Lusanya, Senin yang terik hingga sore harinya, Ani dan Rega benar-benar akan dinikahkan. Setahunya, begitu. Baik Ani apalagi Rega yakin, ibu Ajeng maupun pak Imron akan menikahkan mereka. Meski mengenai tempat dan acaranya, belum mereka ketahui bagaimana keadaannya.
Rega apalagi Ani dipaksa menurut. Keduanya dibawa keluar dari Jakarta membawa mobil. Yang ikut ke pernikahan mereka pun hanya Rega, Ani, pak Imron, dan juga ibu Ajeng. Rena yang sempat ngambek ingin gamis kebaya pengatin warna merah milik Ani, tetap tidak diajak meski gadis berusia tujuh belas tahun itu makin tantrum.
Kini Ani sudah dandan layaknya pengantin pada kebanyakan. Sebelum memakai kebaya pengantin pemberian Ki Yusna, Rega sengaja mengajak Ani ke salon untuk mempercantik diri. Benar saja, rias pengantin adat Jawa Tengah dilengkapi paes dan seperangkatnya, membuat pujaan hatinya itu makin cantik paripurna. Ani benar-benar makin cantik dan memang bikin pangling, hingga Rega selalu ingin dekat-dekat dengannya. Akan tetapi, kenyataan kebaya pengantin merah yang beraroma anyir luar biasa bagi mereka, membuat Rega tak kuasa dekat-dekat dengan Ani. Padahal, Rega sangat ingin dekat-dekat dengan Ani. Karena saat masih backsreet saja, inginnya selalu dekat. Apalagi sekarang yang sudah dapat restu.
Rega sengaja mengalah duduk di tempat duduk paling belakang karena ia tak mungkin membiarkan Ani yang sudah dandan cantik ala pengantin, melakukannya. Sedangkan di tempat duduk tengah, Ani yang sampai memakai rangkaian bunga melati di dada dan juga sanggulnya, duduk sendiri. Sebab ibu Ajeng yang memakai masker lengkap dengan banyak stiker aroma terapi, memilih duduk di sebelah pak Imron yang menyetir mobil.
Sebenarnya bukan hanya ibu Ajeng yang memakai masker penuh aroma terapi. Karena pak Imron, dan juga Rega, juga.
“Aku penasaran banget loh, kenapa Ani enggak kebauan kayak yang lain. Eh, si Rena juga enggak kebauan. Aneh, sisanya kebauan,” pikir Rega yang kemudian bertanya, “Ma ... Pa, kalian dapat kebaya yang Ani pakai dari mana, sih? Kok buuuuau banget gitu? Terus, ini kita mau ke mana? Kita keluar dari Jakarta dan sekarang masuk ke wilayah Sukabumi.”
“Lah ... kita masuk ke hutan begini, makin jarang pemukiman dan memang enggak ada orang. Ma, Pa ... aku dan Ani mau nikah. Kok malah dibawa ke hutan gini? Enggak ada orang ini.” Meski Rega sudah sangat cerewet dan tak hentinya protes, orang tuanya tetap mendiamkannya.
“Iya, ya ... ini kok ke hutan gini?” batin Ani mulai curiga juga. Namun, Ani sempat berpikir bahwa bisa jadi, tema pernikahan untuknya dan Rega, memang yang mengusung konsep hutan seperti orang kaya bahkan artis.
“Kalau iya, masa sesepi ini? Ini sepi banget loh ...,” batin Ani jadi sibuk mengawasi suasana luar.
Setelah mengarungi perjalanan jauh dan lebih dari tiga jam karena mereka terjebak macet, akhirnya mobil pak Imron menepi. Di depan gubuk Ki Yusna, mobil berhenti dengan suasana yang sudah sangat gelap. Adzan magrib saja tampaknya sudah lewat meski kini baru setengah enam sore.
“Pa, ... Ma? Ini sebenarnya kita mau ngapain?!” sergah Rega sambil menatap curiga keadaan di sana.
“Sumpah, Bang! Aku juga jadi takut,” batin Ani tak berani mengatakannya.
“Sudah, kamu enggak usah berisik apalagi protes. Kamu mau nikah enggak?!” balas ibu Ajeng marah-marah. Tak semata karena Rega terus saja berisik. Namun juga kenyataan Rega dan Ani yang selama empat tahun terakhir backstreet.
Sambil mendekati Ani, Rega yang menatap penuh kepastian sang mama berkata, “Maksudnya ini kenapa kita ke tempat sepi gini. Enggak ada tanda-tanda pernikahan dan—”
Rega tak jadi melanjutkan ucapan yang merupakan bagian dari protesnya. Sebab di luar sana mendadak ramai suara angklung maupun permainan gamelan. Rega maupun orang tuanya dapati, di depan gubuk ki Yusna yang awalnya hanya gubuk biasa, mendadak seperti ada pesta hajatan. Janur kuning ada di mana-mana. Panggung hiburan lengger dan tarian adat Sunda menjadi keramaian utama di sana. Beberapa tamu juga tampak menikmati jamuan di sana.
