3. Hajatan Gaib

Lusanya, Senin yang terik hingga sore harinya, Ani dan Rega benar-benar akan dinikahkan. Setahunya, begitu. Baik Ani apalagi Rega yakin, ibu Ajeng maupun pak Imron akan menikahkan mereka. Meski mengenai tempat dan acaranya, belum mereka ketahui bagaimana keadaannya.

Rega apalagi Ani dipaksa menurut. Keduanya dibawa keluar dari Jakarta membawa mobil. Yang ikut ke pernikahan mereka pun hanya Rega, Ani, pak Imron, dan juga ibu Ajeng. Rena yang sempat ngambek ingin gamis kebaya pengatin warna merah milik Ani, tetap tidak diajak meski gadis berusia tujuh belas tahun itu makin tantrum.

Kini Ani sudah dandan layaknya pengantin pada kebanyakan. Sebelum memakai kebaya pengantin pemberian Ki Yusna, Rega sengaja mengajak Ani ke salon untuk mempercantik diri. Benar saja, rias pengantin adat Jawa Tengah dilengkapi paes dan seperangkatnya, membuat pujaan hatinya itu makin cantik paripurna. Ani benar-benar makin cantik dan memang bikin pangling, hingga Rega selalu ingin dekat-dekat dengannya. Akan tetapi, kenyataan kebaya pengantin merah yang beraroma anyir luar biasa bagi mereka, membuat Rega tak kuasa dekat-dekat dengan Ani. Padahal, Rega sangat ingin dekat-dekat dengan Ani. Karena saat masih backsreet saja, inginnya selalu dekat. Apalagi sekarang yang sudah dapat restu.

Rega sengaja mengalah duduk di tempat duduk paling belakang karena ia tak mungkin membiarkan Ani yang sudah dandan cantik ala pengantin, melakukannya. Sedangkan di tempat duduk tengah, Ani yang sampai memakai rangkaian bunga melati di dada dan juga sanggulnya, duduk sendiri. Sebab ibu Ajeng yang memakai masker lengkap dengan banyak stiker aroma terapi, memilih duduk di sebelah pak Imron yang menyetir mobil.

Sebenarnya bukan hanya ibu Ajeng yang memakai masker penuh aroma terapi. Karena pak Imron, dan juga Rega, juga.

“Aku penasaran banget loh, kenapa Ani enggak kebauan kayak yang lain. Eh, si Rena juga enggak kebauan. Aneh, sisanya kebauan,” pikir Rega yang kemudian bertanya, “Ma ... Pa, kalian dapat kebaya yang Ani pakai dari mana, sih? Kok buuuuau banget gitu? Terus, ini kita mau ke mana? Kita keluar dari Jakarta dan sekarang masuk ke wilayah Sukabumi.”

“Lah ... kita masuk ke hutan begini, makin jarang pemukiman dan memang enggak ada orang. Ma, Pa ... aku dan Ani mau nikah. Kok malah dibawa ke hutan gini? Enggak ada orang ini.” Meski Rega sudah sangat cerewet dan tak hentinya protes, orang tuanya tetap mendiamkannya.

“Iya, ya ... ini kok ke hutan gini?” batin Ani mulai curiga juga. Namun, Ani sempat berpikir bahwa bisa jadi, tema pernikahan untuknya dan Rega, memang yang mengusung konsep hutan seperti orang kaya bahkan artis.

“Kalau iya, masa sesepi ini? Ini sepi banget loh ...,” batin Ani jadi sibuk mengawasi suasana luar.

Setelah mengarungi perjalanan jauh dan lebih dari tiga jam karena mereka terjebak macet, akhirnya mobil pak Imron menepi. Di depan gubuk Ki Yusna, mobil berhenti dengan suasana yang sudah sangat gelap. Adzan magrib saja tampaknya sudah lewat meski kini baru setengah enam sore.

“Pa, ... Ma? Ini sebenarnya kita mau ngapain?!” sergah Rega sambil menatap curiga keadaan di sana.

“Sumpah, Bang! Aku juga jadi takut,” batin Ani tak berani mengatakannya.

“Sudah, kamu enggak usah berisik apalagi protes. Kamu mau nikah enggak?!” balas ibu Ajeng marah-marah. Tak semata karena Rega terus saja berisik. Namun juga kenyataan Rega dan Ani yang selama empat tahun terakhir backstreet.

Sambil mendekati Ani, Rega yang menatap penuh kepastian sang mama berkata, “Maksudnya ini kenapa kita ke tempat sepi gini. Enggak ada tanda-tanda pernikahan dan—”

Rega tak jadi melanjutkan ucapan yang merupakan bagian dari protesnya. Sebab di luar sana mendadak ramai suara angklung maupun permainan gamelan. Rega maupun orang tuanya dapati, di depan gubuk ki Yusna yang awalnya hanya gubuk biasa, mendadak seperti ada pesta hajatan. Janur kuning ada di mana-mana. Panggung hiburan lengger dan tarian adat Sunda menjadi keramaian utama di sana. Beberapa tamu juga tampak menikmati jamuan di sana.

