putrinya itu untuk ikut dengannya.

“Iya. Hari ini kamu ikut Mama ke Sukabumi buat—” Ibu Ajeng yang sempat berucap lancar layaknya orang tak memiliki beban bahkan dosa, refleks diam. Namun tentu saja, ibu Ajeng tak mungkin jujur bahwa alasannya mengajak Rena karena ia akan menjadikan putrinya itu tumbal.

Mendadak, ibu Ajeng tak bisa melanjutkan ucapannya. Mendadak juga, ia tak lagi fokus ke menu sarapannya dan memang langsung menu berat yaitu rendang dengan nasi. Dengan sendirinya, tatapan ibu Ajeng jadi menatap putrinya sendu.

Rena yang makin cantik dengan segala kemewahannya, duduk persis di hadapan ibu Ajeng. Rena masih menatap sang mama dengan banyak keseriusan cenderung takut. Namun kini, sang mama yang sedari tadi bahkan memang selalu sibuk dengan dunianya sendiri, mendadak menatapnya sendu. Ibu Ajeng yang biasanya bengis, tampak sedih khas orang yang merasakan kehilangan mendalam.

“M—ma ...?” ucap Rena ragu lantaran sang mama justru bengong.

Panggilan Rena barusan membuat ibu Ajeng terusik. Meski ibu Ajeng refleks menelan makanan yang belum beres kunyah dan membuat wanita itu merasakan seret. Ibu Ajeng mantap untuk menumbalkan Rena. Agar usaha yang ia bangun dan sudah mengharumkan namanya sekeluarga, tetap jaya.

“Aku harus nurut ke Ki Yusna!” batin ibu Ajeng yang kemudian berkata, “Pokoknya kamu wajib ikut. Apa pun alasannya!”

Ibu Ajeng refleks menghela napas dalam sekaligus berat. Sementara Rena langsung mendengkus jengkel. Rena tidak bisa sepenuhnya menerima keputusan sang mama yang lagi-lagi memaksanya. Akan tetapi, Rena juga tak memiliki keberanian untuk menolak apalagi memberontak.

Kenyataan ibu Ajeng yang menoleh ke sebelah kanannya dan di sana ada sang suami, justru membuatnya jengkel. Sudah pakaian saja masih sama, makanan juga masih utuh, dan pak Imron juga hanya diam.

“Laki-laki ... beneran lebih sering enggak gunanya. Bakatnya cuma nyusahin dan dikit-dikit minta dilayani. Paling banter tagihan kartu kredit paling banyak. Gedeg banget kalau sudah gitu!” batin ibu Ajeng memilih pergi dari sana.

“Cepat habiskan sarapanmu. Mama tunggu di mobil!” sergah ibu Ajeng sambil menenteng tas mahalnya.

Rena langsung mendengkus sebal melepas kepergian sang mama. Namun ketika ia tak sengaja menatap ke sang papa, ia refleks merinding. “Kok, ... aku mendadak jadi merinding panas dingin gini, y?” pikir Rena berangsur mengusap leher dan sekitarnya. Sesekali, tatapannya kembali tertuju ke sang papa.

Di kursi paling ujung meja makan mereka yang mewah, pak Imron tetap saja diam. Bahkan sekadar mengedipkan mata saja, pak Imron seolah tidak melakukannya. Termasuk juga perihal bernapas, Rena tak kunjung mendengarnya.

“Aku pikir, setelah kehidupan kami mendadak sangat enak dan memang kaya raya. Aku bisa bahagia dan dapat banyak perhatian dari orang tuaku. Namun, nyatanya sama saja. Kau malah jadi sangat kesepian sejak kak Rega lumpuh mirip mayat hidup. Ditambah lagi, mbak Ani yang biasa jadi temen curhat malah mudik buat nikah terus enggak balik kerja lagi,” batin Rena tak sampai menyentuh sarapannya. Ia bergegas dari sana untuk menyusul sang mama. Ia tak mau ada badai tornado di sana dan itu karena kemarahan mamanya.

“Ayo Pa. Cepetan. Papa ikut, kan? Nanti Mama marah-marah lagi,” ucap Rena lantaran sang papa mirip tugu keramat.

Terpopuler

Comments

Ray

Ray

Pak Imron sudah Koit, tapi masih bisa dilihat Ibu Ajeng dan anaknya😱🤔
Apa mati penasaran karena tumbal🤔
Lanjut baca agar tidak penasaran💪😘

