15. Karma yang Mulai Mengincar

Ibu Ajeng masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Ibu Ajeng yakin, ki Yusna akan segera membantunya. Hingga kekacauan yang ada bisa segera teratasi. Dari rumah makannya yang kompak terbakar. Sementara terakhir, satu-satunya rumah makan yang tersisa malah dirampok. Ibu Ajeng percaya, semuanya akan kembali baik-baik saja.

Semalaman kemarin, ibu Ajeng sengaja menginap di gubuk ki Yusna. Ibu Ajeng berpikir, berada di dekat ki Yusna jauh bisa membuatnya tenang. Selain itu, ibu Ajeng juga sampai berpikir, andai dirinya bisa memikat ki Yusna, pria itu pasti bisa membantunya kapan saja.

“Nanti saya kabari, Ki! Pakai hapenya, ya!” manis ibu Ajeng.

Ibu Ajeng memang sengaja memberi ki Yusna hape, agar komunikasi mereka lebih mudah. Padahal, ki Yusna belum begitu paham caranya memakai hape.

“Si Ajeng jadi agak lain. Jadi manis,” batin ki Yusna yang melambaikan tangan kanannya melepas kepergian ibu Ajeng.

Sampai akhirnya ibu Ajeng menyetir agak jauh, ibu Ajeng mendapati sosok Aira. Ia melihatnya di kaca spion atasnya.

“Aku pasti hanya salah lihat!” sergah ibu Ajeng yang kemudian memberanikan diri memastikan sosok Aira di kaca spion lagi.

“Deg!” Benar. Meski Aira tak terlihat ketika ibu Ajeng menoleh ke belakang, Aira akan terlihat ketika ibu Ajeng melihatnya di kaca spion.

Ibu Ajeng yang ketakutan deg-degan tak karuan berangsur menghentikan laju mobilnya. “Ngapain kamu di situ? Kalau memang kamu mau kasih aku uang, ayo ikut! Namun kalau niatmu hanya ganggu, pergi! Pergi dan jangan dekat-dekat aku!” tegasnya.

Aira yang hanya diam menjadi berlinang air mata. Melalui kaca spion di atas ibu Ajeng, ia dan sang pemilik mobil, berkomunikasi. “Aku mau pulang ... tolong antar aku pulang!”

Ibu Ajeng sanksi mau bagaimana menyikapi Aira. Karena arwah tersebut benar-benar manja. Namun, sisi matre dari dalam diri ibu Ajeng meronta-ronta. Ibu Ajeng bermaksud membawa Aira ke kediaman ki Yusna. Wanita itu lupa bahwa Aira merupakan arwah dari tumbal pengantin perawan yang ia temukan datang sendiri.

“Temani aku ... aku enggak mau sendirian,” rengek Aira.

“Kamu enggak mau sendirian, tapi aku juga enggak mau mati! Dasar hantu manja!” cibir ibu Ajeng jauh di lubuk hatinya.

Ketika ibu Ajeng hendak putar balik, dari depan ada truk pengangkut kayu. Truk tersebut melaju sangat kencang dan memang tak bisa mengerem mendadak. Apalagi, posisi mobil sedan ibu Ajeng ada di turunan. Arwah Aira sengaja membuat mobil ibu Ajeng mendadak mogok. Ibu Ajeng benar-benar tak bisa mengoperasikan mobilnya lagi. Mesinnya mati total, sementara ketika ibu Ajeng berusaha melepas sabuk pengamannya, tubuhnya mendadak tidak bisa bergerak. Hingga yang ada, selain tak langsung bisa terlihat, mobil ibu Ajeng berakhir tertabrak truk di atas sana.

“Astaga ... ini apa-apaan?! Jangan bilang, ini kerjaan hantu pengantin kebaya merah. Astaga, ini pasti gara-gara hantu manja ini!” panik ibu Ajeng yang terlempar bersama mobilnya, ke lereng jalan nyaris memasuki hutan.

Setelah ibu Ajeng berikut mobilnya terperosok, arwah Aira langsung menghilang. Sementara yang dilakukan sopir truk dan sang rekan, keduanya kompak minggat apalagi tak ada saksi di sana. Akan tetapi, hadirnya Ani sang pengantin berkebaya merah yang dari senyumnya saja mengalihkan dunia kedua pria tersebut, juga membuat truk tersebut terjun bebas keluar dari jalan. Lagi-lagi Ani menelan korban dan itu membuat ki Yusna tersenyum senang. Di dalam gubuknya, ki Yusna yang duduk sila di dipan sambil fokus belajar main ponsel, mendadak seolah mendapat sumbangan nyawa. Ki Yusna merasa jauh lebih segar sekaligus prima.

