Ibu Ajeng masuk ke dalam mobilnya dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Ibu Ajeng yakin, ki Yusna akan segera membantunya. Hingga kekacauan yang ada bisa segera teratasi. Dari rumah makannya yang kompak terbakar. Sementara terakhir, satu-satunya rumah makan yang tersisa malah dirampok. Ibu Ajeng percaya, semuanya akan kembali baik-baik saja.
Semalaman kemarin, ibu Ajeng sengaja menginap di gubuk ki Yusna. Ibu Ajeng berpikir, berada di dekat ki Yusna jauh bisa membuatnya tenang. Selain itu, ibu Ajeng juga sampai berpikir, andai dirinya bisa memikat ki Yusna, pria itu pasti bisa membantunya kapan saja.
“Nanti saya kabari, Ki! Pakai hapenya, ya!” manis ibu Ajeng.
Ibu Ajeng memang sengaja memberi ki Yusna hape, agar komunikasi mereka lebih mudah. Padahal, ki Yusna belum begitu paham caranya memakai hape.
“Si Ajeng jadi agak lain. Jadi manis,” batin ki Yusna yang melambaikan tangan kanannya melepas kepergian ibu Ajeng.
Sampai akhirnya ibu Ajeng menyetir agak jauh, ibu Ajeng mendapati sosok Aira. Ia melihatnya di kaca spion atasnya.
“Aku pasti hanya salah lihat!” sergah ibu Ajeng yang kemudian memberanikan diri memastikan sosok Aira di kaca spion lagi.
“Deg!” Benar. Meski Aira tak terlihat ketika ibu Ajeng menoleh ke belakang, Aira akan terlihat ketika ibu Ajeng melihatnya di kaca spion.
Ibu Ajeng yang ketakutan deg-degan tak karuan berangsur menghentikan laju mobilnya. “Ngapain kamu di situ? Kalau memang kamu mau kasih aku uang, ayo ikut! Namun kalau niatmu hanya ganggu, pergi! Pergi dan jangan dekat-dekat aku!” tegasnya.
Aira yang hanya diam menjadi berlinang air mata. Melalui kaca spion di atas ibu Ajeng, ia dan sang pemilik mobil, berkomunikasi. “Aku mau pulang ... tolong antar aku pulang!”
Ibu Ajeng sanksi mau bagaimana menyikapi Aira. Karena arwah tersebut benar-benar manja. Namun, sisi matre dari dalam diri ibu Ajeng meronta-ronta. Ibu Ajeng bermaksud membawa Aira ke kediaman ki Yusna. Wanita itu lupa bahwa Aira merupakan arwah dari tumbal pengantin perawan yang ia temukan datang sendiri.
“Temani aku ... aku enggak mau sendirian,” rengek Aira.
“Kamu enggak mau sendirian, tapi aku juga enggak mau mati! Dasar hantu manja!” cibir ibu Ajeng jauh di lubuk hatinya.
Ketika ibu Ajeng hendak putar balik, dari depan ada truk pengangkut kayu. Truk tersebut melaju sangat kencang dan memang tak bisa mengerem mendadak. Apalagi, posisi mobil sedan ibu Ajeng ada di turunan. Arwah Aira sengaja membuat mobil ibu Ajeng mendadak mogok. Ibu Ajeng benar-benar tak bisa mengoperasikan mobilnya lagi. Mesinnya mati total, sementara ketika ibu Ajeng berusaha melepas sabuk pengamannya, tubuhnya mendadak tidak bisa bergerak. Hingga yang ada, selain tak langsung bisa terlihat, mobil ibu Ajeng berakhir tertabrak truk di atas sana.
“Astaga ... ini apa-apaan?! Jangan bilang, ini kerjaan hantu pengantin kebaya merah. Astaga, ini pasti gara-gara hantu manja ini!” panik ibu Ajeng yang terlempar bersama mobilnya, ke lereng jalan nyaris memasuki hutan.
Setelah ibu Ajeng berikut mobilnya terperosok, arwah Aira langsung menghilang. Sementara yang dilakukan sopir truk dan sang rekan, keduanya kompak minggat apalagi tak ada saksi di sana. Akan tetapi, hadirnya Ani sang pengantin berkebaya merah yang dari senyumnya saja mengalihkan dunia kedua pria tersebut, juga membuat truk tersebut terjun bebas keluar dari jalan. Lagi-lagi Ani menelan korban dan itu membuat ki Yusna tersenyum senang. Di dalam gubuknya, ki Yusna yang duduk sila di dipan sambil fokus belajar main ponsel, mendadak seolah mendapat sumbangan nyawa. Ki Yusna merasa jauh lebih segar sekaligus prima.