2024-08-14

0

Erina Munir

Erina Munir

bpkmu wis meninggooy

2024-07-16

0

Tati st🍒🍒🍒

Tati st🍒🍒🍒

pak imron jadi mayat hidupkah

2024-07-02

0

lihat semua
Episodes
1 1. Tumbal yang Menjadi Solusi
2 2. Kebaya Pengantin Warna Merah
3 3. Hajatan Gaib
4 4. Menjadi Tumbal Pesugihan
5 5. Rumah Makan Juara
6 6. Siasat Ki Yusna
7 7. Keadaan Rena dan Pantangan Ki Yusna
8 8. Harus Perawan!
9 9. Semuanya Benar-Benar Akan Dimulai!
10 10. Akhirnya Terjadi
11 11. Nasib Kebaya Pengantin Merah
12 12. Mulai Di Luar Kendali
13 13. Persekutuan Ki Yusna Dengan Ani
14 14. Teror Kebaya Pengantin Merah
15 15. Karma yang Mulai Mengincar
16 16. Kekuatan Tumbal yang Mulai Luntur
17 17. Iblis dan Manusia Tamak
18 18. Serangan Dadakan
19 19. Lorong Waktu dan Hutan Tua
20 20. Termakan Sumpah : Elra Kesayangannya Syukur
21 21. Dendam Masa Lalu yang Mendarah Daging
22 22. Gara-Gara Tumbal Pesugihan
23 23. Tak Boleh Terpisah
24 24. Perpisahan
25 25. Menyelamatkan Bian
26 26. Keris yang Akhirnya Terbang
27 27. Terpisah
28 28. Solusi Dan Mengatasi
29 29. Makam Aira dan Jejak Makam Wanita Berkebaya Pengantin Merah
30 30. Kedatangan Rega
31 31. Lahirnya Bayi Bajang Bermata Merah
32 32. Jebakan?
33 33. Sudah Berakhir?
34 34. Bertanda Baik?
35 35. Tumbal Pengantin Sepasang Perjaka
36 36. Yang Hilang
37 37. Hilangnya Jasad Pak Imron
38 38. Luka-Luka Karena Tumbal
39 39. Sudah Ada Titik Terang
40 40. 5 Tahun Setelah Syukur Ditemukan
41 41. Masih Ada Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah?
42 42. Terikat Sumpah
43 43. Eksekusi dan Ritual yang Gagal
44 44. Kelemahan Ki Yusna
45 Akhir Dari Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah
46 Novel Athan Daisy : Gadis Berisik Kesayangan CEO Pembaca Pikiran
47 Novel Bian : Transmigrasi Dan Pembalasan Gadis Yang Ternoda
48 Pengumuman Pemenang!
49 Novel Elra Syukur : Kejar Aku Mas Mafia (Kisah Cinta Dua Dunia)
Episodes

Updated 49 Episodes

1
1. Tumbal yang Menjadi Solusi
2
2. Kebaya Pengantin Warna Merah
3
3. Hajatan Gaib
4
4. Menjadi Tumbal Pesugihan
5
5. Rumah Makan Juara
6
6. Siasat Ki Yusna
7
7. Keadaan Rena dan Pantangan Ki Yusna
8
8. Harus Perawan!
9
9. Semuanya Benar-Benar Akan Dimulai!
10
10. Akhirnya Terjadi
11
11. Nasib Kebaya Pengantin Merah
12
12. Mulai Di Luar Kendali
13
13. Persekutuan Ki Yusna Dengan Ani
14
14. Teror Kebaya Pengantin Merah
15
15. Karma yang Mulai Mengincar
16
16. Kekuatan Tumbal yang Mulai Luntur
17
17. Iblis dan Manusia Tamak
18
18. Serangan Dadakan
19
19. Lorong Waktu dan Hutan Tua
20
20. Termakan Sumpah : Elra Kesayangannya Syukur
21
21. Dendam Masa Lalu yang Mendarah Daging
22
22. Gara-Gara Tumbal Pesugihan
23
23. Tak Boleh Terpisah
24
24. Perpisahan
25
25. Menyelamatkan Bian
26
26. Keris yang Akhirnya Terbang
27
27. Terpisah
28
28. Solusi Dan Mengatasi
29
29. Makam Aira dan Jejak Makam Wanita Berkebaya Pengantin Merah
30
30. Kedatangan Rega
31
31. Lahirnya Bayi Bajang Bermata Merah
32
32. Jebakan?
33
33. Sudah Berakhir?
34
34. Bertanda Baik?
35
35. Tumbal Pengantin Sepasang Perjaka
36
36. Yang Hilang
37
37. Hilangnya Jasad Pak Imron
38
38. Luka-Luka Karena Tumbal
39
39. Sudah Ada Titik Terang
40
40. 5 Tahun Setelah Syukur Ditemukan
41
41. Masih Ada Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah?
42
42. Terikat Sumpah
43
43. Eksekusi dan Ritual yang Gagal
44
44. Kelemahan Ki Yusna
45
Akhir Dari Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah
46
Novel Athan Daisy : Gadis Berisik Kesayangan CEO Pembaca Pikiran
47
Novel Bian : Transmigrasi Dan Pembalasan Gadis Yang Ternoda
48
Pengumuman Pemenang!
49
Novel Elra Syukur : Kejar Aku Mas Mafia (Kisah Cinta Dua Dunia)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!