“Si Ani memang paling bisa diandalkan. Dia dan Ajeng sama saja, ... sama-sama gampang aku bodohi!” ucap ki Yusna kembali asyik bermain ponsel.

Padahal di dalam mobil, ibu Ajeng sedang ketakutan luar biasa.

“Tenang ... tenang. Aku enggak mungkin mati. Karena kemarin malam, ki Yusna sudah memberiku susuk yang bikin aku sulit mati. Jadi, separah apa pun aku terluka, aku percaya, bahwa aku enggak mungkin mati dengan mudah!” batin ibu Ajeng begitu percaya kepada ki Yusna. Padahal, sedan hitamnya saja dalam keadaan terbalik. Sementara ibu Ajeng sendiri khususnya kepala dan wajahnya, sudah berlumur darah.

Sedikit saja ibu Ajeng salah gerak, mobilnya akan makin terperosok. Keadaan ibu Ajeng sungguh antara hidup dan mati. Akan tetapi, ibu Ajeng tetap yakin, susuk yang ia dapat dari ki Yusna tak bisa membuatnya mati.

Keanehan mendadak terjadi. Para lelaki berwajah pucat gelap mendadak berdatangan mendekati mobil ibu Ajeng.

“Hah! Akhirnya ada pertolongan!” batin ibu Ajeng sangat bersemangat.

Tak sedikit pun ibu Ajeng curiga, jika pria berwajah pucat gelap yang berdatangan dan jumlahnya sangat banyak, memiliki maksud lain. Ibu Ajeng yang yakin mereka semua manusia, memang akan menyelamatkannya. Padahal, mereka datang untuk beramai-ramai membuat mobil ibu Ajeng jatuh.

“Heh, apa yang kalian lakukan? Berhenti! Kalian sinting, ya?!” teriak ibu Ajeng, terus begitu.

Ibu Ajeng benar-benar tetap hidup meski mobilnya sudah terlempar ke dasar jurang sana. Darah segar juga sudah tak terhitung, tapi ibu Ajeng masih berusaha marah-marah. Terlepas dari semuanya, para laki-laki tadi merupakan arwah penasaran korban Ani. Karena sebenarnya, pak Imron saja ada di sana.

Di tempat berbeda, Elra dikejutkan oleh kedatangan Aira. Aira yang memakai pakaian biasa, menatapnya dengan datar. Wajah Aira sangat pucat, dan rambut lurus lembut sepunggungnya tergerai. Elra yang tengah duduk di kursi depan rumahnya langsung tersenyum ramah sembari meletakan ponselnya di meja.

“Ai ...? Alhamdullilah kamu,” sergah Elra tak jadi melanjutkan ucapannya. Padahal ia ingin berkata, “Alhamdullilah kamu selamat, padahal kemarin malam, saya sudah takut banget kamu kenapa-kenapa karena kebaya pengantin warna merah.”

Namun tiba-tiba saja, Elra juga jadi kepikiran, “Sejak kapan perkiraan sekaligus penglihatan dan pendengaran Syukur—Athan, salah?”

“Kak Elra, ... aku enggak mau sendirian,” ucap Aira benar-benar datar.

“Enggak mau sendirian bagaimana? Oh iya, ini kok kamu tahu alamat rumah ini? Dari siapa?” balas Elra sambil menyugar rambut panjangnya ke belakang. Di hadapannya, Aira menatapnya nyaris tak berkedip.

“Temenin, ... aku enggak mau sendirian,” ucap Aira sambil mengulurkan tangan kanannya.

“Heh, ... nih anak diajak ngomong apa, jawab apa. Iya, sih, dia lebih tua dari aku. Namun dari konteks saja kan sudah beda jurusan,” batin Elra yang tetap tersenyum hangat kepada sang rekan.

Elra mengulurkan tangan kirinya meraih tangan kanan Aira. Detik itu juga tubuh Elra seolah tersengat arus listrik. Dari tembok rumah sebelah, Bian yang awalnya memasang wajah jail, bergegas lompat.

“Sayang, kamu kenapa?!” sergah Bian yang memang tidak melihat Aira.