“Hah? Mendadak begini?” refleks Rega bingung sendiri mengawasi keadaan di luar sana.

Meski tahu apa yang akan mereka lakukan bahkan apa yang akan terjadi, baik pak Imron maupun ibu Ajeng juga tak hentinya merinding. Keduanya tak hentinya saling gandeng agak merangkul. Pak Imron dan ibu Ajeng tidak berani melihat keramaian di sana karena keduanya yakin, semua itu merupakan demit alias jin dan sebagainya.

Ki Yusna langsung menyambut kedatangan mereka. Ia ditemani dua wanita cantik layaknya biduan, tapi berwajah tanpa ekspresi. Kedua wanita itu membawa nampan berisi empat gelas minuman.

Ketika di mata pak Imran, ibu Ajeng, dan juga Rega, semuanya tampak baik-baik saja, tidak dengan Ani. Ani melihat semua manusia di sana kecuali mereka dan ki Yusna, layaknya hantu bahkan zombie. Semuanya berwajah gelap, termasuk juga air minum berisi kembang tujuh rupa. Meski sama-sama dijatah minum, yang untuk Ani maupun Rega, ada darah segarnya. Darah segar itu dalam proses mencampur.

“Bang, aku beneran takut, Bang!” bisik Ani gemetaran ketakutan. Ia bahkan menahan tangis sambil terus berusaha memeluk Rega.

“Sayang, kamu ini apaan, sih? Orang tuaku sudah menyiapkan pesta pernikahan buat kita. Lihat ramai banget! Ini terbilang sangat spesial!” yakin Rega sambil berusaha lanjut minum minuman pemberian ki Yusna meski Ani terus saja melarangnya.

“Memangnya mereka enggak lihat, ya? Kenapa kesannya hanya aku saja yang lihat?” pikir Ani yang kemudian sampai dipaksa minum minuman miliknya.

Ani yang melihat itu minuman sampai dihiasi darah segar dan aromanya juga sangat amis, muntah-muntah. Sebenarnya, baik pak Imron maupun ibu Ajeng, merasa ngeri dengan yang Ani alami.

“Pa, kira-kira yang Ani lihat apa, ya? Dia sampai muntah gitu, dan terus menolak minum andai Rega enggak maksa,” bisik ibu Ajeng.

“Enggak tahu, Ma. Namun Papa yakin, semua proses penumbalan untuk Ani sudah dimulai. Sebentar lagi kita akan kaya karena usaha kuliner kita pasti sukses besar!” balas pak Imron berbisik-bisik juga.

“Minum ih ... kamu harus minum biar kita cepat ijab kabul!” marah Rega yang jadi sangat emosional. Padahal, selain muntah-muntah, Ani juga sudah berderai air mata.

“Air pemberianku yang diminum tuntas oleh anaknya pak Imron, sudah bereaksi. Setelah ini, dia tak hanya kasar kepada Ani. Karena dia juga akan melupakan Ani. Ani yang cantik jelita akan menjadi milikku sebelum akhirnya aku tumbalkan menjadi bagian dari sumber pesugihan mereka,” batin Ki Yusna yang diam-diam mengawasi Ani maupun Rega.

Di tengah suasana ramai angklung, gamelan, tawa warga dalam hajatan di sana, ki Yusna yakin, semua proses menuju penumbalan Ani sudah beres.

Tak lama kemudian, baik Ani maupun Rega berakhir pingsan. Rega langsung diboyong masuk ke dalam mobil oleh orang tuanya. Sedangkan Ani diboyong masuk ke dalam gubuk oleh orang tua Rega. Sebab tak lama setelah calon pengantin itu pingsan, semua pesta khas hajatan di sana langsung hilang.

Ani direbahkan di sebuah dipan beralas tikar anyaman daun pandan. Di sana hanya ada satu bantal lusuh, sementara di sebelahnya ada meja penuh sesajen. Asap dari pembakaran kemeyan dan memang sangat pekat, membuat pak Imron maupun ibu Ajeng, terbatuk-batuk. Entah apa yang terjadi setelahnya karena ibu Ajeng dan pak Imron diminta menunggu di luar kamar. Hanya Ki Yusna yang ada di dalam kamar. Namun, mereka mendengar desahan penuh kenikmatan dan mereka kenali sebagai suara pak Yusna. Tak lama kemudian, mereka juga mendengar rintih tangis kesakitan dan mereka kenali sebagai suara tangis Ani. Yang paling mencolok, di antara kedua suara itu, mereka juga mendengar derit dipan kayu khas orang sedang bersenggama. Ibu Ajeng dan pak Imron yang mendengarnya, jadi panas dingin berkeringat.

Terpopuler

Comments

Ray

Ray

Ani diperawani Si Dukun, untuk dijadikan tumbal😱😱😣

2024-08-14

0

Erina Munir

Erina Munir

ihhhh mengerikaan..