“Si Ani memang paling bisa diandalkan. Dia dan Ajeng sama saja, ... sama-sama gampang aku bodohi!” ucap ki Yusna kembali asyik bermain ponsel.
Padahal di dalam mobil, ibu Ajeng sedang ketakutan luar biasa.
“Tenang ... tenang. Aku enggak mungkin mati. Karena kemarin malam, ki Yusna sudah memberiku susuk yang bikin aku sulit mati. Jadi, separah apa pun aku terluka, aku percaya, bahwa aku enggak mungkin mati dengan mudah!” batin ibu Ajeng begitu percaya kepada ki Yusna. Padahal, sedan hitamnya saja dalam keadaan terbalik. Sementara ibu Ajeng sendiri khususnya kepala dan wajahnya, sudah berlumur darah.
Sedikit saja ibu Ajeng salah gerak, mobilnya akan makin terperosok. Keadaan ibu Ajeng sungguh antara hidup dan mati. Akan tetapi, ibu Ajeng tetap yakin, susuk yang ia dapat dari ki Yusna tak bisa membuatnya mati.
Keanehan mendadak terjadi. Para lelaki berwajah pucat gelap mendadak berdatangan mendekati mobil ibu Ajeng.
“Hah! Akhirnya ada pertolongan!” batin ibu Ajeng sangat bersemangat.
Tak sedikit pun ibu Ajeng curiga, jika pria berwajah pucat gelap yang berdatangan dan jumlahnya sangat banyak, memiliki maksud lain. Ibu Ajeng yang yakin mereka semua manusia, memang akan menyelamatkannya. Padahal, mereka datang untuk beramai-ramai membuat mobil ibu Ajeng jatuh.
“Heh, apa yang kalian lakukan? Berhenti! Kalian sinting, ya?!” teriak ibu Ajeng, terus begitu.
Ibu Ajeng benar-benar tetap hidup meski mobilnya sudah terlempar ke dasar jurang sana. Darah segar juga sudah tak terhitung, tapi ibu Ajeng masih berusaha marah-marah. Terlepas dari semuanya, para laki-laki tadi merupakan arwah penasaran korban Ani. Karena sebenarnya, pak Imron saja ada di sana.
Di tempat berbeda, Elra dikejutkan oleh kedatangan Aira. Aira yang memakai pakaian biasa, menatapnya dengan datar. Wajah Aira sangat pucat, dan rambut lurus lembut sepunggungnya tergerai. Elra yang tengah duduk di kursi depan rumahnya langsung tersenyum ramah sembari meletakan ponselnya di meja.
“Ai ...? Alhamdullilah kamu,” sergah Elra tak jadi melanjutkan ucapannya. Padahal ia ingin berkata, “Alhamdullilah kamu selamat, padahal kemarin malam, saya sudah takut banget kamu kenapa-kenapa karena kebaya pengantin warna merah.”
Namun tiba-tiba saja, Elra juga jadi kepikiran, “Sejak kapan perkiraan sekaligus penglihatan dan pendengaran Syukur—Athan, salah?”
“Kak Elra, ... aku enggak mau sendirian,” ucap Aira benar-benar datar.
“Enggak mau sendirian bagaimana? Oh iya, ini kok kamu tahu alamat rumah ini? Dari siapa?” balas Elra sambil menyugar rambut panjangnya ke belakang. Di hadapannya, Aira menatapnya nyaris tak berkedip.
“Temenin, ... aku enggak mau sendirian,” ucap Aira sambil mengulurkan tangan kanannya.
“Heh, ... nih anak diajak ngomong apa, jawab apa. Iya, sih, dia lebih tua dari aku. Namun dari konteks saja kan sudah beda jurusan,” batin Elra yang tetap tersenyum hangat kepada sang rekan.
Elra mengulurkan tangan kirinya meraih tangan kanan Aira. Detik itu juga tubuh Elra seolah tersengat arus listrik. Dari tembok rumah sebelah, Bian yang awalnya memasang wajah jail, bergegas lompat.
“Sayang, kamu kenapa?!” sergah Bian yang memang tidak melihat Aira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Ray
Duh arwah cari korban lagi😱😱
2024-08-14
0
Erina Munir
waduhh...kesian erla...aira nyari temen nih
2024-07-16
0
Hilmiya Kasinji
hmmm...mau diajak ya sama aira
2024-06-28
0