“Hah? Mendadak begini?” refleks Rega bingung sendiri mengawasi keadaan di luar sana.
Meski tahu apa yang akan mereka lakukan bahkan apa yang akan terjadi, baik pak Imron maupun ibu Ajeng juga tak hentinya merinding. Keduanya tak hentinya saling gandeng agak merangkul. Pak Imron dan ibu Ajeng tidak berani melihat keramaian di sana karena keduanya yakin, semua itu merupakan demit alias jin dan sebagainya.
Ki Yusna langsung menyambut kedatangan mereka. Ia ditemani dua wanita cantik layaknya biduan, tapi berwajah tanpa ekspresi. Kedua wanita itu membawa nampan berisi empat gelas minuman.
Ketika di mata pak Imran, ibu Ajeng, dan juga Rega, semuanya tampak baik-baik saja, tidak dengan Ani. Ani melihat semua manusia di sana kecuali mereka dan ki Yusna, layaknya hantu bahkan zombie. Semuanya berwajah gelap, termasuk juga air minum berisi kembang tujuh rupa. Meski sama-sama dijatah minum, yang untuk Ani maupun Rega, ada darah segarnya. Darah segar itu dalam proses mencampur.
“Bang, aku beneran takut, Bang!” bisik Ani gemetaran ketakutan. Ia bahkan menahan tangis sambil terus berusaha memeluk Rega.
“Sayang, kamu ini apaan, sih? Orang tuaku sudah menyiapkan pesta pernikahan buat kita. Lihat ramai banget! Ini terbilang sangat spesial!” yakin Rega sambil berusaha lanjut minum minuman pemberian ki Yusna meski Ani terus saja melarangnya.
“Memangnya mereka enggak lihat, ya? Kenapa kesannya hanya aku saja yang lihat?” pikir Ani yang kemudian sampai dipaksa minum minuman miliknya.
Ani yang melihat itu minuman sampai dihiasi darah segar dan aromanya juga sangat amis, muntah-muntah. Sebenarnya, baik pak Imron maupun ibu Ajeng, merasa ngeri dengan yang Ani alami.
“Pa, kira-kira yang Ani lihat apa, ya? Dia sampai muntah gitu, dan terus menolak minum andai Rega enggak maksa,” bisik ibu Ajeng.
“Enggak tahu, Ma. Namun Papa yakin, semua proses penumbalan untuk Ani sudah dimulai. Sebentar lagi kita akan kaya karena usaha kuliner kita pasti sukses besar!” balas pak Imron berbisik-bisik juga.
“Minum ih ... kamu harus minum biar kita cepat ijab kabul!” marah Rega yang jadi sangat emosional. Padahal, selain muntah-muntah, Ani juga sudah berderai air mata.
“Air pemberianku yang diminum tuntas oleh anaknya pak Imron, sudah bereaksi. Setelah ini, dia tak hanya kasar kepada Ani. Karena dia juga akan melupakan Ani. Ani yang cantik jelita akan menjadi milikku sebelum akhirnya aku tumbalkan menjadi bagian dari sumber pesugihan mereka,” batin Ki Yusna yang diam-diam mengawasi Ani maupun Rega.
Di tengah suasana ramai angklung, gamelan, tawa warga dalam hajatan di sana, ki Yusna yakin, semua proses menuju penumbalan Ani sudah beres.
Tak lama kemudian, baik Ani maupun Rega berakhir pingsan. Rega langsung diboyong masuk ke dalam mobil oleh orang tuanya. Sedangkan Ani diboyong masuk ke dalam gubuk oleh orang tua Rega. Sebab tak lama setelah calon pengantin itu pingsan, semua pesta khas hajatan di sana langsung hilang.
Ani direbahkan di sebuah dipan beralas tikar anyaman daun pandan. Di sana hanya ada satu bantal lusuh, sementara di sebelahnya ada meja penuh sesajen. Asap dari pembakaran kemeyan dan memang sangat pekat, membuat pak Imron maupun ibu Ajeng, terbatuk-batuk. Entah apa yang terjadi setelahnya karena ibu Ajeng dan pak Imron diminta menunggu di luar kamar. Hanya Ki Yusna yang ada di dalam kamar. Namun, mereka mendengar desahan penuh kenikmatan dan mereka kenali sebagai suara pak Yusna. Tak lama kemudian, mereka juga mendengar rintih tangis kesakitan dan mereka kenali sebagai suara tangis Ani. Yang paling mencolok, di antara kedua suara itu, mereka juga mendengar derit dipan kayu khas orang sedang bersenggama. Ibu Ajeng dan pak Imron yang mendengarnya, jadi panas dingin berkeringat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Ray
Ani diperawani Si Dukun, untuk dijadikan tumbal😱😱😣
2024-08-14
0
Erina Munir
ihhhh mengerikaan..
2024-07-16
0
Rahmawati
kasian ani jd tumbal
2024-07-04
0