2024-07-16

0

Rahmawati

Rahmawati

kasian ani jd tumbal

2024-07-04

0

lihat semua
Episodes
1 1. Tumbal yang Menjadi Solusi
2 2. Kebaya Pengantin Warna Merah
3 3. Hajatan Gaib
4 4. Menjadi Tumbal Pesugihan
5 5. Rumah Makan Juara
6 6. Siasat Ki Yusna
7 7. Keadaan Rena dan Pantangan Ki Yusna
8 8. Harus Perawan!
9 9. Semuanya Benar-Benar Akan Dimulai!
10 10. Akhirnya Terjadi
11 11. Nasib Kebaya Pengantin Merah
12 12. Mulai Di Luar Kendali
13 13. Persekutuan Ki Yusna Dengan Ani
14 14. Teror Kebaya Pengantin Merah
15 15. Karma yang Mulai Mengincar
16 16. Kekuatan Tumbal yang Mulai Luntur
17 17. Iblis dan Manusia Tamak
18 18. Serangan Dadakan
19 19. Lorong Waktu dan Hutan Tua
20 20. Termakan Sumpah : Elra Kesayangannya Syukur
21 21. Dendam Masa Lalu yang Mendarah Daging
22 22. Gara-Gara Tumbal Pesugihan
23 23. Tak Boleh Terpisah
24 24. Perpisahan
25 25. Menyelamatkan Bian
26 26. Keris yang Akhirnya Terbang
27 27. Terpisah
28 28. Solusi Dan Mengatasi
29 29. Makam Aira dan Jejak Makam Wanita Berkebaya Pengantin Merah
30 30. Kedatangan Rega
31 31. Lahirnya Bayi Bajang Bermata Merah
32 32. Jebakan?
33 33. Sudah Berakhir?
34 34. Bertanda Baik?
35 35. Tumbal Pengantin Sepasang Perjaka
36 36. Yang Hilang
37 37. Hilangnya Jasad Pak Imron
38 38. Luka-Luka Karena Tumbal
39 39. Sudah Ada Titik Terang
40 40. 5 Tahun Setelah Syukur Ditemukan
41 41. Masih Ada Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah?
42 42. Terikat Sumpah
43 43. Eksekusi dan Ritual yang Gagal
44 44. Kelemahan Ki Yusna
45 Akhir Dari Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah
46 Novel Athan Daisy : Gadis Berisik Kesayangan CEO Pembaca Pikiran
47 Novel Bian : Transmigrasi Dan Pembalasan Gadis Yang Ternoda
48 Pengumuman Pemenang!
49 Novel Elra Syukur : Kejar Aku Mas Mafia (Kisah Cinta Dua Dunia)
Episodes

Updated 49 Episodes

1
1. Tumbal yang Menjadi Solusi
2
2. Kebaya Pengantin Warna Merah
3
3. Hajatan Gaib
4
4. Menjadi Tumbal Pesugihan
5
5. Rumah Makan Juara
6
6. Siasat Ki Yusna
7
7. Keadaan Rena dan Pantangan Ki Yusna
8
8. Harus Perawan!
9
9. Semuanya Benar-Benar Akan Dimulai!
10
10. Akhirnya Terjadi
11
11. Nasib Kebaya Pengantin Merah
12
12. Mulai Di Luar Kendali
13
13. Persekutuan Ki Yusna Dengan Ani
14
14. Teror Kebaya Pengantin Merah
15
15. Karma yang Mulai Mengincar
16
16. Kekuatan Tumbal yang Mulai Luntur
17
17. Iblis dan Manusia Tamak
18
18. Serangan Dadakan
19
19. Lorong Waktu dan Hutan Tua
20
20. Termakan Sumpah : Elra Kesayangannya Syukur
21
21. Dendam Masa Lalu yang Mendarah Daging
22
22. Gara-Gara Tumbal Pesugihan
23
23. Tak Boleh Terpisah
24
24. Perpisahan
25
25. Menyelamatkan Bian
26
26. Keris yang Akhirnya Terbang
27
27. Terpisah
28
28. Solusi Dan Mengatasi
29
29. Makam Aira dan Jejak Makam Wanita Berkebaya Pengantin Merah
30
30. Kedatangan Rega
31
31. Lahirnya Bayi Bajang Bermata Merah
32
32. Jebakan?
33
33. Sudah Berakhir?
34
34. Bertanda Baik?
35
35. Tumbal Pengantin Sepasang Perjaka
36
36. Yang Hilang
37
37. Hilangnya Jasad Pak Imron
38
38. Luka-Luka Karena Tumbal
39
39. Sudah Ada Titik Terang
40
40. 5 Tahun Setelah Syukur Ditemukan
41
41. Masih Ada Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah?
42
42. Terikat Sumpah
43
43. Eksekusi dan Ritual yang Gagal
44
44. Kelemahan Ki Yusna
45
Akhir Dari Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah
46
Novel Athan Daisy : Gadis Berisik Kesayangan CEO Pembaca Pikiran
47
Novel Bian : Transmigrasi Dan Pembalasan Gadis Yang Ternoda
48
Pengumuman Pemenang!
49
Novel Elra Syukur : Kejar Aku Mas Mafia (Kisah Cinta Dua Dunia)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!