Terpopuler

Comments

Ray

Ray

Duh arwah cari korban lagi😱😱

2024-08-14

0

Erina Munir

Erina Munir

waduhh...kesian erla...aira nyari temen nih

2024-07-16

0

Hilmiya Kasinji

Hilmiya Kasinji

hmmm...mau diajak ya sama aira

2024-06-28

0

lihat semua
Episodes
1 1. Tumbal yang Menjadi Solusi
2 2. Kebaya Pengantin Warna Merah
3 3. Hajatan Gaib
4 4. Menjadi Tumbal Pesugihan
5 5. Rumah Makan Juara
6 6. Siasat Ki Yusna
7 7. Keadaan Rena dan Pantangan Ki Yusna
8 8. Harus Perawan!
9 9. Semuanya Benar-Benar Akan Dimulai!
10 10. Akhirnya Terjadi
11 11. Nasib Kebaya Pengantin Merah
12 12. Mulai Di Luar Kendali
13 13. Persekutuan Ki Yusna Dengan Ani
14 14. Teror Kebaya Pengantin Merah
15 15. Karma yang Mulai Mengincar
16 16. Kekuatan Tumbal yang Mulai Luntur
17 17. Iblis dan Manusia Tamak
18 18. Serangan Dadakan
19 19. Lorong Waktu dan Hutan Tua
20 20. Termakan Sumpah : Elra Kesayangannya Syukur
21 21. Dendam Masa Lalu yang Mendarah Daging
22 22. Gara-Gara Tumbal Pesugihan
23 23. Tak Boleh Terpisah
24 24. Perpisahan
25 25. Menyelamatkan Bian
26 26. Keris yang Akhirnya Terbang
27 27. Terpisah
28 28. Solusi Dan Mengatasi
29 29. Makam Aira dan Jejak Makam Wanita Berkebaya Pengantin Merah
30 30. Kedatangan Rega
31 31. Lahirnya Bayi Bajang Bermata Merah
32 32. Jebakan?
33 33. Sudah Berakhir?
34 34. Bertanda Baik?
35 35. Tumbal Pengantin Sepasang Perjaka
36 36. Yang Hilang
37 37. Hilangnya Jasad Pak Imron
38 38. Luka-Luka Karena Tumbal
39 39. Sudah Ada Titik Terang
40 40. 5 Tahun Setelah Syukur Ditemukan
41 41. Masih Ada Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah?
42 42. Terikat Sumpah
43 43. Eksekusi dan Ritual yang Gagal
44 44. Kelemahan Ki Yusna
45 Akhir Dari Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah
46 Novel Athan Daisy : Gadis Berisik Kesayangan CEO Pembaca Pikiran
47 Novel Bian : Transmigrasi Dan Pembalasan Gadis Yang Ternoda
48 Pengumuman Pemenang!
49 Novel Elra Syukur : Kejar Aku Mas Mafia (Kisah Cinta Dua Dunia)
Episodes

Updated 49 Episodes

1
1. Tumbal yang Menjadi Solusi
2
2. Kebaya Pengantin Warna Merah
3
3. Hajatan Gaib
4
4. Menjadi Tumbal Pesugihan
5
5. Rumah Makan Juara
6
6. Siasat Ki Yusna
7
7. Keadaan Rena dan Pantangan Ki Yusna
8
8. Harus Perawan!
9
9. Semuanya Benar-Benar Akan Dimulai!
10
10. Akhirnya Terjadi
11
11. Nasib Kebaya Pengantin Merah
12
12. Mulai Di Luar Kendali
13
13. Persekutuan Ki Yusna Dengan Ani
14
14. Teror Kebaya Pengantin Merah
15
15. Karma yang Mulai Mengincar
16
16. Kekuatan Tumbal yang Mulai Luntur
17
17. Iblis dan Manusia Tamak
18
18. Serangan Dadakan
19
19. Lorong Waktu dan Hutan Tua
20
20. Termakan Sumpah : Elra Kesayangannya Syukur
21
21. Dendam Masa Lalu yang Mendarah Daging
22
22. Gara-Gara Tumbal Pesugihan
23
23. Tak Boleh Terpisah
24
24. Perpisahan
25
25. Menyelamatkan Bian
26
26. Keris yang Akhirnya Terbang
27
27. Terpisah
28
28. Solusi Dan Mengatasi
29
29. Makam Aira dan Jejak Makam Wanita Berkebaya Pengantin Merah
30
30. Kedatangan Rega
31
31. Lahirnya Bayi Bajang Bermata Merah
32
32. Jebakan?
33
33. Sudah Berakhir?
34
34. Bertanda Baik?
35
35. Tumbal Pengantin Sepasang Perjaka
36
36. Yang Hilang
37
37. Hilangnya Jasad Pak Imron
38
38. Luka-Luka Karena Tumbal
39
39. Sudah Ada Titik Terang
40
40. 5 Tahun Setelah Syukur Ditemukan
41
41. Masih Ada Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah?
42
42. Terikat Sumpah
43
43. Eksekusi dan Ritual yang Gagal
44
44. Kelemahan Ki Yusna
45
Akhir Dari Tumbal Pengantin Perawan Kebaya Merah
46
Novel Athan Daisy : Gadis Berisik Kesayangan CEO Pembaca Pikiran
47
Novel Bian : Transmigrasi Dan Pembalasan Gadis Yang Ternoda
48
Pengumuman Pemenang!
49
Novel Elra Syukur : Kejar Aku Mas Mafia (Kisah Cinta Dua Dunia)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!